Masalah Busi dan Risiko yang Terjadi Pada Kendaraan

Oleh: Yudistira Perdana Imandiar - 10 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Kualitas busi memengaruhi kinerja mesin kendaraan roda dua maupun empat.
tirto.id - Apa nyawa dari kendaraan bermotor?

Komponen busi layak menyandangnya. Ukurannya memang kecil, tapi keberadaan komponen ini pada mesin mobil atau sepeda motor berbahan bakar bensin sangat vital. Tanpa busi, proses pembakaran di silinder mesin mustahil terjadi, tak ada pembakaran, mesin hanya komponen-komponen logam yang statis.

Busi bertugas menyuplai bunga api untuk meledakkan campuran bahan bakar dan udara di silinder mesin. Seperti dijelaskan Howstuffworks, saat piston bergerak turun, campuran udara dan bahan bakar mengalir lewat katup intake. Selanjutnya campuran tersebut dikompresi oleh piston yang bergerak naik. Saat piston mencapai titik teratas, busi menembakkan bunga api sehingga terjadilah pembakaran yang menghasilkan tenaga gerak.

Setiap jenis mesin membutuhkan tipe busi berbeda yang dapat mengakomodasi kebutuhan pembakaran. Ada jenis “busi dingin” memiliki insulator—komponen yang terbuat dari bahan keramik dengan kemampuan menghantarkan panas lebih tinggi. Busi dingin tepat digunakan pada mesin yang punya tenaga besar dan kompresinya tinggi, karena mampu memindahkan lebih banyak uap panas dari mesin.

Namun, jika busi macam ini digunakan pada mesin kecil justru mengakibatkan ruang bakar terlalu dingin, mengakibatkan bahan bakar tidak terbakar sempurna. Akibatnya banyak residu bahan bakar yang menjelma menjadi kerak di silinder mesin.


Untuk mesin dengan kompresi rendah, cukup menggunakan “busi panas” yang umum digunakan sebagai busi standar pabrikan. Insulator keramik pada busi panas tidak lihai menyerap dan memindahkan panas dari ruang silinder. Dengan begitu, panas mesin bisa dijaga dalam suhu optimal untuk pembakaran.

Busi Nikel, Platinum, dan Iridium


Varian jenis busi bukan hanya soal insulator dan kemampuan melepas panas. Material pembentuk elektroda pusat (ujung busi berbentuk seperti jarum) dengan ground elektroda (komponen berbentuk lengkung di kepala busi) menentukan kemampuan busi mengirimkan bunga api.

Tiga material elektroda yang kini paling umum digunakan oleh produsen busi, yakni nikel, platinum, dan iridium. Busi dengan elektroda nikel sebagai varian dengan kemampuan paling rendah dan harganya relatif murah, sekitar Rp15-30 ribu untuk sepeda motor dan mobil.

Perbedaan paling mencolok antara ketiga material tersebut, yakni daya tahannya terhadap suhu panas. Nikel yang kandungan logamnya lebih kecil memiliki titik leleh paling kecil dibandingkan platinum dan iridium. Melansir laman resmi NGK, titik leleh nikel terpatri di level 1.453 derajat celsius, platinum 1.772 derajat celsius, dan iridium 2.410 derajat celsius.

Busi iridium yang punya titik leleh paling tinggi bisa digunakan dalam waktu lebih panjang dibandingkan material lainnya. Sudah tentu harganya pun lebih mahal, bisa mencapai ratusan ribu rupiah untuk sepeda motor dan mobil.

Menurut Technical Training PT NGK Busi Indonesia Diko Oktaviano, busi nikel memiliki elektroda pusat berukuran paling besar, sekitar 2,5 mm. Sementara, elektroda pusat busi platinum dan iridium berukuran di bawah 1 mm.

Diameter elektroda pusat berdampak pada kekuatan pancaran bunga api dari setiap jenis busi. Dengan ukuran elektroda pusat lebih kecil, bunga api pada busi platinum dan iridium lebih terpusat dan solid sehingga tidak cepat habis terserap kembali.


Sebaliknya, bunga api pada busi nikel yang punya diameter elektroda lebih besar cenderung lemah dan cepat habis. Dampaknya, percikan api dari busi tidak bisa membakar habis seluruh bensin yang masuk ke ruang bakar.

“Musuh utama busi itu adalah quenching, penyerapan kembali hantaran panas di ujung elektroda (membuat bunga api cepat habis). Untuk memperkecil efek quenching itu dengan cara memodifikasi bentuk elektroda dan variasi bahan logam mulia untuk elektroda, dengan platinum-platinum atau iridium-iridium,” jelas Diko kepada Tirto.

“Untuk mempertahankan radius inti api agar semakin besar yaitu dengan cara membuat elektroda (pusat) semakin kecil. Nikel itu ukurannya kan besar, jadi saat bunga api membesar, dia justru cepat terserap kembali oleh elektroda,” kata Diko.

Penggunaan busi platinum atau iridium dapat mengoptimalkan proses pembakaran di mesin. Hanya saja kenaikan tenaga yang didapatkan tidak akan terasa signifikan jika busi tersebut diterapkan untuk mesin standar. Sekalipun bunga api dari busi diperbesar, tapi asupan bahan bakar dan ukuran silinder tetap dalam ukuran standar, sangat kecil kenaikan tenaga yang didapatkan.

Namun, bukan berarti menggunakan besi platinum dan iridium yang harganya lebih mahal dibandingkan busi nikel biasa tidak memberikan keuntungan. Pancaran bunga api yang stabil membuat pembakaran berlangsung sempurna. Karena itu bahan bakar menjadi lebih efisien dan meminimalisir penumpukan residu bensin di ruang bakar.

“(Dengan busi platinum atau iridium) satu liter yang masuk ruang bakar itu adalah satu liter yang dibakar habis oleh busi. Enggak ada lagi yang namanya residu,” kata Diko.

Infografik Jenis jenis Busi



Kerusakan Busi


Ketika busi sudah mulai usang, aliran listrik yang akan menjadi bunga api rentan tersendat. Hal itu berimbas pada timbulnya sejumlah masalah, antara lain mesin sulit dinyalakan, knocking (berebet), atau bisa pula pemakaian bahan bakar semakin boros.


Pada busi nikel, kerusakan bisa terjadi pada komponen elektroda pusat atau elektroda ground yang terbakar. Sementara, busi jenis single precious metal yang menggunakan platinum atau iridium hanya pada elektroda pusat, rentan mengalami kerusakan elektroda ground.

“Sedangkan untuk tipe laser sulit rusak, karena dua-duanya (elektroda pusat dan ground) dipasang logam mulia. Makanya tipe laser (penggantian busi) bisa sampai 100 ribu kilometer untuk mobil,” sebut Diko.

Jika sudah ada gejala kerusakan busi, seperti mesin sulit dinyalakan atau tersendat saat berakselerasi, penggantian harus segera dilakukan. Jika dibiarkan, kondisi abnormal busi bisa merusak peranti kelistrikan lain.

“Awal mula kerusakan kelistrikan kendaraan berawal dari busi yang enggak diganti. Ketika tadinya busi butuh tegangan 1 volt, tapi karena jarak elektroda busi memuai, busi butuh tegangan lebih tinggi. Komponen lain, seperti tutup busi pada sepeda motor atau di mobil langsung ke koil harus bekerja lebih keras menyediakan listrik sesuai permintaan busi. Akhirnya komponen lain ikutan rusak,” jelas Diko.

Adapun periode penggantian busi mengacu pada rekomendasi dari pabrikan yang tercantum pada buku manual. Jika sudah menggunakan busi platinum iridium, masa pakai busi tergantung anjuran dari produsen busi.

Denso dan NGK misalnya, mengklaim produk busi tipe laser mereka bisa bertahan hingga 100 ribu kilometer, sedangkan tipe single precious metal punya durabilitas hingga 60 ribu kilometer.

Baca juga artikel terkait MOBIL atau tulisan menarik lainnya Yudistira Perdana Imandiar
(tirto.id - Otomotif)


Penulis: Yudistira Perdana Imandiar
Editor: Suhendra
Dari Sejawat
Infografik Instagram