Periksa Fakta

Meluruskan Klaim Bintik Putih Tanda Tuberkulosis Pada Daging Sapi

Penulis: Irma Garnesia - 1 Jul 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
TB sapi merupakan penyakit kronis pada sapi yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium bovis yang kadang juga menyerang hewan menyusui lainnya.
tirto.id - Belum lama ini, sebuah unggahan di media sosial Facebook terkait daging sapi menjadi viral dan ramai diperbincangkan menjelang Idul Adha yang jatuh pada bulan Juli mendatang. Unggahan tersebut berasal dari akun Facebook Arbat Arwangi (tautan) mengenai gelembung putih yang terdapat pada daging sapi. Unggahan ini sebetulnya sudah beredar sejak 2018.

Menurut klaim yang bersangkutan, gelembung putih itu merupakan penyakit tuberkulosis (TBC) pada sapi yang sangat berbahaya apabila dikonsumsi manusia.

Akun Facebook Arbat juga dilengkapi dengan beberapa foto yang menunjukkan bintik-bintik putih atau gelembung putih pada potongan daging yang diklaim sebagai daging sapi. Sejak pertama kali dipublikasikan pada 2018 hingga 28 Juni 2022 ini, postingan itu telah dibagikan hingga 131 ribu kali dan mendapat 670 komentar.

Periksa Fakta Tuberkulosis Pada Daging Sapi
Periksa Fakta Meluruskan Klaim Bintik Putih Tanda Tuberkulosis Pada Daging Sapi. (Screenshot/Facebook/Arbat Arwangi)


Lalu, bagaimana asal usul foto daging tersebut? Benarkah gelembung putih tersebut merupakan penyakit TBC pada sapi? Kemudian, amankah mengonsumsi daging sapi dengan ciri-ciri ini?

Penelusuran Fakta

Pertama, sebagai informasi, tuberkulosis atau TBC adalah penyakit menular akibat infeksi bakteri, menukil dari Alodokter. TBC umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lain, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.

Tirto menelusuri asal usul foto yang diunggah oleh akun Facebook Arbat Arwangi. Kami menelusuri foto tersebut pada mesin pencari foto YanDex. Hasil pencarian mengarahkan kami pada sebuah himbauan dari Michigan’s Department of Natural Resources atau Departemen Sumber Daya Alam di Michigan, salah satu negara bagian di Amerika Serikat, yang diberitakan oleh saluran berita WAFB Channel 9. Berita sendiri diperbarui oleh WAFB pada 11 Oktober 2018.

Sebagai tambahan informasi, WAFB Channel 9 merupakan stasiun televisi di Baton Rouge, Louisiana, Amerika Serikat, yang berafiliasi dengan CBS.

Himbauan tersebut dipublikasikan oleh Departemen Sumber Daya Alam pada pertama kali pada Juli 2017, namun laman tersebut saat ini sudah tak dapat diakses lagi. Himbauan tersebut menyoroti bahaya penyakit bovine tuberculosis (BTB) atau yang biasa disebut TBC sapi, yang dapat menyerang rusa liar. Kemudian, himbauan juga mengatakan bahwa Michigan telah melakukan tes bovine tuberkulosis pada rusa sejak 1995, dan memiliki program surveilans TB pada satwa liar yang sudah berjalan sejak lama.

Pada dasarnya, seperti diberitakan WAFB, peringatan itu menyerukan pemburu untuk melakukan tes pada rusa mereka. Seekor rusa dapat terlihat sehat dan masih memiliki TB sapi, katanya. Berikut adalah beberapa tanda pada rusa yang bisa diperhatikan pemburu: (a) kelenjar getah bening di kepala hewan biasanya jadi bagian pertama yang menunjukkan tanda infeksi; (b) ketika penyakit berkembang, mungkin akan muncul lesi di permukaan paru-paru dan rongga dada; (c) pada rusa yang terinfeksi parah, lesi terkadang dapat ditemukan di seluruh tubuh rusa; (d) rusa dengan TB parah mungkin memiliki benjolan coklat atau kuning yang melapisi dinding dada dan jaringan paru-paru.

Tampaknya gambar dengan ciri-ciri terakhir inilah yang banyak tersebar di media sosial dan diklaim sebagai gambar daging sapi. Bagaimanapun juga, situs WAFB tidak memberikan deskripsi gambar di laman beritanya, apakah itu gambar daging rusa atau sapi.

Kami juga mengumpulkan informasi mengenai penyakit TBC sapi ini. Menurut laman Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, TBC sapi merupakan penyakit kronis pada sapi yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium bovis yang kadang juga menyerang hewan menyusui lainnya.

Kuman TB sapi dapat ditularkan melalui inhalasi, makanan, atau melalui kulit yang terbuka. Kuman juga dapat ditemukan di cairan pernapasan, feses, susu, urin, dan juga di cairan vagina atau sperma. Umumnya pada sapi, penyakit ini ditularkan secara aerosol pada hewan yang berkontak saat sakit. Penyakit ini juga dapat menular ke manusia melalui inhalasi atau konsumsi susu yang tidak dipasturisasi.

Kuman TB sapi dapat bertahan selama beberapa bulan di lingkungan, terutama dengan suhu dingin, gelap, dan lembab. Pada suhu 12 hingga 24 derajat Celcius, kuman dapat bertahan selama 18 hingga 332 hari, dan ini juga dipengaruhi oleh kontak dengan sinar matahari.

Penyakit ini pernah ditemukan hampir di seluruh dunia, namun beberapa negara telah mampu mengatasinya. Penyakit ini masih banyak dijumpai di Afrika dan beberapa negara di Asia.

Masih dari laman FKH UGM, gejala klinis penyakit ini pada sapi biasanya kronis dan tidak ditemukan gejala pada awal infeksi. Kemudian pada infeksi yang berlanjut, gejala umumnya adalah sapi yang terlihat kurus, demam, lemah dan nafsu makan hilang. Bisa juga ditemukan gejala batuk basah yang parah di pagi hari dengan kondisi dingin, atau saat beraktivitas.

Mengenai gambar yang beredar ini, Guru Besar Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana I Wayan Suardana sempat memberikan klarifikasi mengenai hal ini.

“Itu bukan TB, itu cysta cacing pita, bahaya juga karena zoonosis atau infeksi yang ditularkan antara hewan vertebrata dan manusia atau sebaliknya, tapi bukan TB," menurutnya (20/8/2018), seperti diberitakan Tempo.co.

Mengenai ciri-ciri yang tampak pada gambar tersebut, Suardana menuturkan bahwa bentuknya memang seperti sarang perkejuan, tapi bukan TBC.

“Ya kalau kistenya belum mati nanti kita kena cacing pita dan itu bahaya, bisa meninggal," jelasnya.

Tirto juga menghubungi Prof. Dr. drh. Maria Bintang yang merupakan dokter hewan sekaligus dosen di Departemen Biokimia Institut Pertanian Bogor untuk meminta pendapat beliau mengenai gambar yang dibagikan.

Menurut beliau, daging dengan gumpalan putih yang keras seperti ini tidak baik untuk dikonsumsi. Jika ingin dikonsumsi, maka harus dimasak hingga mendidih dan lama atau menggunakan presto hingga dagingnya betul-betul lunak.

Tim Tirto juga menanyakan apakah gejala seperti ini merupakan TBC atau kista cacing pita. Beliau pun menjawab bahwa gejala klinis, seperti yang sebelumnya disebutkan, hanya dapat dilihat pada hewan yang masih hidup. Namun untuk daging harus diperiksa di laboratorium dan perlu waktu lama untuk kepastiannya, karena daging tersebut harus dibekukan.

Hal senada juga disampaikan oleh Dokter Frans Abednego Barus, SpP, dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) saat diwawancara Detik Health pada 16 Agustus 2018. Menurut beliau, bisa jadi hal tersebut merupakan tuberkulosis yang dialami hewan, tapi perlu dipastikan melalui uji laboratorium.

"Bisa jadi iya itu tuberkulosis yang dialami oleh hewan. Tapi tentu perlu dipastikan bahwa gelembung putih itu TBC atau bukan melalui uji lab," kata dr Frans.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa salah satu gambar yang tersebar di Facebook pada 2018 merupakan kejadian TBC sapi yang menginfeksi rusa di Michigan. Penyakit TBC sapi sendiri juga menginfeksi hewan menyusui lainnya, termasuk sapi. Namun, perlu diteliti lebih jauh apakah gelembung putih yang terdapat pada daging sapi merupakan penyakit TBC sapi, kista cacing pita, atau disebabkan oleh hal lainnya. Pengujian sampel daging sapi sendiri hanya dapat dilakukan melalui uji laboratorium.

Informasi yang tersebar di media sosial Facebook sejak 2018 ini bersifat salah sebagian (partially false).

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6287777979487 (tautan). Apabila terdapat sanggahan atau pun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty

DarkLight