Kisah Katharine Hamnett, Desainer yang Mempopulerkan Kaos Aktivis

Infografik Protes lewat kaus
Perancang Inggris Katherine Hamnett (kiri) mengangkat lengan model Naomi Campbell pada akhir pertunjukan di London Fashion Week di London, Rabu (24/9/2003). AP Photo/Alastair Grant
Oleh: Joan Aurelia - 28 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Hamnett menolak nuklir tepat di muka Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. Sisanya sejarah.
tirto.id - Awal bulan lalu, kaos bertuliskan "Tolak RUU Permusikan"muncul sebagai upaya perlawanan RUU di DPR yang berpotensi menghambat kreativitas musisi Indonesia. Publik bisa menemukan kaos itu dengan mudah di berbagai laman e-commerce. Harganya bervariasi, dari puluhan ribu hingga seratusan ribu rupiah.

Kaos protes kini jadi medium penyampaian pesan yang praktis dan efektif. Di Indonesia, kaos seperti ini sudah wara-wiri sejak lama di lingkaran aktivis yang hendak menggaungkan isu-isu tertentu. Beberapa kaos protes atau kaos aktivis yang terkenal adalah kaos bergambar Munir, Marsinah, kaos dengan pesan penolakan reklamasi Tanjung Benoa, hingga kaos tolak pabrik semen kendeng.

Bagi para pemakai, mengenakan kaos protes bisa jadi sebuah kebanggaan, bukti kepedulian, tanda solidaritas terhadap isu sosial atau aktivisme tertentu.

Produsen kaos-kaos jenis ini pun terbilang cair karena bisa dicetak siapa saja dan kadang sulit dilacak. Di Indonesia, kaos aktivis umumnya diproduksi komunitas atau LSM seperti Kontras, individu pencetak kaos #gantipresiden2019, hingga kolektif seni seperti Daging Tumbuh yang digagas seniman Eko Nugroho.

Di tanah Eropa, kaos protes sudah sampai ke ranah mode dan pelopornya adalah desainer busana Katharine Hamnett. Sosok Hamnett jadi fenomenal setelah fotonya bersama mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher tersebar di media. Waktu itu, ia mengenakan kaos putih bertuliskan "58% Don’t Want Pershing"—alias "58% (Populasi Inggris) Menolak (Rudal Nuklir) Pershing". Slogan itu adalah bagian dari kampanye publik Hamnett yang menolak rencana NATO menaruh rudal nuklir di beberapa negara Eropa pada awal 1980-an.


Dalam tulisannya di Guardian, Hamnett menyatakan undangan Thatcher untuk menghadiri pesta kecil-kecilan di adalah kesempatan emas guna menyampaikan kritik terhadap rencana kebijakan pemerintah. Hari itu, Hamnett masuk ke kediaman Thatcher mengenakan jaket dan membukanya ketika sesi foto dengan sejumlah media massa berlangsung.

“Aku selalu percaya kekuatan media dalam membawa perubahan. Malam itu aku terus-terusan membuntuti Thatcher dan bertanya soal hujan asam di Skandinavia akibat pembakaran batubara yang merusak lingkungan tapi, dia selalu menghindar. Lucu kalau mengingat kejadian itu, kami seperti main kucing-kucingan,” tulis Hamnett.

Sejak malam itu, Hamnett dikenal sebagai desainer kaos protes. Telegraph mencatat desain-desain Hamnett sebagai yang banyak dijiplak di Inggris. Hamnett justru mensyukurinya. Pikir Hamnett, makin banyak ditiru, pesannya makin sampai.

"Serukan pada dunia agar kita bersama berupaya menghentikan perang nuklir dan jenis perang lain, melindungi ekosistem laut dan melindungi lingkungan," ucapnya.

Tahun lalu ia mengeluarkan desain kaos terbaru yang masih relevan hingga kini. Tulisannya "Cancel Brexit", "Second Referendum Now", dan "Fashion Hate Brexit".

“Aku kesal karena jarang ada orang yang mau memakai kaos bertema Brexit. Aku merasa Inggris tidak perlu partai baru. Lihatlah Swiss yang bisa melibatkan masyarakat dalam mengambil keputusan di pemerintahan,” tulisnya dalam "What it Means to be a Political Activist Now" yang terbit di Harper’s Bazaaar, Oktober 2018.

Rasa kesal tak jadi hambatan berkarya. Ia tetap meyakini kaos adalah medium tepat guna untuk penyebaran gagasan gagasan karena bisa dipakai semua orang. Desainer yang desain kaos aktivisnya sempat dipajang di Metropolitan Museum dan Museum of Modern Art New York ini meyakini seseorang dapat termotivasi dan terinspirasi untuk melakukan hal baru setelah membaca tulisan yang tertera pada kaos ciptaannya.

Hamnett tidak pernah meneliti seberapa besar dampak kaos lansirannya itu. Bagi Hamnett yang terpenting adalah tekad untuk menjalani apa yang diyakininya. Ia rajin berbicara di berbagai forum aktivisme, khususnya yang mengangkat tema fesyen ramah lingkungan.

Konsistensi Hamnett sebagai desainer/aktivis dipengaruhi oleh keluarga. Dalam "What it Means to be a Political Activist Now" Hamnett mengisahkan ayahnya adalah seorang atase pertahanan yang sempat ditugaskan untuk membuat prototipe pesawat tempur. Sayangnya, prototipe bikinan sang ayah kalah saing dibanding produk AS yang dianggap lebih canggih. Ayah Hamnett kecewa hingga depresi dan akhirnya melakukan percobaan bunuh diri karena desainnya dibakar oleh pemerintah.

"Sejak itu aku berpikir bahwa ranah politik ini penuh intrik dan aku jadi terdorong untuk jadi aktivis politik."




Ide Hamnett ini menginspirasi desainer-desainer lain seperti Prabal Gurung dan Maria Grazia Chiuri—direktur kreatif lini busana Dior—dalam menciptakan kaos bernada protes. Pada 2017, Dior menciptakan kaos edisi khusus bertuliskan "We Should All be Feminists" ("Kita Semua Harus Jadi Feminis"). Setelah peragaan, kaos ini jadi perbincangan di media sosial terlebih setelah pesohor Rihanna memakainya.

“Kaos ini membuatku berpikir kembali tentang peranku sebagai direktur kreatif Dior. Melihat Rihanna mengenakan kaos ini aku seperti diingatkan kembali bahwa perempuan harus berani berjuang demi apa yang mereka anggap baik dan benar,” kata Chiuri kepada Elle.

Jurnalis Allure Kari Molvar pernah mencari tahu soal dampak positif kaos aktivisme ini. Dia mewawancara Kristina Haugland, seorang associate curator pada bagian kostum dan tekstil di Philadelphia Museum of Art. Haughland menyatakan, “Pesan yang bisa terbaca dengan jelas—dalam medium apapun—bisa memantik keberanian orang lain untuk mengutarakan pendapat dan mendorong mereka untuk bersikap aktif.”

Sang kurator mengingat bahwa busana sebagai protes pun sudah muncul pada awal abad ke-20 saat perempuan mengenakan busana putih dalam protes-protes menuntut hak pilih dalam pemilu. Di ranah mode, baju protes muncul pada dekade 1960-an dan 1970-an seiring ditemukannya mesin cetak sablon. Waktu itu kaos dengan sablon kata-kata protes muncul sebagai serangan terhadap perang Vietnam.

“Kaos adalah tanda bahwa seseorang jadi bagian sebuah kelompok sekaligus pernyataan dukungan terhadap orang-orang lain yang punya perasaan dan pikiran yang sama denganmu,” lanjutnya.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight