Masalah Sampah di Jogja: TPST Kelebihan Kapasitas Terus Dipaksakan

Oleh: Irwan Syambudi - 12 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Kepala Balai Pengelolaan Sampah TPST Piyungan Fauzan Umar mengakui bila TPST Piyungan telah melebihi kapasitas.
tirto.id - Di bawah hujan gerimis, di suatu siang pada Maret 2018, Siti Fatiham (50) mengais sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, DI Yogyakarta. Truk sampah baru saja menurunkan sampah. Alat berat kemudian meratakannya agar tak menggunung.

Rumah Siti hanya terpisah dengan jalan selebar 5 meter dengan TPST. Siti berjalan kaki menuju gundukan sampah yang baru saja datang. Setelah istirahat, siang itu ia hendak kembali memulai pekerjaan yang telah menjadi mata pencaharian dia sejak 20 tahun terakhir.

Siti menghampiri gundukan untuk mengambil dan memilah sampah yang kiranya bisa ia jual kembali. Sebuah besi pengais serupa gancu sudah ada di tangannya, ia berjalan seperti biasa di atas gundukan sampah dengan mengenakan sepatu boat.

Belum genap langkahnya menghampiri gundukan sampah yang baru datang, Siti terhenti. Kakinya terperosok pada timbunan sampah, tubuhnya terkulai, dan pergelangan tangan kananya patah.
Sejumlah pemulung lain berbodong-bondong menolongnya.

“Saya jatuh, tangan saya patah. Dioperasi, dipasang plat dua,” kata Siti saat bercerita kepada reporter Tirto, Selasa (11/2/2020).

Sejak saat itu, Siti memutuskan berhenti menjadi pemulung. Ia trauma.

Siti tak lagi berani seperti ratusan pemulung lain yang mendaki gunungan sampah setinggi belasan meter mencari botol plastik, kaleng, dan aluminium untuk dijual.

Dulu dalam sehari, kata Siti, ia rata-rata mampu mengumpulkan 10 karung botol plastik dengan penghasilan Rp25.000 hingga Rp50.000. Namun, sejak jatuh dan menjalani pemulihan selama satu tahun, ia tak bekerja. Siti hanya mengandalkan penghasilan suaminya yang menjadi buruh pemecah batu.

Belakangan, setelah benar-benar pulih ia kembali bekerja. Siti ikut memilah dan membersihkan sampah di pengepul sampah yang tak jauh dari rumahnya.

Masalah Sampah di Jogja
Truk armada pengangkut sampah menurunkan sampah di Tempat Pembungan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, Yogyakarta, Selasa (11/2/2020). tirto.id/Irwan A. Syambudi


Ketua Komunitas Pemulung TPST Piyungan Maryono kepada reporter Tirto, Selasa (11/2/2020) mengatakan, saat ini sedikitnya ada 450 sampai 500 pemulung yang terdaftar di komunitas. Mayoritas, kata dia, pemulung berasal dari wilayah sekitar TPST.

Ratusan pemulung yang berada di TPST Piyungan seolah jadi pemilah sampah manual yang ada di TPST yang berdiri sejak 1996 itu. Tak ada proses pemilahan yang sistematis yang ada di sana. Semua sampah yang terdiri dari sampah rumah tangga dan plastik langsung ditimbun di lahan TPST seluas 14,5 hektare.

Maryono mengatakan selama puluhan tahun semua jenis sampah menjadi satu dan ditimbun. Para pemulung, kata dia, hanya mengambil sampah berupa kardus, plastik, botol, kertas, aluminium, tembaga, dan besi.

“Selain sampah rumah tangga itu ada sampah pabrik kaos tangan, pabrik roti. Tapi saya selalu mengamati kalau limbah B3 yang dari rumah sakit atau limbah yang membahayakan itu tidak ada,” kata dia.

“Dulu pernah ada B3 dari rumah sakit sama limbah pecahan kaca dari pabrik lampu, pernah ada, tapi sudah bertahun-tahun enggak ada lagi,” ujar dia.


Semua Jenis Sampah Ditimbun


Kepala Bagian Adaministrasi TPST Piyungan Marwan mengatakan setidaknya ada 600 sampai 700 ton sampah yang diangkut 200 truk yang masuk ke TPST Piyungan setiap harinya.

Berdasarkan pantauan Tirto, truk-truk yang mengangkut sampah dari Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta itu mengantre membuang sampah di dua titik. Kedua titik itu tersedia alat berat yang setiap saat meratakan sampah suapaya tidak menggunung.

Truk-truk yang masuk ke TPST dari jam 6 pagi hingga 5 sore itu mayoritas membawa sampah rumah tangga. Tak ada pemilahan atau proses yang membuat sampah itu bisa berkurang, sampah hanya ditumpuk dan diratakan.

“Kalau di sini tidak ada pemilahan, adanya dari pemulung itu. Itu kalau menurut kami bukan pemilahan, tapi pemilihan saja yang laku jual […] Kalau sudah sampai sini ya langsung ditimbun” kata dia kepada reporter Tirto, Selasa (11/10/2020).

Berdasarkan desain awal, kata dia, sesuai kapasitasnya memang dengan mekanisme penimbunan sampah. Secara teknis seharusnya pada 2012, TPST Piyungan sudah tidak dapat lagi digunakan. Namun hal itu masih dipaksakan untuk menampung sampah.

“Ketika itu kaji ulang bisa kita maksimalkan sampai 2015. Sekarang sudah mundur berapa tahun lagi. Jadi sebenarnya dari desain awal sudah ada hitung-hitungannya,” ujar dia.

Oleh karena itu, kata Marwan, saat ini yang bisa dilakukan oleh petugas teknis di lapangan adalah berupaya untuk sampah tetap dapat ditampung. Bagaimana agar armada pengangkut sampah tetap bisa masuk dan membuang sampah.

“Kalau dituntut seperti ini, seperti itu kita enggak bisa,” kata dia.



Masalah Sampah di Jogja
Seorang pemulung sedang memilah sampah di atas timbunan sampah Tempat Pembungan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, Yogyakarta, Selasa (11/2/2020). tirto.id/Irwan A. Syambudi

Rp50 Miliar Untuk TPST Piyungan


Kepala Balai Pengelolaan Sampah TPST Piyungan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Fauzan Umar kepada reporter Tirto, Selasa (11/2/2020) mengakui bila TPST Piyungan telah melebihi kapasitas.

“Namun karena kami tidak ada lokasi lain, terpaksa di tempat ini juga kita tetap melakukan penimbunan sampah,” kata dia.

Cara yang dilakukan untuk membuang sampah di tengah TPST yang telah melebihi kapasitas adalah dengan memaksimalkan alat berat yang ada. Alat berat ini digunakan untuk terus menata timbunan sampah agar tetap dapat diisi.

Namun, tahun ini melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) DIY dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan mengucurkan dana guna melakukan penataan kembali timbunan sampah di TPST Pitungan.

“Membuat terasering, sebagian dikosongkan kemudian ditimbun ke sebelahnya. Dananya Rp14 miliar melalui APBD dan yang Rp36 miliar melalui APBN,” kata dia.

Penataan ini dilakukan sambil menunggu 2022 nanti untuk dilakukan kerja sama dengan investor dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Namun, Fauzan belum dapat mengetahui detail bagaimana pengelolaan sampah melalui sekema KPBU tersebut.

“Ini kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan investor, bukan dengan balai. Kami hanya pelaksana teknis saja. Seperti apa sekema [pengelolaannya] itu nanti menunggu hasil perencanaan yang sekarang baru tahap studi kelayakan,” kata dia.

Masalah Sampah di Jogja
Sebuah alat berat meratakan sampah yang baru saja diturunkan dari truk armada sampah di Tempat Pembungan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, Yogyakarta, Selasa (11/2/2020). tirto.id/Irwan A. Syambudi

Baca juga artikel terkait PENGELOLAAN SAMPAH atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight