Memahami Group Idol dan Cara Agar JKT48 Bisa Terus Eksis

Konser JKT 48 di JKT48 Theater fX Sudirman, Jakarta. FOTO/Doc. jkt48 Project
Oleh: Frasetya Vady Aditya - 14 Desember 2016
Dibaca Normal 4 menit
Fanatisme para Wota tak perlu diragukan lagi. Mereka tak kalah fanatis dengan para suporter sepakbola. Apa yang terjadi pada para Wota jika, misalnya, JKT48 bubar?
tirto.id - “'Cantik sekali Lilipally!’ Komentatornya belum pernah liat Veranda kali, ya,” cuit @imandita di twitter menanggapi komentator pertandingan kesebelasan negara Indonesia saat menang atas Vietnam 2-1 di semifinal Piala AFF 2016. “Veranda” yang dimaksud @imandita tak lain adalah anggota grup musik JKT48 yang pernah meraih kepopuleran di jagat musik Indonesia.

JKT48 lahir dengan segudang tanda tanya dalam arti sebenarnya. Mereka muncul saat menjamurnya girlband di Indonesia, baik yang asli dari Korea Selatan, maupun versi KW-nya yang tak bisa bernyanyi dan menari. Namun, para penggemar JKT48 bersikukuh bahwa mereka bukanlah “Girlband” tetapi “Idol Group”!

Sebagai sister group, JKT48 memiliki konsep yang sama seperti AKB48. Ini yang membuat JKT48 dianggap memberikan warna baru di industri musik Indonesia.

Idol sebagai Kata Benda

Penggemar JKT48 tidak rela kalau pujaannya disebut sebagai “Girlband”. Tidak sedikit blog penggemar JKT48 yang ingin meyakinkan orang-orang bahwa “Girlband” dan “Idol Group” adalah dua hal berbeda.

Secara garis besar “Idol Group” bukan sekadar kelompok musik. Anggotanya dididik agar menjadi artis multitalenta. Hal ini berbeda dengan girlband atau boyband yang dilatih untuk tampil di atas panggung belaka. Katanya.

Di Jepang, idol tidak lagi merujuk kepada kata yang berarti “idola” atau “pujaan”. Idol kini menjadi kata benda yang merujuk kepada jenis manusia tertentu.

Idol tidak cuma bernyanyi tetapi juga bekerja sebagai aktor, model, pemandu acara, dan juru bicara komersial; yang memberi kesan kalau muncul di depan layar televisi ketimbang di studio rekaman atau di ruang konser, adalah ciri pasti dari seorang idol,” tulis Carolyn S. Stevens dalam Japanese Popular Music: Culture, Authenticity, and Power (2008:50).

Hadirnya Penggemar Fanatik

Salah satu yang menonjol dari JKT48 di Indonesia adalah penggemar fanatik yang kehadirannya begitu vokal. Para pemuda tanggung sampai pria paruh baya berseliweran membawa light stick. Sebelum pertunjukkan dimulai, mereka akan terlihat pendiam. Mereka tak ubahnya werewolf dan JKT48 adalah bulan purnama. Saat JKT48 muncul di atas panggung, mereka pun riuh dan mulai meneriakkan chant-chant.

Para penggemar fanatik JKT48 kerap disebut Wota. Namun, Wota tidak melulu tentang JKT48, melainkan penggemar idol group secara keseluruhan. Eric Prideaux dalam artikel "Wota Lota Love" di Japan Times, menjabarkan bahwa Wota merupakan gubahan dari kata otaku. Dalam bahasa Jepang, otaku merepresentasikan seseorang yang punya obsesi terhadap sesuatu, khususnya pada anime dan manga.

“Mereka adalah orang-orang yang bangun dini hari untuk mengamankan tempat dalam antrian sesi foto idol atau aktris. Mereka adalah anak yang menghabiskan masa kecil di sekolah terbaik tapi berakhir menjadi pecundang dengan wajah memelas. Orang-orang itu biasanya disebut ‘maniak’ atau ‘fanatik’, tapi tak ada kata yang benar-benar sesuai. Maka, kami memutuskan untuk menyebut mereka sebagia otaku,” tulis Nakamori Akio dalam “This City is Full of Otaku” yang tayang di Manga Burikko.

Tidak sedikit penggemar idol group yang merupakan penggemar fanatik anime atau manga. Di saat yang sama, hadirlah AKB48 di Akihabara, yang merupakan Mekkah-nya para otaku. Otaku pun punya pujaan baru yang tak lagi berbentuk dua dimensi, tetapi bahkan bisa mereka temui dan salami.


Idol yang Tak Sempurna

Saat hadir di stasiun televisi di Indonesia, nada-nada sumbang pun terdengar. Banyak yang merasa kalau JKT48 seperti masih perlu berlatih lebih keras agar gerakannya sinkron. Belum lagi mereka dianggap tidak bisa bernyanyi karena tampil lip sync.

Hal ini pernah dikonfirmasi langsung oleh Yasushi Akimoto, sosok di balik Geng 48. Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, Akimoto membandingkan antara audisi bakat di Amerika dengan yang dilakukan di Jepang.

“Di Amerika, penampil dipilih lewat audisi ketat dari ribuan orang dan mereka yang punya bakat terbaik harus melewati serangkaian pelajaran dan pelatihan sulit sebelum mereka komplit dan bisa berdiri di atas panggung. Anak-anak AKB48 itu unfinished. Dengan kata lain, mereka belum bernyanyi atau menari dengan bagus. Para penggemar mendukung dan menyemangati mereka yang membuat mereka menjadi lebih baik, seperti halnya artikel yang telah selesai. Itulah AKB48,” kata Akimoto.

Saat menggelar teater untuk pertama kali, hanya ada tujuh orang yang menyaksikan pertunjukkan tersebut. Tapi, Akimoto tak ambil pusing.

“Aku tak khawatir. Aku ingin tahu apakah ketujuh orang itu suka atas apa yang mereka saksikan. Kalau mereka benar-benar suka dan kagum, maka aku tahu jumlah penonton akan terus tumbuh,” jelas Akimoto.

Strategi tersebut rupanya berhasil menarik banyak penggemar. AKB48 tidak seperti idol yang tanpa cacat. Mereka adalah orang biasa yang membutuhkan waktu dan dukungan untuk bisa sempurna.

Akimoto pun menambahkan bumbu emosional lewat strategi penjualan yang mereka lakukan. Secara tidak langsung penggemar dididik bahwa uang yang mereka keluarkan untuk membeli album dan merchandise akan bermuara pada kemajuan grup itu sendiri.



Penggemar Fanatik

“Waktu itu saya suka lebih dulu dengan AKB48,” tutur Satria Perdana (25), editor di sebuah situs gaya hidup. “Awalnya memang karena mereka cakep-cakep, tapi lama-lama lagunya enak juga untuk didengarkan.”

Satria tidak ingin menggolongkan dirinya sebagai Wota karena “tanggung jawabnya” besar. Seorang Wota biasanya mencurahkan hidupnya untuk idol yang mereka sukai, seperti selalu datang ke teater, membeli album dan merchandise, sampai selalu datang di setiap acara yang digelar.

Pria yang menyukai Kinal sebagai oshi-nya ini merasa bahwa banyak penggemar JKT48 yang begitu fanatik. Bahkan, pernah dalam satu acara bersalaman, ada penggemar yang menurutnya di luar nalar.

“Buat salaman saja itu bayarnya 100 ribu selama 10 detik. Tapi, cowok di depan saya beli tiketnya 10 juta!” papar Satria.

Thomas van Schaik dalam The Psychological of Social Sport Fans: What Makes Them So Crazy mengutip disertasi Dr. Jeffrey James tentang suporter olahraga. Ia menjabarkan bahwa seseorang baru menyukai sesuatu pada usia sekitar delapan atau sembilan tahun. Itu adalah masa di mana mereka telah mengembangkan kemampuan berpikir secara konkrit dan dari sanalah mereka mampu memiliki rasa sayang jangka panjang pada sesuatu, dalam hal ini olahraga, baik itu sebuah tim atau atlet tertentu.

“Pemberi pengaruh utama pada anak lewat proses ini termasuk keluarga mereka (ayah, ibu, atau saudara yang lebih tua), media, dan partisipasi mereka pada olahraga tertentu (bermain bersama teman di sekolah atau klub lokal),” tulis Van Schaik.

“Ada satu hal berharga dengan menjadi seorang penggemar olahraga,” ujar penulis The New York Times, Adam Sternbergh. “Dia membiarkanmu untuk merasakan investasi emosi yang benar-benar nyata pada sesuatu yang tak punya konsekuensi langsung dengan dunia nyata.”

Dr. Paul Bernhardt pernah melakukan penelitian tentang psikologi perilaku pada 1991. Ia menguji penelitian Dr. Theodore Kemper yang berhipotesis bahwa penggemar yang menyaksikan pertandingan olahraga mengalami perubahan testosteron. Dalam penelitian itu disebutkan bahwa penggemar yang timnya menang mengalami peningkatan kadar testosteron.

Dr. Paul akhirnya mengukur kadar testosteron yang diukur dari penonton pertandingan basket. “Mereka (penonton) tidak menembak bola atau lari di atas lapangan, tapi mereka mengalami peningkatan testosteron yang sama seperti yang dialami atlet,” tulis Dr. Paul.

Saat Sebuah Klub Bubar

Tentu hal ini tak melulu berlaku pada penggemar olahraga, tetapi juga mereka yang menyukai sesuatu termasuk pada idol group. Lantas, bagaimana misalnya kalau mereka bubar?

Chivas USA adalah kesebelasan di Major League Soccer yang nasibnya berakhir dengan tragis: dibubarkan. Salah satu alasannya adalah makin turunnya jumlah penonton di The StubHub Center, kandang Chivas. Pembubaran ini menjadi klimaks dari segala ketidakselarasan yang mereka miliki sejak awal terbentuk.

Chivas hadir dengan segala optimisme yang mengiringinya. Jorge Vergara, sang pendiri Chivas, adalah pemilik kesebelasan Meksiko, Club Deportivo Guadalajara. Vergara merasa kalau Amerika Serikat punya budaya yang sama dengan Meksiko.

Ia memilih California sebagai kandang Chivas. California sendiri menjadi tempat yang sangat banyak dihuni komunitas Hispanik dan Latino terbesar di Amerika Serikat. Vergara melihat ini sebagai peluang untuk melebarkan sayap, dengan menjadikan Chivas sebagai tujuan utama penggemar Guadalajara di Amerika Serikat.

Awalnya strategi ini berhasil karena mayoritas suporter Chivas adalah komunitas Hispanik. Lambat laun, jumlah suporter tidak berkembang. Pada 2014, jumlah penonton yang hadir di StubHub Center tak lebih dari empat digit, atau yang paling sedikit ketimbang kontestan MLS lain.

Mantan Direktur Komunikasi Chivas, Keegan Pierce, sejak awal merasa kalau ekspansi Guadalajara ke Amerika Serikat tidaklah benar. “Brand olahraga mendalami makna dan sejarah. Gagasan ‘kloning’ klub dari satu negara ke negara lain amatlah berisiko,” tulis Pierce di Sports Illustrated.

Nyatanya, Chivas yang bermain di Amerika Serikat amatlah berbeda. Kala itu, hanya ada satu orang yang asli Meksiko. Di sisi lain, Guadalajara dikenal sebagai kesebelasan yang hanya menggunakan pemain lokal. Identitas klub menjadi kabur karena meskipun berbasis di California, tapi mereka tak menyertakan California sebagai nama tim. Padahal, hal ini dianggap penting sebagai brand aknowledge untuk pasar yang disasar.

Saat Chivas bubar, para suporternya cuma bisa menggerutu, “Orang-orang melihat ini (sepakbola) sebagai sebuah bisnis. Ya, kami mengerti kalau ini adalah bagian dari bisnis, tapi Anda berurusan dengan emosi orang-orang, dan itu menyakitkan.”

Yang Tersisa dari JKT48

Buat mereka yang bukan penggemar JKT48, gaung dan berita JKT48 tak lagi sekencang awal-awam pembentukkannya. Tentu ada banyak faktor eksternal yang membuat hal tersebut bisa terjadi, seperti perubahan tren musik sampai berkurangnya acara musik di televisi nasional.

“JKT48 perlu inovasi karena sudah gak se-hype dulu. Seperti ada sesuatu yang hilang,” kata Satria. “Salah satunya dengan merotasi member, jangan yang itu-itu terus dan mengambil dari generasi pertama.”

Apabila tidak ada peningkatan secara signifikan, mungkinkan JKT48 bernasib sama seperti Chivas USA yang ditinggalkan karena sudah tak bisa bersaing secara bisnis?

Baca juga artikel terkait JKT48 atau tulisan menarik lainnya Frasetya Vady Aditya
(tirto.id - Musik)

Reporter: Frasetya Vady Aditya
Penulis: Frasetya Vady Aditya
Editor: Zen RS
DarkLight