Kisah Melchior Treub Membangun Kebun Raya Bogor yang Tengah Stagnan

Melchior Treub. FOTO/wikipedia
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 4 September 2020
Dibaca Normal 6 menit
Melchior Treub jadi Direktur Kebun Raya Bogor kala lembaga itu mengalami stagnasi. Dia membangunnya kembali jadi lembaga biologi tropis paling otoritatif.
Serampungnya menjelajah Kepulauan Maluku, Alfred Russel Wallace meneruskan langkahnya ke Jawa. Naturalis Inggris itu bertolak dari Ternate menuju Surabaya dengan menumpang kapal pos Belanda. Wallace mengeksplorasi Jawa yang disebutnya sebagai pulau tropis terindah di dunia itu dari timur ke barat selama tiga bulan—sejak 18 Juli hingga 31 Oktober 1861.

“Sekarang, peradaban modern sedang berkembang di pulau itu [...] Jawa juga paling menarik bagi pelancong yang ingin mencari pemandangan baru dan indah serta bagi naturalis yang ingin mempelajari keanekaragaman dan keindahan alam tropis,” tulisnya dalam Kepulauan Nusantara: Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam (2019, hlm. 77).

Salah satu agenda Wallace ketika mulai menapak Jawa bagian barat adalah berkunjung ke Kebun Raya Bogor (KRB). Saat itu, kebun botani yang dibangun pada 1817 itu cukup terkenal sebagai institusi ilmiah. Dia pun kagum pada koleksi tumbuhan tropisnya yang amat kaya. Terlebih lagi koleksi tanaman khas Melayu.

Di sini ada banyak hal dapat dikagumi, seperti jalan-jalan yang ditumbuhi pohon-pohon palem dan rumpun-rumpun bambu yang barangkali terdiri dari 50 jenis. Berbagai semak dan perdu berdaun unik dan indah tumbuh di sini,” tulis Wallace (hlm. 86).

Meski begitu, Wallace mengaku kecewa pada pengelolaan KRB. Jalan akses di dalam kebun demikian buruk, berkerikil dan kasar, sehingga tak nyaman jika dilalui dengan berjalan kaki. Wallace juga mendapati institusi itu kekurangan ahli tanaman dan tukang kebun. Imbasnya, kekayaan hayati yang dimiliki KRB pun kurang terawat dan tumbuh tak sehat.

Wallace mengamati banyak tanaman koleksi tidak ditanam dalam kondisi yang tepat atau setidaknya mendekati habitat aslinya. Padahal, boleh jadi iklim di KRB terlalu panas atau terlalu dingin untuk spesies tanaman tertentu. Beberapa tanaman juga kurang mendapat sinar matahari. Maka itu, dia menilai perawatan tanaman di sana tidak sebaik perawatan di rumah-rumah kaca di Inggris.

“Kondisi yang bervariasi ini bisa diatasi dengan menempatkan tanaman pada kondisi individual yang lebih baik daripada menempatkannya di sebuah taman yang luas. Dengan menempatkannya di habitat asli atau habitat yang mendekati aslinya, tanaman-tanaman tertentu tidak perlu mendapat perlakuan khusus,” tulis Wallace.

Pada saat Wallace berkunjung, KRB memang sedang dalam masa surut. Gara-gara pecahnya Perang Jawa (1825-1830), Belanda memfokuskan anggarannya untuk kepentingan militer. Anggaran untuk KRB pun ikut disunat dan pemerintah kolonial membiarkan jabatan direkturnya kosong semenjak Carl Ludwig Blume—direktur keduanya—lengser pada 1826.

Kebun Raya Bogor pun sejak itu tak lagi mandiri, tapi jadi satu kesatuan dengan Istana Gubernur Jenderal. Birokrasinya berada di bawah naungan satuan militer pengawal istana. Alhasil, status KRB pada masa itu lebih mirip “halaman belakang” Istana Gubernur Jenderal. Keadaan itu berlangsung hingga 40 tahun kemudian.

Meski begitu, pengelolaan kebun tetap dijalankan oleh seorang kepala kebun dan kurator tanaman profesional. Sejak 1831, jabatan ini dipegang oleh botanis berdedikasi Johannes Elias Teijsmann. Berkat dia kegiatan ilmiah di KRB tetap berjalan meski terbatas dan dinomorduakan.


Di tengah keterbatasan dana dan rumitnya birokrasi, Teijsmann berhasil melobi Gubernur Jenderal untuk membiayai penerbitan katalog koleksi dan herbarium semipermanen. Hubungan KRB dan lembaga ilmiah di Eropa juga tetap dipertahankan. Teijsmann juga terus melakukan penambahan koleksi dan pengaturan tanaman menurut familia—yang tetap bertahan hingga hari ini.

Mantan Direktur Kebun Botani Universitas Utrecht, Profesor Friedrich August Ferdinand Christian Went dalam bunga rampai Science and Scientists in the Netherlands Indies (1945, hlm. 392) menulis, “Kebun-kebun yang dibangun Teysmann berkembang dengan baik seperti yang diperlihatkan katalog, [...] Dia juga sangat aktif mengimpor tanaman ekonomis dari belahan dunia lain.”

Betapa pun berdedikasinya Teijsmann, tetap saja tak semua masalah bisa diatasinya. Kegiatan ilmiah di KRB memang tetap berdenyut, namun ia tetap pula menjadi lembaga ilmiah sederhana. Tak heran jika saat Wallace berkunjung, satu hal yang bisa dipuji dari KRB adalah koleksi tanamannya yang ekstensif.

Kondisi itu tak banyak berubah kendati seorang botanis lulusan Universitas Utrecht R.H.C.C. Scheffer ditunjuk sebagai direkturnya yang baru. Seturut riset Andrew Goss, Scheffer terlalu fokus pada upaya aklimatisasi tanaman impor daripada botani murni. Hubungan dengan lembaga ilmiah Eropa yang semula diusahakan Teijsman pun melemah.

Bahkan Scheffer menghentikan pemeliharaan fasilitas herbarium dan perpustakaan. Scheffer wafat pada 1880 setelah 12 tahun masa jabatan sebagai kepala urusan ilmiah kebun raya yang tak bersemangat,” tulis Goss dalam Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan dari Hindia Belanda sampai Orde Baru (2014, hlm. 103).

Keadaan itu berbalik 180 derajat justru setelah pengganti Scheffer datang ke Hindia Belanda. Melchior Treub, nama suksesor itu, adalah botanis muda—usianya baru 29 tahun saat ditunjuk—dan anggota Royal Dutch Academy of Science. Dialah yang kemudian melejitkan reputasi ilmiah Kebun Raya Bogor ke aras internasional.


Membangun Reputasi Ilmiah

Nama besar KRB tentu tidak dibangun dalam sekejap dengan kehadiran Treub. Dia memang cukup terpandang di Belanda, tapi di koloni Treub bukan siapa-siapa. Pada tahun-tahun awal kedatangannya, dia belum punya wewenang dan pengaruh nyata di kalangan birokrat kolonial Hindia Belanda.

Meski begitu, dia sadar KRB sebenarnya punya modal besar sebagai lembaga ilmiah: kekayaan koleksi flora tropis. Karena itulah, fokus awal Treub adalah membangun legitimasi KRB sebagai pusat penelitian alam dan flora tropis. Dia pun mulai merancang KRB sebagaimana lembaga penelitian Eropa yang dikenalnya.

Pada dekade pertamanya di Buitenzorg, Treub membangun kewenangan, legitimasi, dan kekuasaan bagi kebun raya serta dirinya sendiri melalui pembentukan ruang-ruang fisik untuk menyelidiki alam tropis secara mendalam dan menyeluruh,” tulis Goss (hlm. 104).

Treub memerintahkan pemugaran kebun dan taman untuk menggugah minat publik dan menyuguhkan pengalaman estetis alam tropis Hindia. Treub kemudian membangun kembali secara permanen fasilitas yang sebelumnya sudah ada, seperti laboratorium, herbarium, dan perpustakaan. Perpustakaan KRB juga mulai menambah koleksi buku dan berlangganan jurnal-jurnal ilmiah terbitan Eropa.

Selain pembangunan fisik, KRB juga membangun koneksi dengan kebun raya dan lembaga ilmiah di berbagai negara. Misalnya, bermitra dengan Herbarium Leiden dan saling bertukar spesimen pada 1885. Treub sendiri menjalin korespondensi pribadi dengan Direktur Kebun Raya Berlin Adolf Engler sejak 1886.

“Dipeliharanya korespondensi kelembagaan secara rutin dengan kalangan ilmuwan di seluruh dunia juga mengangkat reputasi ilmiah kebun raya,” tulis Goss (hlm. 113).

Reputasi KRB sebagai lembaga ilmiah yang kompeten juga ditunjang oleh jurnal ilmiah terbitannya, Annales du Jardin Botanique de Buitenzorg. Seturut penelusuran Went, edisi pertamanya terbit pada 1876—saat Scheffer masih jadi direktur, tapi kemudian mati suri. Treub lalu berinisiatif menerbitkannya lagi sebagai corong ilmiah KRB. Tak tanggung-tanggung, Annales dicetak di Leiden agar lebih mudah didistribusikan di Eropa.

Semula, Treub dan W. Burck—asisten direktur sekaligus kepala herbarium KRB—yang turun tangan mengisi jurnal itu. Di pengujung 1880-an jurnal itu mampu menarik peneliti lain di luar KRB untuk berkontribusi.

Volume pertama Annales yang diedit Scheffer hanya berisi artikel tentang taksonomi dan geografi tumbuhan. Dalam volume kedua yang diedit Treub isinya meliputi seluruh bidang botani. Pun sejak itu Annales bisa terbit lebih teratur. Untuk ukuran saat itu, Annales tidak diragukan lagi merupakan jurnal ilmiah terpenting dalam bidang botani di daerah tropis,” tulis Went (hlm. 394).

Lain itu, KRB juga menerbitkan Bulletin du Jardin Botanique yang berisi telaah taksonomi tanaman oleh staf herbarium dan kontributor. Bahkan, pada 1900, KRB bisa menerbitkan enam jurnal sekaligus.



Makkahnya Para Botanikus

Menurut Went, popularitas KRB sebagai lembaga ilmiah tropis tak hanya bersumber pada koleksi floranya yang kaya dan berbagai terbitannya yang otoritatif. Kepakaran dan persona Treub juga turut membentuk citranya.

Botanikus kelahiran Voorschoten, Belanda, pada 26 Desember 1851 ini punya minat pada morfologi dan fisiologi tanaman. Di awal kariernya di KRB, Treub melakukan riset embriologi Lycopodium yang umum ditemui di Jawa, seperti L. cernuum (paku kawat) dan L. Phlegmaria. Hasilnya adalah penemuan tahap prothallium beberapa spesies Lycopodium yang melengkapi siklus hidup tumbuhan ini.

Setelah itu Treub menyelidiki perkembangan embrio Balanophora elongata. [...] riset ini menghasilkan banyak data berharga tentang parasit tanaman berbiji yang aneh ini,” tulis Went (hlm. 396).

Lain itu, Treub juga melebarkan cakupan risetnya dengan meneliti Loranthaceae (benalu-benaluan), Cycad (sikas), dan Orchidaceae (anggrek). Riset-risetnya itu tak hanya menetapkan otoritasnya sebagai ilmuwan, tapi juga memberi bukti bahwa lembaganya tak kalah kredibel dibanding lembaga ilmiah Eropa. Bahkan, KRB disebutnya sebagai stasiun riset paling ideal untuk penelitian biologi tropis.

Tak heran jika KRB disebut-sebut sebagai “Makkahnya para botanikus dunia” pada pengujung abad ke-19. Jika dulu data-data botani dikirim ke Belanda untuk ditelaah, kini justru botanikus Belanda yang memerlukan diri datang ke Buitenzorg untuk meriset. Kerja-kerja Treub di KRB bahkan ditiru oleh para botanikus kolonial dari negara lain.

“Pada 1902, seorang botanikus muda Amerika bernama Elmer Merrill mengunjungi Buitenzorg dengan tujuan khusus, yaitu membentuk disiplin ilmu pengetahuan serupa di Manila, tempat Merrill menjabat sebagai staf botanikus di Biro Kehutanan Filipina yang baru saja didirikan,” tulis Goss (hlm. 119).

Faktor lain yang ikut membuat KRB moncer di kalangan ilmuwan, menurut Went, adalah laboratoriumnya yang lengkap dan nyaman. Didirikan pada 1884, ia semula diberi nama Laboratorium Peneliti Tamu. Lalu pada 1914, sebagai penghormatan untuk Treub, namanya diubah jadi Laboratorium Treub.

Salah satu botanikus terkenal yang pernah merasakan Laboratorium Treub adalah David G. Fairchild. Botanikus asal Amerika Serikat ini adalah pendiri Section of Foreign Seed and Plant Introduction di bawah naungan US Department of Agriculture. Fairchild berkunjung ke Buitenzorg selama delapan bulan pada 1895 untuk meneliti hubungan ekologis antara rayap dan jamur.

Dalam artikel “An American Plant Hunter in the Netherlands Indies” yang terhimpun dalam Science and Scientists in the Netherlands Indies, Fairchild mengisahkan pengalamannya saat jadi botanikus tamu di Buitenzorg.

Di KRB dia difasilitasi satu meja khusus berikut perlengkapan riset yang dibutuhkan. Dia juga didampingi seorang asisten khusus untuk membantunya di laboratorium. Asisten itu adalah seorang bumiputra bernama Mario dan dia sangat cekatan.

“Dia mengurus semuanya, sedari memasang sayatan mikrotom pada slide mikroskop hingga mengatur pedati untuk melintasi pegunungan,” tulis pendiri Fairchild Tropical Botanic Garden itu (hlm. 80).

Catatan Fairchild menyebut pula sosok Papa Iidan dan Mantri Oedam yang juga tak kalah terampil. Mantri Oedam disebutnya sangat paham seluk beluk tanaman koleksi KRB. Tak sekadar tahu nama daerahnya, Oedam juga hafal nama ilmiahnya. Tak heran Treub menjadikannya kepala tukang kebun dan memberinya penghargaan.

Sementara Iidan disebutnya sangat berjasa bagi kelancaran penelitiannya. Dia punya tugas khusus sebagai pengumpul material riset di kebun dan punya wawasan luas soal serangga.

Pekerja bumiputra lainnya bekerja sebagai pembersih kebun, di pembenihan, hingga mengurus soal-soal administratif. Gambar-gambar ilustrasi buatan mereka juga kerap mengisi serbaneka terbitan KRB. Namun, mereka tak pernah dididik secara sistematis atau mendapat tugas penelitian otonom. Meski wajah-wajahnya kerap tampil di foto-foto lawas dan perannya vital, mereka selalu anonim.

Selama keseluruhan periode kolonial, tidak ada satu karyawan pun yang dipekerjakan di kebun raya berhasil melampaui jabatan pembantu dalam ilmu pengetahuan Belanda,” tulis Goss (hlm. 119). Demikianlah kolonialisme mendiskriminasi mereka.

Pada 1905 Treub melepas jabatannya sebagai Direktur KRB dan ditunjuk sebagai Direktur Departemen Pertanian yang baru dibentuk. Saat itu, 25 tahun sejak dia memimpin, KRB yang semula biasa saja telah malih rupa jadi lembaga riset tropis yang terpandang di dunia. Pencapaian itu juga turut melambungkan pengaruh Treub dalam birokrasi kolonial.

Baca juga artikel terkait KEBUN RAYA BOGOR atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight