Kerja Keras Bagai Kuda, Akhirnya Lara

Ilustrasi pekerja kantor yang mengalami stres. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Widia Primastika - 1 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Jam kerja tak teratur, kolega tak bisa diajak curhat, bos tak adil = penyakit.
Enam tahun lalu, Aprilia Sundari (25) rajin sekali menyambangi dokter. Perempuan yang akrab disapa Lia ini sering sakit karena terlalu keras bekerja.

“Di tempat kerja yang dulu itu aku penyiar paling junior, dan rekan kerja yang lain suka memanfaatkan, termasuk lempar tanggung jawab. Jadi, tiap bulan pasti ambruk, sampai harus ke dokter,” ungkapnya.

Tak adanya aturan jelas mengenai jam kerja, sehingga dia begitu mudah mengalami radang tenggorokan, maag, atau gangguan napas ringan. Bahkan, Lia pernah jatuh pingsan di tempat kerjanya.

“Saat itu pingsan karena jam kerjanya. Jadi, aku seharusnya hanya siaran 4 jam. Tapi karena alasan liputan, aku diminta berangkat lebih awal oleh teman, ditambah saat itu harus menginap karena bulan Ramadan. Tambahan jam kerja juga saat itu tidak ada kompensasi apa pun. Hari sebelumnya juga dapat siaran [pada jam] sahur,” ujar Lia.

Meski masih bekerja di bidang broadcasting, Lia mengaku sejak pindah ke tempat baru, dirinya hampir tak pernah sakit. Masalah asam lambung yang dulu ia derita pun juga tak pernah kambuh lagi.

Hal sebaliknya dialami Ines Dewi (28). Ia merasa lebih nyaman di tempat kerja sebelumnya. Ines menyampaikan, di kantor lamanya ia jarang sakit meskipun tekanan kerjanya tinggi. Hubungan antar-karyawan di kantor itu menurutnya sangat baik.


“Kalau kantor yang dulu, [hubungan] antar-karyawan baik. Kalau lagi dalam tekanan tinggi di kerjaan, ada teman ngobrol, teman berbagi. Kalau enggak cerita ke teman, aku jadi kepikiran. Kalau sudah kepikiran, biasanya asam lambung naik. Kalau sudah seperti itu pasti merembet ke mana-mana,” kata Ines.

Di kantornya yang sekarang, hubungan antar-karyawan tak berjalan dengan baik. Bahkan, tak jarang Ines menyelesaikan pekerjaan yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Hal ini membuat dirinya sering bekerja melebihi batas waktu.

“Jadi sering lembur kalau sekarang, sudah gitu kadang hari Minggu juga masih kerja. Kalau sudah seperti ini jadi mudah lelah, kadang kalau udah drop banget sampai harus berobat ke dokter,” tutur Ines.

Lingkungan Kerja Penting untuk Kesehatan


Dimuat USA Today, psikolog Robert Hogan memaparkan hasil penelitiannya dalam konferensi American Psychological Association (APA), bahwa penyebab utama stres adalah manajemen yang buruk.

“Manajer perusahaan yang buruk menyebabkan tingginya biaya kesehatan, yang menjadi sumber kesengsaraan banyak orang,” ujar Hogan.

Rupanya, permasalahan di lingkungan kerja pun tak hanya dapat menyebabkan penyakit jantung. Penelitian yang dilakukan oleh Giovanni Costa berjudul “Shift Work and Health: Current Problems and Preventive Actions” (pdf), menemukan bahwa pekerjaan dengan sistem shift menimbulkan berbagai masalah kesehatan pada karyawan.

Costa menyebutkan bahwa masalah kesehatan muncul akibat perubahan siklus aktivitas, sehingga berpengaruh terhadap tubuh karyawan.

“Gangguan ritme sirkadian dan kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan kelelahan berlebih yang menimbulkan depresi, gangguan psikologis, serta kecemasan, dan berpengaruh terhadap ketidakhadiran mereka,” tulisnya.

Selain masalah waktu tidur, Giovanni juga menyatakan jika pekerja yang menggunakan pola shift sering mengalami gangguan pencernaan. Mereka memiliki waktu kerja yang tak beraturan, sehingga terjadi perubahan waktu makan yang berpengaruh terhadap fungsi gastrointestinal seperti lambung, cairan empedu, dan pankreas.

Inilah yang dialami Alifiana (23). Dia mengatakan sering mengalami gangguan tidur akibat lembur kala dikejar deadline pekerjaan di perusahaan ekspor-impor tempatnya bekerja. “Kalau lagi banyak pekerjaan, sering lembur, jadi gampang lelah, sudah tidur juga,” katanya.

Alifiana juga mengatakan, akibat waktu kerjanya yang tak beraturan itu, dirinya juga sering mengalami pusing dan asam lambungnya meningkat. Waktu lembur mengacaukan pola makannya, sehingga masalah-masalah itu muncul.


Senada dengan yang diungkapkan oleh Costa, Maria Ines Berniell (pdf) juga menemukan hal serupa dalam studinya yang berjudul “The Effect of Working Hours on Health Status and Health Behaviors”. Dalam penelitian itu, Berniell menyampaikan bahwa waktu kerja berdampak terhadap kesehatan karyawan.

“Orang yang memiliki waktu kerja berlebihan memiliki risiko terkena berbagai macam penyakit kronis, termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, kanker, dan depresi,” tulis Berniell. Penyakit kronis tersebut, menurut Berniell, disebabkan karyawan yang memiliki jam kerja berlebih cenderung tak banyak melakukan aktivitas fisik.



Jika Anda Atasan, Jadilah Pemimpin yang Baik


Sebuah studi berjudul “Managerial Leadership and Ischaemic Heart Disease Among Employees: the Swedish WOLF study” (pdf), yang dilakukan oleh A. Nyberg, dkk menunjukkan adanya hubungan antara kepemimpinan manajerial di perusahaan dengan risiko mengalami penyakit kardiovaskular.

Nyberg menjabarkan bahwa risiko penyakit kardiovaskular menghantui 50 persen karyawan yang memiliki tempat kerja dengan tingkat stres tinggi.

“Perilaku pemimpin perusahaan, struktur kepemimpinan, perilaku transformasional, seluruhnya terkait dengan kesehatan karyawan, kepuasan kerja, dan produktivitas. Selain itu, pemimpin perusahaan yang adil dapat meningkatkan motivasi dan kerjasama antar-karyawan, menurunkan emosi, [...] serta mengurangi risiko jantung koroner,” tulisnya.

Lewat penelitian tersebut, mereka juga menemukan kasus kepemimpinan yang kasar dan pasif berpengaruh terhadap tekanan psikologis pekerja. Ditambah kurangnya dukungan sosial, kondisi itu bisa berimbas pada penyakit kardiovaskular.


Nyberg menunjukkan pemimpin yang baik bagi perusahaan adalah pemimpin yang memberikan informasi terbuka bagi karyawan, mendorong terjadinya perubahan, memiliki komunikasi yang baik dengan karyawan, peduli terhadap karyawan, memberikan kesempatan karyawan untuk melakukan pengembangan diri, memberikan kesempatan karyawan untuk berpartisipasi aktif, dan menerima kritik dari karyawan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nyberg tersebut sejalan dengan studi sebelumnya tentang keadilan pengelolaan kantor dan dukungan sosial. Artinya, penting bagi karyawan untuk merasa diperlakukan secara adil dan mendapatkan dukungan yang baik dari supervisor mereka.

“Dua penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang memiliki tingkat keadilan organisasional tinggi, lebih kecil risikonya untuk terkena penyakit kardiovaskular dan kematian akibat kardiovaskular,” tulis Nyberg.

Selain itu, karyawan yang memiliki supervisor adil juga akan memiliki tekanan darah 15 mmHg lebih rendah dibandingkan dengan karyawan yang mendapatkan perlakuan tidak adil dari perusahaan.

Baca juga artikel terkait KARIER atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight