Ketika Boeing Tercekik Pandemi Corona

Foto udara pesawat Boeing 737 MAX yang tidak terbang terlihat terparkir di Boeing Field di Seattle, Washington, Amerika Serikat, Senin (1/7/2019). Foto diambil tanggal 1 Juli 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Lindsey Wasson/File Photo/wsj/cfo
Oleh: Ahmad Zaenudin - 21 Mei 2020
Dibaca Normal 5 menit
Belum usai masalah 737 Max, Boeing kini menghadapi pandemi Corona.
Sepanjang tahun 2019, lebih dari 4,5 miliar penumpang terbang dengan berbagai maskapai di seluruh dunia. Jumlah itu, sebagaimana dilansir Statista, meningkat 4,6 persen dibandingkan setahun sebelumnya, yakni 4,3 miliar penumpang.

Dilansir dari The New York Times (29/4/2020), Ian Bremmer, pendiri perusahaan konsultan perjalanan udara Eurasia Group, menyatakan bahwa peningkatan penumpang perjalanan udara disebabkan alasan sederhana. “Orang-orang perlu terhubung secara langsung,” ujarnya.

Selama satu dekade terakhir, perjalanan udara sangat bersinar. Jumlah penumpang selalu meningkat setiap tahun, misalnya, dari 2,4 miliar penumpang di 2019 menjadi 2,6 miliar penumpang di 2010. Dari 3,5 miliar penumpang di 2015 menjadi 3,8 miliar penumpang di 2016. Dengan kenyataan itu, tak heran dunia aviasi menargetkan capaian penumpang di angka 4,7 miliar penumpang di 2020. Sayangnya, SARS-CoV-2, virus di balik COVID-19 lepas landas duluan pada awal tahun.

Strategi lawas social distancing pun diterapkan untuk menangkal penyebaran virus. Strategi ini memang baik untuk menekan laju penyebaran Corona. Namun, efek buruk pun menyertainya. Aturan yang membatasi orang berkumpul akhirnya memukul dunia aviasi. IATA memperkirakan, akibat kebijakan karantina wilayah dan penutupan aktivitas penerbangan, dunia aviasi akan kehilangan pendapatan antara $63 miliar hingga $113 miliar pada 2020 ini.

Sejak 14.000 pesawat terpaksa parkir, kebangkrutan mengancam banyak maskapai di seluruh dunia.

Hidup maskapai diperkirakan akan terasa sangat berat dalam beberapa bulan ke depan. Namun, beban yang paling berat tampaknya tidak ditanggung maskapai, melainkan Boeing, perusahaan produsen pesawat. Boing mengalami penurunan permintaan penerbangan. Banyak maskapai yang berpikir ulang membeli armada baru ke Boeing. Maret lalu, pelanggan-pelanggan Boeing, secara total, membatalkan pemesanan 150 pesawat.

Alasan kedua mengapa beban Boing sangat berat adalah masalah 737 Max yang tak kunjung selesai. Situasi ini bermula pada 2014, saat Airbus merilis Airbus A320Neo, versi baru dari seri A320. Saingan utama Boeing ini menjanjikan kapasitas lebih besar dengan biaya operasional lebih rendah untuk maskapai-maskapai di seluruh dunia. Tak mau kalah, Boeing kemudian merilis 737 Max, seri teranyar The Baby Boeing yang menggunakan mesin baru, LEAP-1B Engine, dan desain ujung sayap pesawat (winglet) yang berbeda. Perubahan ini kemudian menciptakan 737 yang lebih hemat energi.

Sayangnya, mesin baru yang diusung Max, yang memiliki diameter lebih besar daripada mesin-mesin yang digunakan seri-seri terdahulu 737, mengubah satu elemen krusial di tubuh pesawat: angle-of-attack. Angle-of-attack (AoA) adalah sudut antara sayap dengan aliran udara (airflow). Keseimbangan AoA memastikan pesawat tetap terbang dengan aliran udara yang sesuai. Masalahnya, dengan mesin baru dan penempatan mesin yang juga baru, membuat Max rentan berada di posisi kehilangan daya angkat (stall). Maka dari itu, Boeing memasang MCAS alias Maneuvering Characteristics Augmentation System, alias sistem yang berfungsi menurunkan hidung pesawat apabila sensor mendeteksi pesawat terlalu menukik.

Untuk mengejar type rating yang sama dengan keluarga 737 lainnya, Boeing tidak memberitahukan pada siapapun akan keberadaan MCAS. Sialnya, MCAS memiliki cacat desain. Ia dapat mengaktifkan diri dengan bahkan dengan hanya mengandalkan satu sensor yang menyatakan pesawat berada di posisi kehilangan daya angkat--sekalipun sensor melakukan kekeliruan.

Akibat ulah Boeing, 346 jiwa tewas dari dua kecelakaan beruntun. Selain pemecatan terhadap CEO Boeing Dennis A. Muilenburg, perusahaan yang berdiri sejak 15 Juli 1916 ini kemudian menghentikan untuk sementara proses produksi 737 Max.

Tragedi 737 Max dan rontoknya industri penerbangan akibat pandemi Corona membuat masa depan Boeing dipertanyakan. Sanggupkan eksportir terbesar di AS ini bangkit? Jika berkaca pada De Havilland Comet, pesawat jet komersial pertama di dunia, jawabannya mungkin tidak.

Pesawat Jet Komersial Pertama

Pada 12 Mei 1950, The New York Times melaporkan langit dunia berubah. Bukan karena faktor alam, tapi akibat De Havilland, perusahaan aviasi asal Inggris, sukses melakukan uji terbang pesawat baru buatannya, De Havilland Comet, dari London ke Kairo. Dalam penerbangan pergi, perbedaan lokasi sejauh 3.500 kilometer itu ditempuh selama 5 jam 8 menit dan 27 detik. Comet sanggup melakukan perjalanan pulang dalam 5 jam dan 30 menit.

Apa yang dilakukan De Havilland Comet sungguh revolusioner. Sebelumnya, rute London-Kairo umumnya ditempuh dalam waktu hampir dua kali lipat dari capaian Comet. Mengapa? Karena De Havilland Heron, pesawat pendahulu Comet, hanya sanggup terbang dengan kecepatan 294 kilometer/jam. Sementara itu, Douglas DC-6 dan Lockheed Constellation, dua pesawat yang populer mengangkut penumpang dan surat ke berbagai penjuru dunia, hanya sanggup terbang dengan kecepatan 501 kilometer/jam dan 531 kilometer/jam.

Dengan mesin bernama “Ghost,” De Havilland Comet terbang dengan kecepatan 805 kilometer/jam. Ghost, atau “Goblin,” sebagaimana ditulis Kev Darling dalam Airliner Tech Series Vol. 7, adalah mesin jet Comet yang sanggup menghasilkan daya dorong sekitar 9 ton. Satu unit De Havilland Comet memuat empat Ghost.

De Havilland Comet tercatat sebagai pesawat jet komersial pertama di dunia. Sebagaimana diberitakan The New York Times, pesawat ini memang pertama kali mengudara pada 1950. Namun, proses penciptaannya merentang hingga akhir dekade 1930-an.

Pada dekade 1930-an itu, dunia aviasi dikuasai Amerika Serikat. Tercatat Douglas DC-3 dan Boeing 247 menjadi penguasa yang menguasai 90 persen pangsa pasar penerbangan sipil dunia. Dua pesawat buatan Amerika Serikat itu merupakan pesawat jarak pendek-menengah.

Pada awal dekade 1940-an, lahirlah dua pesawat jarak jauh Douglas DC-4 dan Lockheed Constellation. Kedua pesawat ini dirancang untuk ikut perang membela Amerika dan sekutunya. Namun, selepas perang usai, DC-4 dan Constellation diyakini akan dijadikan pesawat komersial sipil.

Inggris tak mau kalah. Pemerintah Inggris kemudian membentuk komite khusus yang dipimpin oleh Lord Brabazon of Tara, pesohor aviasi Inggris kala itu. Tugasnya 'sederhana': menciptakan pesaing DC-3, DC-4, Boeing 247, hingga Lockheed Constellation, yang sanggup terbang melintasi Atlantik lebih cepat dan lebih banyak mengangkut penumpang.

Perusahaan-perusahaan aviasi Inggris mengajukan proyek penciptaan pesawat semacam itu. Bristol mengajukan konsep pesawat bernama Brabazon Type 167. Airspeed mengajukan Ambassador. Vickers mengajukan Viscount. Avro mengajukan Tudor. Armstrong Whitworth mengajukan Apollo. Lalu, De Havilland mengajukan Dove dan Comet.

Kecuali Comet, rancangan pesawat-pesawat yang dibuat untuk mengerek kejayaan aviasi Inggris ini mengusung konsep baling-baling bermesin piston. Masalahnya, Lord Brabazon tahu, pesawat bermesin piston menghasilkan goncangan tinggi yang pada akhirnya akan membuat penerbangan jarak jauh sukar dilakukan karena ketidaknyamanan.


Selain itu, Robert G. Pushkar, dalam tulisannya di Smithsonian Magazine, menyebut rancangan pesawat-pesawat yang diajukan selain Comet membutuhkan mesin piston yang besar nan kompleks. Menurutnya, mesin piston yang besar rentan mengalami kegagalan dan membutuhkan bahan bakar yang sangat besar. Para ahli menyatakan pesawat akan mampu terbang efisien jika sanggup mengangkasa di ketinggian 35.000 kaki.

Keputusan diambil. Pesawat yang dibuat untuk mengembalikan kejayaan Inggris haruslah dapat terbang mulus dan minim goncangan, mesinnya dapat diandalkan, dan irit bahan bakar. De Havilland Comet memenuhi semua kriteria itu.

Pada Februari 1945 De Havilland memperoleh kontrak dari pemerintah Inggris untuk menciptakan Comet. Tahun berikutnya, 21 unit De Havilland Comet mengudara dengan British Overseas Airways Corporation alias BOAC menjadi maskapai yang paling banyak menggunakan jasanya.




Sialnya, pada Mei 1953 petaka muncul. Penerbangan BOAC bersandi 783 yang menggunakan De Havilland Comet jatuh di Kalkuta, India. Kala itu, 37 penumpang dan enam kru tewas. Selang delapan bulan kemudian, penerbangan BOAC bersandi 781 dengan pesawat yang sama jatuh di Roma, Italia, dengan 29 penumpang dan enam kru pesawat tewas.

Setelah dua kecelakaan yang menyebabkan seluruh penumpangnya tewas itulah De Havilland Comet dilarang terbang. The New York Times melaporkan, pelarangan terbang Comet dilakukan untuk “memungkinkan pemeriksaan teknis yang tidak tergesa-gesa dari setiap pesawat Comet.” Selain BOAC, Air France dan Union Aero Maritime de Transport yang juga mengoperasikan Comet melakukan langkah serupa.

Dua kecelakaan ini dikaitkan dengan kecelakaan De Havilland Comet milik Overseas Airways dan Canadian Pasific, pada Oktober 1952 dan Maret 1954. Kala itu pesawat mengalami kecelakaan saat lepas landas. Kurangnya kemampuan pilot juga diyakini sebagai sebab kecelakaan.

Masalahnya, dua penerbangan BOAC yang naas itu dikemudikan pilot berpengalaman. Selepas larangan terbang dicabut, tragedi terulang pada 8 April 1954. De Havilland Comet bercat South African Airlines jatuh di Kairo, Mesir. Sebanyak 14 penumpang dan tujuh kru tewas.


Otoritas penerbangan sipil Inggris kemudian melakukan investigasi. Sebagaimana dilaporkan laman resmi FAA, terbang di ketinggian 35.000 kaki berbeda dengan terbang di ketinggian di bawah itu. Pada ketinggian 35.000 kaki, tekanan udara tipis. Untuk membuat penerbangan mungkin dilakukan, dibutuhkan kabin pesawat yang memiliki tekanan udara yang dikondisikan (pressurized cabin). Otoritas penerbangan Amerika dan Inggris mengharuskan pesawat yang terbang di ketinggian demikian memiliki kabin bertekanan 2P atau 2 kali P, di mana “P” atau tekanan kabin bagi pesawat yang terbang di ketinggian normal (atau di bawah 35.000 kaki) memiliki kekuatan tekanan sebesar 8,25 pound/inci persegi.

Diketahui kemudian De Havilland Comet memiliki cacat desain, khususnya pada bagian jendela pesawat yang berbentuk kotak, berbeda dengan pesawat modern saat ini yang berbentuk oval. Karena bentuk kotak itu, terjadi konsentrasi tekanan berlebih. Kabin bertekanan milik Comet, mudah hancur di titik ini.

Serangkaian kecelakaan yang menimpa Comet meruntuhkan kepercayaan publik. Penciptaan De Havilland Comet Mark III gagal mengembalikan rasa aman pada publik. Pada saat bersamaan, Boeing mempelajari cacat desain milik Comet untuk kemudian merilis Boeing 707.

Boeing 737 Max sangat mungkin mengalami nasib serupa. Apalagi, merujuk jajak pendapat yang dilakukan Boeing sendiri pada 9 Desember lalu menyebut terdapat 40 persen penumpang penerbangan Amerika yang menolak terbang bersama Max. Jika celah kepercayaan ini sanggup dimainkan Airbus atau bahkan perusahaan pembuat pesawat dari Cina Comac, Max mungkin tinggal kenangan.

Baca juga artikel terkait PENERBANGAN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight