Kesadisan John Wayne Gacy sang Badut Pembunuh

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 15 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Hobi jadi badut untuk menghibur pasien anak di rumah sakit, tapi juga jadi pelaku sodomi, pelecehan seksual dan pembunuhan 33 remaja.
tirto.id - Dunia psikologi mengenal coulrophobia, yakni fobia terhadap badut. Di dunia modern, fobia ini jadi dikenal luas karena novel Stephen King, It (1986) yang menampilkan badut pembunuh bernama Pennywise, atau karakter Joker dari semesta DC.

Namun dibanding dua karakter fiktif itu, ada badut yang menyebar teror di dunia nyata: John Wayne Gacy, seorang
pemerkosa, penyiksa, dan pembunuh. Kebanyakan korbannya adalah pria berusia muda. Kejahatan sadisnya membuat ia disemati nama tengah “The Killer Clown”.

Sama seperti badut Joker di semesta DC yang terbentuk bukan tanpa alasan, Gacy pun demikian. Asal-usulnya bisa ditelusuri dari pengalaman pahitnya semasa kanak-kanak, bisa dibaca dalam buku karya Tim Cahill, Buried Dreams: Inside the Mind of Serial Killer John Wayne Gacy (2014).

Gacy lahir di Chicago, Amerika Serikat, pada 17 Maret 1942. Ayahnya, John Stanley Gacy, adalah veteran Perang Dunia I yang bekerja sebagai mekanik mobil. Ia mendidik Gacy dengan teramat keras. Maklum, John pecandu alkohol.

Gacy, misalnya, pernah dipukuli memakai sabuk celana karena mengacau penataan onderdil di bengkel. Dalam kesempatan lain ia dicambuk dengan sabuk penajam pisau cukur usai dituduh melecehkan anak perempuan tetangga.


Kerap pula ayahnya mengamuk tanpa alasan yang jelas. Gacy pernah dihajar dengan menggunakan sapu sampai pingsan. Siksaan secara mental juga datang melalui ujaran negatif. Gacy dilabeli sebagai anak bodoh yang tidak pernah lebih baik ketimbang dua saudara perempuannya.


Suatu kali Gacy mencuri mainan truk dari toko tetangga. Ayahnya tahu, lalu kembali menghajarnya dengan sabuk celana. Ibu Gacy berhasil menghentikannya. Sejak saat itu Gacy disebut “anak mami”, “banci”, dan diprediksi saat dewasa akan menjadi seorang queer.

Lingkungan rumah dan sekolah Gacy dipenuhi para pelaku perisakan. Gacy juga pernah jadi korban pelecehan seksual oleh seorang anggota keluarga temannya. Pengalaman ini ia rahasiakan dari orangtua karena takut dimarahi ayahnya.

Masa remaja dijalani Gacy dengan susah payah. Pada pertengahan 1960-an hidupnya mulai stabil. Ia tinggal di Waterloo sambil menangani beberapa restoran cepat saji, menikah muda, dan punya anak. Namun di balik topeng kestabilan hidup, Gacy punya wajah lain.

Dia memakai narkoba. Di ruang bawah tanah rumahnya, dia kerap mengajak pekerja restoran untuk minum-minum. Di sana, Gacy menggoda mereka. Di titik ini terlihat bahwa orientasi seksual Gacy adalah gay atau biseksual. Di sana pula, Gacy melanggar batas. Pada 1968, dia didakwa melakukan sodomi pada dua remaja laki-laki, dan dihukum 10 tahun penjara.

Baru 18 bulan menjalani hukuman, Gacy mendapat pembebasan bersyarat dengan masa percobaan selama 21 bulan.

Syaratnya, ia kembali ke Chicago untuk tinggal bersama ibunya. Gacy lantas membeli sebuah rumah di daerah Norwood Park Township dengan bantuan ibunya. Di tempat inilah ia melakukan aksi pelecehan seksual hingga pembunuhan terhadap hampir 30-an orang. Semua dilakukan secara rapi, sembari bersikap normal di luar sana.

Badut yang Selalu Tersenyum

Gacy memulai profesi sebagai penyedia jasa pengecatan, dekorasi dan perawatan rumah pada awal 1970-an. Ia menampilkan diri sebagai warga negara dan anggota komunitas lokal yang baik. Ia aktif dalam kegiatan-kegiatan yang sifatnya publik, termasuk menyelenggarakan pesta jelang musim panas tahunan pada 1974.

Clifford L. Linedecker dalam The Man Who Killed Boys (1993) menceritakan bahwa pada 1975 Gacy bergabung dengan Jolly Joker, klub badut lokal yang anggotanya tampil rutin dalam acara-acara penggalangan dana atau parade menghibur pasien anak-anak di rumah sakit.

Gacy merancang kostum dan merias mukanya sendiri. Tapi, jika badut-badut lain yang mengaplikasikan cat merah dalam bentuk bundar di sekeliling bibir, Gacy membuat kedua sudutnya meruncing ke atas. Hasilnya, raut muka Gacy seperti selalu tertawa. Persis seperti Joker.

Pogo the Clown atau Patches the Clown—demikian nama karakter badut Gacy. Ia terlihat lucu dan menghibur—setidaknya dalam kacamata badut klasik. Tetapi, di balik karakter badut yang selalu tersenyum itu, Gacy melakukan aksi sadisnya.


Korban pertamanya adalah Timothy Jack McCoy yang pada awal Januari 1972 sedang dalam perjalanan memakai bus dari Michigan ke Omaha. Saat sedang berhenti terminal ia diajak Gacy keliling Chicago. McCoy tidak menolak. Ia pun tak curiga saat diminta menginap di rumah Gacy karena malam semakin larut.


Keesokan harinya, Gacy bangun dengan kaget karena McCoy berdiri di depan pintu kamar sembari memegang sebilah pisau dapur. Dalam buku Buried Dreams: Inside the Mind of a Serial Killer, Gacy kemudian menyergap McCoy, yang langsung mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Pisau yang McCoy genggam mengarah ke bawah, dan tanpa sengaja mengiris lengan tangan Gacy.

Keduanya bergumul di lantai, saling menendang, hingga akhirnya Gacy merebut pisau dan menusukkannya berkali-kali ke dada McCoy. McCoy tewas seketika.

Kemudian Gacy pergi ke dapur, dan di sana sudah ada sekotak telur yang terbuka dan daging asap di atas meja. Sepertinya McCoy sudah memasak sarapan untuk dua orang, bermaksud membangunkan Gacy tanpa sadar dirinya masih memegang pisau. Sedangkan Gacy yang baru bangun, menganggap McCoy akan menyerangnya.

Mayat McCoy dikubur di ruang awah tanah dan ditutup dengan selapis beton. Dalam wawancara usai penangkapan, Gacy mengaku ke polisi bahwa ia merasakan dua sensasi yang sekaligus setelah membunuh McCoy. Pertama, benar-benar kehabisan tenaga. Kedua, orgasme yang luar biasa.

“Sejak saat itulah saya menyadari bahwa kematian menghasilkan sensasi paripurna,” katanya, mengutip Cahill.

Tahun 1976-1978 adalah periode Gacy melakukan mayoritas aksi pembunuhannya. Ia mengistilahkannya dengan cruising. Targetnya adalah remaja laki-laki berusia 14-18 tahun.


Ada korban yang berprofesi sebagai pekerja di restoran cepat saji yang ia kelola, ada pula pemuda asing yang polos dan terjebak sikap ramah Gacy. Modus operandi lain adalah dengan menculik paksa korban menggunakan obat bius.


Pada 1975 ia memulai satu teknik penjebakan baru: mengajak pekerja restoran ke rumahnya untuk minum-minum. Saat korban sudah mabuk, Gacy akan memborgol korban dengan alasan akan menunjukkan aksi sulap. Semua korban pada akhirnya tewas, dan dikubur di ruang bawah tanahnya. Tapi korban tidak semua dikubur di ruangan bawah tanah. Dari investigasi kepolisian Illinois, ada beberapa korban yang dibuang di sungai Des Plain.

Akhir Teror Gacy

Menurut catatan Terry Sullivan dan Peter T. Maiken dalam Killer Clown: The John Wayne Gacy Murders (2011), penyelidikan polisi dimulai dengan menghilangnya Robert Jerome Piest (15), pekerja paruh waktu di restoran yang dikelola Gacy.

Pada ibunya, Piest izin keluar sebentar karena akan menemui seorang kontraktor bernama Gacy yang menjanjikan pekerjaan. Namun Piest tak pernah kembali. Usai ibunda Piest melaporkan anaknya hilang, polisi mendapat keterangan soal pertemuan Gacy dan Piest dari pemilik apotek tempat mereka berdua bertemu. Mereka pun segera meminta keterangan Gacy—yang berkali-kali mengelak terlibat atas hilangnya Piest.

Infografik Killer Clown
undefined


Polisi kemudian mendapat izin pengadilan untuk menggeledah rumah Gacy, dan menemukan barang-barang mencurigakan. Ada baju-baju yang terlalu kecil untuk ukuran Gacy, buku soal homoseksualitas dan pedofilia, kartu-kartu SIM, borgol, alat suntik, pistol, dan tanda terima dari apotek tempat Piest bekerja.

Sementara polisi melanjutkan pemeriksaan intensif, Gacy masuk pengawasan sejumlah detektif. Gacy berupaya merebut hati para detektif dengan mengajak mereka makan-makan, minum-minum, sambil menegaskan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.

Proses penyelidikan yang panjang membuat Gacy kelelahan. Setelah berbagai temuan baru kian mengaitkan dirinya pada kasus hilangnya belasan pemuda termasuk Piest, Gacy akhirnya mengaku bersalah. Ia menyatakan telah melakukan penculikan dan pembantaian terhadap lebih dari 30 orang.

Kemudian satu tim polisi bersenjata lengkap disertai tim forensik meluncur ke rumah Gacy. Ruang bawah tanahnya agak kebanjiran air, tapi tim tidak kesulitan untuk menggali tanah hingga akhirnya menemukan potongan-potongan daging busuk dan tulang lengan manusia.

Mayat Piest termasuk yang dibuang ke sungai bersama empat korban lain. Sisanya ditemukan di ruang bawah tanah atau garasi rumah Gacy di Norwood Park Township. Usia rata-rata korban antara 14-19 tahun. Totalnya 33 orang, tapi yang bisa diidentifikasi hanya 27.

Pada saat penangkapan, Gacy mengklaim total korban sebenarnya mencapai 45 orang. Gacy tidak mau menyebutkan di mana sisa mayat dikuburkan sebab, ujarnya, “tugas kalian (polisi) untuk menemukannya." Beberapa penyidik mempercayai klaim Gacy, namun hingga persidangan polisi tidak menemukan mayat korban lain.

Pada 13 Maret 1980 ia didakwa hukuman mati, dan menanti 14 tahun sebelum disuntik mati di Stateville Correctional Center di Illinois pada 10 Mei 1994.

Menurut sejumlah laporan, Gacy didiagnosis sebagai seorang psikopat yang tidak merasa menyesal atas tindak kejahatannya. Pernyataan terakhirnya kepada pengacara, dengan nada sombong, adalah bahwa hukuman mati tidak akan mengembalikan nyawa para korban.

Pada jam-jam jelang eksekusi mati, sekitar seribuan orang berkumpul di luar gedung Stateville Correctional Center. Mayoritas pendukung pelaksanaan eksekusi, sebagian kecilnya adalah massa penolak hukuman mati. Beberapa yang benci setengah mati pada Gacy mengenakan kaos dengan slogan-slogan satir namun tajam. Salah satunya:

“Tidak ada air mata untuk si badut.”

Baca juga artikel terkait PEMBUNUHAN atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Hukum)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nuran Wibisono