Manuver TGB Dianggap Upaya Pertahankan Nama di Bursa Pilpres

Oleh: Lalu Rahadian - 7 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Elektabilitas TGB dalam survei masih rendah.
tirto.id - Dukungan Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi untuk Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi presiden selama dua periode dianggap memiliki tendensi politis. Salah satunya adalah TGB hendak mempertahankan namanya dalam pusaran wacana calon presiden dan calon wakil presiden Pemilu 2019.

“Mungkin ini bisa dibilang akselerasi pribadi TGB. Membuat keputusan yang memberi efek kejut,” kata Rully Akbar, peneliti dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA kepada Tirto, Jumat (6/7).

Rully melihat TGB telah berupaya agar namanya dimasukkan dalam daftar capres dan cawapres 2019. Hal ini misalnya tampak dari roadshow yang ia lakukan di berbagai daerah. Namun, usaha ini agaknya belum membuat TGB meraih kepastian dukungan dari kalangan oposisi maupun partainya sendiri, Demokrat untuk maju di Pilpres 2019.

Namanya relatif jarang dibunyikan oleh Gerindra, PKS, dan termasuk PAN. Elit Demokrat justru lebih nyaring mendengungkan nama Agus Harimurti Yudhyono (AHY) yang merupakan putra sang ketua umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Dia [TGB] yakin Demokrat tak akan usung dirinya karena ada figur AHY,” ujar Rully.

Belum bisa dipastikan sejauh apa implikasi manuver TGB bagi terhadap kemungkinannya dijadikan capres atau cawapres. Yang jelas kelompok Persaudaraan Alumni 212 mengancam akan mencoret namanya sebagai salah satu kandidat capres dan cawapres. Sedangkan kemungkinannya menjadi wapres Jokowi ia harus menunggu antrian panjang para ketum-ketum parpol yang memiliki ambisi untuk posisi tersebut.

Dukungan TGB agar Jokowi memimpin selama dua periode dilandasi pemikiran bahwa seorang pemimpin butuh waktu lebih panjang untuk menuntaskan program dan janji-janji kerja yang sedang dilakukan. Menurut Rully, TGB tidak memerlukan izin Partai Demokrat untuk mengucapkan dalil semacam itu.


Soal Elektabilitas


Rully mengatakan dukungan TGB untuk Jokowi juga bisa dimaksudkan untuk meningkatkan elektabilitasnya sebagai capres atau cawapres. Hal ini karena elektabilitas gubernur Nusa Tenggara Barat itu tidak menanjak dalam sejumlah survei. “Upaya roadshow terus dilakukan, fokus dengan pemilih Muslim atas nama alumni Al Azhar Kairo. Ketika semua kegiatan sudah dilakukan, dan hanya berimbas minim, butuh efek kejut," ujar Rully.

Elektabilitas TGB di beberapa survei pemilu 2019 bisa dikatakan masih rendah. Dalam survei Indikator Politik yang dilakukan 25-31 Maret 2018, elektabilitas TGB sebagai capres berada di urutan kelima dengan raihan 0,7%.

Pada Survei Median yang dilaksanakan 24 Maret-6 April, elektabilitas TGB sebagai capres berada di urutan ke-10 dengan raihan 1,5%. Sementara sebagai cawapres ia berada di urutan ke-9 dengan tingkat keterpilihan 2,5%.

Hasil tak jauh berbeda muncul pada survei yang dilakukan Polcomm Institute pada 18-21 Maret 2018. Dalam survei itu, TGB mendapat elektabilitas 1,75% sebagai bakal kandidat presiden. Sebagai bakal cawapres Jokowi, ia berada di urutan keenam dengan elektabilitas 6,5%.

Pada survei Litbang Kompas yang dilakukan 21 Maret-1 April, elektabilitas TGB Sebagai cawapres Prabowo berada di urutan ke-8 dengan angka 2,2&.

Menurut Pendiri Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik (KedaiKOPI) Hendri Satrio, dukungan TGB untuk Jokowi merupakan hal wajar. Alasannya, TGB masih berstatus Gubernur NTB yang posisinya berada di bawah presiden.

“Jadi kalau dia ditanya tentang program presiden, ya pasti dia akan jawab begitu [mendukung] karena dia [presiden] atasannya. Jadi terlalu dini kalau mengaitkan bahwa Pak Jokowi akan menggaet TGB menjadi cawapres, atau Pak TGB kelak bersedia menjadi cawapres Jokowi," ujar Hendri kepada Tirto.

Tanggapan Demokrat, Oposisi, dan Koalisi


Manuver TGB mendukung Jokowi mendapat tanggapan dari Partai Demokrat. Demokrat menyebut bahwa tindakan anggota majelis tinggi partai itu tidak mencerminkan sikap politik partai yang dipimpin SBY Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

"Manuver TGB tersebut sama sekali tidak ada hubungan dengan Demokrat, tidak terkait dengan Demokrat, dan bagi Demokrat hal tersebut biasa saja. Sesuatu yang tidak perlu ditanggapi karena tidak berpengaruh sedikitpun kepada Demokrat," kata Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Demokrat Ferdinand Hutahaean kepada Tirto.

Ferdinand mengatakan partainya sedang fokus menghadapi pemilu 2019 yang dianggap lebih penting dibanding mengurus manuver TGB. "Mungkin perlu ditanyakan juga kepada TGB, apakah beliau masih merasa kader Demokrat atau bukan [...] Demokrat sedang fokus pileg dan pilpres, ini jauh lebih penting dibanding ngurusin manuver TGB," tutur Ferdinand.

Pernyataan TGB juga mendapat tanggapan dari Gerindra dan PDI Perjuangan selaku partai yang berada di kubu oposisi serta koalisi pendukung pemerintahan Presiden Jokowi.

Infografik CI Manuver tuan guru bajang


Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry Juliantono berkata ada banyak alasan yang bisa melatarbelakangi munculnya pernyataan TGB soal Jokowi beberapa hari lalu. Menurutnya, bisa jadi ada tekanan atau sandera kasus yang menimpa TGB sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mendukung Jokowi.

"Masyarakat tahu beberapa waktu lalu TGB kan juga dipanggil KPK sebagai saksi suatu kasus. Atau bisa saja karena tidak mendapat dukungan dari Partai Demokrat, lalu mengalihkan dukungan untuk memudahkan rencana pribadinya maju di pilpres ini," kata Ferry kepada Tirto.

Gerindra menganggap TGB sebagai pemimpin yang baik. Partai yang dipimpin Prabowo Subianto itu berharap TGB tidak terjebak dengan ambisinya sendiri menjelang pemilu.

Menurut Ferry, TGB harusnya tidak melupakan kepentingan umat Islam. Ferry berkata seperti itu karena menganggap pemerintahan saat ini kurang berpihak pada umat Islam.

"Kasus kriminalisasi ulama, penetapan kampus terindikasi radikal, pembatasan ceramah dan lainnya [...] Saya rasa banyak yang kecewa dengan sikap pak TGB, tapi Gerindra berharap kalau bisa masih berada satu barisan dengan kami," ujar Ferry.

Gerindra mengklaim tak khawatir dengan sikap TGB yang mendukung Jokowi. Ferry berkata, rasa aman dimiliki partainya sebab pada pilkada NTB 2018 kandidat kepala daerah yang menang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang merupakan bagian dari barisan oposisi.


Tanggapan lain disampaikan PDI Perjuangan. Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno menyebut dukungan TGB terhadap Jokowi akan membawa dampak elektoral yang baik. Meski menyambut baik Hendrawan mengingatkan masyarakat jangan terjebak pada pengandaian ihwal duet Jokowi-TGB di pilpres. "Kita kurangi dosis kegandrungan berandai-andai, karena banyak pihak bisa baper dan melodramatik," tutur Hendrawan.

Pendapat lain dikemukakan Sekretaris Badan Pendidikan dan Latihan Pusat (Badiklatpus) DPP PDIP Eva Kusuma Sundari. Eva berkata dukungan TGB kepasa Jpklwi merupakan hal yang wajar.

Menurutnya, sikap politik TGB pasti muncul karena kepentingan pribadi atau partai. Eva menganggap tak ada masalah jika TGB hendak memperlihatkan dukungan kepada Jokowi, sementara Demokrat tetap mensosialisasikan sosok Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"[Dukungan TGB membawa dampak positif] kalau power dia masih oke, maka NTB kan daerah keras juga untuk Pak Jokowi. Tapi sekarang gubernur baru berasal dari PKS lagi yang agendanya hendak mengganti presiden, jadi berat," kata Eva.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Lalu Rahadian
(tirto.id - Politik)

Reporter: Lalu Rahadian
Penulis: Lalu Rahadian
Editor: Muhammad Akbar Wijaya