Lebaran Pengaruhi Turunnya Nilai Ekspor-Impor Indonesia

Lebaran Pengaruhi Turunnya Nilai Ekspor-Impor Indonesia
Pedagang dan pembeli bertransaksi di Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (4/7).ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra.
Reporter: Damianus Andreas
17 Juli, 2017 dibaca normal 2 menit
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan Hari Raya Lebaran tahun ini kembali memengaruhi nilai ekspor dan impor Indonesia.
tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan Hari Raya Lebaran tahun ini kembali memengaruhi nilai ekspor dan impor Indonesia. Menurut Kepala BPS Suhariyanto, sejumlah faktor yang bersifat musiman rupanya berdampak signifikan terhadap penurunan nilai ekspor dan impor di Juni 2017.

“Untuk ekspor, nilainya pada Juni lebih rendah (baik year-on-year maupun month-to month), karena ada pengaruh dari siklus Lebaran. Seperti kita tahu, ada libur 5 hari kerja, di samping ada juga larangan kendaraan truk yang masuk ke tol sejak H-7,” kata Suhariyanto saat jumpa pers di kantornya, Senin (17/7) siang.

“Itulah yang membuat total ekspor kita pada Juni 2017 sebesar 11,64 miliar dolar AS, atau turun 11,82 persen secara year-on-year,” ucap Suhariyanto lagi.

Kondisi yang sama juga dilaporkan terjadi pada total impor di Juni 2017. “Sementara untuk nilai impor pada Juni 2017 mencapai 10,01 miliar dolar AS, atau turun 17,21 persen dibandingkan Juni 2016. Masih sama trennya (penurunannya), dikarenakan Lebaran,” ujar Suhariyanto lagi.

Apabila dilihat perkembangannya dari Mei ke Juni 2017 (month-to-month), nilai ekspor mengalami penurunan sebesar 18,82 persen dari 14.345,4 juta dolar AS menjadi 11.644,9 juta dolar AS. Sementara nilai kumulatifnya pada periode Januari-Juni 2017, naik 14,03 persen atau sebesar 79,96 miliar dolar AS dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Penurunan ekspor Juni 2017 dibanding Mei 2017 disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas sebesar 20,66 persen (13.049,4 juta dolar AS menjadi 10.353,8 juta dolar AS), dan juga ekspor migas yang turun 0,38 persen (dari 1.296 juta dolar AS ke 1.291,1 juta dolar AS),” ungkap Suhariyanto.

Sementara itu, penurunan juga terjadi pada nilai impor dari Mei ke Juni 2017 yang tercatat sebanyak 27,26 persen. “Hal tersebut disebabkan oleh turunnya nilai impor migas dan nonmigas, yang masing-masingnya 175,4 juta dolar AS (9,79 persen) dan 3.578 juta dolar AS (29,88 persen),” ucap Suhariyanto.

Terkait penurunan angka ekspor dan impor di saat Lebaran, Suhariyanto mengatakan BPS telah menyadari tren itu sejak beberapa tahun terakhir. Dalam pemaparannya, Suhariyanto lantas menunjukkan perkembangan ekspor dan impor saat Lebaran tahun lalu.

“Seperti halnya tren di tahun-tahun sebelumnya, biasanya (nilai total impor dan ekspor, serta impor dan ekspor nonmigas) akan naik kembali,” tutur Suhariyanto.

Saat disinggung perihal rekomendasi langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalisir penurunan angka, Suhariyanto pun tidak bisa memastikan. “Kalau tidak diliburkan itu sebuah langkah atau nggak, saya nggak tahu ya. Tapi harusnya distribusi barang tidak perlu sampai berhenti seperti itu, karena itu berpengaruh,” ujar Suhariyanto.

“Katakanlah kalau kontainer dilarang (beroperasi) sampai 10 hari, itu besar sekali pengaruhnya. Tapi saya nggak tahu kebijakannya gimana,” tambahnya.

Lebih lanjut, Suhariyanto juga sempat mengatakan bahwa sampai dengan Juni 2017, harga komoditas di pasar internasional masih belum stabil. “Ada komoditas-komoditas yang mengalami peningkatan maupun penurunan harga, dan itu berpengaruh juga pada nilai ekspor dan impor kita,” jelas Suhariyanto.

“Di nonmigas, yang mengalami penurunan di antaranya minyak kelapa sawit, nikel, dan karet. Sedangkan yang mengalami peningkatan ada batu bara, cokelat, dan tembaga,” kata Suhariyanto lagi.

Kendati mengalami penurunan nilai ekspor dan impor, namun BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2017 tetap mengalami surplus, yakni 1,63 miliar dolar AS. Tak hanya itu, surplus juga dikatakan terjadi pada neraca perdagangan selama semester I 2017. Besarannya mencapai 7,63 miliar dolar AS.

“(Surplus) akan terus terjadi sampai akhir tahun. Untuk surplus semester I 2017, ini merupakan yang tertinggi sejak 2012. Terakhir pernah mencapai angka tertinggi pada semester I 2011, yang besarnya sekitar 15 miliar dolar Amerika. Ini perkembangan yang menggembirakan,” ungkap Suhariyanto.

Masih dalam kesempatan yang sama, Suhariyanto turut menyebutkan negara-negara tujuan ekspor dan impor nonmigas terbesar pada Juni 2017.

Untuk ekspor nonmigas, tiga negara tujuan terbesarnya adalah Tiongkok (1,35 miliar dolar AS), Amerika Serikat (1,19 miliar dolar AS), dan Jepang (1,01 miliar dolar AS). Sedangkan untuk impor nonmigas, tiga negara pemasok terbesarnya Tiongkok (15,76 miliar dolar AS), Jepang (6,77 miliar dolar AS), dan Thailand (4,42 miliar dolar AS).

“Karena negara-negaranya masih tetap itu saja, maka perlu adanya penciptaan pasar-pasar baru. Salah satunya seperti pemerintah yang sudah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan ekspor, seperti melakukan negosiasi dengan negara-negara di Afrika, khususnya Afrika Selatan, Kenya, dan Nigeria,” jelas Suhariyanto.

“Dengan begitu ekspor kita tidak hanya terpaku pada pasar-pasar tradisional, tapi juga menciptakan pasar-pasar baru,” tambahnya.

Baca juga artikel terkait EKSPOR IMPOR atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - dam/may)

Keyword