Irma Hidayana
Peneliti Countermarketing susu formula, kandidat doktor Ilmu Kesehatan dan Perilaku, Columbia...

Makan Mayit dan DehumanisASI

1 Maret 2017
Dibaca Normal 3 menit
Proyek seni Makan Mayit masih ramai digunjingkan di media sosial. Makan Mayit banyak disebut tidak etis dan tidak berperikemanusiaan lantaran menggunakan bentuk tubuh bayi sebagai tampilan visual makanan dan menggunakan ASI untuk bahan makanan sebagai karya seni.

Makan mayit adalah sebuah karya seni pertunjukan yang mengajak mendiskusikan kembali apa itu norma, etika dan moralitas. Terinspirasi oleh berbagai aksi "kanibalisme" sehari-hari, tentang penghalalan segala cara sebagai hal biasa, Natasha Gabriela Tontey menggelar performance art makan malam bermenukan makanan yang dimasak dari ASI, keringat ketiak bayi dan berbagai menu lain.

Dalam sebuah wawancara Tontey, sang seniman, menyatakan bahwa Makan Mayit merupakan karya eksperimen sosial, di mana respon masyarakat juga merupakan bagian dari karya tersebut.

KanibalisASI

ASI sebagai sajian telah dilakukan oleh Daniel Angerer, seorang koki di New York pada 2010. Angerer menyajikan keju yang berasal dari ASI. Meski tak banyak yang tahu, namun keunikan menu ini mengundang sejumlah pecinta kuiner untuk mencoba, dan menuliskan ulasannya diberbagai media. Hingga suatu saat kedai Angerer didatangi polisi yang memintanya untuk menghentikan pembuatan keju ASI.

Tahun 2011, ice cream ASI dijual di London dengan harga sekitar 300 ribu rupiah per scoop. Pemilik kafe penjual es krim menyebutkan bahwa ia membeli ASI dari sejumlah perempuan, yang jika dirupiahkan seharga lebih dari satu juta rupiah per liternya.

Sebagai karya seni yang memanfaatkan ASI, Makan Mayit bukanlah yang pertama di dunia. Tahun 2011, di New York, seorang seniman makanan, teknologi, dan ekologi, Miriam Simun, mengumumkan penghimpunan dana untuk mengerjakan karya seninya bertajuk Keju Manusia (Human Cheese). Simun berhasil mewujudkan proyek seni Keju Manusia yang terbuat dari bahan ASI. Proyek seni Sinum adalah upaya provokasi diskursus moralitas dan kemanusiaan yang terkait sistem makanan, makanan alami serta komoditas tubuh.

Keju Manusia menyindir berbagai praktik yang menjadikan ASI sebagai komoditas di tengah-tengah kenyataan rendahnya angka bayi yang mendapatkan ASI. Ironisnya, perdagangan ASI lewat internet pada saat itu, dan juga sekarang, bermunculan dan terus berlangsung.

Persis seperti respon terhadap Makan Mayit, karya Simun pun menuai banyak kritik. Namun tidak sedikit pula apresiasi.

Sama dengan dengan Makan Mayit, Keju Manusia juga menyindir praktek kanibalisasi mikro yang terjadi dalam keseharian. Bedanya, tidak ada aroma horor di Keju Manusia, seperti penerjemahan lugas di Makan Mayit.

Jauh sebelum itu, Barat memiliki legenda The Roman Charity yang menceritakan tentang Cimon, seorang narapidana hukuman mati yang menderita kepalaran. Cimon berhasil bebas dari penyakit kelaparan karena diselamatkan oleh anaknya yang selalu menyusui Cimon setiap membesuknya di penjara. Ketika petugas penjara mengetahui ini, Cimon pun dibebaskan dari hukuman mati karena kebaikan hati putrinya.

Menyajikan makanan berbahan ASI bukan hanya terpaut soal etika, tetapi juga kesehatan. Jurnal Clinical Infectious Disease menerbitkan artikel yang menjelaskan bahwa seorang ibu yang terkena infeksi demam berdarah bisa menularkan infeksi ini melalui ASI. Selain itu, ASI juga menjadi medium transmitor HIV. Sehingga, pendonoran ASI harus dilakukan dengan penyaringan yang ketat.

Semoga penyaringan ini pun telah dilakukan oleh Tontey, sebagaimana Simun dulu menguji kelayakan ASI yang didapatkannya untuk proyek Keju Manusia.

Makan Mayit dalam Perlawanan pada Industri Susu Bayi

Kendati demikian, kritik yang keras atas penggunaan ASI untuk Makan Mayit bisa pula dipahami. Makan Mayit bisa diletakkan sebagai kehadiran “musuh” baru dalam konteks perjuangan perlindungan ASI. Bagaimanapun juga, dalam beberapa dekade ini, keberadaan ASI semakin terancam oleh susu formula. ASI sebagai makanan yang paling sesuai dengan sistem pencernaan bayi serta paling mencukupi kebutuhan gizi bayi, tergusur secara sistematis oleh agresifnya promosi industri susu formula.

Korbannya, lagi-lagi, para ibu dan bayi. Persuasi industri susu formula trans-nasional menjanjikan mimpi-mimpi berlimpahnya gizi susu formula. Mereka juga mengemas susu formula sebagai bagian gaya hidup modern yang mengesankan. Hal ini mencitrakan menyusui sebagai kebiasaan kuno. Padahal pemberian susu formula menjadi salah satu penyebab berbagai penyakit (akibat daya tahan tubuh lemah, karena susu formula tidak mengandung antibodi), serta penyumbang kematian anak. Tiap tahun, diperkirakan lebih dari 800.000 balita meninggal karena praktik menyusui sudah tidak lazim lagi.

Di Indonesia sendiri, angka menyusui secara ekslusif merangkak perlahan. Data lima tahunan Survei Kesehatan Dasar (2013) menunjukkan hanya 42% ibu yang menyusui secara ekslusif. Sementara, lebih dari 60% bayi dua tahun menerima asupan makanan pengganti ASI seperti susu formula, biskuit atau bubur instan, juga makanan lain.

Karenanya pemberian ASI secara optimal menjadi agenda penting demi melindungi para ibu dan bayi agar keduanya sehat. Arti penting isu ini terletak pada kontestasi dengan taktik pemasaran susu formula yang luar biasa gencar, canggih, dan memukau sehingga berpotensi menurunkan upaya pemberian ASI.

Promosi ASI di tanah air memang masih jauh dari melindungi, memfasilitasi serta mendukung para ibu untuk saling terhubung, berbagi, dan membantu.

Banyak ibu yang kesulitan menyusui dan merasa ASInya kurang cukup tidak terhubung dengan mereka yang berlimpah produksi ASInya. Sehingga pihak yang berkelebihan produksi AS dan yang membutuhkan ASI tidak bertemu. Solusi instan akhirnya menjadi pilihan: pergi ke toko membeli susu formula.

Untuk itulah muncul inisiatif seperti yang dimediasi oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia atau AIMI dengan melakukan konseling bagi para keluarga yang membutuhkan donor ASI*. AIMI merupakan organisasi nirlaba berbadan yang memiliki visi dan misi mendukung serta mengedukasi masyarakat perihal ASI dan menyusui**.

Tapi, kendati sudah diusahakan dengan gigih oleh para aktivisnya, tetap saja inisiatif mulia seperti ini ternyata belum menjangkau semua yang membutuhkan.

Pada situasi seperti ini, mungkin saja proyek seni Makan Mayit menerima donor ASI dari salah satu ibu dengan surplus ASIP (ASI perah) namun tidak tahu harus didonorkan ke mana.

Inilah yang membuat Makan Mayit bisa saja dianggap melukai perjalanan panjang melawan komodifikasi susu formula.

Di tengah lemahnya dukungan politik terhadap ASI, dan riuhnya gaya hidup modern yang mengelukan saintifikasi susu formula dan makanan bayi, kontroversi Makan Mayit seakan menggugah kembali kesadaran publik. Bahwa menyusui adalah perbuatan yang sangat alami yang melekat erat dan kuat di dalam relasi ibu dan bayi yang tak akan pernah tergantikan oleh susu formula yang paling mahal sekali pun.

Pemutakhiran: kalimat yang dimiringkan merupakan tambahan yang dibubuhkan pada 22 Maret 2016 pukul 14.45. Kalimat yang dimiringkan dengan satu tanda bintang (*) dibubuhkan atas permintaan penulis, dan kalimat dengan dua tanda bintang merupakan tambahan (sekaligus revisi) sesuai surat keberatan AIMI kepada redaksi.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.