Klaim TPNPB Tewaskan 1 Prajurit dan Bakar Surat Suara, Hoaks

- 17 April 2019
TNI pastikan tidak ada pembakaran surat suara dan tewasnya satu prajurit oleh TPNPB.
tirto.id - Kolonel Infanteri Muhammad Aidi, Kepala Penerangan Komando Daerah Militer XVII Cendrawasih mengatakan, kabar tewasnya satu prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Distrik Yal, Kabupaten Nduga, Papua yang terjadi pada 15 April 2019 dipastikan hoaks. Ia menyebut, peristiwa kontak senjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan TNI terkait pelaksanaan Pilpres 2019 sama sekali tak terjadi.

“Itu berita hoaks, tidak ada kontak tembak di Nduga, yang ada adalah gangguan suara tembakan dari jarak jauh tapi tidak terlihat pelakunya,” ujar Aidi melalui sambungan telepon kepada repoter Tirto, hari ini, Rabu (17/4)

Aidi menjelaskan, pelaksanaan Pemilihan Umum di Nduga dilaksanakan terpusat di Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga. Penggunaan hak pilih warga kata dia, hanya diwakili kepala kampung dengan sistem noken. TNI kata Aidi, juga mengerahkan 7000 personel yang bertugas membantu Polda Papua mengamankan jalannya pemilihan umum.

“Jadi, semua yang disampaikan oleh Egianus Kogeya adalah bohong besar. Situasi Nduga, kondusif dan aman terkendali,” kata Aidi.


Peryataan Aidi mengkonfirmasi kabar yang sempat beredar dari Panglima Komando Daerah Pertahanan III Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Ndugama Egianus Kogeya. Ia menyebut anggota TPNPB melakukan penyerangan selama tiga jam dan menewaskan satu prajurit TNI.

Sehari kemudian, pasukan TPNPB bergerak ke-32 distrik di Papua untuk membakar kotak suara yang akan didistribusikan kepada warga di Kabupaten Nduga. Di dua distrik yakni, Komorowam dan Yuguru, pasukan TPNPB sebagaimana klaim Egianus berhasil membakar kotak suara yang baru saja didistribusikan melalui helikopter.

“Maka saya selaku Komando Militer Panglima daerah TPNPB Wilayah berhasil menduduki 32 Distrik dan 17 April tidak ada aktivitas pemilu di wilayah Nduga,” kata Egianus.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis:
Editor: Arbi Sumandoyo