Kisah Bocah-Bocah dalam Lingkaran Pencari Suaka di Kebon Sirih

Oleh: Alfian Putra Abdi - 11 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pencari suaka sebetulnya ingin tinggal di negara yang bisa memberikan masa depan. Tapi ada yang malah hidup susah di Indonesia. Mereka semua menunggu aksi PBB.
tirto.id - Terik matahari yang menyelinap dari dedaunan di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, tidak dihiraukan anak-anak pencari suaka yang sedang bermain. Ketika saya sampai lokasi, Kamis (11/7/2019) siang, salah dua dari mereka (jumlahnya kira-kira sepuluh orang) sedang bersitegang. Dua bocah asal Afganistan saling berdebat, entah apa persoalannya.

Kata petugas PPSU DKI Jakarta, Faisal, yang kebetulan bekerja di sana, dua bocah itu awalnya saling ejek. "Sudah. Sudah. Jangan pada berantem. Ayo, sudah, baikan," kata Faisal. "Namanya juga anak-anak," katanya setelah bocah-bocah itu main lagi seperti biasa.

Saat saya berjalan ke arah Mercure Hotel, persis di persimpangan jalan lampu lalu lintas, seorang anak pencari suaka asal Afganistan, tanpa memperkenalkan diri terlebih dulu tiba-tiba bertanya: "Kamu punya game?" "Tidak."

Bocah itu bernama Madim (12), dan dia tak mudah percaya begitu saja dengan jawaban saya. "Coba aku lihat. Coba... coba."

Kami memeriksa satu per satu menu dalam gawai saya. Ia puas setelah tidak mendapati satu pun aplikasi game. "Aku mau lihat Youtube saja."

Untuk permintaan yang satu itu, saya tak bisa mengelak, sebab ia kadung melihat ikon YouTube. Saya mengizinkannya dengan syarat hanya lima menit saja. Saya pertegas kalau saya sedang bekerja.

Madim sudah satu tahun di Indonesia. Ia datang dari Afganistan bersama keluarganya. Bahasa Indonesianya cukup lancar. Ia mengaku mempelajarinya waktu menetap di Kalideres, Jakarta Barat.


Saat saya sedang menunggu Madim menyelesaikan tontonannya, seorang bocah lain mendekati saya dan memuji topi yang saya kenakan dan minta izin pinjam sebentar. "Boleh, ya? Boleh? Aku mau coba itu."

Dia memperkenalkan diri sebagai Hafits, usianya 14. Hafits mencobanya dan tentu saja kebesaran.

Wajahnya yang ekspresif menarik perhatian kawan-kawannya yang lain. Mereka nampaknya juga ingin menjajal topi saya. Namun Hafits masih mau pakai lebih lama. Lalu salah satu dari mereka ada yang iseng menarik langsung topi itu dari kepala Hafits. Selanjutnya, mereka saling kejar-kejaran.

Saya tidak paham apa yang mereka ucapkan, sebab mereka menggunakan bahasa Arab. Namun saya menduga Hafits tak senang dengan sikap kawan-kawan senasibnya itu. Saya bisa tahu ketika ia menghitung dari satu sampai tiga. Lalu bocah itu menyerah. "Ini topinya, saya kembalikan."

Hafits sama seperti Madim. Ia bisa berbahasa Indonesia karena sudah tinggal di sini selama satu tahun.

"Aku dari Afganistan. Di sana perang. Kata ibu, tidak bagus untuk aku."

Omar (45), orangtua dari salah satu anak-anak tersebut, mengaku cukup kewalahan untuk menjaga anak-anak agar tetap aman. Ia juga khawatir dengan keamanan dan kesehatan anak-anak. "Lihatlah, kami tinggal di trotoar. Jakarta bising. Mobil di mana-mana."

Saya melihat Omar cukup cekatan. Ketika ada anak-anak yang bermain cukup jauh dari lokasi tenda pencari suaka, dia sigap berteriak mengingatkan. Beberapa kali Omar juga meminta maaf kepada penjaga gedung di sekitar mereka lantaran anak-anak menjadikan area tersebut sebagai lahan bermain. "Saya merasa tak enak. Tapi mereka masih anak-anak. Jadi maafkan saja."


Bocah Pencari Suaka
Bocah-bocah Dalam Lingkaran Pencari Suaka di Kebon Sirih. tirto.id/Alfian Putra Abdi


Rentan Sakit


Hidup jauh dari negara asal, dengan segala keterbatasan biaya, makanan, dan bahkan tempat tinggal, adalah situasi tidak pernah terpikirkan oleh Nazifah. Sudah sepuluh hari ia, suami, dan dua anaknya memutuskan mendirikan tenda alakadarnya di depan Gedung Ravindo, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Selama itu pula ia banyak mendapatkan cobaan. Putra nomor duanya, Muhammad Faiz (1 tahun), sempat sakit empat hari yang lalu. "Perutnya belum sembuh. Ia muntah dan sulit buang air besar. Ini hari keempat." Faiz lahir di Indonesia karena Nazifah sudah di Indonesia sejak 1,5 tahun yang lalu.

Untungnya kemarin dia mendapat bantuan entah dari siapa. Ambulans datang dan membawa anaknya ke Rumah Sakit Tanah Abang. "Di sana sempat sehat. Tapi balik ke sini [tenda] perutnya sakit lagi."

Selama hidup di trotoar, pola makan Nazifah sekeluarga memang tidak terjaga. Ia bersama para pencari suaka lainnya mengandalkan bantuan dari warga Indonesia. Bentuk bantuan makanannya bermacam-macam, ada yang memberikan nasi bungkus, biskuit, air mineral, dan roti.

Selain pola makan, sakit anaknya juga karena faktor cuaca. Mereka tinggal di bawah pohon dengan hanya mengandalkan tenda untuk menghalau panas terik dan hujan, juga angin. "Kemarin saya juga masuk angin. Suami pun tulang belakangnya nyeri. Tidur kami tidak enak."

Karena hal-hal inilah Nazifah berharap Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-bangsa (UNHCR) selekasnya menempatkan mereka di negara tujuan suaka yang aman untuk menetap--Indonesia bukan termasuk negara pemberi suaka.

"Aku tidak takut hidup begini, suami pun begitu. Tapi aku takut dengan anak-anak ini, kasihan mereka. Aku juga tidak bisa balik ke Afganistan, ada perang. Kalau di sana aman, aku mau balik ke sana."


Penempatan Layak


Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah berharap semua imigran pencari suaka asal Afganistan, Sudan, dan Somalia, yang jumlahnya mencapai ribuan, kembali ke Kalideres, Jakarta Barat. Alasan Saefullah menempatkan semua imigran ke satu tempat agar mereka mudah dikoordinasikan dan didata.

Para pencari suaka ini pindah ke Kebon Sirih karena di sanalah kantor UNHCR berada.

"Kami coba tidak jauh dari kantornya yang di Kalideres (kantor Rumah Detensi Imigrasi). Kan di situ sebetulnya mereka difasilitasi. Nah, ada kekurangan bahan makanan, makanya mereka lapor ke UNHCR di sini. Supaya didengarkan mereka menginap," kata Saefullah di Balai Kota, Rabu (10/7/2019) sore.

Selain itu, Saefullah bilang akan menunggu keputusan Kementerian Luar Negeri dan UNHCR terkait rencana mengurus ribuan imigran ini.

Indonesia hanya berfungsi sebagai negara transit/bukan tujuan akhir. Sepanjang tak meratifikasi Konvensi Pengungsi Tahun 1951 dan Protokol 1967 tentang Status Pengungsi, para pengungsi tak bisa menetap apalagi menjadi warga negara yang sah. Indonesia hanya bisa memberi toleransi bagi pengungsi untuk tinggal sementara hingga mereka memutuskan kembali ke negara asal secara sukarela atau pindah ke negara lain.

Baca juga artikel terkait IMIGRAN atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Rio Apinino