Menuju konten utama
6 Juli 1971

Louis Armstrong Melawan Rasialisme dengan Trompet Jaz

Louis Armstrong, yang wafat 51 tahun lalu, adalah nama besar dalam musik jaz yang aktif sepanjang dekade 1920-an sampai awal 1970-an.

Louis Armstrong Melawan Rasialisme dengan Trompet Jaz
Header Mozaik Louis Amstrong. tirto.id/Tino

tirto.id - “Kami lahir setelah ada gerakan masif Civil Rights Movement. Kami punya identitas musik yang keras dari penampilan Stevie Wonder, Marvin Gaye, dan lain-lain. Ketika ada seseorang dengan saputangan menyanyikan ‘Hello Dolly’, kami benar-benar tidak ingin mendengarkannya.”

Begitulah komentar Wynton Marsalis, pemain terompet jaz peraih sembilan anugerah Grammy, tentang Louis Armstrong.

Marsalis lahir dari keluarga musisi yang beken dan punya status istimewa di kalangan kulit hitam Amerika Serikat. Gairah bermusik Wynton muda didapat dari ayahnya, Ellis Marsalis, seorang pianis terkenal yang diakui sebagai guru oleh sekian banyak musisi jaz generasi baru.

Ayahnya adalah pengagum Louis Armstrong, legenda trompet yang baru diakui kehebatannya oleh Marsalis saat beranjak dewasa. Marsalis muda menganggap Armstrong tidak mencerminkan musik kulit hitam yang penuh kebebasan dan kaya akan semangat perlawanan. Maklum, Armstrong kerap tampil di acara-acara resmi yang digelar oleh orang-orang kulit putih kelas atas. Hal ini merupakan sesuatu yang tak lazim di masa ketika sentimen antar-ras masih sangat kental di AS.

“Aku benar-benar tidak menginginkan Pops (sapaan Louis Armstrong),” kata Marsalis ketika disodori ayahnya salah satu lagu Armstrong yang direkam pada awal 1938, “Jubilee”. Awalnya Marsalis menganggap remeh kemampuan Armstrong. Ia yakin betul level permainan trompetnya kala itu telah sebanding dengan Pops. Tapi rekaman itu akhirnya ia putar juga. Di luar dugaan, setelah beberapa kali mencoba, Marsalis menyerah. Ia tak bisa mengikuti permainan Armstrong.

Itulah malam ketika Marsalis akhirnya mengakui Armstrong.

Armstrong, lahir pada 4 Agustus 1901, adalah nama besar dalam musik jaz yang aktif sepanjang dekade 1920-an sampai awal 1970-an. Konon pendekatan revolusionernya terhadap ritme mendobrak bentuk jaz konvensional sekaligus melahirkan gaya bermusik baru yang disebut swing. Ia juga memiliki ciri khas lain saat tampil, meniup terompet sambil diselingi bernyanyi. Warna suaranya bertenaga, serak, dan berat.

Soal bernyanyi ini di kemudian hari menjadi ciri khas Armstrong yang lain. Ia rajin mengimprovisasi dan mempermainkan ritme lagu. Ini adalah kemampuan memperlakukan pita suara sebagai instrumen musik, dikenal dengan istilah “scat singing”. Biasanya scat singing dilakukan tanpa kata sama sekali. Tak semua penyanyi bisa melakukannya dengan baik.

Meski rajin berimprovisasi dalam musik, Armstrong sebenarnya tidak keluar terlalu liar dari tradisi jaz konvensional. ​​“Ia sebenarnya cukup menjaga kesetiaan pada tradisi. Ia cenderung menyukai parafrase melodi atau, paling banyak, memainkan solo berbasis harmoni yang sangat dibatasi panjang atau isinya,” kata Brian Harker dalam buku Louis Armstrong’s Hot Five and Hot Seven Recordings (2011:68).

Demikian pula dengan penampilan. Baik dengan format big band atau orkestra mini, ia hampir selalu tampil dengan balutan pakaian formal yang rapi, jas lengkap dengan dasi kupu-kupu, sebuah ciri khas musisi “eselon atas” sejak zaman klasik hingga barok yang berbeda jauh dari semangat perlawanan jaz kulit hitam. Namun dengan penampilan model begitulah namanya dikenal semakin luas di dunia musik baik di antara musisi kulit putih maupun hitam.

Infografik Mozaik Louis Amstrong

Infografik Mozaik Louis Amstrong. tirto.id/Tino

Perjalanan Karier

Sejak awal karier, pada 1920-an, Armstrong telah jadi penanda lahirnya format baru dalam musik jaz yang dikenal sebagai solo performance. Dengan format ini ia jadi penampil utama dalam kelompok. Di masa itu musik jaz biasanya dimainkan secara kolektif tanpa menonjolkan peran tunggal.

Namun bukan berarti Armstrong tak pernah bermusik dalam format kelompok biasa. Ia pernah main dengan format demikian dalam grup bernama Creole Jazz Band. Di sana ia menemani Joe Oliver, musisi yang ia anggap mentor, ke Chicago. Di sini Armstrong banyak belajar dan bergaul dengan banyak musisi jaz beken di zaman itu seperti Hoagy Carmichael, Lil Hardin, Fletcher Henderson, dan lain-lain.

Di antara nama-nama itu, Henderson mungkin jadi sosok utama yang melihat potensi besar dalam diri Armstrong. Tak lama setelah pertemuan pertama mereka, Henderson tak ragu mengundangnya untuk datang ke New York. Undangan itulah yang mengawali cerita sukses Armstrong di dunia musik. Di sana Armstrong muda menghabiskan waktu dengan serangkaian acara musikal sambil terus berproses.

Setelah sekian banyak penampilan memukau, Armstrong kembali ke Chicago atas desakan istrinya, Lil Hardin. Lil ingin karier Armstrong lebih luas dengan cara mencari bentuk dan pola permainan sendiri yang terlepas dari bayang-bayang beberapa mentornya. Selain itu, Lil juga merasa mereka berdua butuh penghasilan yang lebih stabil.

Di Chicago, Armstrong akhirnya membentuk grup jaz sendiri, Louis Armstrong and His Hot Five. Dengan grup barunya itulah ia mulai menciptakan karya-karya populer seperti “Potato Head Blues” dan “Muggles”. (Muggle sebenarnya merupakan istilah slang dari mariyuana. Konon, Armstrong sering menikmati mariyuana di sepanjang hidupnya).

Kesuksesan di AS dengan cepat terdengar oleh publik Eropa. Armstrong dan big band-nya kemudian diundang ke beberapa negara. Pada 1933 ia manggung di Inggris. Publik Inggris Raya kemudian menghargai Armstrong sebagai musisi yang membawa semangat jiwa kulit hitam khas AS. Terbukti, ia kebanjiran pesanan tampil di sana. Tak hanya Inggris Raya, ia juga tampil di Prancis dan Belgia.

“Malam itu Louis merasa kesempatan begitu terbuka baginya terutama untuk membuat sebuah perubahan besar. Masyarakat kelas rendah seperti dia kini sedang merangkak naik ke kelas aristokratik dan lingkaran intelektual kulit putih kelas atas,” tulis Robert Goffin dalam bukunya Horn of Plenty: The Story of Louis Armstrong (1947:299).

Pada 1943, setelah tampil di banyak panggung dan tur, ia menetap di Queens, New York bersama Lucille, istri keempatnya. Di sana ia terus bermusik di bawah naungan perusahaan musik yang cukup populer dan menguasai industri musik AS sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Tin Pan Alley.

Meski berkarya dalam suasana anti-kulit hitam yang begitu kuat, beberapa tahun kemudian konsistensinya mengembangkan permainan trompet membuahkan hasil. Ia benar-benar telah menjadi ikon musik nasional.

Akan tetapi, pada pertengahan 1940-an, Armstrong dan kelompok big band-nya harus menghadapi masalah yang cukup pelik. Selera musik publik mulai bergeser dan menyebabkan musik ballroom kekurangan penonton. Persaingan juga datang dari jenis-jenis musik lain seperti pop dan rock. Para musisi di genre itu mulai rajin membawakan format lain yang lebih ringkas ketimbang big band yang beranggotakan belasan orang. Di masa itu, Armstrong mulai kesulitan membiayai tur musiknya.

Untuk bertahan dalam industri, Armstrong mengubah format kelompoknya menjadi lebih kecil. Dengan kelompok yang baru itu ia sukses tampil di New York Town Hall pada 17 Mei 1947. Kesuksesan konser itu tak terlepas dari peran musisi beken Jack Teagarden yang memainkan trombon. Lagu “Rockin Chair” milik Hoagy Carmichael yang mereka bawakan kemudian direkam dan dipublikasikan oleh Okeh Records dengan hasil cukup sukses.

Armstrong semakin mantap menjadi ikon kebudayaan Amerika pada 1950-an. Statusnya saat itu sudah bergeser menjadi musisi tua akibat bermunculannya banyak generasi musisi baru seperti Charlie Parker, Miles Davis, hingga Sonny Rollins.

Mereka menganggap jenis musik yang dibawakan Armstrong sudah ketinggalan zaman. Hal itulah yang kemungkinan besar membuat Armstrong memutuskan mempromosikan musiknya dengan tampil di luar AS dan Eropa. Setelah merilis “Mack the Knife”, ia melancong ke Brasil pada 1957 dan kemudian melakukan tur ke Ghana dan Nigeria di awal 1960-an.

Perkembangan teknologi membantu popularitas Armstrong dan big band-nya. Rutin tampil di acara radio dan televisi kala itu terbukti sukses mendongkrak namanya untuk bisa bersaing dengan para musisi muda. Kharisma dan karakter vokal khas yang dipadukan dengan kemampuan meniup trompet menjadi ciri Armstrong di sepanjang karier musiknya.

Ia bahkan sempat juga tampil dalam beberapa film. High Society pada 1956 membuka kesempatan untuk beradu peran dengan selebritas seperti Bing Crosby, Grace kelly, dan Frank Sinatra. Kemudian pada 1969 ia juga tampil dalam film Hello, Dolly! bersama Barbra Streisand.

Di masa-masa akhir hidupnya, musik Armstrong telah memberikan pengaruh ke budaya populer dunia secara umum.

[infog]

Kesuksesan menggaet penonton di luar audiens kulit hitam sebetulnya kerap membuat cemas teman-temannya terutama karena Armstrong jarang mempolitisasi isu ras. Armstrong justru melawan dengan masuk ke dalam pergaulan eselon kelas atas masyarakat kulit putih dan menghibur mereka dengan musik.

Ia juga tahu bahwa musik bisa mengikis rasisme dengan halus. Pada sebuah kesempatan ia mengenang bagaimana rasisme tak berlaku dalam sebuah konser yang ia selenggarakan di Miami pada 1948.

“Di sana saya melihat sesuatu yang saya pikir tak akan pernah saya lihat. Saya melihat ribuan orang, berwarna dan kulit putih di lantai utama. Tidak dipisahkan… ketika melihat hal-hal seperti itu, Anda tahu Anda akan maju,” katanya.

Bukan berarti Armstrong tidak bersuara secara eksplisit menentang rasisme. Pada September 1957, misalnya, ia pernah memprotes kebijakan Gubernur Arkansas yang mencegah sembilan anak kulit hitam bergabung ke sekolah menengah atas yang diisi anak-anak kulit putih. “Pemerintah bisa masuk neraka,” katanya kala itu.

Banyak orang percaya keputusan Presiden Eisenhower memberikan garansi anak-anak tersebut bisa bersekolah adalah karena protes ini.

Louis Armstrong meninggal di New York akibat serangan jantung saat tidur persis 51 tahun lalu, 6 Juli 1971 atau satu bulan sebelum ulang tahun yang ke-70.

Baca juga artikel terkait JAZZ atau tulisan lainnya dari Tyson Tirta

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Rio Apinino