Kisah Hakan Sukur jadi Sopir dan Kekuatan Politik Para Pesepakbola

Hakan Sukur, AP / Luigi Vasini
Oleh: Renalto Setiawan - 23 Januari 2020
Dibaca Normal 5 menit
Mengapa pesepakbola bisa memberikan dampak begitu besar di dalam politik?
Sebelum terjun ke politik, Hakan Sukur barangkali tak membayangkan apabila masa depannya akan nampak seperti kertas buram. Saat itu ia masih dikenal sebagai pesepakbola terbesar Turki, yang namanya tidak hanya dicatat dengan tinta emas, melainkan juga selalu berdengung di dalam stadion, di jalanan, di halaman surat kabar, serta di telinga bocah-bocah Turki sebagai tokoh utama dongeng sebelum tidur.

Dan saat Anda bertanya kepada warga Turki mengapa Sukur bisa sepopuler itu, besar kemungkinan mereka akan menjawab: Sukur adalah top skorer timnas Turki, top skorer sepanjang masa divisi teratas liga Turki, pencetak gol tercepat Piala Dunia, dan seorang pesepakbola yang prestasinya tak cukup dihitung dengan sepuluh jari.

Namun, saat Anda menanyakan kepada orang-orang Turki tentang siapa Sukur yang sekarang, mereka hampir pasti akan memberikan jawaban yang sama sekali berbeda.

Soal ini, Sukur, yang saat ini berprofesi sebagai pengemudi Uber di Amerika, bahkan punya cerita menarik untuk Bild, salah satu media ternama asal Jerman.

“Suatu kali seorang penumpang Turki mengatakan kepadaku, ‘Aku mengenalmu dan aku mencintaimu ketika kamu masih bermain sepakbola. Namun, sekarang aku harus turun. Maaf, aku tidak mau berurusan dengan orang sepertimu.’”

Dalam wawancara bersama Bild yang berlangsung pada awal Januari 2020 tersebut, Sukur lantas menjelaskan bahwa segala macam bencana yang ia alami bermula ketika Partai Keadilan Pembangunan (AKP), partai Islam konservatif yang dipimpin Erdogan, ingin memanfaatkan popularitasnya. Selepas Sukur pensiun pada 2008, mereka menawari Sukur masuk partai, dan tanpa pikir panjang Sukur mengangguk setuju.

Alasan Sukur kala itu: jika ia menolak ajakan tersebut, ia tak akan pernah tahu bagaimana segalanya dapat berjalan di Turki.

Pada tahun 2011, berkat AKP dan popularitasnya, Sukur akhirnya berhasil mendapatkan satu tempat di kursi Parlemen Turki. Itu artinya ia sudah hampir tak berjarak dengan tujuan utamanya masuk ke politik.

Namun, dari jarak sedekat itu, Sukur justru kaget: tidak hanya tahu bagaimana segalanya dapat berjalan di Turki, ia juga mampu melihat dengan jelas segala macam borok yang terdapat di dalam pemerintahan negaranya yang sebagian besar diisi oleh orang-orang Erdogan.

“Aku melihat banyak sekali praktik korupsi. Bahkan, aku dapat melihat banyak laporan yang dibikin setelah hal-hal buruk terjadi,” kata Sukur.

Sukur yang tak tahan dengan semua itu akhirnya memutuskan mundur dari partai pada tahun 2013. Ia lalu memilih berpolitik secara independen dan mulai membicarakan temuan-temuan buruknya tentang kinerja pemerintah di depan publik. Hanya saja, lantaran tahu bahwa Sukur mempunyai kapasitas untuk mempengaruhi banyak orang, Erdogan tentu saja tak tinggal diam.

Sejak itu Sukur menemui banyak keburukan dalam hidupnya. Butik istrinya yang dirusak orang, anak-anaknya sering dirundung di jalan, hingga mendapatkan ancaman setiap sehabis mengeluarkan pendapat di depan umum. Sukur akhirnya tahu: Erdogan adalah biang keladinya.

Ironisnya, setelah Sukur memutuskan mengungsi ke Amerika pada 2015, Erdogan tetap menghajar Sukur nyaris tanpa jeda. Ia menangkap kedua orang tua Sukur, membekukan aset mantan pemain Inter Milan tersebut, hingga menuduhnya sebagai salah satu dalang kudeta militer pada tahun 2016. Dan puncaknya, melalui media-media yang sudah dikendalikan pemerintah, Erdogan tak luput menggiring opini publik: Sukur dicap sebagai pengkhianat, teroris, dan buronan negara.

Kejadian-kejadian nahas itu pada akhirnya memang membuat kehidupan Sukur berantakan. Ia tak punya apa-apa lagi, tak bisa bersuara, tak bisa membela diri. Untuk membuat dapurnya tetap ngebul, ia bahkan harus bekerja sebagai pengemudi Uber dan menjual buku bekas di Amerika.

Namun, saat orang-orang yang masih peduli dengannya menyarankan agar ia berdamai dengan Erdogan, Sukur — yang pada tahun 2018 lalu pernah mengatakan kepada New York Times bahwa “sekarang ini aku barangkali sudah menjadi menteri seandainya tak menentang Erdogan” — tetap menolaknya dengan tandas.

Daripada bersimpuh di hadapan Erdogan, ia justru menyarankan Erdogan agar mau “mengembalikan demokrasi dan hak asasi manusia, menjadi orang yang peduli dengan rakyat serta hak-haknya,” dan terutama, “menjadi Presiden Turki sebagaimana mestinya.”

Dan dari Australia, Hakeem Al-Araibi, mantan pemain timnas Bahrain yang nasibnya juga dirusak oleh penguasa, barangkali ikut mengepalkan tangan ke udara ketika tahu Sukur berkata demikian.


Perlawanan Hakeem Al-Araibi

Di jagat sepakbola, nama Hakeem Al-Airibi tentu saja kalah benderang jika dibandingkan dengan Hakan Sukur. Malah, di kalangan pesepakbola Bahrain, ia juga kalah kelas, misalkan, jika dibandingkan dengan Yusuf atau Sayed Mohamed Abbas. Meski begitu, perkara keberanian dalam mengungkapkan kebenaran, Al-Araibi bisa dibilang mempunyai nyali cukup besar.

Menurut situs Tifo Football, pertarungan Al-Araibi melawan penguasa bermula ketika Arab Spring terjadi pada tahun 2011. Saat itu demo besar-besaran melanda Bahrain, melibatkan banyak kalangan, termasuk para atlet sepakbola. Demo itu berakhir ricuh, dan alih-alih dikabulkan tuntutannya, para demonstran justru kena gebuk pemerintah.

Tahu itu, Al-Araibi langsung bereaksi keras terhadap pemerintah. Secara terang-terangan, ia bahkan mengutuk Sheik Salman, ketua Federasi Sepakbola Bahrain yang juga merupakan anggota kerajaan. Penyebabnya, menurut Al-Araibi, jelas: Salman tidak bisa melindungi rekan-rekan seprofesinya.

Tuduhan Al-Araibi tersebut lantas berbuntut panjang. Salman, yang memang terbiasa menghukum atlet-atletnya ketika mereka gagal berprestasi, berencana membentuk sebuah komite untuk mengidentifikasi para atlet bola yang terlibat aksi massa. Dan ketika demonstrasi kembali meledak pada tahun 2012, Al-araibi ternyata menjadi salah satu target utama Salman untuk dibungkam.

Tifo Football menulis, “sekitar 150 atlet perempuan, atlet laki-laki, dan para pegiat olahraga ditangkap,” dan Al-Araibi, yang pada saat demonstrasi terjadi sedang bermain untuk Al-Shahab, secara ajaib juga diseret ke bui. Bersama adiknya, ia dituduh merusak sebuah kantor polisi.

“Mereka (polisi) menutup mataku. Mereka memegangku erat-erat, memukul kakiku keras sekali, dan salah satu di antaranya mengatakan, ’Kamu tidak akan bisa bermain bola lagi, kami akan menghancurkan masa depanmu,’” kata Al-Araibi dalam sebuah wawancara bersama New York Times, sebagaimana dilansir oleh situsweb 5WFootball.

Yang menarik, setelah dibebaskan karena terbukti tak bersalah, Al-Araibi sadar bahwa Bahrain bukan tempat yang aman. Maka, ia kemudian meninggalkan Bahrain, sempat menuju Malaysia, Thailand, sampai akhirnya menetap di Australia pada tahun 2014.

Dan di tempat barunya inilah, selain kembali membangun ulang karier sepakbola, Al-Araibi lebih berani memukul pemerintah: ia menyebut pemerintah Bahrain melakukan diskriminasi terhadap umat muslim Syiah hingga menyebut kebiasaan Salman menghukum atlet-atlet pro-demokrasi.

Seperti sebelumnya, tindakan Al-Araibi tersebut tentu saja memantik reaksi dari pemerintah Bahrain. Kuping mereka panas, kasus lama Al-Araibi kembali diangkat, dan entah bagaimana caranya ia kemudian mendapatkan vonis 10 tahun penjara. Kulminasinya, Al-Araibi kembali ditangkap ketika berbulan madu di Thailand pada tahun 2018. Saat itu pihak Bahrain bekerja sama dengan pemerintah Thailand.

Namun, saat pemerintah Bahrain tinggal selangkah lagi membungkam Al-Araibi, pemerintah Bahrain ternyata mendapatkan perlawanan dari segala penjuru dunia. Media-media asal Australia, misalnya, menyebar-luaskan penangkapan Al-Araibi. Dan lewat proses negosiasi yang alot antara pemerintah Bahrain dan Australia, Al-Araibi akhirnya dibebaskan setelah sempat ditahan di Thailand selama 70 hari.

Hebatnya, Al-Araibi ternyata tak pernah kapok melakukan perlawanan terhadap pemerintah Bahrain.

Pada 2019, ia menulis di Guardian, “Perjuangan untuk kebebasanku adalah sesuatu yang istimewa. Itu adalah pertarungan melawan kekuasaan, korupsi, dan keadilan. Lembaga olahraga dunia, pemerintah, dan individu-individu harus bersatu untuk menolong yang tertindas. Australia mampu membuktikannya dan sekarang aku mengajak kalian semua untuk melakukan hal yang sama.”

Lantas, dari pengalaman yang menimpa Sukur dan Al-Araibi tersebut, mengapa para pesepakbola bisa memberikan dampak politik yang begitu besar?


Kekuatan Politik Pesepakbola

Salah satu pemandangan paling menarik dalam gelaran Piala Dunia 1986 disuguhkan oleh Socrates, kapten timnas Brazil. Meski saat itu ia sudah rentan dan tidak lagi selincah dalam gelaran Piala Dunia 1982, ia ternyata masih mempunyai sihir yang mampu memikat penonton lewat kemampuan politiknya.

Saat Brasil bertanding melawan Australia di partai pembuka misalnya. Tahu bahwa Meksiko baru saja terkena gempa hebat yang memakan banyak korban jiwa, Socrates menggunakan ikat kepala bertuliskan “Mexico Stand Tall”. Dan dalam pertandingan berikutnya, untuk mengkritik pengeboman yang dilakukan Amerika terhadap Libya, ikat kepala Socrates berbunyi “Yes to Love, No to Terror”.

Setelah itu, Socrates, yang tidak hanya sekali-dua pukul melawan ketidakadilan, mengenakan ikat kepala dengan nada lebih beragam: dari “No Violence” hingga “Justice”.

Dalam sebuah wawancaranya bersama David Tryhorn yang tayang di The Blizzard pada 2012, Socrates menjelaskan bahwa salah satu faktor pendukung kemampuan berpolitiknya itu ialah kapasitasnya sebagai pemain bola. Tanpa itu, katanya, ia tak akan mampu mempengaruhi, memobilisasi, atau menggerakkan massa untuk kemudian melakukan perubahan di kehidupan bermasyarakat.

“Pesepakbola,” kata Socrates kepada Tryhorn, “sebenarnya mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Ini adalah satu-satunya profesi di mana seorang karyawan bisa mempunyai kekuasaan lebih besar dari pada para bos. Massa berada langsung dalam genggaman mereka.”

Dan apabila seorang pesepakbola mempunyai talenta luar biasa, maka tanpa harus menunjukkan gestur politis sekalipun, mereka bisa mempengaruhi massa sekaligus para pemangku kepentingan.

Terkait hal tersebut, kiprah Diego Armando Maradona jelas bisa menjadi acuannya.



Ketika Carlos Bilardo mendapatkan kepercayaan untuk melatih timnas Argentina pada Januari 1983, ia langsung terbang ke Barcelona untuk menemui Maradona. Ia berbicara empat mata dengan Maradona, memberikan jabatan kapten kepadanya, dan berjanji akan menjadikannya sebagai pusat permainan.

Tujuan Bilardo, selain demi kepentingan tim, ia ingin mencari perlindungan dari sang bintang lantaran tidak disukai publik Argentina. Saat itu publik Argentina memang masih menginginkan Luis Cesar Menotti sebagai pelatih Argentina.

Singkat cerita, menjelang Piala Dunia 1986, penampilan Argentina lantas memble dan publik menuntut Bilardo dipecat. Namun, saat Raul Alfonsin, Presiden Argentina, menyampaikan tuntutan tersebut kepada Maradona, sang bintang justru balik mengancam.

Pemecatan itu disebut Maradona akan merugikan tim, dan “Jika Anda memecat Bilardo, aku juga akan keluar; lebih jelasnya, Anda akan memecat dua orang sekaligus dalam satu kesempatan,” katanya.

Dalam tulisannya di Football Paradise yang berjudul The Political Power of Diego Aramndo Maradona... Sarthak Dev menjelaskan, bukan sekali itu saja Maradona mampu mempengaruhi keputusan pamngku kepentingan. Pada tahun 1982-1984, misalnya, Barcelona pernah menggunakan talenta Maradona untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Spanyol melalui sepakbola.

Dan setelah Maradona menutup kariernya di Catalan dengan memantik perkelahian massa dalam laga final Copa del Rey 1984, Napoli kemudian menampungnya dengan tujuan tak jauh beda: ingin menunjukkan bahwa kota Naples bukan hanya sarang begundal di Italia.

Bagi Dev, apa yang ditunjukkan Maradona tersebut telah membuktikan teori Max Weber tentang “charismatic authority”. Bahwa keabsahan sebuah otoritas dapat bersumber dari karisma atau kualitas istimewa yang dimiliki oleh seseorang yang diakui oleh banyak orang. Agaknya, sebagaimana yang dijelaskan Socrates, pesepakbola memang memiliki kemampuan macam itu.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA DUNIA atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight