Advertorial

Menabung Sejak Dini, Memetik Bunga Terbaik

Ilustrasi Bank BJB. FOTO/Bank BJB
Oleh: Advertorial - 3 Juli 2018
Dibaca Normal 2 menit
Sebagaimana semua kebaikan, menabung perlu dilakukan sejak dini.
Pada 2016, Badan Pusat Statistik menyatakan produk domestik bruto (GDP/PDB) per kapita Indonesia terus meningkat dalam kurun 15 tahun terakhir. Tahun 2000, tak lama setelah Indonesia keluar dari jerat krisis moneter, PDB per kapita hanya sebesar Rp6,78 juta. Angka tersebut melonjak hingga Rp45,18 juta pada 2015. Pendapatan masyarakat naik, tetapi agaknya tak dibarengi perbaikan pengelolaan keuangan.

Hal itu tercermin dari rendahnya angka “marginal propensity to save” (MPS) atau kecenderungan menabung. BPS mencatat, sejak 2003 angka MPS cenderung menurun sedangkan tingkat konsumsi—dalam hal ini dibuktikan oleh “marginal propensity to consume” (MPC)—meningkat.

Sebagai gambaran, rasio “saving to GDP” atau tabungan terhadap PDB Indonesia hanya 31%, jauh di bawah rasio negara-negara lain di kawasan ASEAN. Singapura, misalnya, memiliki rasio 49% atau menyamai Cina yang disebut-sebut sebagai salah satu negara yang penduduknya paling gemar menabung. Filipina, negara yang pada 2009 penduduknya hanya berjumlah 91,7 jiwa, tercatat punya rasio sebesar 46% pada 2015.

Ryan Ong, penulis masalah keuangan di Singapura menyebut bahwa kebiasaan menabung di Singapura erat kaitannya dengan perilaku seseorang dalam membentuk sekaligus menjaga martabat dan harga dirinya. “Menyelamatkan muka (kehormatan) adalah persoalan besar bagi kebanyakan orang di Singapura. Sebab hal tersebut merupakan salah satu persoalan serius bagi orang-orang yang tumbuh dalam budaya Asia,” tulisnya.

Dalam banyak kasus, seseorang bisa kehilangan kehormatan karena mengelola keuangan dengan buruk. “Lihatlah orang-orang yang memiliki semua elemen ‘kehormatan’. Mereka adalah orang-orang yang mandiri, dikenal luas, kinerjanya unggul, dan lain sebagainya. Dan setelah dicermati, kualitas diri yang beraneka pada orang-orang semacam itu muncul dari rencana tabungan yang disiplin,” katanya menegaskan.



Dalam konteks Indonesia, sejak 2015, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggagas program nasional berupa tabungan Simpanan Pelajar (SimPel) yang bertujuan membentuk dan menanamkan kebiasaan gemar menabung sejak usia anak-anak. Bank BJB tercatat sebagai salah satu bank yang pertama kali mendukung dan mensosialisasikan program tersebut kepada masyarakat.

"Kami berharap BJB dapat turut memberikan pendidikan kepada generasi penerus. Menjadikan kegiatan menabung bukan hanya sebagai kewajiban, tapi juga kebutuhan atau bahkan gaya hidup," kata Ahmad Irfan, Direktur Utama Bank BJB.

Agar SimPel diminati pelajar dari jenjang anak TK hingga SMA/SMK, BJB selain menjalin kerja sama dengan beberapa sekolah dan Dinas Pendidikan di wilayah Jawa Barat dan Banten, BJB pun menyesuasikan produk yang dikeluarkannya dengan kondisi dan karakteristik para pelajar itu.

Sebagai contoh, BJB memberikan syarat mudah bagi pelajar yang ingin membuka rekening tabungan dengan setoran awal sebesar Rp5.000. Menariknya, rekening tersebut dibuat atas nama sang pelajar meski yang bersangkutan belum memiliki KTP (cukup menyerahkan kartu pelajar). Di sisi lain, SimPel juga tidak membebani nasabahnya dengan bunga. Sebaliknya, tabungan tersebut malah memberikan reward menarik bagi pelajar yang rajin menabung.

"Kami terus memberi stimulasi kepada para pelajar untuk gemar menabung. Karena menabung dapat memberikan banyak manfaat sebagai investasi dan persiapan di masa depan,” sambung Ahmad Irfan. Selain SimPel, produk tabungan lain yang dikhususkan buat anak-anak di bawah 17 tahun adalah BJB Tandamata My First. Persyaratannya juga mudah: lengkapi formulir pendaftaran dengan menyertakan dokumen berupa KTP orang tua dan akta kelahiran anak serta setoran awal sebesar Rp50.000.

Keunggulan produk tabungan tersebut antara lain bebas biaya administrasi bulanan dan dilengkapi kartu ATM. Selain itu, di samping pembuatan kartu perdananya gratis, BJB Tandamata My First juga dilengkapi fitur bebas biaya tarik tunai di seluruh ATM di Indonesia—hal yang nyaris tidak berlaku bagi tabungan pada umumnya.

Untuk memperkenalkan dan meningkatkan jumlah nasabah tabungan BJB Tandamata My First, BJB membuat sejumlah kegiatan menarik yang melibatkan peserta pelajar. Salah satunya adalah kompetisi BJB Soccer Festival dan BJB Futsal Championship.

"Peserta harus lebih dulu membuka tabungan Tandamata My First dengan saldo minimal Rp200.000. Jadi, tabungan dapat dilanjutkan dan tidak dikenai biaya pendaftaran," ujar Ketua Bidang Olahraga BJB Club, Hendi Heryawan.

Lewat SimPel atau BJB Tandamata My First, BJB telah mengedukasi anak-anak soal pentingnya menabung. Dan investasi pengetahuan—tak terkecuali pengetahuan soal pentingnya menabung, sebagaimana dikatakan Benjamin Franklin, akan mendatangkan bunga terbaik.
DarkLight