Menekan Risiko Bencana dengan Rumah Tahan Gempa

Reporter: Reja Hidayat, tirto.id - 8 Des 2016 17:10 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Saat gempa besar datang dan memporakporandakan bangunan, orang-orang mulai sibuk memikirkan bangunan anti gempa. Aceh yang jadi langganan gempa, pernah menerapkan program rumah anti gempa. Bagaimana perkembangannya?
tirto.id - Rabu, 7 Desember, pukul 5 pagi, suasana gelap masih menyelimuti Kota Pidie Jaya, Aceh. Sebagian besar masyarakat masih terlelap tidur, termasuk Muslim. Ia terbangun dari tidurnya kala gempa 6,4 skala richter mengguncang kotanya.

Gempa yang mengguncang selama 15 detik itu membuat listrik padam, suasana pun jadi gelap gulita. Muslim pun membangunkan anak istrinya di tengah remang-remang di subuh nahas. Pekik takbir, tangisan, suara minta tolong bercampur aduk kala itu.

“Gempanya seperti suara pesawat jatuh. Lalu suara minta tolong dari gedung yang roboh," kata Muslim kepada tirto.id.

BMKG mencatat gempa 6,5 SR, berada di 18 km Timur Laut Kabupaten Pidie Jaya, Aceh pada kedalaman 10 km pada 7 Desember 2016 itu di daerah subduksi dan sesar di daratan. Gempa dangkal ini sangat efektif menghancurkan rumah, ruko, masjid dan sekolah roboh, dan bangunan lainnya termasuk di Kabupaten Pemekaran Pidie. Bencana gempa mengingatkan kembali arti pentingnya bangunan rumah tahan gempa.

Infografik Rumah Tahan Gempa


Bangunan Tahan Gempa

Gempa memang menjadi kenangan pahit bagi warga Aceh. Gempa dahsyat 12 tahun lalu yang dibarengi tsunami telah merenggut sekitar 200 ribu jiwa. Pada waktu itu banyak bangunan runtuh dan rata tersapu gempa dan tsunami. Aceh khususnya, dan Indonesia secara umum berada di jalur gempa dunia.

Tercatat ada 386 kabupaten/kota di Indonesia dengan jumlah penduduk 157 juta jiwa ada di daerah rawan gempa, dari yang berkekuatan sedang hingga kekuatan paling besar. Ini artinya 60 persen penduduk Indonesia tinggal di kawasan rawan bencana.

Walaupun memiliki daerah rawan gempa bumi, bangunan rumah dan infrastruktur di Indonesia masih belum menyesuaikan dengan struktur tahan gempa. Persoalan biaya yang lebih mahal lagi-lagi jadi kendalanya.

"Komponennya (bahan bangunan) lebih mahal sekitar 30 sampai 50 persen dibandingkan rumah biasa sehingga dalam hal ini, perlu regulasi, perlu insentif," kata Kepala Pusat Informasi dan Data BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

BNPB mengusulkan masyarakat yang membangun rumah tahan gempa, mendapatkan insentif subsidi dari pemerintah. Benarkah rumah tahan gempa mahal?

Menurut LSM Habitat for Humanity, untuk membangun rumah sederhana dan tahan gempa bisa menggunakan dana yang minim. Di Kabupaten Buleleng, Bali misalnya, Habitat for Humanity telah membangun rumah untuk masyarakat miskin dengan biaya Rp30 juta untuk hunian berukuran 23 meter persegi.

Rumah dengan desain sederhana ini memiliki struktur bangunan tahan gempa, mulai dari pondasi, ukuran besi beton, ikatan sambungan besi, jarak antar kolom besi beton dibuat tahan guncangan. Habitat for Humanity juga sudah membangun rumah tahan gempa di Aceh, saat proses rekonstruksi pasca bencana tsunami 2004 lalu.

Berdasarkan laporan tahunan mereka, lokasi rumah tahan gempa berada di Banda Aceh sebanyak 1.661 unit, Sigli 393 unit, Aceh Jaya sebanyak 739 unit, Aceh barat ada 1.623 unit, dan Nagan Raya sebanyak 575 unit. Total bangunan rumah tahan gempa yang telah dibangun Habitat for Humanity mencapai 4.991 unit.

Jumlah tersebut belum termasuk bantuan dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias dan lembaga donor lainnya. BRR NAD-Nias mengklaim telah membangun 140 ribu unit rumah yang menjamur tahan gempa di Aceh.

Gempa sesuatu yang tak bisa dihindari di Indonesia, tapi menekan dampak terburuk bisa diantisipasi dengan bangunan tahan gempa. Gempa di Pidie Jaya beberapa waktu lalu yang banyak merusak bangunan, membuktikan keseriusan membangun rumah tahan gempa masih jadi persoalan.

Baca juga artikel terkait GEMPA atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Reja Hidayat
Editor: Suhendra

DarkLight