Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan Pekerja Profesional

Membangun Islam Bumi

29 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Suatu hari saat sedang menunggu bagasi di bandara, seorang berumur kira-kira 50 tahun yang berdiri di sebelah saya membuka bungkus sebutir permen, lalu dengan enteng membuang kulitnya ke lantai setelah memakan isinya. Saya perhatikan sosok orang itu. Ia memakai topi berlogo Kementerian Agama. Jaket yang ia kenakan bertuliskan institusi pendidikan madrasah. Saya duga ia guru madrasah.

Saya pungut kulit permen itu, saya masukkan ke dalam genggaman tangannya, sambil saya tegur,”Pak, tolong biasakan buang sampah pada tempatnya.” Mimik wajahnya sempat menunjukkan raut hendak membantah, tapi urung setelah menyadari pandangan saya tertuju pada mulutnya yang sedang mengulum permen. Akhirnya ia minta maaf.

Apakah kejadian ini sebuah kebetulan yang langka? Tidak. Perilaku tidak bersih dan tidak tertib ini sangat sering kita saksikan, dilakukan oleh orang-orang yang bisa kita identifikasi sebagai orang Islam dari atributnya, atau dari peristiwa yang melatari kejadian. Pada arus mudik lebaran, misalnya, kita temukan tumpukan sampah di sepanjang jalan yang dilewati para pemudik. Sampah juga bertumpuk pada sisa-sisa kegiatan ibadah atau pengajian.

Kita dengan mudah pula bisa menemukan perempuan berjilbab lebar, naik sepeda motor tanpa helm. Kelakuan seperti itu menurun kepada anak-anak mereka. Saya cukup sering menemukan anak-anak di bawah umur, yang tentu saja belum boleh punya SIM, naik sepeda motor, tanpa memakai helm. Tidak jarang pula disertai pelanggaran lain, seperti melawan arus, atau berboncengan 3 orang. Mereka ini berjilbab seperti ibu-ibu yang saya sebut tadi. Lazim pula kita saksikan ormas Islam berpawai merayakan hari besar Islam, atau pawai untuk unjuk rasa, memakai atribut Islam, tapi melanggar berbagai peraturan lalu lintas.

Kenapa perilaku orang-orang ini mesti dikaitkan dengan Islam? Karena sejatinya agama membuat orang menjadi baik. Baik itu termasuk di dalamnya bersih dan tertib tadi. Tentu menjadi aneh bila orang-orang yang berpenampilan dengan citra bahwa ia taat menjalankan agama, tapi pada saat yang sama tidak tertib. Kenapa ini bisa terjadi?

Apakah ajaran Islam memang tidak mengajarkan orang untuk bersih dan tertib? Kita dengan mudah menjawab, tidak. Soal kebersihan, misalnya, kita semua tahu ajaran bahwa kebersihan itu bagian dari iman. Tapi kenapa ajaran itu tidak muncul dalam perilaku sehari-hari? Jawabnya adalah karena Islam kita ini masih merupakan Islam langit.

Apa itu Islam langit? Yaitu Islam yang fokus perhatiannya hanya pada hal-hal vertikal saja. Bagaimana mungkin ada Islam yang seperti itu? Bukankah Islam mengatur dua sisi sekaligus, vertikal dan horizontal? Hablun minallah dan hablun minannaas. Betul. Tapi tetap saja fokus orang pada aspek vertikalnya.

Coba kita buka buku-buku fiqh, adakah yang membahas soal tertib di jalan, atau soal hukum membuang sampah sembarangan? Tidak. Hal-hal yang dibahas dalam buku-buku fiqh adalah soal-soal ibadah. Atau, kalau ada soal horizontal ia adalah soal yang kembalinya ke soal vertikal juga. Misalnya soal zakat atau sedekah. Apapun juga, bahasan fiqh dan agama secara umum tidak banyak beranjak dari yang dibahas oleh para pemikir zaman awal, zaman 4 mazhab. Konyolnya, hal-hal yang sudah tidak relevan seperti soal budak, kadang masih dibahas juga.

Adakan pembahasan soal sampah atau lalu lintas? Tidak. Tapi jangan salahkan para imam mazhab itu. Pada zaman mereka masalah sampah atau ketertiban belum ada. Karena itu mereka tidak membahasnya. Anda tentu bisa bayangkan bagaimana situasi lalu lintas di zaman Imam Syafi’i. Masalahnya adalah, meski secara formal orang-orang sepakat bahwa pintu ijtihad belum tertutup, para pemikir Islam sedikit yang benar-benar berijtihad. Mereka tidak berani beranjak jauh dari apa yang sudah dirumuskan, dan enggan menggali di sisi apa yang dibutuhkan.

Islam kita lebih fokus pada soal apakah kelak kita akan masuk surga atau neraka. Hidup kita sekarang dipayungi oleh keinginan masuk surga dan ketakutan pada neraka. Apakah membuang sampah sembarangan itu berdosa dan menyebabkan orang masuk neraka, tidak ada yang membahasnya. Karena tidak terkait pada soal surga dan neraka, maka orang mengabaikannya. Buang sampah sembarangan laksana persoalan di ruang hampa, tidak punya konsekuensi.

Mungkinkah difatwakan, misalnya, haram hukumnya membuang sampah sembarangan? Atau, haram hukumnya menerobos lampu merah? Mungkin saja. Tapi barangkali sangat sedikit yang berani berfatwa seperti itu. Tapi boleh jadi fatwa seperti itu tidak perlu. Yang diperlukan adalah ajaran untuk berpikir soal baik buruk, melampaui batas halal haram yang tertulis dalam teks-teks suci. Karena kebaikan adalah kebaikan, meski tidak ditunjuk oleh kitab suci.

Banyak orang yang tidak suka ketika saya kaitkan isu ini dengan Islam. Orang-orang berpandangan bahwa ini terkait dengan tingkat kemajuan. Faktanya, negara-negara muslim adalah negara-negara yang belum maju. Kalau nanti sudah maju, pasti akan tertib. Coba lihat negara-negara Eropa-Amerika itu. Mereka pada dasarnya Kristen, tapi mereka berbeda dengan negara-negara Kristen yang belum maju, seperti negara-negara Afrika atau Amerika Selatan. Yang terakhir itu juga tidak tertib, sebagaimana negara-negara muslim.

Di situlah letak kesalahan berpikirnya. Orang menganggap tertib, bersih, disiplin, dan sebagainya itu buah dari kemajuan. Salah! Terbalik! Kemajuan itu buah dari sikap-sikap tadi. Orang mengaitkannya pula dengan tingkat pendidikan. Kalau pendidikan sudah baik, ketertiban dan sejenisnya itu akan terbentuk. Benarkah? Coba datangi kampus-kampus, dan kita akan menemukan berbagai jenis ketidaktertiban.

Yang kita perlukan adalah membangun suatu pola pikir Islam yang baru, yang berfokus pada bumi, pada kehidupan saat ini. Yang berfokus pada bagaimana membuat hidup sekarang menjadi lebih baik, dalam hal ekonomi, teknologi, kesejahteraan, dan perdamaian. Tapi apa hubungan semua ini dengan ketertiban dan kebersihan? Hubungannya adalah, semua berawal dari hal-hal kecil. Disiplin dalam menjaga kebersihan, menghasilkan disiplin pada skala yang lebih besar. Disiplin berhubungan pula dengan etos kerja. Etos inilah yang membangkitkan kemajuan ekonomi dan teknologi.

Anda mungkin masih menganggap sepele soal kecil seperti tepat waktu. Tapi coba bayangkan, mungkinkah suatu negara punya sistem kereta api yang bagus, yang mampu melayani kebutuhan kota besar, di mana kereta masuk ke suatu stasiun setiap 2 atau 3 menit, kalau para pengelolanya tidak tepat waktu? Yang terjadi adalah tabrakan kereta! Sedikit yang masih menyadari bahwa banyak perusahaan manufaktur Jepang menjadi raksasa dengan modal manajemen produksi berbasis pada ketepatan waktu, yang dikenal dengan sistem just in time. Semua ini menunjukkan bahwa soal tepat waktu bukanlah soal remeh.

Apakah Islam mengajarkan untuk tepat waktu? Ya, Quran mengajarkan untuk menepati janji. Tepat waktu artinya menepati janji untuk melakukan sesuatu pada waktu yang sudah dijanjikan. Dalam praktek ibadah, kita harus sahur pada waktu tertentu. Terlambat sahur 1 menit saja setelah azan subuh berkumandang membuat puasa kita tidak sah. Sayangnya ajaran ini tidak menimbulkan efek pada kehidupan kita. Karena kita gagal membumikannya. Karena kita fokus pada langit.

Sekali lagi, yang dibutuhkan umat Islam adalah pemikiran yang mampu membangun sikap-sikap positif, yang akan menggiring mereka ke arah kemajuan. Baik dengan menggunakan dalil-dalil naqli dari teks-teks suci maupun dengan akal pikiran saja.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.