30 Maret 1981

Menembak Ronald Reagan Demi Perhatian Bintang Film Taxi Driver

Ilustrasi Mozaik Ronald Reagan. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 30 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Aksi penembakan terhadap Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan, yang dilakukan oleh seorang pemuda yang terobsesi pada Jodie Foster dalam film Taxi Driver.
Film Taxi Driver yang dirilis tahun 1976 dibintangi oleh Jodie Foster yang berperan sebagai pelacur remaja bernama Iris Steensma. Sementara Robert de Niro memerankan Travis Bickle, veteran perang Vietnam berusia 26 tahun yang jadi supir taksi dan mencoba membunuh senator dan kandidat presiden Charles Palantine. Percobaan Travis gagal. Ia kemudian kabur dan menghabisi perampok serta pelaku bisnis prostitusi yang mengeksploitasi Iris, dan ia akhirnya malah jadi pahlawan.

Ketika film tersebut diluncurkan, John Warnock Hinckley Jr tengah jadi anak kuliahan di Texas Tech University. Pemuda itu suka menulis puisi dan pernah mencoba menulis lirik lagu. Menurut Lee Edwards dalam Ronald Reagan, A Political Biography (1980: 266), ayah Hinckley Jr adalah ahli perminyakan penganut Protestan Fundamentalis yang juga anggota kelompok politik kolot Amerika, Partai Republik.

Hinckley Jr terobsesi pada Jodie Foster sang pemeran Iris Steensma dalam Taxi Driver. Ia pernah menguntit Foster ketika perempuan itu kuliah di Universitas Yale. Hinckley Jr meninggalkan catatan, surat, dan puisi di asrama Foster.

Setelah merasa gagal mendapat perhatian Foster, giliran Presiden Jimmy Carter yang ia kuntit. Kelakuannya mirip Travis Bickle yang menguntit Charles Palantine dalam Taxi Driver. Jika Travis Bickle lolos dari kejaran aparat, maka Hinckley Jr ditahan atas tuduhan kepemilikan senjata api.

Ketika Ronald Reagen terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, maka sosok ini segera menjadi target Hinckley Jr selanjutnya. Hal ini dilakukan demi mendapat perhatian dari Jodie Foster.

Hinckley Jr menulis surat untuk Jodie Foster yang isinya menggambarkan rencananya untuk membunuh Reagan. Ia akan menunggu di luar Hotel Washington Hilton menanti kedatangan Reagan yang hendak menyampaikan pidato.

Dalam suratnya kepada Foster ia menulis, "Ada kemungkinan bahwa saya akan terbunuh dalam upaya saya untuk mendapatkan Reagan."

Dan beberapa hari sebelumnya, Hinckley Jr sempat bertemu orangtuanya. Kepada ibunya ia berkata, "Aku ingin bilang terima kasih, Bu, untuk semua yang kau lakukan untukku selama ini."

Hinckley Jr kemudian membeli senjata api dan belajar menggunakannya. Dalam Treasury, Postal Service, and General Government Appropriations for Fiscal Year 1982: Department of the Treasury (1981:610) disebutkan bahwa Hinckley Jr mula-mula membeli revolver caliber 38 dari toko senjata Denver pada 18 Januari 1980.

Pada September 1980 ia membeli dua pistol caliber 22 dari Snidley Pawnshop di Lubbock, Texas. Lalu pada tanggal 13 Oktober 1980 ia membeli pistol Röhm RG-14 dari Rocky’s Pawnship. Ketika membeli senjata api, ia sebenarnya sedang dalam masa terapi. ABA Journal volume 69 (Juni 1983:724) menyebut Hinckley Jr belajar menembak dalam jarak dekat dan sempat mencoba bunuh diri dengan valium dan beberapa obat lainnya.




Aksi yang Gagal

Pada 30 Maret 1981, tepat hari ini 39 tahun lalu, Reagan baru dua bulan sepuluh hari menjadi Presiden Amerika Serikat. Saat itulah Hinckley Jr melampaui aksi Travis Backle. Pemuda itu menanti kedatangan Reagen di Hotel Washington Hilton. Empat puluh menit kemudian, saat Reagan akhirnya muncul dari hotel, Hinckley Jr segera berjongkok dan menembakkan enam peluru kaliber 22.

Aksi Hinckley Jr dihentikan oleh Alfred Antenucci—pimpinan buruh di Cleveland, Ohio—yang berdiri di dekatnya. Antenucci segera memukul kepala Hinckley dan berusaha menjatuhkannya. Beberapa detik kemudian agen Dennis McCarthy membantu Antenucci. Pimpinan buruh yang lain, Frank J. McNamara, ikut memukuli kepala Hinckley Jr dengan keras. Pemuda itu kemudian diringkus dan ditahan.

Meski gagal membunuh Ronald Reagan, namun aksinya itu berhasil melukai James S. Brady, sekretaris pers Gedung Putih; Timothy J. McCarthy, agen Secret Service; Thomas K. Delahanty, seorang perwira polisi Washington, dan Presiden Reagan yang jadi target pentingnya.

Hinckley Jr kemudian diadili. Karena gangguan kejiwaan, Hinckley dinyatakan tidak bersalah. Keputusan itu menggemparkan masyarakat dan anggota parlemen Amerika Serikat. Hinckley Jr lalu dirawat di St. Elizabeths, rumah sakit jiwa di Washington.

Kini, Hinckley Jr tidak diperbolehkan mempunyai akun media sosial. Ia juga tidak diizinkan berada di area yang sama dengan presiden, wakil presiden, anggota Kongres atau anggota senior pemerintahan lainnya.

Baca juga artikel terkait PENEMBAKAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight