Krisis Ekonomi: Penyebab Utama Para Presiden AS Gagal Terpilih Lagi

Oleh: Tony Firman - 9 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
"It's the economy, stupid." (Tim Kampanye Bill Clinton, 1992)
tirto.id - Batasan durasi dan kesempatan menjabat presiden Amerika Serikat diatur dalam Amandemen XXII. Sejak diratifikasi pada 1951, Amandemen XXII membatasi jabatan presiden untuk dua periode saja, dengan satu periode mencakup empat tahun masa kepemimpinan.

Sebelumnya, seorang presiden AS bisa menjabat beberapa periode. Contoh yang paling terkenal adalah presiden ke-32, Franklin D. Roosevelt, yang menjabat selama empat periode dari tahun 1933 sampai 1945. Roosevelt meninggal ketika masa jabatan periode keempatnya menginjak usia empat minggu.

Kini, negeri Paman Sam telah dipimpin oleh 45 presiden, mulai dari George Washington hingga Donald Trump. Dalam sejarah politik AS modern, sebagian besar presiden yang berkuasa atau petahana cenderung terpilih kembali untuk jabatan periode kedua. Hanya beberapa yang tidak. Mengapa demikian?

Dimulai dari George Herbert Walker Bush, presiden AS terakhir yang tercatat gagal mengamankan periode kedua. Bush Sr. naik terpilih sebagai presiden AS ke-41 dalam Pilpres 1988 dengan bermodal popularitas sebagai wakil presiden Ronald Reagan selama dua periode. Veteran Perang Dunia II ini juga populer berkat sederet jabatan yang pernah diembannya, mulai dari anggota kongres, duta besar AS di PBB, hingga kepala CIA.

Namun, dalam Pilpres 1992, ia kalah oleh Bill Clinton, capres Partai Demokrat. Bush hanya meraup 168 electoral college sedangkan Bill Clinton mendapat 370. Untuk popular vote, Clinton meraih 44.909.806 dan Bush 39.104.550 suara.



Aroma kekalahan George memang sudah tercium menjelang Pilpres 1992. Faktor krisis ekonomi jadi alasan kuat yang menyebabkan Bush kehilangan kepercayaan dari para pemilih. Menjelang pilpres, angka pengangguran di AS sebesar 7,4 persen. Resesi ekonomi, sebagaimana diwartakan The New York Times, juga tengah melanda California dan negara-negara bagian di pantai timur sebelah utara. Elektabilitas Bush di tahun pemilu pun merosot ke angka 37 persen menurut jajak pendapat Gallup.

Untuk meredam defisit anggaran negara, Bush terpaksa menaikkan pungutan pajak pada 1990. Problemnya, saat kampanye Pilpres 1988, Bush berjanji tidak akan menaikkan pajak dan memungut pajak baru jika terpilih. "Cermati baik-baik ucapan saya: tak ada pajak baru," kata Bush dalam pidatonya yang terkenal itu.

Apa slogan tim kampanye Clinton ketika melawan Bush? "It's the economy, stupid."

Sebelum Bush, Jimmy Carter dari Partai Demokrat adalah presiden petahana AS ke-39 yang gagal memenangkan periode kedua. Carter dikalahkan oleh Ronald Reagan dengan cukup telak. Carter hanya mampu meraup 49 electoral college, sedangkan Reagan 489. Selisih di tataran popular vote pun cukup besar: Reagan mendapat 43.903.230 dan Carter 35.480.115.

Dalam bukunya Our Endangered Values: America's Moral Crisis (2005), Carter menunjuk Ted Kennedy sebagai biang kerok kekalahannya. Kennedy, menurut Carter, maju di pemilihan primary Partai Demokrat sehingga memecah dukungan konstituen.

Namun, ada sejumlah faktor lain yang membuat Carter gagal di Pilpres 1980. Misalnya insiden penyanderaan 66 staf kedutaan AS di Teheran yang berlangsung selama 14 bulan (1979–1981). Kegagalan Carter menyelamatkan delapan sandera lewat Operasi Cakar Elang 1980 dinilai turut menghancurkan elektabilitas presiden yang akrab disebut "Anak Petani Kacang" ini.

Selain itu, Carter memimpin AS dalam kondisi Stagflasi. Saat itu pertumbuhan ekonomi menurun dan pengangguran meningkat. Tak hanya itu, Carter mengambil kebijakan yang tak populer ketika arus patriotisme akibat penyanderaan kedubes di Teheran sedang pasang di AS; ia memberikan ampunan kepada ratusan ribu orang yang menghindari wajib militer selama Perang Vietnam. Kebijakan ini menyulut protes dari para veteran.


Presiden AS persis sebelum Carter, Gerald Rudolph Ford, juga keok dalam Pilpres 1976. Sebelumnya Ford menjabat Wakil Presiden Spiro Agnew yang mundur lantaran skandal korupsi pada 1973. Namun, jabatan itu bertahan beberapa bulan. Pada Januari 1974, Ford menggantikan Richard Nixon yang menyatakan mundur setelah skandal Watergate terkuak.

Gagalnya Ford memenangkan periode kedua kerap dikaitkan dengan sejumlah kebijakannya yang tidak populer. Misalnya memberi pengampunan kepada Richard Nixon sehingga pengusutan terhadap skandal Watergate berhenti. Perekonomian di era Ford juga diwarnai oleh inflasi. Ekonomi AS pun diperparah lagi oleh embargo minyak pada 1974 sebagai respons OPEC terhadap dukungan AS untuk Israel dalam Perang Yom Kippur (1973).


Infografik pertahanan as yang gagal dua periode
Infografik pertahanan as yang gagal dua periode. tirto.id/Nadya


Kekalahan petahana di AS memang kerap kali disebabkan blunder kebijakan dan krisis ekonomi. Hal ini turut dialami oleh Herbert Hoover, presiden yang mulai menjabat pada 1929 dan gagal mengamankan periode kedua saat Pilpres 1932.

Hoover menjabat ketika AS dilanda krisis ekonomi paling parah dalam sejarah AS, yakni Depresi Besar. Daya beli masyarakat mengalami penurunan, investasi menyusut, dan pengangguran merajalela. Pada 1930, ada empat juta pengangguran di AS, yang meningkat jadi enam juta setahun kemudian, lalu 15 juta pada 1933.


Tak heran, safari politik Hoover dalam rangka kampanye Pilpres 1932 sering mendapat penolakan warga. Politico mencatat, iring-iringan kampanye Hoover kerap kali dilempari telur dan buah busuk. Ia juga kerap dicemooh ketika berpidato. Bahkan Paspampres berkali-kali harus menggagalkan upaya pembunuhan terhadap Hoover oleh warga yang tidak puas dengan kebijakannya selama memerintah. Penantangnya dalam pilpres, Franklin D. Roosevelt dari Partai Demokrat, menang dengan mudah lewat 472 electoral college. Saat itu Hoover hanya mampu meraup 59 electoral college. Untuk popular vote, Hoover meraih 15.761.532. Sementara Roosevelt sukses mendapat 22.821.513 suara.

Menang dua periode adalah prioritas para presiden AS. Tapi pemerintahan tak dijamin aman ketika menginjak periode kedua. Ada sebuah mitos bernama “Kutukan Periode Kedua”, yang merujuk pada masalah-masalah besar yang muncul begitu sang presiden sukses terpilih lagi.

The Wall Street Journal mencontohkan beberapa kasus besar yang dialami sederet presiden AS di periode kedua. Richard Nixon, misalnya. Ia terpilih kembali pada Pilpres 1972 tetapi dipaksa untuk mengundurkan diri di bawah ancaman pemakzulan (impeachment). Ronald Reagan juga kembali terpilih pada 1984, namun tertatih-tatih di periode kedua menghadapi Skandal Iran Contra, di mana sejumlah pembantu Reagan ketahuan menjual senjata ke Iran yang saat itu tengah diembargo Paman Sam. Dan akhirnya, Bill Clinton terpilih lagi pada 1996, namun nyaris dimakzulkan karena skandal seks.

Baca juga artikel terkait KRISIS EKONOMI GLOBAL atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)


Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf