Lev Yashin: Hidup menjadi Pekerja, Mati sebagai Legenda

Ilustrasi Mozaik Lev Yashin. tirto.id/Nauval
Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 20 Maret 2020
Dibaca Normal 4 menit
France Football menyebut Lev Yashin sebagai pemain yang merevolusi peran seorang penjaga gawang.
Analis sepakbola asal Inggris, Michael Cox, dalam The Mixer: The Story of Premier League Tactics (2017), menyebut perubahan regulasi yang paling memicu perkembangan taktik sepakbola modern adalah aturan backpass.

Pertama kali diaplikasikan ke sepakbola Eropa pada musim 1992/1993, backpass rule melarang penjaga gawang menangkap bola yang diumpan rekan setimnya. Kiper diharuskan mengontrol dengan kaki ketika mendapat operan dari kawan satu kesebelasan.

Kedatangan aturan tersebut berdampak ke seluruh penjuru lapangan. Penyerang makin bergairah menekan kiper lawan untuk memburu blunder, gelandang kian rajin turun dan memberi opsi umpan ke depan, dan bek lebih jarang mengulur-ulur waktu di ruang belakang.

Sedangkan bagi para penjaga gawang, backpass rule memaksa mereka semakin giat melatih kemampuan olah kakinya. Situasi ini kemudian memantik kemunculan lebih banyak sweeper-keeper, istilah yang biasa digunakan untuk melabeli kiper yang piawai mengomandoi ruang belakang sekaligus menjadi inisiator serangan.

Namun, masih menurut Cox, “bukan berarti sebelum 1992 sepakbola profesional tak mengenal wujud sweeper-keeper.”

Jauh sebelum backpass rule muncul dan istilah sweeper-keeper jamak dikenal, ada seorang penjaga gawang yang sudah lebih dulu menampilkan kepiawaian memimpin lini belakang sekaligus jadi inisiator serangan. Orang itu bernama Lev Ivanovich Yashin.

Mengubah Stigma Kiper


Yashin, begitu pria asal Uni Soviet itu biasa disapa, adalah sosok penjaga gawang dengan postur atletis, refleks cepat, dan punya kemampuan aksi akrobatik. Lebih dari itu, Yashin juga banyak dipuja karena kemampuannya mendobrak pakem.

Lev Yashin menolak stigma sepakbola 1950-an yang memandang pekerjaan sehari-hari kiper cuma dua: menangkap dan memungut bola dari gawang.

“Sebagaimana para legenda sepakbola, Yashin menerobos pandangan umum, karena dunia menolak memberinya kesempatan. Dan itu membuat klub kami lebih kaya taktik,” ujar Mikhail Yakushin, pelatih pertama Yashin di Moskow, seperti diungkap Manfred Zeller dalam Sport and Society in the Soviet Union (2018).

Sepanjang 20 tahun bermain di Dinamo Moskow dan timnas Uni Soviet, Yashin acap meneriaki para bek di depannya agar tak ceroboh memosisikan diri. Ia juga menjadi salah satu kiper yang pertama memopulerkan gerakan penyelamatan dengan menepis bola—hal yang tak lazim di era itu.

Seperti dicatat BBC, salah satu aksi paling monumental Yashin terjadi pada final Piala Eropa 1960 antara Uni Soviet melawan Yugoslavia. Dalam pertandingan ini Yashin membuat Milan Galic dan Borivoje Kostic, dua penyerang andalan Yugoslavia, tampak seperti pemain medioker.

Kendati kebobolan satu gol, Yashin membawa Uni Soviet juara dengan banyak penyelamatan gemilang, termasuk aksinya menepis sundulan akurat Galic. Aksi ini diakui beberapa kiper legendaris di masa depan sebagai sumber inspirasi mereka.

“Aku selalu membanggakan diriku sendiri sebagai pemain yang bisa memosisikan diri dengan baik. Tapi, hari itu Yashin melakukan hal yang kubanggakan lebih baik dari diriku sendiri,” kenang Gordon Banks, kiper legendaris yang membawa Inggris juara Piala Dunia 1966. “Tak perlu diragukan lagi, ia adalah role-model para kiper di masa-masa berikutnya.”

Puncak dari gebrakan Yashin adalah kebiasaan mengumpan bola dengan lemparan jauh untuk menginisiasi suatu serangan balik cepat. Mulanya kecenderungan ini tampak aneh. Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan Yashin terbukti menjadi juru selamat Uni Soviet.

Selain gelar Piala Eropa 1960, salah satu pencapaian Yashin bersama Soviet adalah medali emas Olimpiade 1956. Dalam ajang tersebut mereka berturut-turut mempecundangi Jerman (2-1), Indonesia (4-0), Bulgaria (2-1) dan Yugoslavia (1-0).

Yashin juga mengantar Uni Soviet menjadi juara dan runner-up Piala Eropa (1960 dan 1964), serta semifinalis Piala Dunia 1966. Sedangkan untuk klubnya, Dinamo Moskow, Yashin menyumbang lima trofi liga dan tiga gelar Piala Soviet.

Signifikansi peran Yashin pun tampak dari statistik. Sepanjang kariernya Yashin menorehkan tak kurang dari 150 penyelamatan penalti—angka yang masih jadi rekor dunia hingga sekarang. Yashin juga membukukan total 270 nirbobol untuk timnya.

Rapor mentereng itu kemudian berbuntut berbagai gelar individual.

Hingga saat ini Yashin masih jadi satu-satunya penjaga gawang yang pernah menyabet gelar Ballon d’Or. Penghargaan ini ia raih pada 1973 setelah mengalahkan dua pesaing lain, Gianny Rivera (Italia, AC Milan) dan Jimmy Greaves (Inggris, Tottenham Hotspur).

Yashin juga tercatat enam kali menjadi kiper terbaik Eropa, dinobatkan sebagai kiper terbaik abad ke-20, dan diganjar penghargaan negara Order of Lenin atas jasanya mengangkat prestasi sepakbola Soviet.

Pekerja Paling Loyal


Gebrakan dan pencapaian Yashin bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ia lahir dari etos kerja dan proses panjang.

Yashin terlahir di pinggiran Moskow dari keluarga kelas pekerja. Ayahnya, Ivan, adalah seorang ahli kunci. Sedangkan ibunya, Anna, meninggal akibat tuberkulosis saat Yashin berusia enam. Situasi itu bikin masa kecil Yashin jauh dari kata mudah. Saking sukarnya, keluarga Yashin sampai harus tinggal dengan kerabat jauh mereka dalam satu apartemen untuk menghemat biaya hidup.

Yashin baru berusia 11 ketika Perang Dunia II pecah. Situasi berkecamuk kala itu sempat bikin ia sama sekali tak berpikir bakal jadi atlet profesional.

Faktanya, di tengah perang Yashin sempat menyerah dan merantau sebagai pembongkar mesin kereta di Ulyanovsk, 876 kilometer ke arah timur dari pusat Kota Moskow. Tak lama kemudian, saat situasi mulai kondusif, ia pulang ke Moskow untuk bekerja di pabrik perakitan senjata.

Sikap pendiam dan kondisi kesehatan mental bikin Yashin tak bertahan lama di tempat kerjanya yang baru. Untuk menghindari sanksi hukum menjadi pengangguran, Yashin yang kala itu berusia 18 akhirnya bergabung dengan kamp militer di Moskow.

Pada titik inilah takdir mempertemukan Yashin dengan sepakbola lagi. Berawal dari rutinitas di klub sepakbola internal militer, potensi Yashin terendus oleh pemandu bakat Dinamo Moskow. Ia akhirnya bergabung dengan akademi klub dan mentas sebagai pemain untuk skuat utama Dinamo.

Menariknya, meski sudah jadi atlet terpandang, Yashin tak pernah mengganti gaya hidupnya. Baginya hanya ada satu cara yang pantas untuk memandang diri sendiri, yaitu sebagai pekerja.

Eugeny Rubin, wartawan Uni Soviet, pernah mengenang cerita tentang Yashin pergi ke restoran bersama Ferenc Puskás, bintang sepakbola Real Madrid yang bermain untuk Hungaria. Ketika Puskás mengeluarkan dompetnya untuk membayar tagihan, Yashin terkejut: “Dalam hidupku, aku belum pernah melihat uang yang begitu banyak, apalagi menggunakannya.”

Toh situasi itu tak pernah menggoda Yashin meninggalkan tanah kelahirannya. Padahal, berkarier untuk klub besar Eropa di luar Rusia jelas bakal melambungkan kondisi finansialnya.

Kepribadian itu bikin Yashin makin jadi primadona.

"Para suporter [Dinamo] selalu memanggil Yashin dengan nama depan. Bagi mereka ia adalah salah satu bagian, seperti keluarga atau sahabat. Setelah latihan, fans selalu membantu Yashin membawa tas beratnya sampai ke halaman rumah," kenang Vladimir Pilguy, mantan rekan Yashin.


Mati Sebagai Legenda


Loyalitas memang tak selamanya berbalas. Di paruh kariernya, Yashin sempat tak luput dari sasaran tembak.

Pada 1962, Soviet gagal total di Piala Dunia usai takluk 2-1 dari tuan rumah Cile pada fase perempat final. Yashin tak tampil prima dalam pertandingan ini. Dua gol—masing-masing dicetak Leonel Sanchez dan Eladio Rojas—masuk ke gawangnya dengan cara yang dianggap kelewat mudah.

Saat kepulangan ke Moskow, orang-orang menyambut Yashin dengan spanduk-spanduk bertuliskan "saatnya kau pensiun". Rumah tempat Yashin tinggal berkali-kali dilempari batu dan mobilnya dicorat-coret dengan nada kekesalan oleh suporter.

Yashin, seperti dinukil BBC, menyebut momen ini sebagai "saat-saat terpahit dalam karierku." Sesuatu yang juga diakui oleh istrinya, Valentina Yashina.

"Ia ingin berhenti dari sepakbola," ujar Valentina. "Teriakan ada di mana-mana. Orang-orang selalu berpikir semuanya murni karena kesalahan Lev."

Namun bukan Lev Yashin namanya jika tak mampu bangkit dari keterpurukan itu.

Setahun setelah kegagalan pedih Soviet, Yashin membuktikan tajinya dengan terpilih sebagai bagian dari skuat World XI yang mengalahkan tim juara Piala Dunia, Inggris, dengan skor 2-1 dalam laga ekshibisi. Yashin hanya tampil di babak pertama, namun mampu menjaga gawangnya dari kebobolan.

Pada 1963, Yashin juga menjawab keraguan orang Moskow dengan mengantar Dinamo meraih gelar juara liga. Ini adalah gelar kelima yang disumbangkan Yashin untuk Dinamo dan lebih sensasional lagi karena pada musim itu dirinya cuma kebobolan 7 gol dalam 27 penampilan.

Statistik 1963 adalah yang terbaik sepanjang karier Yashin. Di tahun yang sama ia lantas diganjar gelar Ballon d'Or.

France Football, majalah yang jadi sponsor utama Ballon d'Or, saat itu menulis Yashin sebagai pemain yang "merevolusi peran seorang penjaga gawang dengan cara yang belum pernah dilakukan orang lain."

Hingga 1970, ketika Lev Yashin pensiun, predikat itu tak pernah lenyap. Atau bahkan hingga abad ke-21, ketika muncul nama-nama sweeper-keeper macam Manuel Neuer, Claudio Bravo, hingga Alisson Becker, para pandit selalu mengidentikkan mereka dengan sosok Lev Yashin.

Yashin meninggal di usia 60 karena kanker perut pada 20 Maret 1990, tepat hari ini 30 tahun lalu. Namun kematian tak pernah membuat namanya benar-benar berhenti disebut.

Baca juga artikel terkait LEV YASHIN atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight