Mengapa Cina dan Singapura Terancam Gelombang Kedua Corona?

Oleh: Zakki Amali - 14 April 2020
Dibaca Normal 2 menit
Cina dan Singapura dihadapkan pada kenyataan gelombang kedua Corona yang dipicu kasus impor dan orang tanpa gejala yang dites positif.
tirto.id - Cina telah melewati puncak kurva Coronavirus COVID-19, pada 12 Februari lalu. Saat itu, jumlah kasus harian mencapai 14.108. Hubei, provinsi di Cina, tempat awal Corona muncul lewat salah satu kotanya, Wuhan, telah dibuka usai dua bulan diisolasi penuh.

Warga Cina berangsur kembali menjalani aktivitas di luar rumah. Produksi telepon genggam kembali menggeliat menandakan, ada pergerakan aktivitas manufaktur di Cina. Sekolah juga telah dibuka kembali.

Kendati demikian, Cina menghadapi kekhawatiran baru sejak laporan kasus harian merambat naik. Berdasar data Worldometer, ada 108 kasus baru pada 12 April, meningkat dari sehari sebelumnya dengan 99 kasus, namun belum melampaui 143 kasus tertinggi setelah puncak kurva pada 5 Maret.

Penyebab kekhawatiran adalah munculnya gelombang Corona kedua yang menurut pemerintah Cina, berupa: Penularan virus oleh warganya yang pulang dari luar negeri dan orang tanpa gejala (OTG).

OTG atau dikenal asimtomatik di Cina kini jadi perhatian. Ahli epidemologi Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, 75 persen pasien di Cina yang tak menunjukkan gejala pada gilirannya menunjukkan gejala terinfeksi Corona. Keberadaan OTG menyulitkan pelacakan pasien, menurut laporan VOA Indonesia.

Cina merilis data OTG yang dites positif, meski dicurigai menutup-nutupi data, pada 5 April ada lebih dari 700 pasien yang tersebar di seluruh negara dan tengah dalam pengawasan ketat.

Setelah melewati masa puncak pandemi, Cina masih disibukkan dengan imported cases. Tercatat pada 3 April yakni, 18 dari 19 kasus harian. Empat di antaranya meninggal dari provinsi Hubei.

Ancaman Wuhan kembali menjadi episentrum Corona mencuat setelah ada kasus impor, berjarak dua pekan setelah pejabat Cina menyatakan akan membuka isolasi. Pejabat setempat meminta masyarakat Wuhan agar tetap tinggal di rumah bila tak ada keperluan mendesak untuk keluar.

Tren penularan dari luar negeri meningkat pada pekan pertama April. Berdasar laporan kasus harian, ada 38 kasus impor dari 39 pada 5 April dengan dua meninggal (1 dari Hubei). Hari berikutnya, Komisi Kesehatan Nasional Cina melaporkan 32 kasus baru dari penularan di luar negeri. Tidak ada laporan meninggal pada 6 April.

Hingga 12 April, ada 82.160 kasus Corona di Cina dengan 3.341 orang meninggal dan 77.663 sembuh.

Ahli klinis Covid-19 Shanghai, Zhang Wenhong mengatakan pandemi tidak akan berakhir di musim panas. Ia memperkirakan akan ada gelombang kedua setelah musim gugur (September-Oktober) di Cina. Ia menyarankan pemerintah Cina mengendalikan imported cases untuk mencegah penularan baru.

Ia juga mengingatkan warga di Cina agar, “Menjaga jarak, mengenakan masker di tempat umum dan sering cuci tangan,” kata Zhang kepada Nikkei.

Penularan dari luar negeri terjadi karena warga Cina yang bekerja atau belajar di berbagai negara yang menjadi episentrum Corona seperti Iran, Italia, dan Rusia, mulai kembali ke negaranya usai pencabutan status lockdown di Hubei.

Sesuai prosedur, warga Cina yang kembali dari negara zona merah Corona menjalani karantina selama 14 hari. Namun, kasus yang ditemukan di antaranya tanpa gejala.

Komisi Kesehatan Nasional Cina (NHC) pada Senin 13 April menyebut 98 kasus impor melibatkan pendatang dari luar negeri yang tiba di Cina. Jumlah itu melebihi hari sebelumnya dengan 97 kasus. Sedangkan jumlah kasus tanpa gejala turun menjadi 61 dari 63.


Peningkatan kasus di Singapura

Potensi gelombang kedua Corona juga mengancam Singapura, meski negara tetangga Indonesia ini, memperlihatkan keseriusan penanganan Covid-19. The Guardian melaporkan lebih dari 60 persen dari 1.000 kasus yang dikonfirmasi positif terjadi pada tiga minggu terakhir.

Sejak awal temuan kasus, laporan harian dengan ratusan pasien terjadi mulai 9-13 April. Ada 386 kasus baru pada 13 April, tanpa ada kasus impor. Total kasus di Singapura mencapai 2.918.

Pemerintah Singapura menerapkan aturan ketat mencegah penularan. Ada hukuman penjara dan denda bagi warga yang melanggar aturan tinggal di rumah. Mereka juga melarang semua kunjungan dan transit jangka pendek dari luar negeri. Semua acara yang melibatkan massa juga dilarang. Sekolah dan tempat peribadatan seperti masjid dan gereja juga ditutup.

Baru-baru ini Singapura mengumumkan perlunya persetujuan bagi warganya yang memegang paspor jangka panjang saat akan kembali ke negaranya. Selain itu, pemerintah setempat akan membatalkan paspor warganya yang melanggar aturan tinggal di dalam rumah.

Pelarangan pengunjung dari luar negeri terkait dengan temuan kasus impor. Pada 24 Maret, sehari setelah aturan pelarangan kunjungan dari luar negeri berlaku, Singapura mengumumkan 32 dari 49 kasus harian adalah kasus impor.

Perkembangan kasus Corona di Cina yang belum menandakan tanda berakhir dan Singapura yang mulai meninggi kasusnya seharusnya menjadikan negara lain, termasuk Indonesia semakin waspada.

Selama belum ada vaksin dan pemerintah belum tahu tingkat kekebalan tubuh dari Coronavirus, sulit membayangkan kehidupan sehari-hari berjalan normal, kata Jason Kindrachuk, ahli mikrobiologi medis & penyakit menular Universitas Manitoba.


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Zakki Amali
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
DarkLight