Klorokuin dan Avigan Sebagai Obat Corona: Belum Ada Bukti Klinis

Oleh: Irwan Syambudi - 23 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Penggunaan klorokuin memiliki efek samping terhadap fungsi mata dan jantung, kata Guru Besar Farmasi UGM Zullies Ikawati.
tirto.id - Pemerintah RI menyebut bahwa avigan dan klorokuin sebagai obat yang dapat diujicoba kepada pasien yang terinfeksi virus Corona atau COVID-19. Namun obat tersebut belum memiliki bukti klinis dapat menyembuhkan pasien yang positif Corona.

Juru bicara pemerintah dalam penanganan COVID-19 Achmad Yurianto di kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (21/3/2020) menyebut bahwa pemerintah sudah mendatangkan obat yang juga digunakan negara lain untuk pengobatan Corona.

Avigan merupakan obat antivirus yang dikembangkan oleh Toyama Chemical of Japan demi melawan banyak virus RNA. Pada Februari 2020, obat ini dipakai oleh Tiongkok untuk pengobatan eksperimental COVID-19.

Sementara klorokuin adalah obat yang sudah ada di Indonesia yang biasa digunakan sebagai obat malaria. Klorokuin sudah sejak lama diproduksi di Indonesia.

"Sekali lagi kloroquin obat. Digunakan untuk penyembuhan bukan untuk pencegahan. Masyarakat tidak perlu berbondong-bondong untuk membeli dan menyimpannya di rumah. Ingat klorokuin adalah obat keras yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter," ujar Yurianto.


Imbauan itu disampaikan Yurianto setelah satu hari sebelumnya Presiden Joko Widodo menyatakan akan mencoba dua jenis obat tersebut yang diharapkan dapat menyembuhkan infeksi Corona. Jokowi mengatakan pemerintah bakal mendatangkan sebanyak 5.000 butir avigan dari Jepang.

"Obat ini sudah dicoba oleh satu, dua, tiga negara dan beri kesembuhan yaitu avigan. Kami telah mendatangkan 5.000 (butir) akan kami coba dan dalam proses pemesanan 2 juta (butir). Kemudian yang kedua klorokuin ini kami telah siap 3 juta," kata Jokowi saat konferensi pers, Jumat (20/3/2020).

Jokowi berkata pemerintah akan membagikan obat itu kepada pasien lewat dokter keliling di kawasan yang terinfeksi COVID-19. "Saya sudah meminta kepada BUMN farmasi yang memproduksi obat ini untuk memperbanyak produksinya," kata Jokowi.

Cara Kerja Klorokuin dan Avigan

Ahli Farmakologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati kepada Tirto, Ahad (22/3/2020), menjelaskan klorokuin merupakan obat malaria yang masih banyak digunakan khusunya di Indonesia bagian timur. Namun secara umum kata dia obat tersebut sudah jarang dipakai.

"Cuma semakin banyak resistensi terhadap klorokuin. Mungkin sekarang sudah semakin sedikit dipakai," kata Zullies.

Klorokuin sendiri selain obat untuk malaria bisa juga dipakai sebagai penekan sistem imun. Terutama pada pasien-pasien dengan autoimun, yakni respons imunnya berlebihan terhadap suatu senyawa yang berasal dari tubuh sendiri contohnya penyakit lupus dan artritis.

Zullies menjelaskan klorokuin memiliki sifat basa yang bisa meningkatkan PH. Dan hal itu bisa menghambat antigen antibodi dalam respons imun. Sehingga obat tersebut bisa menghambat sistem imun.

Zullies mengatakan klorokuin belakangan digunakan sebagai antivirus, hal itu secara teori dipelajari dari kasus terdahulu. Klorokuin pernah digunakan untuk obat epidemi Sars atau Sars Corona Virus (Sars Cov) pada 2002-2003.

Pada Sars Cov sudah dipelajari bahwa virus itu ketika mau masuk ke dalam sel tubuh, dia harus berikatan dulu dengan suatu reseptor Ace 2 (enzim protein). Ternyata klorokuin, kata Zullies, bisa mengikat atau berinteraksi dengan Ace 2.

"Sehingga bisa menghambat masuknya virus," kata Zullies yang juga merupakan Guru Besar Farmasi UGM.

Sementara avigan, kata Zullies, juga memiliki fungsi yang sama dengan klorokuin. Avigan sama-sama dapat menghambat masuknya virus ke dalam tubuh.

"Kerjanya dengan menghambat sintesis RNA dari virus. Intinya RNA virus dihambat sehingga virusnya akan mati. Titik tangkap dan tempat aksinya berbeda (dengan klorokuin). Tapi sama-sama sebagai antivirus juga," jelasnya.

Avigan merupakan obat yang diproduksi di Jepang. Di negeri sakura, kata Zullies, obat tersebut digunakan sebagai obat flu.


Efek Samping: Ganggu Penglihatan dan Jantung

Meski dapat digunakan sebagai antivirus, Zullies mengatakan klorokuin memiliki efek samping. Hal itu diketahui lantaran sudah banyak informasi mengenai efek samping klorokuin dibandingkan dengan avigan. Menurut dia, klorokuin lebih banyak efek samping pada fungsi mata.

"Lebih banyak efeknya pada mata, misalnya gangguan visual gangguan penglihatan jadi buram. Juga pada jantung bikin denyut jantungnya enggak stabil. Jadi efek samping cukup banyak juga untuk klorokuin terutama kalau dipakai dalam jangka waktu lama dan dosis tinggi," ujarnya.

Pasien-pasien pengguna obat ini dalam jangka panjang seperti penderita lupus atau autoimun telah banyak yang mengalami efek samping. Mereka harus memeriksakan fungsi mata dan jantung secara berkala.

Walaupun sudah terbukti efek samping yang ditimbulkan tidak main-main, Zullies mengatakan penggunaan obat tersebut harus mempertimbangkan manfaat dan risikonya.

"Ya harus dipilih. Seperti simalakama kalau tidak dimakan bagaimana dan kalau tidak dimakan nanti bagaimana. Jadi kalau manfaatnya lebih besar. Mau tidak mau ya meskipun ada risiko efek samping ya tetap harus. Karena kalau enggak mungkin risikonya lebih besar dengan kematian misal pada Malaria," ujarnya.

Menurut Zullies klorokuin dan avigan tidak akan diresepkan oleh dokter secara bersamaan terhadap pasien positif Corona. Namun akan diberikan sesuai dengan tingkat keparahan penyakit pasien.

"Masing-masing obat punya efek samping. Kalau dikonsumsi bersamaan bisa saja terjadi peningkatan efek samping," kata dia.


Belum Teruji Klinis Sembuhkan Corona

Zullies mengatakan sampai saat ini belum ada obat yang secara klinis terbukti efektif untuk menyembuhkan orang yang terinfeksi COVID-19. Penggunaan klorokuin dan avegan kata dia hanya berdasarkan pengalaman empiris negara lain yang telah menggunakan kedua obat tersebut.

"Di Cina misalnya ternyata sudah menggunakan klorokuin dan mereka cukup efektif untuk COVID-19. Tapi apakah sudah terbukti klinis? Ya belum orang barusan dipakai," katanya.

"Jadi terapi untuk Covid-19 [dengan klorokuin dan avigan] sekarang ini kita bilang adalah trial and error. Karena ya mencoba-coba. Mencobanya tapi tetap dengan logika," tambahnya.

Obat tersebut digunakan dengan pertimbangannya karena sudah pernah dipakai saat kasus MERS atau SARS.

"Obat itu mungkin sebagian antivirus meskipun untuk virus yang lain. Tapi kalau itu dicoba untuk virus yang sekarang siapa tahu bisa," ujarnya.

Menurut Zullies, secara farmakologi dan secara uji pre-klinis obat tersebut terbukti bisa membunuh virus atau menghambat replikasi virus. Bukti secara terbatas itu juga sudah terdapat di negara lain yang menggunakan obat tersebut secara efektif.

"Misalnya di Cina sudah melakukan, Malaysia atau Mesir. Mereka memasukkan klorokuin sebagai salah satu terapinya," katanya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih kepada Tirto, Minggu (22/3/2020) mengatakan sejumlah dokter yang menangani pasien Covid-19 telah memberikan resep klorokuin atau avigan kepada pasien.


"Saya sudah konfirmasi ke dokter-dokter yang merawat itu [klorokuin atau avigan] dipakai waktu merawat [pasien positif Corona]," ujarnya.

Faqih mengakui memang kedua obat tersebut belum teruji secara klinis untuk menyembuhkan mereka yang terinfeksi COVID-19. Sementara obat yang spesifik untuk menyembuhkan orang yang positif Corona juga belum ada.

"Obat spesifik virus Corona belum ditemukan. Jadi obat-obatan yang dipakai termasuk klorokuin itu lebih banyak sifatnya empirik bukan penelitian," kata dia.

Daeng mengakui bahwa obat tersebut juga memiliki efek samping karena merupakan kategori obat keras. Tetapi hal ini kata dia perlu diberikan atau dicoba ketika keadaan darurat.

"Kalau sekarang jangan dikupas [efek samping] itu karena sekarang lagi darurat. Jadi yang paling penting kita punya bukti empirik dan itu dilakukan supaya pasiennya sembuh," ujarnya.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight