Lahirnya Industri Minyak Modern, Surutnya Bisnis Minyak Paus

Oleh: Anto Sugiharto - 25 Agustus 2020
Dibaca Normal 6 menit
Minyak bumi di Titusville awalnya dianggap limbah tambang garam. Setelahnya jadi komoditas yang menggerakkan peradaban energi.
tirto.id - Peristiwa ini terjadi pada suatu malam musim panas di Oil Creek, Titusville, Pennsylvania, Amerika Serikat. Malam itu, cairan hitam bercampur air mulai merembes naik hingga terlihat mengambang di permukaan lubang sumur bor yang masih dibangun. Keesokan harinya orang-orang mulai berkerumun di sekitar sumur. Mereka ingin turut menyaksikan kemunculan cairan hitam pekat yang kelak dikenal sebagai minyak bumi.

Upaya pencarian minyak bumi di daratan luas sebetulnya sudah dimulai pada abad ke-19 melalui berbagai cara, termasuk dengan metode pemboran mekanis. Beberapa daerah yang mendapat predikat sebagai perintis pencarian minyak bumi pertama di dunia lewat upaya pemboran ini adalah Baku di Azerbaijan (1846), Bobrka di Polandia (1853), Lucacesti di Rumania (1857), Wietze di Jerman (1857) dan Ontario di Kanada (1858).

Namun, sebagaimana dicatat Halfdan Carstens dalam “The Birth of the Modern Oil Industry” (Geoexpro vol.6 No.3/2009), dari semua upaya rintisan itu keberhasilan penemuan minyak di Titusville lewat sumur Drake-1 pada 1859 dinilai sebagai tonggak industri perminyakan skala komersial pertama di dunia yang nantinya memicu lahirnya sektor hulu, tengah, hingga hilir di dunia perminyakan.

Layaknya demam emas di California 1848, berita minyak di Titusville langsung disambut arus migrasi. Demam perburuan minyak bumi dan eksodusnya para pekerja ke tempat baru pasca-penemuan di Titusville (AS) juga terjadi di seantero Amerika Serikat. Perburuan emas hitam akhirnya meluas ke seluruh dunia hingga ke Hindia-Belanda selang satu dekade kemudian.


Pencarian minyak di tanah air dirintis oleh seorang wirausahawan muda bernama Jan Reerink yang melakukan pengeboran mekanis di sekitar Majalengka pada 1871. Namun, sebagaimana diungkapkan J.P. Poley dalam Eroïca: The Quest for Oil in Indonesia (1850-1898), usaha Reerink hanya menghasilkan sedikit minyak, meski kualitasnya baik. Di Hindia Belanda, sebagaimana dicatat setiawan dalam disertasi The Political and Economic Relationship of American-Dutch Colonial Administration in Southeast Asia: A Case Study of the Rivalry between Royal Dutch/Shell and Standard Oil in the Netherlands Indies (1907-1928) (2014), A.J. Zijlker sukses mengeksploitasi sumur Telaga Tunggal I, Pangkalan Brandan pada 1885. tempat yang sering dijuluki sebagai Titusville-nya Indonesia (Setiawan, A. 2014:35).

Edwin Drake bukan perintis pemboran sumur minyak pertama dalam sejarah dunia perminyakan. Namun upaya yang dirintisnya di Titusville pada 27 Agustus 1859 menjadi tonggak awal industri hulu migas modern di Amerika Serikat. Di belakang sosok yang dijuluki “Kolonel” ini adalah George Bissell yang menghimpun dana yang dibutuhkan untuk eksplorasi minyak. Bisnis mereka adalah pertaruhan tergolong mahal dan dibayangi resiko kegagalan seperti halnya pengeboran air atau garam yang tidak selalu berujung keberhasilan. Terlebih lagi, pencarian itu menyasar materi baru yang belum populer karena tidak didukung oleh pengetahuan memadai, pengalaman teknis serta dasar ilmiah yang menguatkan di masa itu.

Meski dijuluki “Kolonel”, Edwin Drake bukan tokoh militer. Ia juga tidak memiliki latarbelakang pendidikan teknik yang biasanya dekat dengan dunia pengeboran. Setelah berganti-ganti pekerjaan dan terakhir sebagai pensiunan muda kondektur kereta api, Drake memanfaatkan waktu luang untuk melakukan perjalanan ke Titusville di Pennsylvania Barat Laut dari kota asalnya di New Haven berjarak sekitar 450 km, kemudian ke Oil Creek yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Titusville.

Oil Creek sendiri merupakan lokasi munculnya rembesan minyak di permukaan sejak beberapa abad sebelumnya sebagaimana tercatat dalam laporan perjalanan Lewis Evans and His Historic Map of 1755 (Ethyl Corp,1955). Petani-petani lokal sering mengumpulkan hingga 30 barel minyak dari rembesan itu untuk pengobatan. Masyarakat adat setempat juga menggunakannya sebagai bahan mengecat muka/badan.

Situs American Chemical Society (ACS) mencatat minyak bumi awalnya dikumpulkan dari rembesan yang tersebar di sejumlah tempat di Amerika. Munculnya teknologi pengolahan kimia sejak abad ke-19 membuat minyak bumi bisa digunakan sebagai bahan bakar, terutama untuk lampu penerangan secara terbatas.


Namun, perkembangan besar sebetulnya telah terjadi pada masa itu. Pada 1855, Siliman, Jr. (1816-1885), profesor kimia terapan dari Universitas Yale menulis laporan penelitian mengenai proses pengolahan minyak bumi didasarkan pada proses distilasi fraksinasi delapan tahap di mana masing-masing tahap dapat menghasilkan produk minyak bumi yang berbeda. Sampel minyak bumi yang digunakan berasal dari rembesan permukaan di Perkebunan dekat Titusville.

Keberhasilan eksperimen kimia lanjutan untuk minyak lampu dilakukan juga oleh Samuel Kier (1813-1874), seorang ahli kimia dan pemilik penyulingan minyak pertama di laboratoriumnya di kota Pittsburg, Pennsylvania.

Kedua ilmuwan memastikan agar sulingan minyak kerosin yang bersumber dari batubara atau minyak bumi bisa dijadikan bahan bakar lampu penerangan. Namun agar bisa diproduksi secara komersial dan menguntungkan, diperlukan bahan baku minyak bumi dalam volume besar sehingga dapat diproduksi dalam skala industri. Kualitas minyak ringan (kerosin) yang diperoleh dari hasil distilasi kimia minyak bumi ini setara dengan minyak ringan hasil penyulingan batubara—bahkan lebih baik dibandingkan kualitas minyak paus.

Laporan riset Siliman dan Kier semakin menguatkan upaya pencarian minyak bumi ini oleh para pionir berlatar belakang pengusaha, termasuk Bissell dan kawan-kawannya. Mereka meyakini minyak bumi sangat dibutuhkan publik saat itu untuk disuling menjadi kerosin sebagai sumber energi.

Di Amerika Serikat antara 1840-1860 terdapat kegiatan yang cukup intensif untuk menyuling minyak dari batubara dan serpih hitam (bitumen) dengan menggunakan proses Gesner—sesuai nama penemunya, Abraham Gesner. Namun, sebagaimana dicatat T.J. Murray dalam “Dr Abraham Gesner: The Father of the Petroleum Industry” (1993), proses itu hanya mampu menghasilkan sekitar 57 liter minyak tanah dan 76 liter produk lain—seperti nafta dan pelumas—dari 1 ton bahan baku.

Industri penyulingan minyak batu bara dan serpih ini bersanding dengan industri minyak paus untuk memasok kebutuhan minyak lampu. Selain itu lilin dan minyak hewan (lard) masih digunakan secara luas untuk bahan bakar lampu penerangan, pelumas, sabun dan bahan pelarut.

Sulitnya Berburu Minyak Paus

Sebagai salah satu sumber bahan bakar penting, minyak paus dirasakan mulai langka di pasaran setelah sulitnya menemukan ikan paus di lautan akibat perburuan besar-besaran. Tak kurang dari 700 kapal pemburu ikan paus beroperasi di seluruh lautan dunia pada 1840-an, yang merupakan masa kejayaannya, merujuk Haley Zaremba dalam What Can We Learn from Peak Whale Oil (2019).

Cahaya lampu yang bersumber dari pembakaran minyak paus memang jauh lebih baik dari lilin karena lebih terang, tahan lama. Bau dan polusinya juga lebih sedikit. Namun, minyak paus sangat mahal sehingga hanya kalangan terbatas saja yang dapat memanfaatkannya.

Sebenarnya sejumlah alternatif sumber energi tersedia di masa itu. Namun, Bissell menganggap minyak bumi sebagai pilihan terbaik meski masih sangat terbatas digunakan. Bissell bersemangat melanjutkan pencarian lokasi sumber minyak bumi baru untuk membuat proses distilasi berskala komersial. Bersama enam orang rekan bisnisnya, ia mendirikan Pennsylvania Rock Oil Company pada 1854. Perusahaan ini disebut-sebut sebagai perusahaan minyak pertama di Amerika Serikat. Mereka membuat rencana untuk pencarian minyak bumi (petroleum) dalam kuantitas besar. Bissell pula yang pada awalnya mencetuskan ide memompa minyak dari bumi. Ia terinspirasi cara kerja pompa air seperti yang tertera pada sebuah iklan milik Kier’s oil.


Untuk mewujudkan ide itu, Drake melalui payung Seneca Oil Company (Perusahaan minyak baru yang dibentuk tahun 1858) ditugaskan melakukan investigasi rembesan minyak yang mengganggu operasi pemboran sumur air garam milik warga setempat di Titusville.

Berbekal informasi tersebut, Drake meyakini desa kecil bernama Oil Creek di tengah Perkebunan Hibbard Titusville sebagai lokasi yang tepat. Drake mempelajari operasi pemboran tradisional dengan penggalian yang sedang dilakukan warga setempat untuk mengekstraksi garam dan air. Awalnya Drake memakai cara yang sama, namun gagal karena hanya mampu membuat sumur dangkal. Belajar dari kegagalan itu, ia melanjutkan inovasi Bissell dengan mencoba teknik pengeboran baru agar bisa menjangkau batuan lebih dalam yang diduga menjadi sumber akumulasi minyak di sekitar tempat penemuan rembesan minyak.

Persiapan Pengeboran

Pada musim dingin 1858, sang Kolonel sudah berada di Titusville untuk menyiapkan segala keperluan pemboran. Tahun pun berganti. Setelah semua persiapan selesai, tibalah saatnya melakukan tajak pemboran menggunakan alat bor model tumbuk. Operasi pemboran itu Edwin dibantu William Andrew Smith (“Paman Billy”) sebagai teknisi kawakan yang digaji USD 2,5 per hari (sekitar Rp1,1 juta hari ini). Sebelumnya ia berpengalaman di pemboran tambang air garam. Paman Billy dibantu dua anaknya yaitu Samuel sebagai asisten dan Margaret sebagai juru masak.

Sejak awal abad ke-19 alat bor model tumbuk (perkusi) sudah umum digunakan untuk mencari air garam sebagai bahan pengawet makanan atau daging saat musim dingin. Sebaliknya, kehadiran cairan minyak bumi saat mengebor garam malah dianggap sebagai material pengganggu yang merusak sumur garam. Aktivitas Drake, karenanya, dianggap tidak lazim. Bagi warga setempat, yang dilakukan Drake adalah hal yang sia-sia, sehingga muncullah olok-olok Drake’s Folly. Namun, ejekan itu tidak membuat niat Drake surut.

Hari demi hari berlalu, pengeboran penuh rintangan secara perlahan terus berlanjut. Lubang bor berdiameter 5 inci itu telah menembus lapisan tanah penutup sedalam 32 kaki (9,75 m) dan mulai menemukan interval batuan serpih.

Hari itu, Sabtu petang 27 Agustus 1859, peralatan bor sudah seharian bekerja dengan kecepatan yang lambat dan hanya mampu menembus kurang satu meter kedalaman batuan per hari. Batuan yang dibor biasanya menembus lapisan serpih. Namun, hari itu agak berbeda. Sisa batuan terakhir ternyata lain. Smith, sang pengebor, merasakan matabor menyentuh drill break, sebuah rekahan yang menandakan batuan berpori. Ternyata matabor itu diketahui telah menembus 15 cm interval batuan yang lebih dalam, seperti dikisahkan oleh Bruce Wells dalam “Edwin Drake and His Oil Well” (2009). Karena malam telah tiba, pipa bor lalu ditarik dan dicabut dari lubang ke permukaan. Selesailah pekerjaan hari itu.

Keesokan harinya, muncul gumpalan cairan kental berwarna coklat kehitaman dan agak kehijauan. Gumpalan yang sedikit memantulkan cahaya, berbau cukup menyengat dan terasa agak aneh itu sedang mengapung di atas lapisan air di dalam lubang bor.

Cairan berwarna gelap yang sebetulnya sedang dinantikan kehadirannya itu ditemukan mengambang pada posisi beberapa kaki dari lantai pemboran. Orang pun lantas berkerumun di dekat lubang sumur.

Infografik Sejarah Lahirnya Industri Minyak Modern
Infografik Sejarah Lahirnya Industri Minyak Modern


Paman Billy lalu mengambil sampel yang dipenuhi dengan cairan berwarna gelap itu. Sampel dengan bau menyengat terbukti merupakan ciri khas minyak. Cairan rock oil ini muncul dari batu pasir tipis berbentuk lensa di kedalaman 69,5 kaki (21,2 meter).

Dengan angka produksi minyak sumur Drake yang mencapai 20-40 barel minyak per hari, maka jumlah produksi dalam beberapa hari saja setara dengan jumlah yang dikumpulkan kapal pemburu paus (whaling ship) selama empat tahun.

Ungkapan “usaha tak mengkhianati hasil” berlaku untuk sang Kolonel. Upaya tak kenal menyerah itu berbuah keberhasilan ketika dukungan finansial mereka semakin menipis. Sebelumnya Drake harus meminjam uang ke sejumlah investor karena dana di kantong mereka sudah habis, terutama akibat kebakaran yang menghanguskan sebagian rumah mesin bor sebelumnya. Selain itu mereka juga selalu dibayang-bayangi kegagalan yang dialami investor lain di tempat yang sama sebelumnya.

Lahirnya industri perminyakan komersial pada paruh kedua abad ke-19 yang dirintis Drake dan kawan-kawan merupakan salah satu ‘hadiah terbesar kemajuan umat manusia’ yang memunculkan peradaban energi di era modern, meski belakangan dikritik karena dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya. Industri-industri baru pun langsung tumbuh dan berkembang hingga melahirkan sektor-sektor turunan yang berkaitan dengan lingkup kegiatan industri perminyakan ini.

Beberapa lama setelah penemuan minyak di sumur Drake muncul tokoh-tokoh besar yang dikenal sebagai “Oil Barons”, misalnya John Rockefeller (Standard Oil Group), Marcus Samuel dan Henri Deterding (Royal Dutch-Shell), Ludwig Noble (Branobel). Mereka terkenal setelah sukses menguasai bisnis-bisnis terkait minyak bumi. Beberapa bertahan hingga hari ini, seperti perusahaan milik Rockefeller yaitu Standard Oil (1870). Dalam sejarahnya, Standard Oil kemudian dipecah menjadi 34 perusahaan minyak baru yang independen, di antaranya ExxonMobil, Chevron, dan British Petroleum.

Baca juga artikel terkait MINYAK BUMI atau tulisan menarik lainnya Anto Sugiharto
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Anto Sugiharto
Editor: Windu Jusuf
DarkLight