tirto.id - Gempa bumi berkekuatan 5,1 dan 3,7 magnitudo mengguncang Peru pada Sabtu (18/7/2026) sekitar pukul 21.42 waktu Peru atau Minggu (19/7) waktu Indonesia. Hingga Senin (20/7) ini, proses mitigasi dampak bencana masih berlangsung. Korban tewas juga telah dikonfirmasi. Berikut informasi terkininya.
Sebelumnya, wilayah Provinsi Chupaca, Region Junin, Peru diguncang dua gempa berurutan pada Sabtu malam waktu setempat. Kedua gempa tersebut masing-masing berkekuatan 5,1 dan 3,7 magnitudo.
Seturut media Peru, Infobae, gempa tersebut telah berdampak pada 300 orang di Junin. Puluhan rumah rusak karenanya, sejumlah distrik di Junin juga dilaporkan mengalami pemadaman listrik.
Institut Geofisika Peru menyebut, gempa ini terkait dengan patahan tektonik Altos del Mantaro yang ada di dekat Chupaca. Lembaga tersebut juga mencatat adanya 12 gempa susulan berkekuatan rendah setelah gempa 5,1 dan 3,7 magnitudo.
Region Junin selama ini dikenal sebagai wilayah yang termasuk dalam kawasan Cincin Api Pasifik, yakni kawasan dengan aktivitas seismik paling aktif di dunia. Setiap tahun, Peru hampir selalu diguncang gempa bumi dengan magnitudo 4,0 atau lebih tinggi.
Update Situasi Terkini Gempa Peru
Per Senin waktu Indonesia, para korban gempa di Peru mulai diidentifikasi. Otoritas setempat menyebut ada enam orang yang tewas akibat bencana tersebut. Jumlah korban jiwa ini telah dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Peru Luis Enrique Arroyo.
Menukil La Republica, mayoritas korban tewas akibat gempa itu terdiri dari para lansia dengan rentang usia antara 68 tahun hingga 73 tahun. Namun, seorang remaja berusia 18 tahun bernama Jeff Lenin Orihuela Urbina turut jadi korban tewas dalam bencana ini.
Selain enam orang tewas, gempa berurutan pada Sabtu itu juga dilaporkan telah membuat 32 orang mengalami luka-luka. Jumlah korban luka ini bertambah dari laporan awal Institut Pertahanan Sipil Nasional Peru (Indeci), yang mencatat adanya 21 korban luka.

Gempa bumi juga dilaporkan telah meruntuhkan setidaknya 48 rumah. Banyak di antaranya merupakan rumah yang dibangun dengan bata lumpur dan anyaman, bahan bangunan rawan gempa yang masih kerap digunakan warga di kawasan terdampak.
Kini, tim darurat dan personel militer Peru tengah dikerahkan untuk operasi penyelamatan, pembersihan puing hingga layanan dasar. Pengerahan ini dilakukan seiring proses pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak.
Sekitar 300 orang kini terpaksa mengungsi akibat rusaknya rumah-rumah mereka. Kini, mereka terpaksa tinggal di tenda darurat.
Selain rumah-rumah warga, gempa di Peru ini juga telah merusak sejumlah bangunan penting. Salah satunya adalah gereja Santiago de León di distrik Chongos Bajo, Chupaca. Gereja tersebut merupakan salah satu warisan nasional Peru yang dibangun pada 1565 silam.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id































