Menuju konten utama

Kisah Pelajar di Samarinda Meninggal Diduga karena Sepatu Sempit

Seorang pelajar SMK di Samarinda meninggal karena sakit kaki bengkak yang diduga karena sepatu kekecilan. Berikut kronologinya.

Kisah Pelajar di Samarinda Meninggal Diduga karena Sepatu Sempit
Ilustrasi Mayat. foto/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Siswa kelas XI Pemasaran 2 SMKN 4 Samarinda bernama Mandala Rizky Syaputra meninggal dunia pada Jumat, 24 April 2026. Kisahnya menjadi viral setelah diduga penyebabnya kehilangan nyawa adalah karena sepatunya yang kekecilan.

Unggahan dari akun Instagram @trcppakaltim pada 28 April 2026 menceritakan kisah Mandala Rizky Syaputra. Dalam narasi yang dituliskan, akun tersebut mengisahkan Mandala mengalami bengkak di bagian kaki akibat sepatu yang sempit.

“Sepatu yang sempit dan tanpa alas bagian bawah dan di lapisi pembungkus buah berwarna pink dan tetap dipakainya walaupun kakinya bengkak,” tulis akun @trcppakaltim.

Tak hanya itu, Mandala juga disebut tidak mau makan hingga membuat tubuhnya semakin kurus dan akhirnya kehilangan nyawa.

“Bengkak kakinya sempat diobati dan dipijit. Namun karena menahan nyeri dan sakit di depan orang tuanya berakibat tubuhnya semakin kurus karena tidak mau makan. Hingga hari jumat 24 April 2026, ia mengembuskan napas terakhirnya,” lanjut unggahan tersebut.

Sekolah Paparkan Kondisi Mandala

Berdasarkan unggahan resmi SMKN 4 Samarinda di IG @smkn4_samarinda pada 4 Mei 2026, Mandala Rizky Syaputra disebut merupakan siswa yang sejak kelas X telah mendapat perhatian dari sekolah karena kondisi ekonominya.

Bantuan yang diberikan meliputi seragam jurusan, perlengkapan sekolah, sembako, hingga dukungan ketika mengalami kesulitan membayar kontrakan.

Memasuki tahun 2026, Mandala mengikuti kegiatan Praktik Kerja Pra-PKL jurusan Pemasaran yang diawali pembekalan pada 8 Februari 2026 dan berlangsung dari 9 Februari hingga 20 Maret 2026, di mana ia dikenal sebagai siswa yang antusias.

Pada 14 Maret 2026, sekolah juga menyalurkan zakat sebesar Rp200.000 yang diambil oleh perwakilan keluarganya sebagai bagian dari program rutin membantu siswa yang membutuhkan.

Setelah kegiatan tersebut, Mandala masih aktif bersekolah pada 30–31 Maret 2026. Namun pada 1 April 2026, ia datang dengan kondisi pucat sehingga disarankan untuk beristirahat di rumah.

Sejak 2 April hingga pertengahan April, Mandala beberapa kali izin sakit dan tidak mengikuti pembelajaran, termasuk pada 9 April serta 16–17 April 2026, dengan pemberitahuan melalui wali kelas.

Pada 10 April 2026, ibunya datang ke sekolah meminta bantuan dana sebesar Rp1.100.000 untuk pengobatan non-medis, yang langsung diberikan oleh sekolah dari kas masjid.

Pihak sekolah juga menyarankan agar Mandala dibawa ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan diagnosis yang jelas, namun hal tersebut tidak dilakukan.

Beberapa hari kemudian, permintaan bantuan dengan alasan serupa kembali diajukan. Pada 20 April 2026, Mandala mengirimkan foto kepada wali kelas yang menunjukkan kondisi kakinya mulai membengkak, disertai permintaan bantuan dana.

Menanggapi hal tersebut, pada 21 April 2026 wali kelas, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, dan dua teman sekelas mengunjungi rumah Mandala untuk memastikan kondisinya secara langsung.

Dalam kunjungan itu, Mandala terlihat lemah, berbicara pelan, berjalan lambat, dan tangannya gemetar. Diketahui pula bahwa keluarganya memiliki BPJS, namun tidak aktif karena tunggakan, dan upaya pengaktifan terkendala administrasi kependudukan.

Pada 22 April 2026, Mandala mengabarkan bahwa kondisi bengkaknya mulai membaik sehingga sempat menimbulkan harapan bahwa kesehatannya pulih.

Namun pada 23 April 2026, wali kelas dan teman-teman kembali berkunjung dengan membawa bantuan uang sekitar Rp650.000, roti, dan susu.

Dalam kunjungan ini, baru terungkap bahwa sepatu Mandala sudah tidak layak pakai dan terlalu sempit, informasi yang sebelumnya tidak diketahui sekolah karena tidak disampaikan oleh pihak keluarga.

Menanggapi hal tersebut, sekolah segera merencanakan bantuan lanjutan berupa pembelian sepatu baru serta membawa Mandala ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan, termasuk rencana infus sambil menunggu proses pengaktifan BPJS.

Sebelum rencana tersebut terlaksana, pada dini hari Jumat, 24 April 2026, pihak keluarga mengabarkan bahwa Mandala telah meninggal dunia. Karena keterbatasan ekonomi keluarga, pihak sekolah kemudian mengambil peran penuh dalam proses fardu kifayah, mulai dari pemandian, pengafanan, penyediaan ambulans, hingga pemakaman.

Jenazah Mandala juga disalatkan di sekolah dengan dihadiri oleh guru dan teman-temannya, serta dilakukan penggalangan donasi untuk membantu keluarga.

Dalam klarifikasinya, pihak sekolah menegaskan bahwa penyebab kematian tidak dapat dipastikan secara medis karena Mandala tidak pernah diperiksakan ke fasilitas kesehatan, serta menyatakan bahwa sepatu bukan penyebab kematian.

Sekolah juga menekankan bahwa keterbukaan informasi dari keluarga menjadi kendala utama dalam upaya penanganan yang lebih cepat dan tepat.

Baca juga artikel terkait KASUS VIRAL atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra