Letnan Poerbo Soemitro: Anak Bupati yang Masih Terikat Ratu Belanda

Latihan sukarelawan batalion KNIL di Jakarta (28/10/47). FOTO/Wikicommon
Oleh: Petrik Matanasi - 17 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sempat memberikan dukungan kepada Republik, Poerbo Soemitro kembali berdiri di pihak Belanda.
Di tangsi Batalyon Infanteri KNIL ke-10, yang kini sudah jadi bagian dari komplek Hotel Borobudur, Jakarta, Jepang menempatkan para tawanannya. Setiap hari, para tawanan itu dibariskan dan dipastikan jumlahnya. Suatu sore di tahun 1945, Poerbo Soemitro, seorang tawanan bekas Letnan KNIL yang masih keturunan bangsawan Yogyakarta, mendapat giliran memimpin apel. Ia sabar menunggu semua tawanan masuk barisan.

“Namun dari ujung kanan terdengar suara seorang Sersan KNIL, bernama Lewerissa. Ia terus saja dengan suaranya yang lantang menyeloteh,” tutur Hadjiwibowo dalam Anak Orang Belajar Hidup: Dinamika Hidup 1942-1970 (2000:46).

Poerbo Soemitro pun kesal, ia pun menyembur Lewerissa dengan makian ala serdadu KNIL. Suasana dalam barisan tawanan itu jadi tak nyaman. Lewerissa tak mau mati gaya, ia segera membalas dengan berteriak, “tutup bacotmu, Let!” Suasana jadi makin hening. Namun setelah itu, Poerbo Soemitro memberi perintah dengan lebih tenang.

Menurut Didi Kartasasmita dalam autobiografinya yang bertajuk Didi Kartasasmita: Pengabdian bagi Kemerdekaan (1993:114), Poerbo Soemitro adalah putra seorang bupati di Jawa Tengah. Setelah Jepang kalah, dia sempat menjadi sekretaris Paku Alam.


Masa KMA Breda & Dinas Awal

Sebagai anak bupati, Poerbo Soemitro mendapat pendidikan yang layak. Bahkan ia pernah belajar di sekolah yang cukup elite. Dan itulah modalnya untuk melanjutkan pendidikan di Koninklijk Militaire Academie (KMA) atau Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda. Sekolah pendidikan militer itu hanya menerima ijazah setara SMA sekarang, seperti HBS atau AMS.

Menurut laporan Haagsche Courant (04/09/1935), Poerbo Soemitro diterima di KMA Breda Breda sebagai taruna calon perwira infanteri. Tahun berikutnya, seperti diberitakan Bredasche Courant (16/07/1936), dia magang atau praktik kerja lapangan di Resimen Infanteri 15 dari tanggal 18 Juli hingga 1 September 1936.

Salah seorang kolega Poerbo Soemitro saat menjalani pendidikan di KMA Breda adalah pemuda keraton Mangkunegaran bernama Soejarso Soerjosoerarso. Dalam buku Kenang-kenangan Alumni KMA (1997:83) disebutkan bahwa saat belajar di Bandung--dalam acara nonton film bareng--Soejarso tak mau berdiri ketika lagu Wilhelmus (lagu kebangsaan Belanda) dinyanyikan.

Het Vaderland (29/07/1939) melaporkan bahwa Poerbo Soemitro dan Soejarso Soerjosoerarso dilantik menjadi Letnan Dua Infanteri KNIL pada 30 Juli 1939. Setelah itu, seperti dicatat De Indische Courant (27/09/1939), Poerbo Soemitro pulang ke Hindia Belanda dari Pelabuhan Rotterdam pada tanggal 13 September 1939. Di tanah air, dia tak hanya berdinas di Jawa, tapi juga pernah bertugas di Kalimantan dan Sulawesi.

Di Kalimantan, berdasarkan laporan Soerabaijasch Handelsblad (08/08/1941), Poerbo Soemitro ditempatkan di Tarakan. Setelah itu dipindahkan ke batalion garnisun Sulawesi. Saat itu, pangkatnya masih Letnan Dua, dan gajinya lebih dari cukup untuk ukuran saat itu, yakni sekitar 100 gulden perbulan.



Era Revolusi

Ketika revolusi kemerdekaan Indonesia berkobar, sebagai mantan Letnan Satu KNIL, Didi Kartasasmita mendatangi para mantan perwira KNIL lainnya untuk menyatakan dukungannya terhadap Republik. Didi bertemu dengan Poerbo Soemitro di Yogyakarta. Tak hanya itu, dia juga mendatangi Oerip Soemohardjo yang lebih senior.

“Poerbo Soemitro menyetujui isi maklumat. Ia menandatanganinya,” kata Didi. Artinya, dengan tandatangan itu Poerbo Soemitro ikut mendukung Republik Indonesia.

Sikap Poerbo Soemitro seiring dengan keputusan yang diambil oleh Soejarso Soerjosoerarso, kawan satu angkatannya. Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1988:401), Soejarso bergabung dengan markas besar TKR dan sempat menjadi Kepala Bagian Persenjataan di Kementerian Pertahanan. Belakangan, meski pendidikannya infanteri, dia justru menjadi Inspektur Kavaleri Indonesia. Soejarso pensiun di TNI dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.

Meski di awal revolusi kedua sahabat ini sejalan, tapi belakangan Poerbo Soemitro dan Soejarso berpisah jalan. Poerbo Soemitro yang dilahirkan di Yogyakarta pada 3 Agustus 1915 ini ternyata kembali menyeberang ke pihak Belanda. Didi Kartasamita menduga Poerbo Soemitro merasa masih terikat sumpah setia kepada Ratu Belanda.

Sikap seperti ini memang agak lazim saat itu. Selain dia, orang Jawa mantan KNIL yang kembali berpihak kepada Belanda ada beberapa orang, di antaranya Mayor KNIL Soerio Santoso dan Trenggono Soerjobroto. Dalam "Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia" (26/03/1949) disebutkan bahwa mulai tanggal 21 Maret 1949, Trenggono Soerjobroto menjabat komandan sekolah kader pasukan lapis baja di Bandung.

Warsa 1978, Didi Kartasasmita bertemu lagi dengan Poerbo Soemitro dalam acara reuni akbar lulusan Akademi Militer Breda ke-150. Poerbo Soemitro dan istrinya ternyata telah lama pindah ke Belanda dan bukan lagi WNI. Dia meneruskan karier militernya hingga pangkat Letnan Kolonel. Kepada Didi dia bertutur bahwa dirinya pernah bertugas di Suriname. Di sana, ia tentu saja bertemu dengan banyak keturunan Jawa yang hidup di bawah naungan merah-putih-biru.

Baca juga artikel terkait KNIL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight