Kontroversi Douglas Copp dan Segitiga Kehidupan

Oleh: Renalto Setiawan - 11 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Doug Copp pernah menyebut bahwa teknik "segitiga kehidupan" adalah teknik paling tepat untuk diterapkan saat terjadi gempa.
tirto.id - “Nama saya Doug Copp. Saya adalah Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari Tim Penyelamat Internasional Amerika (ARTI), tim penyelamat paling berpengalaman di dunia. Informasi dari tulisan ini akan menyelamatkan nyawa dalam gempa bumi.”

Paragraf di atas merupakan paragraf pembuka dalam sebuah artikel berjudul “Segitiga Kehidupan”. Artikel itu mulai beredar di internet, pertama-tama menyebar melalui surel pada awal 2000-an, dan terus menggema hingga sekarang. Saat gempa bumi dan tsunami terjadi di Palu dan Donggala beberapa waktu lalu, artikel itu, sekali lagi, kembali muncul ke permukaan bahkan sampai disimulasikan.

Doug menuliskan bahwa "segitiga kehidupan" adalah cara terbaik agar bisa selamat dari gempa bumi, terutama ketika berada di dalam ruangan. Dia menyarankan orang yang ada di dalam gedung untuk mencari perlindungan di dekat benda yang kuat. Teorinya, ketika bangunan mulai runtuh, atap akan menimpa benda atau furnitur, menyisakan ruang kosong di sebelah benda atau furnitur tersebut.

"Ruang kosong inilah yang saya sebut ‘segitiga kehidupan’. Semakin besar bendanya, maka semakin kuat benda tersebut dan semakin kecil kemungkinannya akan remuk. Semakin sedikit remuk, semakin besar ruang kosongnya, semakin besar pula kemungkinan untuk orang yang menggunakannya untuk selamat dari luka-luka.”

Dia juga memberikan bukti mengapa “segitiga kehidupan” merupakan cara penyelamatan yang cukup ampuh. Pada tahun 1996 lalu ia membuat simulasi gempa di Turki. Ia akan merobohkan sebuah sekolahan yang di dalamnya terdapat 20 maneken. Separuh dari maneken tersebut diatur untuk menggunakan teknik “menunduk dan berlindung”, dan sisanya akan mengggunakan teknik “segitiga kehidupan”. Hasilnya, sesuai dugaan Copp, maneken yang “menunduk dan berlindung” hancur, sedangkan maneken yang menggunakan teknik “segitiga kehidupan” berhasil selamat.

Yang menarik, artikel Doug tersebut kemudian mendapatkan tanggapan dari Palang Merah Amerika. Menurut Rocky Lopes, perwakilan dari Palang Merah Amerika, teknik "drop, cover, and hold on" masih merupakan teknik yang benar, akurat, dan tepat untuk diterapkan saat gempa terjadi. Namun, Palang Merah Amerika juga tidak menganggap bahwa “segitiga kehidupan” merupakan teknik yang salah — terutama di negara lain. Alasan Lopes pun dapat dimengerti: konstruksi bangunan di Amerika belum tentu sama dengan konstruksi bangunan di negara-negara lain.

Namun, teknik Copp tersebut ternyata mendapatkan pertanyaan lebih jauh lagi. Dua di antaranya berasal dari Snopes, situs yang gemar memerangi hoaks di Amerika, dan dari Rappler, media terkemuka asal Filipina. Selain karena kesuksesan “segitiga kehidupan” hanya terjadi dalam simulasi gempa dan belum-belum benar terbukti di gempa yang sebenarnya, Rappler dan Snopes juga meragukan metode tersebut karena rekam jejak Doug Copp.


Siapa Doug Copp?

Doug Coup mulai berurusan dengan bencana alam saat Meksiko diterpa gempa hebat pada tahun 1985 lalu. Tujuh tahun setelahnya, ia membentuk American Rescue Team, yang kemudian mengantarkannya ke New York saat World Trade Center diterjang serangan teroris pada 11 September 2001 lalu.

Satu hari setelah World Trade Center runtuh, Doug dikabarkan sudah berada di New York untuk melakukan misi penyelamatan. Konon, ia melakukan pekerjaan paling berbahaya dengan mencari korban di bagian paling dalam gedung World Trade Center. Apesnya, ia kemudian terkena "gas beracun" yang mengganggu kesehatannya.

Dua Minggu setelah kejadian itu Copp kemudian pulang ke tempat tinggalnya di New Mexico, dan mengaku tidak pernah menjadi orang yang sama lagi usai serangan terorisme itu. Seiring berjalannya waktu kesehatannya semakin memburuk. Ia kesulitan berjalan dan punya banyak masalah kesehatan, mulai dari penglihatan kabur, nyeri di dada, hingga batuk terus menerus.

Berbekal itu semua, Douglas mengajukan dana kompensasi peristiwa 9/11. Dia mendapat dana kompensasi 650 ribu dolar, tanpa dipotong pajak. Namun ternyata dia tidak puas. Menurutnya, untuk memulihkan kesehatannya, dia butuh paling tidak dana lebih dari 1 juta dolar. Perkara ini kemudian terendus media.

Albuquerque Journal lantas melakukan investigasi untuk mengetahui kebenaran kisah Douglas. Laporan investigasi itu kemudian diterbitkan secara berseri, dari tanggal 11 hingga 14 Juli 2004 lalu. Ketika koran terbesar di kawasan New Mexico itu merilis artikel “A 9/11 Phony” untuk keseluruhan seri laporan investigasi tersebut, mereka menyimpulkan bahwa cerita Douglas itu palsu; tokoh yang konon menyelamatkan banyak orang ini ternyata tidak pernah benar-benar melakukan misi penyelamatan selama berada New York.


Dalam laporan hari pertama yang berjudul “New Mexican’s Claims of Ground Zero Rescue Works Called into Question, Albuquerque Journal memberikan sejumlah bukti mengenai kepalsuan cerita Douglas.

Pertama: menurut John Norman, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran New York yang saat itu bertanggung jawab terhadap misi penyelamatan, Douglas tidak punya otoritas untuk melakukan penyelamatan di tempat kejadian. Saat Douglas mengklaim sebagai orang pertama yang berada di area bawah tanah untuk melakukan penyelamatan, Norman membantahnya seraya menyebut itu penipuan. Jika Douglas benar-benar berada di area bawah tanah, Norman pasti melihatnya dan justru akan menangkapnya.

Infografik triangle of life


Kedua: Douglas menyebut bahwa ia diperintah Chase Sargent, yang bekerja untuk Federal Emergency Management Agency, untuk melakukan penyelamatan di reruntuhan World Trade Center. Namun, Sargent justru menampik pernyataan Copp tersebut dengan menyebut misi penyelamatan Copp sebagai “setumpuk kebohongan.”

Bukti ketiga, menurut Stephen Lenz, mantan rekan Douglas, alih-alih melakukan penyelamatan, Douglas justru merekam video setiap berada di tempat kejadian. Hasil rekaman itu kemudian dijual ke televisi. Pengakuan Lenz itu diperkuat oleh T.H Lang, pilot yang membawa Douglas terbang dari New Mexico ke New York.

Sebelumnya, ia membolehkan Douglas naik ke pesawatnya karena mendapatkan rekomendasi bahwa Douglas berserta timnya merupakan tim penyelamat berpengalaman. Namun, setelah sampai di New York, ia sadar bahwa tim yang dibawa Douglas justru terdiri dari penulis skenario, produser film, juru kamera, dan seorang petualang.

Setelah itu, Albuquerque Journal kemudian menelisik lebih dalam lagi petualangan tokoh yang kemudian disebut sebagai "lebih berbahaya ketimbang dongeng rakyat". Dari salah satu laporan tersebut, Copp ternyata pernah berurusan dengan pejabat daerah New Mexico menyoal metode “segitiga kehidupan” yang diciptakannya.

Saat itu, Douglas menilai bahwa teknik “menunduk dan berlindung” yang menjadi pedoman orang-orang California saat terjadi gempa hanya akan membunuh para korban gempa. Berdasarkan pengalamannya selama di New Mexico, ia menyebut bahwa “segitiga kehidupan” merupakan teknik terbaik. Namun, pejabat daerah California menyebut bahwa teknik Copp hanyalah omong kosong. Tak terima, Douglas kemudian menuntutnya dengan dalih pencemaran nama baik. Hasilnya: Douglas ternyata kalah telak dalam sidang.

Berdasarkan semua itu, Leslie Linthicum lantas membuat pernyataan yang cukup menggelitik menyoal Douglas Copp dalam laporannya yang berjudul “'Knucklehead' or Hero?”. Pada pembukaan laporan yang terbit pada tangga 14 Juli 2004 tersebut, ia menulis, dengan nada sarkas, “Doug Copp adalah penyelamat profesional yang paling berpengalaman di dunia. Dia telah melakukan penyelamatan lebih dari 100 bencana, merangkak melalui 894 bangunan dan menyelamatkan 125 ribu orang.”

“Dia telah muncul di dalam 50 ribu koran. Dia ditunjuk PBB sebagai ahli dalam mitigasi bencana. Dia mengobati ratusan anak-anak Venezuela dari penyakit kulit. Dia menyelamatkan India dari wabah. Benar lho. Coba tanya dia.”

Lebih jauh, Marta Petal dari Kandili Observatory and Earthquake Research Institute’s Disaster Preparedness Education Program, menulis tentang omong kosong yang dibuat Douglas. Akademisi yang disertasinya membahas tentang gempa bumi Kocaeli ini menulis dengan tajam dan tanpa tedeng aling-aling.

"Apakah kamu harus percaya semua yang dibilang Doug Copp? Sepertinya jangan deh."

Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono