Membayangkan Blockchain dari Cara yang Paling Sederhana

infografik blockchain
Ilustrasi Blockchain. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 26 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Istilah blockchain bagi sebagian orang bukan lagi hal asing karena terkait dengan mata uang digital bitcoin. Bagaimana menggambarkan konsep itu dalam kehidupan sehari-hari?
tirto.id - Pada 9 Januari 2009, Satoshi Nakamoto meluncurkan Bitcoin. Ia dibantu oleh ahli pemrograman bernama Mike Hearn dan Gavin Andresen yang berinteraksi secara online. Nakamoto mengirimkan email kepada satu di antara keduanya.

“Saya telah beranjak pada kesibukan lain. Bitcoin telah berada di tangan yang baik denganmu, dengan Gavin, dan dengan semua orang,” tulis Nakamoto pada Hearn melalui email.

Setelah itu, Nakamoto menghilang bak ditelan Bumi. Perbincangan tentang siapa sosok Nakamoto pun mencuat. Ia merupakan tokoh yang dianggap dari kelahiran Bitcoin, mata uang kripto yang fenomenal.

“Jaringan kartu kredit visa memproses sekitar 15 juta pembayaran via internet setiap hari di seluruh dunia. Bitcoin siap memproses lebih besar daripada itu dengan perangkat dan biaya yang lebih sedikit,” kata Satoshi Nakamoto pada Hearn suatu waktu ketika ia masih belum memilih menghilang.

Sesumbarnya Nakamoto atas Bitcoin tak lepas dari teknologi yang menopang hidup mata uang kripto buatannya tersebut. Teknologi itu bernama Blockchain.



Blockchain, tak begitu saja hadir. Ia merupakan teknologi yang terinspirasi dari teknologi yang telah ada sebelumnya. Misalnya DigiCash, sistem mata uang digital anonim dan tak terdeteksi yang dilahirkan oleh David Chaum,, teknik Reusable Proof of Works (RPOW) yang merupakan sistem token yang akan memberikan insentif jika suatu hal sukses dikerjakan, hingga teknologi peer-to-peer dan kriptografi.

Secara umum Blockchain diartikan sebagai buku besar digital, di mana setiap transaksi dicatat secara kronologis dan didistribusikan pada publik serta diamankan oleh teknik kriptografi.

Secara teknis, Blockchain, dalam hal ini transaksi Bitcoin, dimulai dengan penyiaran transaksi memanfaatkan peer-to-peer, teknologi yang mirip seperti men-download film memanfaatkan Bittorrent. Transaksi yang disiarkan disebut dengan istilah nodes. Transaksi atau node divalidasi oleh komunitas, apakah benar terjadi atau tidak.

Jika benar, nodes akan dikombinasikan atau dicatatkan dengan nodes lainnya membentuk sebuah blok baru. Digabungkan dengan blok yang telah ada. Dalam laporan Wired, ada 200 ribu komputer dan terus bertambah di seluruh dunia yang bahu membahu membentuk jaringan Blockchain, termasuk membantu memvalidasi transaksi dan menyimpan tiap blok-blok baru yang tercipta.

Definisi Blockchain tersebut tak ramah terhadap telinga masyarakat awam. Buku besar, nodes, ataupun blok, sukar dipahami.





Memahami dari Paling Sederhana


Bettina Warburg, peneliti pada Transformative Technologies, dalam tayangan multimedia Wired, menjelaskan Blockchain pada beragam tingkatan umur. Pada anak usia Taman Kanak-kanak, Warburg secara tersirat menjelaskan bahwa Blockchain tak berbeda jauh dengan konsep transaksi jual-beli konvensional.

Transaksi jual-beli konvensional dilakukan dengan mengunjungi toko atau penjual. Namun, bila menggunakan Blockchain, Warburg mengatakan pada anak-anak itu bahwa “transaksinya sama, tapi tidak membutuhkan toko dan tidak perlu bertatap muka dengan sosok si penjual.”

Dalam contoh yang sederhana, Blockchain bisa dijelaskan dengan transaksi peminjaman kelereng antara Andi dan Wawan. Andi, yang memiliki 10 kelereng memberi pinjaman 3 kelereng pada Wawan. Andi mencatat 3 kelereng yang dipinjam Wawan tersebut untuk mengingatnya. Dalam sistem konvensional, Wawan memungkinkan untuk mengelak telah menerima 3 kelereng dari Andi. Alasannya? Hanya Andi yang punya catatan soal 3 kelereng yang dipinjam Wawan. Wawan dan teman yang lain, tidak punya catatan tersebut.

Namun, dengan menggunakan sistem Blockchain, ketika Andi hendak meminjamkan 3 kelereng pada Wawan, seketika itu juga kabar transaksi tersebut disebarkan. Selain diterima oleh Andi dan Wawan, kabar juga diterima oleh kawan mereka yang lain. Andi, Wawan, dan rekan lainnya menvalidasi transaksi tersebut. Jika semua menyatakan transaksi benar terjadi, pinjaman 3 kelereng itu lalu dicatat. Pencatatan tak hanya di buku milik Andi, tapi juga di semua buku milik Andi, Wawan, dan kawan lainnya. Guna melindungi dari kecurangan, catatan tersebut diproteksi dengan sampul dan masing-masing pemilik tak bisa menghapus catatan.

Pada anak remaja, yang telah terbiasa menggunakan eBay ataupun Tokopedia, Warburg mengatakan bahwa Blockchain sebenarnya hanya alat mempermudah transaksi. Saat berbelanja di Tokopedia, pengguna membayar barang pesanannya dengan uang berjumlah tertentu, baik melalui kartu kredit maupun transfer. Kegiatan transaksi dibantu oleh pihak ketiga. Nah, bila memanfaatkan Blockchain, Warburg mengatakan bahwa “kamu tidak memerlukan eBay dan pihak ketiga apapun.”

Penjelasan yang lebih menarik untuk memahami apa itu Blockchain datang dari Nik Custodio, direktur FTI Consulting, firma konsultasi bisnis digital. Melalui tulisannya di Coindesk, Custodio mengumpamakan transaksi fisik dan transaksi Blockchain melalui sebuah apel.

Pada transaksi fisik, jika A memberikan B sebuah apel, secara sederhana, tidak ada masalah yang berarti muncul. Di tangan A, tak ada apel tersisa. Sementara di tangan B, ada sebuah apel yang bisa ia perlakukan sesuka hati. Namun, bagaimana jika pertukaran apel antara A dan B bukanlah dalam bentuk fisik, melainkan digital? Ketika A mentransfer apel digital ke B, masih ada kemungkinan bahwa A memiliki apel. Kenapa? Sebelum mentransfer, A bisa saja dapat berperilaku curang dengan menduplikasi data, dengan mengirimkan salinan apel digital ke C misalnya. Tingkah jahat A ini, dalam dunia teknologi disebut dengan istilah “double-spending problem.”

Blockchain, menurut Custodio secara tersirat, menghapuskan perilaku jahat A tersebut. Blockchain memastikan bahwa ketika A memberikan apel digital ke B, tak ada apel digital tersisa dari tangan B. Jika memang ada, tapi itu merupakan apel digital palsu milik A. Mengapa? Karena transaksi apel digital dari A ke B dicatat dalam buku besar yang dimiliki semua pihak, bukan hanya A dan B. Untuk memastikan siapapun tidak bisa merekayasa, transaksi tersebut dilindungi melalui kriptografi.



Blockchain merupakan sistem pencatatan transaksi yang menyempurnakan sistem-sistem yang telah ada sebelumnya. Mengutip sebuah unggahan di Forbes, Blockchain merupakan teknologi terbuka, mendesentralisasikan buku besar yang mencatat tiap transaksi antar pihak yang tidak memerlukan pihak ketiga atau middle man, sehingga mampu mereduksi biaya.

Di awal kemunculannya, Blockchain erat dengan Bitcoin. Namun, Blockchain kemudian dipahami sebagai teknologi yang mampu diterapkan di banyak hal. Publikasi Fortune menyebut, 15 persen bank besar di seluruh dunia akan menerapkan teknologi Blockchain. Catatan Statista, Blockchain berpeluang digunakan hampir 60 persen transfer uang internasional. Dunia Blockchain diprediksi akan bernilai $2,3 miliar pada 2012 mendatang.

Salah satu perusahaan yang siap terhadap kehadiran Blockchain adalah Amazon. Perusahaan yang didirikan Jeff Bezos itu, pada akhir minggu ke-3 April 2018 resmi merilis “AWS Blockchain Templates” pada layanan cloud mereka. Layanan tersebut memungkinkan siapapun untuk membuat sistem Blockchain sesuai kehendaknya, dan mendapat dukungan oleh dua teknologi: Ethereum dan Linux Foundation’s Hyperledger Fabric.

Dengan “AWS Blockchain Templates”, perusahaan dapat membuat sistem Blockchain untuk kepentingan manajemen rantai pasok, layanan finansial, hingga pembukuan perdagangan. Blockchain memang jadi hal yang tak sederhana bagi mereka yang belum mencoba, tapi sistem ini menawarkan sesuatu yang lebih sederhana dari cara konvensional termasuk dalam bertransaksi di dunia perbankan.

Baca juga artikel terkait BLOCKCHAIN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight