Megawati Tak Hadiri Pelantikan SBY & Tidak Mengucapkan Selamat

Infografik SBY tak disalami Megawati
Susilo Bambang Yudhoyono bersalaman dengan Megawati Soekarnoputri saat menghadiri pemakaman Ani Yudhoyono di TMP Kalibata, Jakarta, Minggu (2/6/2019). ANTARA FOTO/Olhe/Lmo/nz
Oleh: Petrik Matanasi - 2 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Setelah SBY menang Pilpres 2004, Megawati menjauhinya. Dalam pelantikan SBY pun Megawati ogah hadir, padahal diundang.
tirto.id - Bintang di pundak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memang cuma tiga sedari 1997 hingga akhir 2003. Dia pensiun sebagai letnan jenderal. Tapi belakangan lelaki kelahiran Pacitan itu jadi jenderal kehormatan.

Kala itu, di era kepresidenan Megawati Soekarnoputri, jabatan SBY adalah Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam). Di masa sebelumnya, ketika Abdurahman Wahid (Gus Dur) masih jadi presiden, SBY pernah menjabat Menteri Pertambangan dan Energi lalu Menkopolsoskam.

SBY makin jadi perhatian publik pada 2003. Di mata penggemarnya, SBY adalah jenderal yang gagah lagi berwibawa. Tahun berikutnya SBY pun memutuskan maju dalam pemilihan presiden. Modalnya tentu saja citra dan popularitas.

“Megawati sadar bahwa kepopuleran SBY yang melesat begitu cepat, dapat menyingkirkan dirinya,” tulis Garda Maeswara dalam Biografi Politik Susilo Bambang Yudhoyono (2009: 63).

Menurut Garda, Mega juga sadar SBY pandai memanfaatkan situasi dan posisinya.

Kala itu SBY sudah punya kuda tunggangan bernama Partai Demokrat. Berdasarkan beberapa jajak pendapat, meski partainya masih terhitung anak bawang, kans SBY cukup besar untuk jadi presiden.

SBY kemudian merasa dijauhi Megawati. Mayor Jenderal Sudi Silalahi, seniornya di Akabri yang waktu itu menjadi Sekretaris Menkopolkam, pernah menyebut SBY merasa dikucilkan.

Dalam keadaan macam itu, Taufiq Kiemas, suami Megawati, melontarkan pernyataan yang dianggap memperkeruh suasana. "Kalau memang bukan anak kecil dan merasa dikucilkan, lebih baik mundur saja [sebagai Menkopolkam]," katanya di depan para wartawan.

SBY pun cabut dari kabinet Megawati pada Maret 2004. Kepada SBY, yang katanya suka curhat soal kabinet kepada wartawan, Taufiq bilang: "jenderal bintang empat kok kayak anak kecil."

Seperti dicatat Tjipta Lesmana dalam Dari Soekarno Sampai SBY (2009), “[SBY] berhasil menciptakan opini publik bahwa ia telah dizalimi oleh Mega.”

Ibarat cerita sinetron, SBY adalah protagonis yang teraniaya oleh antagonis bernama Megawati. Media massa pun, menjelang Pilpres 2004, tampak pula “sayang” kepada SBY. Megawati memang kurang beruntung dalam hal ini.


Keok di Pilpres dan Ogah Bersalaman

SBY bukan lawan mudah bagi Megawati. Menantu Sarwo Edhie Wibowo itu setidaknya punya cap sebagai jenderal intelek. Di sisi lain Megawati sepertinya tidak punya citra intelek. Setidaknya, menurut Joe Studwell dalam Asian Godfathers: Money and Power in Hongkong and Southeast Asia (2017: 350), Megawati bukan intelektual. Hanya saja dia sukses jadi oposisi yang populer di era Orde Baru. Itulah kenapa akhirnya Megawati bisa menjadi presiden.

Bersama Jusuf Kalla, SBY pun maju sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden 2004-2009. Lawannya di putaran pertama (5 Juli 2004) adalah Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, Hamzah Haz-Agum Gumelar, Megawati-Hasyim Muzadi, dan Wiranto-Salahuddin Wahid. SBY unggul dan maju ke putaran kedua melawan Megawati-Hasyim Muzadi.

Dalam debat calon presiden putaran kedua pada 16 September 2004, tak ada jabat tangan antar-capres. Megawati dari jauh hari sudah berpesan ke panitia untuk meniadakan momen jabat tangan. Di Pilpres putaran kedua (20 September 2004), Megawati-Hasyim Muzadi mendapat 44.990.704 suara dan SBY-Jusuf Kalla meraih 69.266.350 suara. SBY menang telak atas bekas bosnya.

Megawati merasa terguncang dengan kekalahannya. Hubungannya dengan SBY semakin suram. Bahkan upacara peringatan HUT TNI pun jadi masalah tersendiri bagi Megawati. Tjipta Lesmana mencatat ketika Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto pada 4 Oktober 2004 melapor kepada Megawati bahwa HUT TNI sudah siap, anak sulung Sukarno itu malah bertanya, “Apa SBY diundang?” (hlm. 292).

“Ya, Bu, tapi sebagai purnawirawan TNI,” jawab Endriartono, yang tahu presidennya itu tak suka pada SBY yang baru menang pilpres.

Esoknya, di acara HUT TNI 5 Oktober 2004, Megawati bertanya lagi kepada Endriartono, “SBY sudah datang?”

“Saya belum lihat, Bu. Tapi, rasanya sudah hadir.”

SBY datang 15 menit sebelum Megawati tiba. Sudah jadi hal umum bahwa orang yang tidak disukai presiden duduk jauh dari panggung kehormatan. Sudah jadi hal umum pula orang yang tak disukai tidak dijabat tangannya.

SBY merasa tidak masalah. Toh banyak jenderal senior yang menyalaminya. Masih menurut Tjipta Lesmana, ketika Megawati berpidato, dirinya berusaha legawa dengan bilang siapa pun harus lapang dada menerima hasil Pilpres 2004.



Tak Hadir di Pelantikan

Megawati akhirnya tak hadir dalam acara pelantikan SBY sebagai Presiden Republik Indonesia oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat pada 20 Oktober 2004. Padahal, sebagai mantan presiden yang masih hidup, Megawati diundang.

Menurut Tjipta Lesmana, adik Megawati, Guruh Soekarnoputra, berusaha membujuknya untuk hadir. Tak hanya itu, menantu mantan Wakil Presiden Mohamad Hatta, Sri Edi Swasono, pun ikut membujuknya.

Jika tidak hadir, kata Sri Edi Swasono, “nama Ibu Mega akan tercemar dan menimbulkan luka tersendiri di hari rakyat.”

Nasihat bijak itu tak dituruti Megawati. Kata hatinya adalah segala-galanya. Di mata Megawati, SBY barangkali bak Brutus yang menikam bosnya sendiri.

Presiden RI ke-5 itu bukan hanya tidak hadir, menonton televisi yang menayangkan acara pelantikan pun enggan. Megawati, seperti dicatat Tjipta Lesmana dan dimuat di Media Indonesia (21/10/2004), memilih berada di kebun rumahnya di Jalan Kebagusan sambil membaca buku.


Sorenya, dalam acara buka bersama kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati berpidato: "Saya katakan, kita bukan kalah [dalam Pemilu], tapi kurang suara. Jangan merasa kalah, tapi kita hanya kekurangan suara."

Merasa “kurang suara”, menjauhi pemenang, dan tidak hadir dalam acara pelantikan SBY—begitulah cara Megawati menghibur diri atas kekalahan telak dari bekas menterinya itu.

Tapi, sekesal-kesalnya Megawati kepada SBY, dua orang itu akhirnya bersalaman juga. Sebagaimana dicatat Detik, mereka sudah tujuh kali bersalaman sepanjang 2009-2017. Terakhir kali Megawati dan SBY bertemu dan berjabat tangan adalah di momen pemakaman istri SBY, Ani Yudhoyono, pada 2 Juni 2019. Keduanya tampak akur.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight