tirto.id - Di tengah udara sejuk kaki Gunung Slamet, gelaran BRI Jazz Gunung Slamet 2026 kembali menjadi ruang pertemuan yang hangat antara musik, alam, dan budaya. Di balik kemeriahannya, panggung ini tidak sekadar menyajikan performa musikal, tetapi juga merajut kisah tentang bagaimana para musisi memaknai jazz mulai dari sebuah genre yang menjadi saksi sejarah perjalanan sosial manusia, hingga representasi tertinggi dari kebebasan berkarya.
Sejatinya, musik jazz lahir pada akhir abad ke-19 di New Orleans, Amerika Serikat, dari komunitas Afrika-Amerika yang hidup dalam bayang-bayang diskriminasi rasial. Berakar dari blues, spiritual, dan ragtime, jazz berkembang menjadi medium ekspresi sekaligus simbol perlawanan dan kebebasan.
Semangat kebebasan serupa terasa kuat di Jazz Gunung Slamet. Di atas panggung yang dikelilingi hijaunya pegunungan, musik jazz hadir bukan sebagai ruang kaku yang mengikat, melainkan sebuah kanvas ekspresi yang membebaskan setiap musisi untuk menafsirkannya.
Jazz Lahir dari Suara Mereka yang Terpinggirkkan
Sebagai grup musik yang telah berkecimpung di belantika musik jazz sejak tahun 2012, duo NonaRia memahami betul bahwa jazz tidak boleh dilepaskan dari sejarah kelahirannya.
Menurut mereka, penting bagi masyarakat awam—khususnya generasi muda penikmat jazz saat ini untuk mengenal akar sejarah musik yang telah bertahan lebih dari satu abad ini. Perlu diingat bahwa jazz awalnya adalah musiknya masyarakat kelas bawah dan kelompok marjinal yang hidup di pinggiran sistem sosial.
"Jika kalian (generasi muda) benar-benar ingin mendengarkan musik jazz, you will dig deeper. Ada apa di tahun 20-an? Ada apa di tahun 30-an? Karena bagaimanapun jazz bukan untuk kaum elite tertentu; jazz lahir dari kaum marjinal," ujar vokalis NonaRia, Nesia Ardi, saat ditemui tim Tirto selepas penampilannya pada Sabtu (27/06/2026).

Hal senada diungkapkan oleh Nanin Wardhani, pianis dan pemain akordeon NonaRia. Ia menambahkan bahwa keberadaan internet saat ini seharusnya mempermudah generasi muda untuk mengeksplorasi musik jazz jauh lebih baik ketimbang masa lalu.
"Iya, apalagi sekarang ada internet. Dulu kita cuma bisa bergantung pada radio untuk mendengarkan musik. Kalau sekarang, lewat internet akan sangat mudah untuk eksplorasi, terutama soal pengetahuan jazz," kata Nanin.
Pandangan tersebut sejalan dengan sejarah jazz yang tumbuh subur di New Orleans. Di tengah keterbatasan sosial dan ekonomi, musik menjadi ruang aman bagi komunitas Afrika-Amerika untuk menyuarakan identitas, perlawanan, sekaligus harapan. Dari titik itulah jazz berevolusi menjadi bahasa universal yang kini dimainkan di berbagai belahan dunia, termasuk di kaki Gunung Slamet.
Rumit, tetapi Justru Menantang
Senada dengan NonaRia, grup musik beraliran jazz-rock, Emptyyy, memandang musikalitas jazz sebagai sebuah budaya yang dikemas dalam balutan ritme yang kompleks.
Namun, kompleksitas tersebut bukan berarti jazz eksklusif untuk kalangan tertentu saja. Justru bagi mereka yang benar-benar mencintai musik ini, kerumitan tersebut menjadi tantangan sekaligus daya tarik untuk terus belajar. Dari proses belajar dan bereksplorasi itulah, seseorang dapat menemukan karakter jazz yang sesuai dengan jati dirinya.
"Kalau dibilang rumit, ya, itu benar. Mungkin bagi beberapa orang yang baru pertama kali mendengar musik jazz akan bingung, tapi menurut saya itu karena tidak terbiasa saja. Sah-sah saja kalau awal-awal belajar musik jazz dimulainya dari yang mudah, misalnya Laufey atau Chet Baker. Nanti lama-lama akan menemukan hal-hal baru," ujar Rega Dauna, pemain harmonika Emptyyy.

Selain itu, Rega memaknai jazz sebagai sebuah kultur yang memiliki posisinya sendiri seiring perkembangan zaman.
"Kalau kita lihat di tahun 50-an, saat itu jazz jadi musik yang sangat populer, berbeda dengan sekarang yang bukan lagi menjadi kultur utama kita. Aku pribadi memaknai jazz—kapan pun zamannya—sebagai sesuatu yang lebih dari musik, tetapi sebagai kultur dan freedom (kebebasan)," tambah Rega.
Tempat Musisi Bersenang-senang
Sementara itu, penyanyi Amelia Ong memiliki cara pandang yang lebih personal. Baginya, jazz merupakan ruang komunal bagi para musisi untuk menikmati proses bermusik dan bersenang-senang bersama.
"Setelah mempelajari musik jazz, aku jadi memahami kalau jazz memberikan kita kebebasan untuk berkarya bersama dengan orang-orang yang turut merasakan energi yang sama," kata penyanyi jazz asal Purwokerto tersebut.
Amelia menambahkan, energi kegembiraan inilah yang kemudian tersalurkan kepada penonton, baik dari sang penyanyi maupun dari para pemain instrumen.

Ia juga menegaskan bahwa karakter improvisasi dalam jazz memberi keleluasaan bagi setiap musisi untuk mengeksplorasi permainannya tanpa harus terpaku pada struktur yang kaku. Karena itu, setiap pertunjukan jazz selalu menawarkan kejutan yang berbeda. Tidak hanya penonton yang hanyut dalam pertunjukan, tetapi para musisi di atas panggung pun benar-benar menikmatinya.
"Makanya kalau kita perhatikan, beberapa musisi jazz saat di atas panggung terlihat seperti punya inside jokes mereka sendiri dan sering tertawa satu sama lain. Hal ini karena ada satu frekuensi di mana kita bebas mengeksplorasi talenta dan menuangkannya ke dalam penampilan," tutup Amelia.
Di bawah rintik hujan yang menyelimuti penyelenggaraan BRI Jazz Gunung Slamet 2026, ketiga sudut pandang tersebut membuktikan bahwa jazz tidak pernah sekadar menjadi genre musik di atas kertas.
Bagi sebagian orang, jazz adalah warisan sejarah perjuangan masyarakat marjinal. Bagi yang lain, ia merupakan tantangan musikal yang tidak pernah habis untuk dikulik. Sementara bagi sebagian lainnya, jazz adalah ruang paling bebas untuk merayakan musik itu sendiri.
Karena ragam maknanya yang kaya itulah jazz tetap hidup dan relevan hingga hari ini. Dan malam itu, di BRI Jazz Gunung Slamet, semua makna tersebut melebur menjadi satu di atas panggung yang sama.
Editor: Intan Umbari Prihatin
Masuk tirto.id

































