Legenda itu Bernama Freddie

Oleh: Alexander Haryanto - 27 Juli 2016
Dibaca Normal 3 menit
Ketika Trump menggunakan lagu We Are The Champions untuk kampanyenya, Queen berang dan meminta calon presiden AS itu tidak menggunakannya lagi. Bagi Queen penggunaan lagu itu bertentangan dengan kebijakan band.
tirto.id - “We Are The Champions” hanya satu dari serangkaian karya dari Freddie Mercury yang membuat Queen menuju puncak ketenarannya. Penyanyi bernama asli Farrokh Bulsara itu sukses mengantarkan Queen menjadi band fenomenal melalui karya-karyanya. Ia telah menciptakan banyak hits, antara lain “Killer Queen”, “Somebody to Love”, “Love of My Love” dan masih banyak lagi. Band asal Inggris itu pun mampu menjual total albumnya lebih dari 300 juta keping.

Freddie adalah legenda. Tapi perjalanan karir musik Freddie tak selalu mulus. Ia pernah bergabung dengan band Ibex yang berganti nama menjadi Wreckage. Band tersebut gagal dan bubar, Freddie akhirnya memutuskan bergabung dengan band Sour Milk Sea. Band tersebut juga tidak bertahan lama.

Perjalanannya mulai terang ketika bergabung dengan dua personil Smile, Brian May (gitaris) dan Roger Taylor (drumer), mereka sepakat membentuk band baru dan Freddie meminta nama tersebut diubah menjadi “Queen”. Mereka akhirnya merekrut John Deacon untuk mengisi posisi bass.

Penampilannya bersama Queen yang paling memukau adalah sewaktu konser Live Aid di Stadion Wembley, yang dihadiri oleh lebih 72.000. Sekelompok eksekutif musik memuji aksi mereka dan mengatakan itu adalah penampilan langsung terbesar dalam sejarah musik rock.

Sepanjang perjalanan kariernya bersama Queen, Freddie telah menggelar tak kurang dari 700 konser di berbagai belahan dunia. Queen juga pernah menghibur kurang lebih 80.000 orang di Budapest yang merupakan salah satu konser musik rock terbesar yang pernah diadakan di Eropa Timur. Selain itu, mereka juga pernah tampil di Knebworth Park, Inggris dan dipadati kurang lebih 300.000 orang.

Penyanyi opera asal Spanyol, Montserrat Caballé, yang pernah berduet bersamanya di lagu “Barcelona” bahkan pernah mengatakan, perbedaan Freddie dengan penyanyi rock lainnya adalah ia menjual suara. Selain itu, ia juga memiliki teknik bernyanyi yang menakjubkan, mampu berpindah dari satu nada ke nada lain dengan sangat mudah.

Freddie juga dinilai memiliki musikalitas besar, kalimatnya lembut dan manis. Ia mampu menemukan pewarnaan yang tepat serta mampu memberikan nuansa ekspresif untuk setiap kata dan mampu menempatkan bagian vokal dengan baik.

Hal tersebut juga diakui oleh seorang penulis biografi, David Bret yang mengatakan, suaranya dapat meningkat dalam beberapa bar dari suara serak, tenor, kemudian beralih ke nada tinggi.

Penelitian Vokal Freddie

Kepiawaian Freddie diakui oleh banyak kritikus rock dan penggemar musik. Kemampuan itulah yang membuat sekelompok peneliti asal Austria, Ceko dan Swedia tertarik melakukan penelitian terhadap vokalnya.

"Freddie Mercury adalah salah satu penyanyi paling terkenal di abad kedua puluh dalam musik kontemporer komersial," kata salah satu peneliti dikutip dari edition.cnn.com.

Penelitian tersebut dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari rekaman lagu, video rekaman wawancaranya. Selain itu, para peneliti juga membedah kinerja vokalnya, frekuensi suara saat bernyanyi dan berbicara.

Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh Logopedics Phoniatrics Vocology itu menunjukkan, Freddie sangat mahir memodulasi suaranya. Ia juga sering menggunakan teknik subharmonik dalam bernyanyi, teknik ini sering digunakan oleh para penyanyi Tuvan. Meskipun Freddie dikenal sering bernyanyi dengan suara tinggi (tenor), tapi dia juga bisa menyanyikan nada rendah (bariton).

Sementara itu, Christian Herbst, seorang ilmuwan vokal dari Palacky University, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan, Freddie juga bisa melakukan vibrato dengan sangat cepat dan mampu berbicara pada frekuensi 117,3 hertz, di frekuensi umum orang-orang bersuara bariton.

Mereka juga membandingkan dan menyuruh penyanyi rock profesional, Daniel Zangger-Borch untuk menirukan vokal Freddie. Mereka menemukan, Zangger-Borch menghasilkan nada yang lebih rendah dan kasar, dan tidak mampu menyamai teknik vokalnya.

Selain itu, mereka juga meninjau rekaman vokal Freddie yang tanpa iringan musik, mereka menemukan sesuatu hal yang tidak biasa di vibratonya dan itu sangat berbeda dengan penyanyi lainnya.

"Dibandingkan dengan penyanyi pop/rock, vibrato Freddie Mercury adalah luar biasa cepat, dan modulasi [teknik bernyanyi] yang kadang-kadang cukup teratur," Herbst seperti dikutip dari livescience.com.



Misteri di Balik Penulisan Lirik

Freddie ahli menyematkan makna di dalam lirik lagunya, terutama lagu “Bohemian Rhapshody” di album “A Night at the Opera”. Berkat ini pula album itu laku 2,5 juta keping dan menempati posisi puncak di beberapa negara seperti Belanda, Selandia Baru, Kanada dan Belgia.

Sebagian penggemar Queen pun bertanya-tanya, makna apa yang terkandung dalam lirik tersebut ?

Freddie enggan berkomentar. Ia menutup rapat-rapat dan membiarkan penggemarnya menyimpan tanda tanya besar. Belakangan, pernyataan mengejutkan datang dari penulis buku “Freddie Mercury: The Definitive Biography”, Lesley-Ann Jones. Ia mengungkapkan, lagu tersebut merupakan pengakuan Freddie bahwa ia adalah seorang gay.

Fakta tersebut dipertegas oleh teman baik Freddie, Sir Tim Rice, yang mengatakan bahwa Freddie memang mengungkapkan hal tersebut pada lagunya. "Saya sudah bicara dengan Roger Taylor [drummer Queen] tentang hal itu. Ada pesan yang sangat jelas di dalamnya. Ini adalah pengakuan Freddie bahwa ia adalah gay” katanya seperti dikutip dari dailymail.co.id.

Fakta mengejutkan itu sempat membuat Queen redup. Para penggemarnya sulit menerima kenyataan bahwa Freddie adalah seorang homoseksual. Di saat itu pula ia sering menjauhkan diri dari pasangannya Jim Hutton, terutama ketika di acara-acara publik. Namun redupnya Queen tak berlangsung lama. Queen kembali berjaya ketika terpilih dalam rangkaian pertunjukan di Afrika Selatan.

Pada Oktober 1986, kabar mengejutkan kembali menerpa Freddie. Wartawan Inggris melaporkan bahwa Freddie menguji darahnya untuk memastikan gejala HIV/AIDS di klinik Harley Street. Freddie membantah, tetapi wartawan terus mencari informasi mengenai kabar yang terlanjur tersebar luas itu. Kecurigaan bertambah ketika tubuh Freddie makin kurus dan absen beberapa kali dari konser Queen. Ditambah lagi dengan pernyataan mantan kekasihnya di berbagai majalah yang menyebut kondisi Freddie makin memburuk.

Freddie tetap membantah dan berkilah bahwa ia tidak mengidap HIV. Ia memilih menutup status HIV-nya kepada publik selama beberapa tahun, meskipun rumor tersebut telah tersebar luas di media.

Freddie akhirnya mengungkapkan penyakit yang dideritanya, "Setelah dugaan besar di media, saya ingin menegaskan bahwa saya telah diuji HIV positif dan AIDS. Saya merasa benar untuk menjaga informasi ini untuk melindungi privasi orang di sekitar saya,” katanya kepada The Guardian, November 1991.

"Namun, sekaranglah waktunya untuk teman-teman saya dan penggemar di seluruh dunia untuk mengetahui kebenaran, dan saya berharap semua orang akan bergabung dengan saya, dokter saya dan semua orang di seluruh dunia dalam memerangi penyakit yang mengerikan ini." lanjutnya.

Sebelum laporan The Guardian muncul, Freddie memang nampak kurus. Pada Mei 1991, tubuh Freddie tampak ceking di video klip "These Are the Days of Our Lives". Video tersebut sekaligus menjadi penampilan terakhirnya di depan kamera. Beberapa lama setelah itu, Freddie tutup usia di rumahnya di Kensington. Penyebab resmi kematian adalah bronkopneumonia akibat AIDS.

Nama Besar Freddie Setelah Meninggal

Meskipun telah meninggal, namanya tetap abadi. Dalam sebuah jajak pendapat BBC ia berada di urutan ke 58 dari 100 warga Inggris terbaik. Pada tahun 2005, ia menyandang predikat sebagai penyanyi laki-laki terbesar sepanjang masa dalam jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Blender dan MTV2. Tiga tahun berikutnya penyunting Rolling Stone meletakkannya di nomor 18 dari 100 penyanyi terbaik sepanjang masa.

Karya-karyanya abadi, bahkan sampai saat ini lagu-lagu masih sering terdengar. Dalam sebuah wawancara, ibunya, Yer Bulsara mengatakan "Saya masih merasa dia [Freddie] berada di sekitar karena musiknya begitu sering dimainkan. Ini meyakinkan saya bahwa ia masih dicintai oleh orang di seluruh dunia. " katanya seperti dikutip dari telegraph.co.uk.

Tidak hanya itu, “We Are The Champions” juga selalu hadir di setiap kesempatan berkenaan dengan sebuah kompetisi, bahkan di panggung politik sekalipun.

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)

Reporter: Alexander Haryanto
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti