Pertanian Indonesia: Sektor Tangguh yang Perlu Diperkuat

Penulis: Dwi Ayuningtyas, tirto.id - 4 Des 2023 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Sektor pertanian justru menjadi salah satu katup pengaman ekonomi saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia.
tirto.id - Bebarapa bulan lalu, masyarakat Indonesia sempat geger karena harga pangan yang melambung tinggi. Kala itu harga beras telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sejak Maret 2023. Masyarakat berteriak dan menuntut pemerintah segera mengambil langkah untuk menurunkan harga.

Stabilitas harga pangan merupakan salah satu indikasi keberhasilan kinerja pemerintahan. Rektor Universitas Widya Mataram Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec menyampaikan bahwa harga pangan yang sangat tinggi merupakan penyebab utama mengapa Presiden Sukarno dan Presiden Soeharto turun jabatan. Sukarno dan Soeharto tidak mampu menjaga harga pangan di tengah gejolak ekonomi dan politik.

Meskipun begitu, di lain pihak, sektor pertanian justru menjadi salah satu katup pengaman ekonomi Indonesia saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Saat pandemi, status swasembada beras juga kembali diraih Indonesia untuk kurun 2019-2022, setelah hampir empat dekade berselang.


Tentu ini merupakan hal tak terduga, bahwa sektor pertanian Indonesia ternyata cukup tangguh walaupun acap diposisikan menjadi lumbung kemiskinan. Musababnya, secara proporsional sektor ekonomi tradisional ini memberikan kontribusi yang rendah bagi Produk Domestik Bruto (PDB).


Dengan sumber daya yang melimpah, sektor pertanian hanya mampu menyumbang sekitar 10% bagi PDB secara rerata tahunan. Tanaman perkebunan memberikan kontribusi terbesar dengan rata-rata 3,6% diikuti oleh tanaman pangan (2,8%), peternakan (1,6%) dan tanaman hortikultura (1,5%).

Ketangguhan Sektor Pertanian

Sektor pertanian diklaim merupakan salah satu sektor kunci pendukung pemulihan ekonomi nasional. Prof. Edy juga menyampaikan argumentasi serupa di mana ia menyebutkan penyelamat ekonomi nasional saat resesi ekonomi 2020 adalah sektor pertanian. Klaim tersebut ditopang oleh fakta bahwa sektor ekonomi tradisional ini menunjukkan pertumbuhan positif sepanjang pandemi.


Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian mayoritas menunjukkan laju pertumbuhan positif sepanjang kuartal kedua 2020 hingga kuartal pertama 2021 di saat laju PDB terkontraksi. Tren positif ini juga terus berlanjut hingga akhir tahun 2022. Bahkan pada kuartal keempat tahun lalu, tingkat pertumbuhannya melebihi pertumbuhan ekonomi nasional.



Lebih lanjut, studi terbaru The Food and Agriculture Organization (FAO) berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) juga menunjukkan hasil yang selaras. Studi ini mencoba menganalisa 6 komoditas yang dominan diproduksi dalam negeri, yakni beras, jagung, bawang merah, pisang, daging dan telur ayam.

Dalam laporan yang berjudul Indonesia’s Agriculture Sector Performance During The COVID-19 Pandemic: Towards A Resilient Agrifood System, hasil analisa menunjukkan bahwa sektor pertanian di Indonesia tidak mengalami guncangan besar akibat pandemi Covid-19. Hal ini terutama berlaku bagi komoditas beras.

Analisa komoditas beras
Analisa komoditas beras. FOTO/FAO, IPB dan Kementerian Pertanian


Merujuk hasil analisis di atas, terlihat tidak terdapat perbedaan antara produksi, produktivitas, hingga harga jual beras konsumen sebelum dan saat pandemi. Prof. Muhammad Firdaus dari Institut Pertanian Bogor menyampaikan bahwa kestabilan produksi dan produktivitas beras didorong oleh dua aspek, yakni sosial ekonomi dan kemandirian bercocok tanam.

“Secara psikologi orang itu jika masih mau hidup harus punya beras,” ujar Firdaus kepada Tirto (28/11/2023).

Sudut pandang inilah yang secara sosial ekonomi mendorong urgensi petani untuk terus memproduksi beras. Belum lagi, saat pandemi banyak migrasi dari kota ke desa, di mana banyak yang kembali terjun untuk menanam padi. Kemudian, dibandingkan dengan komoditas pertanian lain, petani padi tidak terlalu bergantung pada ketersediaan benih atau pupuk dari pemerintah.

“Di Jawa Timur, 80 persen benih padi itu bukan oleh Sang Hyang Seri atau Pertani. Tetapi oleh petani itu sendiri, namanya UD (Usaha Desa),” tambah. Firdaus.

Oleh karena itu, ketika ada hambatan distribusi benih dari pusat, ini tidak akan berdampak signifikan pada produksi padi di pedesaan.

Sementara itu, menurut Firdaus, stabilitas harga beras ditopang oleh jumlah ketersediaan cadangan beras yang cukup. Ini membantu menjaga stabilitas harga di konsumen akhir. Fluktuasi harga beras di sisi petani dipengaruhi oleh musim panen.

Lebih lanjut, fakta mengejutkan lainnya adalah tingkat produksi jagung, telur ayam, bawang merah dan pisang mengindikasikan tren kenaikan yang signifikan. Hanya produksi daging ayam saja yang secara statistik menunjukkan tren penurunan. Namun, rata-rata penurunannya pun kecil.

Lebih lanjut, ketangguhan sektor pertanian tidak hanya dibuktikan dari sisi produksi, tetapi juga dari kesejahteraan petani. Merujuk analisis Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP), meskipun sempat turun pada periode awal pandemi, tapi pada paruh akhir 2020 ia kembali pulih dan memperlihatkan tren kenaikkan.

Perlu diketahui, NTP dan NTUP adalah indikator yang mengukur daya beli petani. Jika nilainya di atas 100 artinya petani untung. Alhasil secara tidak langsung indikator ini dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan petani.

Analisa komoditas beras
Analisa komoditas beras. FOTO/FAO, IPB dan Kementerian Pertanian


Dukungan Kebijakan

Sistem pertanian Indonesia telah mengalami transformasi selama bertahun-tahun dari pendekatan tradisional ke modern. Perubahan ini ditopang oleh ambisi pemerintah untuk mendobrak status Ibu Pertiwi dari bangsa agraris menjadi industrial.

Uniknya, meskipun sedang menjalani restrukturisasi, sektor pertanian malah mampu bertahan selama krisis pandemi 2020-2021. Penemuan ini sepatutnya menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk senantiasa menghadirkan program strategis yang mampu menopang industri ini.



Hal ini mengingat sektor pertanian bertanggung jawab atas kebutuhan dasar penduduk. Gangguan dari sisi produksi dan rantai pasok yang berdampak pada ketersediaan dan keterjangkauan komoditas pertanian akan berpengaruh signifikan pada kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat.

Hasil studi kolaborasi FAO, IPB dan Kementan memaparkan beberapa rekomendasi bagi pemerintah untuk memastikan kesinambungan stabilitas, ketahanan pertanian dan sistem pangan.
  1. Memperkuat industri hulu dengan memberikan dukungan pada aktivitas produksi. Pemerintah mendorong fasilitasi pembiayaan dan penyediaan input (pupuk dan benih) dengan skema subsidi
  2. Memastikan akses pasar terutama untuk meningkatkan produktivitas rantai pasok dari daerah, pusat, hingga pasar ekspor. Ini termasuk perbaikan sistem dan teknologi transportasi untuk menjaga kualitas produk pertanian yang dihasilkan
  3. Memperkuat sistem cadangan pangan nasional untuk bahan pangan utama khususnya bahan pokok penyumbang inflasi.

Baca juga artikel terkait INSIDER atau tulisan menarik lainnya Dwi Ayuningtyas
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dwi Ayuningtyas
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight