Periksa Fakta

Memeriksa Klaim Prabowo Soal Biaya LRT Termahal

Oleh: Frendy Kurniawan - 24 Juni 2018
Dibaca Normal 5 menit
Prabowo mengatakan biaya pembangunan LRT termahal adalah $8 juta per km. Kami menelusur beberapa sumber untuk memastikan kebenarannya.
tirto.id - Prabowo Subianto menyinggung soal besaran biaya proyek pembangunan LRT (Light Rapid Train) atau kereta api ringan di Palembang, Kamis 21 Juni 2018 lalu. Selain menyebut besaran nilai proyek, yang menurutnya “luar biasa”, Prabowo mengungkap informasi besaran biaya pembangunan LRT di dunia paling mahal hanya 8 juta dolar AS per kilometer.

Pernyataan Ketua Umum dan sekaligus Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu muncul dalam pidato sambutan Halal Bihalal Kader Partai Gerindra se-Sumatera Selatan di Rajawali Grand Ballroom Palembang. Prabowo berbicara di atas podium selama lebih kurang 1,5 jam atas beragam hal. LRT Palembang menjadi salah satu topik yang ia singgung di tengah acara.

Pidato Prabowo secara utuh dapat dilihat melalui akun Facebook resmi Partai Gerindra. Pada postingan bertanggal 21 Juni 2018; 11:14 am, dengan keterangan “Halal Bihalal Prabowo Subianto bersama kader Partai Gerindra se-Sumatera Selatan. #PrabowoMenyapa” itu, soal LRT Palembang dapat dilihat pada durasi menit ke 58:20 hingga 1:05:00.

Berikut adalah beberapa pernyataan yang dibuat Prabowo soal LRT Palembang dan bagaimana informasi dan fakta sesungguhnya.

Nilai Proyek LRT Palembang


“Tadi dalam perjalanan dari Pemprov, saya didampingi Pak Aswari. Wah ada LRT [red: pembangunan LRT Palembang]. Kereta api ringan, yang ndak tahu, enggak jelas nanti manfaatnya untuk apa," kata Prabowo. Hadirin bertepuk tangan, terdengar beberapa suara berseru, “Betul, betul!”

Prabowo melanjutkan, "Saya tanya harganya berapa, proyeknya. Diberitahu 1,5 eh, [ada yang berseru, '12 triliun, 12,5 triliun!'] 12,5 triliun. Luar biasa. 12,5 triliun untuk sepanjang 24 km.”

Kabar Tak Sepenuhnya Benar


Awalnya nilai proyek pembangunan LRT Palembang memang Rp 12,5 triliun. Situs Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) menegaskan besaran investasi atas proyek yang masuk sebagai infrastruktur prioritas itu. LRT Palembang yang dibangun untuk mendukung penyediaan angkutan umum massal, terutama mendukung perhelatan kompetisi olahraga Asian Games 2018.

Proyek itu juga memiliki landasan aturan hukum berupa Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan LRT di Provinsi Sumatera Selatan. Proyeknya sendiri dilaksanakan oleh PT Waskita Karya. Dalam dokumen dari PT Waskita Karya, disebut nilai awal proyek sebesar Rp 12,5 triliun.

Namun, dalam perjalanannya, besaran biaya proyek direvisi. Pada 16 Februari 2017, perubahan dilakukan dalam Adendum Kontrak 1, yakni nilai proyek LRT Palembang antara PT Waskita Karya dengan Kementerian Perhubungan. Nilai proyek LRT Palembang berubah menjadi Rp 10,9 triliun.

Siaran pers yang diterima Tirto (23/6) dari Kementerian Perhubungan menyebut hal itu: “Sebelumnya, usulan pembiayaan untuk proyek LRT ini oleh kontraktor awalnya diajukan sebesar 12 T, namun setelah melalui beberapa tahapan review biaya tersebut dapat ditekan menjadi 10,9 T.”

Juga disebutkan bahwa: “Pekerjaan pembangunan LRT Sumsel sepanjang ± 23 km dilengkapi dengan 13 stasiun, 1 depo dan 9 gardu listrik dengan menggunakan lebar jalur rel 1067mm dan third rail electricity 750 VDC telah dimulai sejak Oktober tahun 2015 dengan pembiayaan APBN. LRT Sumsel ini akan menghubungkan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin menuju kawasan sport city Jakabaring”.


Soal Indeks Termahal LRT di Dunia per Kilometer


“Saya diberitahu oleh gubernur DKI yang sekarang, Saudara Anies Baswedan. Dia menyampaikan kepada saya, 'Pak Prabowo, kami sudah insyaf, indeks termahal LRT di dunia 1 kilometer adalah 8 juta dolar. 1 kilometer.'”

Tidak ada keterangan mengenai “indeks” yang disebutkan Prabowo itu. Prabowo tidak memberi penjelasan sumber, lembaga, tahun publikasi, atau konteks informasi asal pernyataan “indeks termahal LRT di dunia 1 kilometer adalah 8 juta dolar. 1 kilometer” tersebut. Prabowo hanya menyebut bahwa informasi itu didapat dari Anies Baswedan.

Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan sendiri enggan memberikan kejelasan atas pernyataan Prabowo. Saat ditanya wartawan, Anies justru meminta para wartawanlah yang memastikan hal itu. Salah satunya dengan menelusuri data harga pembangunan proyek LRT di seluruh dunia.

“Menurut saya begini, tugas jurnalistik adalah melakukan verifikasi, melakukan validasi. Jadi malah saya anjurkan kepada teman-teman, statement pak Prabowo itu dijadikan pemantik. Anda tinggal buka datanya proyek LRT seluruh dunia dan Indonesia dari situ malah dapat,” ujarnya.


Hasil Studi

Untuk memahami konteks pernyataan “indeks termahal LRT di dunia 1 kilometer adalah 8 juta dolar” kami melakukan penelusuran dari beberapa informasi dari studi literatur.

Pertama, dari International Union of Railways (UIC). UIC sendiri adalah badan internasional sebagai wadah industri transportasi kereta api secara profesional.

Linus Grob dan Nick Craven membuat makalah penelitian ringkas berjudul “Analysis of Regional Differences in Global Rail Projects by Cost, Length and Project Stage” yang terbit pada 20 Oktober 2017. Mereka berdua mengolah dan menganalisis 1.499 proyek kereta api di seluruh dunia. Sumber datanya adalah data mentah infrastruktur IRJ Pro Database yang dikelola oleh International Railway Journal (IRJ). Data disebut menggunakan informasi konstan hingga Juli 2017.

Dengan memperhatikan tabel berjudul “Light Rail projects by region and implementation status” di halaman 10 makalah tersebut, dapat dilihat informasi perbandingan “cost per km in m$” dari proyek light rail di seluruh dunia. Tabel yang dilihat adalah “Track under construction & commissioning”.

Dari tabel itu, bisa dilihat harga rata-rata proyek light rail per kilometernya di atas puluhan juta dolar AS. (Catatan: kedua peneliti memberi catatan bahwa dari data mentah yang ada, hanya 808 proyek yang diketahui data biayanya)

Secara umum, harga paling rendah muncul dari regional Amerika Selatan dengan nilai $18,5 juta per km. Besaran harga tertingginya muncul dari regional Amerika Utara dengan nilai $99,7 juta per km. Sementara itu, untuk regional Asia, ditemukan informasi bahwa harga rata-rata proyek light rail per kilometernya adalah $69,7 juta.

Perlu diperhatikan, tabel juga menginformasikan besaran nilai untuk kategori low/mid income countries. Misalnya, untuk regional Asia, disebut rata-rata per kilometernya mencapai rata-rata $73,5 juta atau lebih tinggi dari rata-rata secara umum di Asia—tanpa mempertimbangkan kategori pendapatan negara. Yang jelas, dalam laporan tersebut tidak ditemukan informasi bahwa rata-rata proyek light rail (atau LRT) per kilometernya paling mahal adalah 8 juta dolar AS.

Kedua, laporan Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) soal Bus Rapid Transit (BRT)—bus umum cepat (seperti sistem Transjakarta untuk Indonesia). Laporan dari ITDP itu menarik karena menampilkan studi perbandingan cost (biaya) dari berbagai proyek moda transportasi. Perbandingan memuat soal moda Bus Rapid Transit (BRT); Light-Rail Transit (LRT), dan Heavy Rail Transit (HRT). Laporan juga memuat informasi perbedaan biaya antara negara berpenghasilan tinggi dan rendah.

Dengan memperhatikan Tabel 2.1 pada laporan itu, disebutkan bahwa harga rata-rata LRT per kilometer di negara berpendapatan rendah mencapai $25,3 juta, sementara untuk negeri berpendapatan tinggi mencapai $37,4 juta.

Perlu dicatat, laporan mengambil data 19 proyek pembangunan LRT di seluruh dunia, dengan asumsi rate dolar konstan pada 2013.

Melihat informasi per proyek LRT dari Tabel 2.3 pada laporan itu, dapat diketahui bahwa harga LRT per kilometer terendah adalah di Cina. Proyek Shenyang Tram di kota Shenyang dengan panjang 60 km itu mencatat harga per 1 km-nya sebesar $12,9 juta.

Berdasarkan laporan itu juga tidak ditemukan informasi biaya paling mahal LRT di dunia adalah 8 juta dolar per kilometer.

Akan tetapi, menarik untuk melihat informasi harga proyek BRT per kilometer dalam laporan itu. Secara umum, harga rata-rata proyek BRT per kilometer disebut lebih rendah dari rata-rata proyek LRT per kilometer. Apakah ini yang sebenarnya dimaksudkan oleh Prabowo?

Harga rata-rata proyek BRT bertipe Bronze misalnya diketahui mencapai $9,6 juta untuk proyek di negara berpendapatan rendah (lihat kembali Tabel 2.1 dalam laporan). Sementara itu, untuk informasi lebih rinci, harga proyek BRT terendah berada di Beijing, China. Pada Tabel 2.2 dalam laporan tersebut, disebut BRT Line 1 di kota Beijing, Cina dengan panjang 79 km itu berbiaya rata-rata sebesar $1 juta per kilometernya.

Laporan ITDP sendiri berasal dari data 42 proyek BRT di seluruh dunia.

Data detail proyek per negara juga menunjukkan besaran nilai proyek yang "beda tipis" dengan angka “8 juta dolar AS” yang disebut Prabowo. Proyek BRT Mexíbus Línea 3 Chimalhuacán–Pantitlán di kota Estado de Mexico, Meksiko, misalnya, berbiaya rata-rata per 1 kilometernya sebesar $8,9 juta.

Bahkan terdapat dua proyek BRT lain yang nilai rata-rata per kilometernya mendekati angka "8 juta dolar AS". Pada proyek BRT Linha Verde di kota Curitiba, Brasil, besaran biaya per kilometernya mencapai $7,1 juta. Sementara itu, pada proyek Guangzhou BRT di kota Guangzhou, China nilainya $7,6 juta.

Ketiga, penelusuran di internet memberikan informasi lain soal BRT. Arun MV, seorang yang mengaku sebagai Mining Engineer di situs tanya jawab Quora, pada 12 Agustus 2013 pernah menuliskan: “As of 2012, cost for 1 km of elevated light rail is about 150 million USD compared to 8 million USD for 1 km of BRTS. This makes BRTS an option for developing countries like Indonesia, India, Brazil and so on”.

Ada angka "8 juta dolar AS" yang disebutkan Arun MV untuk biaya setiap 1 kilometer BRTS (BRT System). Namun, informasi ini adalah untuk proyek BRT bukan LRT.

Akun bernama Arun MV itu juga tidak memberikan kejelasan informasi sumber data yang dia gunakan, sehingga pernyataan Arun MV hanya dapat dilihat sebagai opini.

Keempat, dari buku Lewis Lesley berjudul Light Rail Developers' Handbook (2011) yang mencatat: “A recent extension to the Brussels tramway cost €8 milion/km ($19 million/mile). Karlsruhe on-street track extensions are €7 to €8 million/km ($16 to $19 million/mile)” (halaman 10).

Namun, besaran angkanya bukan dalam USD ($), melainkan Euro (€), sehingga informasi ini seharusnya bukanlah sumber pernyataan “indeks termahal LRT di dunia 1 kilometer adalah 8 juta dolar”.

Kesimpulan


Dengan demikian, hasil periksa fakta atas pernyataan Prabowo soal nilai proyek LRT Palembang ditemukan hasil “tidak sepenuhnya benar”. Nilai proyek tersebut bukan lagi Rp12,5 triliun, tetapi sudah menjadi Rp10,9 triliun.

Sementara itu, untuk pernyataan “indeks termahal LRT di dunia 1 kilometer adalah 8 juta dolar", sampai 23 Juni 2018 pukul 14.30 WIB, lewat penelusuran secara online—baik melalui mesin pencari umum Google maupun pencarian literatur ilmiah lewat Google Scholar—belum didapat informasi yang bisa membenarkan pernyataan tersebut.

Oleh karena itu, pidato Prabowo masuk dalam kategori kegiatan politik, sebab disampaikan pada acara resmi Partai Gerindra. Pernyataan soal biaya LRT itu dapat dilihat sebagai opini politik. Penyataan itu belum terverifikasi sumber data beserta konteks informasinya, sehingga berpotensi menjadi pesan misinformasi. Apalagi jika masyarakat luas tidak berupaya melakukan pemeriksaan, percaya begitu saja, dan menyebarluaskan kabar itu.

======

Tirto mendapatkan akses pada aplikasi CrowdTangle yang memungkinkan mengetahui sebaran sebuah unggahan (konten) di Facebook, termasuk memprediksi potensi viral unggahan tersebut. Akses tersebut merupakan bagian dari realisasi penunjukan Tirto sebagai pihak ketiga dalam proyek periksa fakta.

News Partnership Lead Facebook Indonesia, Alice Budisatrijo, mengatakan, alasan pihaknya menggandeng Tirto dalam program third party fact checking karena Tirto merupakan satu-satunya media di Indonesia yang telah terakreditasi oleh International Fact Cheking Network sebagai pemeriksa fakta.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Maulida Sri Handayani