Meneropong Prospek 5 Emiten Media di Bursa

Meneropong Prospek 5 Emiten Media di Bursa
Gedung SCTV di kawasan Senayan, Jakarta. tirto.id/Andrey Gromico
Reporter: Ringkang Gumiwang
15 Februari, 2018 dibaca normal 3 menit
Belanja iklan pada 2018 diperkirakan tumbuh sampai dengan 15 persen seiring dengan digelarnya berbagai kegiatan besar tahun ini. Bagaimana dampaknya buat emiten media?
tirto.id - Media-media massa baru di Indonesia memang masih bermunculan, tapi tak sedikit yang gulung tikar. Salah satu penyebabnya karena penurunan pendapatan.
 
Sumber pendapatan perusahaan-perusahaan media secara umum di Indonesia cukup beragam seperti penjualan oplah pada media cetak, iklan, bisnis percetakan, dan lainnya. Namun, iklan adalah penyumbang utama.
 
Menurut laporan Nielsen, belanja iklan sepanjang 2017 mencapai Rp145 triliun, naik 8 persen dari realisasi belanja iklan 2016. Dari total belanja iklan itu, sekitar 80 persen atau sebesar Rp116 triliun masuk ke kantong media televisi.

Angka belanja iklan untuk media televisi tumbuh 12 persen dibandingkan dengan realisasi 2016 sebesar Rp103,79 triliun. Berbanding terbalik, porsi belanja iklan untuk media cetak pada 2017 menurun, seiring dengan berkurangnya media cetak yang beroperasi.

Nielsen memonitor 15 stasiun TV nasional, 99 surat kabar, dan 120 majalah dan tabloid. Adapun, angka belanja iklan itu didasari pada gross rate card, tanpa menghitung diskon, bonus, promo, harga paket dan lainnya.

Seiring dengan tumbuhnya belanja iklan, kinerja pendapatan perusahaan media yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga tumbuh positif. Rata-rata pendapatan lima emiten media yang memiliki saluran televisi pada kuartal III-2017, naik 8 persen dari kuartal III-2016.

Kelima emiten media itu adalah PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN), PT. Intermedia Capital Tbk. (MDIA), PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA), dan PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA).


PT Intermedia Capital Tbk, yang menaungi ANTV menjadi emiten dengan pertumbuhan pendapatan paling tinggi pada triwulan III-2017, naik 16 persen atau sebesar Rp1,49 triliun (yoy). Sementara itu SCTV, di bawah PT Surya Citra Media Tbk naik paling kecil, yakni 0,2 persen atau sebesar Rp3,42 triliun. 

Saat rata-rata pendapatan emiten media naik 8 persen, kinerja laba bersih emiten media justru terperosok. Hanya Intermedia yang mencatatkan laba bersih yang positif, yakni naik 31 persen atau sebesar Rp391,71 miliar.

Pada periode yang sama, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk—emiten yang menaungi SCTV (PT Surya Citra Media Tbk), Indosiar, O Channel—menjadi emiten media dengan laba bersih paling terkoreksi. Perusahaan media milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja itu meraup laba bersih sebesar Rp464 miliar, turun 37 persen.

Akibat terkoreksinya laba bersih, mayoritas saham emiten media sepanjang 2017 bergerak menurun. Hanya saham PT Visi Media Asia Tbk—emiten media milik Bakrie Group—yang bergerak positif menjadi Rp326 per saham pada 29 Desember 2017, naik 9 persen (yoy).

“Pergerakan saham VIVA yang positif tahun lalu itu lebih dikarenakan rating mereka yang bagus, terdongkrak dari film-film India. Sementara yang lain kan biasa saja,” kata Kiswoyo Adi Joe, analis PT Recapital Asset Management kepada Tirto.   

Meneropong Prospek 5 Emiten Media di Bursa

Prospek Emiten Media Pada 2018

Lantas bagaimana kinerja keuangan dan pergerakan saham di 2018?

Banyak acara skala besar yang akan diselenggarakan pada tahun ini, dari dalam negeri maupun luar negeri, antara lain Pilkada, Asian Games, dan Piala Dunia 2018.

Korporasi-korporasi besar tentunya tidak akan ketinggalan untuk memanfaatkan momen dan gencar dalam pengeluaran iklan di media pada 2018. Bahana Sekuritas memperkirakan belanja iklan pada tahun ini bakal naik 13-15 persen.

“Kami perkirakan melesat hingga 13-15 persen, lebih tinggi ketimbang belanja iklan tahun lalu yang hanya berada pada kisaran 3-5 persen,” kata Henry Wibowo, Senior Analis Bahana Sekuritas kepada Tirto.

Selain acara-acara skala besar, daya beli masyarakat yang mulai membaik juga mendorong korporasi untuk lebih banyak belanja iklan, terutama perusahaan barang konsumsi yang bergerak cepat (Fast Moving Consumer Goods/FMCG).


Barang-barang FMCG itu antara lain seperti minuman ringan, kosmetik perawatan tubuh, barang kelontong dan lain sebagainya. Menurut Bahana, iklan dari FMCG menyumbang 75 persen dari total belanja iklan di media.

Selain itu, perusahaan-perusahaan berbasis rintisan teknologi (startup) seperti Tokopedia, Traveloka, dan Shopee juga masih gencar melancarkan belanja iklan. Sumbangan iklan dari perusahaan berbasis teknologi itu diperkirakan mencapai 5 persen.

“Dari semua faktor ini mendorong Bahana menaikkan rating saham media dari yang tadinya netral menjadi overweight. Kami merekomendasikan SCMA [Surya Citra Media] sebagai pilihan utama untuk dibeli,” tutur Henry.

Bahana memilih Surya Citra sebagai pilihan utama lantaran anak usaha Elang Mahkota itu sukses menjual konten bisnisnya kepada pihak ketiga seperti Cinema 21, Netflix dan Iflix, terutama setelah mengakuisisi Rumah Produksi Sinemart pada Desember 2016.

Selain itu, Surya Citra memegang hak siar untuk pesta olahraga Asian Games 2018. Bahana menargetkan harga saham SCMA sebesar Rp3.160 per saham. Per 13 Februari 2018, harga saham SCMA tercatat Rp2.730 per saham.

Pilihan kedua emiten media dari Bahana adalah Visi Media. Emiten media yang menaungi TVOne itu dinilai sukses mengangkat nama ANTV melalui konten drama India dan sinetron lokal, sehingga dapat menyaingi program televisi dari RCTI dan SCTV.



Di sisi lain, Visi Media juga akan melakukan refinancing tahap dua atas utangnya sebesar $250 juta dengan menerbitkan global bonds. Bahana merekomendasikan beli untuk saham VIVA dengan target harga Rp620 per saham.

Emiten media milik taipan Hary Tanoesoedibjo, Media Nusantara juga dapat menjadi pilihan bagi investor untuk dibeli. Emiten yang menaungi saluran RCTI ini dinilai sukses menjual kontennya kepada pihak ketiga melalui MNC Pictures.

Bahana menargetkan harga saham MNCN itu berada di level Rp2.000 per saham. Adapun, harga saham MNCN per 13 Februari 2018 tercatat Rp1.590 per saham. Sepanjang tahun lalu, saham MNCN sempat terkoreksi 27 persen.

Melihat berbagai peluang yang ada di Tahun Anjing Tanah ini, besar kemungkinan kinerja emiten media akan lebih baik ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Persaingan pun terbilang bakal ketat sejalan kue iklan yang besar.


Contoh terkini soal kabar aksi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yang bersinergi dengan KapanLagiNetwork (KLN) yang sebagian sahamnya dimiliki raksasa media Singapura, Mediacorp. Bila ini terealisasi, bakal menjadi babak baru bisnis media di "Tahun Anjing Tanah".

Baca juga artikel terkait MEDIA MASSA atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - rgw/dra)

Keyword