Kenapa Para Pejabat Terlihat Ingin Mengklaim Kesuksesan Lalu Zohri?

Siswa SMK Kesehatan Citra Medika mengenakan topeng pelari Indonesia Lalu Muhammad Zohri saat menyambut rombongan pembawa api Asian Games, di Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (18/7/2018). ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Oleh: Nindias Nur Khalika - 24 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Video kemenangan Lalu Muhammad Zohri di sebuah perlombaan lari viral di dunia maya. Sejak itu, ada banyak orang yang ingin mengasosiasikan dirinya dengan sang pelari. Para psikolog punya penjelasan yang khas tentang fenomena ini.
tirto.id - Atlet lari Lalu Muhammad Zohri berhasil menorehkan prestasi dengan meraih gelar juara dunia lari 100 meter putra U-20 di Tampere, Finlandia pada Rabu malam (11/07/18) waktu setempat. Ia melewati garis finis dengan catatan waktu 10,18 detik. Zohri pun mengalahkan Anthony Schwartz dan Eric Harrison, dua atlet asal Amerika Serikat, yang menempati peringkat dua dan tiga dengan catatan waktu masing-masing 10,22 detik.

Masyarakat Indonesia turut merayakan keberhasilan Zohri. Sejumlah pejabat bahkan mengomentari prestasi yang diraih atlet asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut. Deputi II Bidang Pengembangan Pemuda Asrorun Niam Sholeh, misalnya, mengatakan “Lalu [adalah] pemuda yang mengharumkan nama bangsa dengan potensi luar biasa.”

Selain itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani ikut berkomentar. “Ini sejarah baru bagi Indonesia sekaligus pertama kali atlet Indonesia meraih emas di Kejuaraan Dunia Atletik U-20,” ujar Menko Puan. Presiden Joko Widodo pun tak tinggal diam. Ia mengaku bangga dengan apa yang diraih Zohri. “Tentu saja kita bangga ada anak bangsa yang jadi juara. Saya kira tidak saya saja, tapi seluruh rakyat Indonesia tentu senang dan bangga,” katanya.

Apresiasi terhadap prestasi Zohri tidak berhenti di situ. Ia disambut dengan kalungan bunga yang diberikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dan Sekjen Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor Tanjung sesampainya di Indonesia pada Selasa (17/07/18). Seperti yang dilaporkan Antara, Zohri juga memenuhi undangan bertandang ke Istana Bogor pada Rabu, (18/07/18) untuk berbincang dengan Presiden Jokowi.

Ketika Zohri pulang kampung ke NTB, warga di sekeliling rumah Zohri tinggal turut berencana menyiapkan sambutan khusus berupa arak-arakan keliling kampung. Menurut Soni Hadi, Kepala Dusun Karang Pansor, Desa Pemenang Barat, sambutan tersebut merupakan bentuk syukur dan penghargaan terhadap prestasi Zohri yang telah membanggakan warga dan kampungnya.


Sampai di sini tampak jelas bagaimana orang-orang, mulai dari pejabat hingga masyarakat desa di mana Zohri tinggal, mengasosiasikan diri mereka dengan sang juara lari. Hubungan itu mereka tunjukkan dengan ucapan, foto, dan video ketika diliput oleh wartawan. Respons positif berupa dukungan dan apresiasi tak henti diucapkan oleh mereka yang bisa jadi tidak punya andil langsung dalam upaya Zohri menjadi juara.

Dalam Ilmu Psikologi Sosial, tindakan ini disebut dengan Basking in Reflected Glory (BIRG). Menurut Encyclopedia of Social Psychology (2007) yang disunting oleh Roy F. Baumeister dan Kathleen D. Vohs, BIRG merujuk pada kecenderungan seseorang mengasosiasikan dirinya dengan orang atau kelompok yang sukses atau kondang. BIRG bisa terjadi ketika hubungan antara satu orang dengan lainnya tidak berarti, seperti yang terjadi pada fans tim tertentu yang terkenal. Tapi, BIRG juga bisa dipraktikkan pada jalinan relasi yang kuat, semisal hubungan orang tua dan anaknya yang berprestasi.

BIRG pertama kali diteliti secara ilmiah oleh tim riset yang diketuai oleh Robert B. Cialdini dari Arizona State University pada pertengahan tahun 1970an. Dalam penelitian tersebut, BIRG dimaknai sebagai kecenderungan seseorang mempublikasikan hubungan dengan orang lain yang sukses padahal dirinya tak berperan apa pun untuk kesuksesan tersebut.

Menurut Cialdini, ada banyak contoh di mana seseorang sengaja memamerkan hubungan yang ia miliki dengan orang atau kelompok yang dinilai sukses. Misalnya mengaitkan wilayah kediamannya dengan daerah yang ditinggali sang pesohor. Di lain kesempatan, orang dapat menunjukkan asosiasi tersebut dengan memasukkan unsur kesamaan etnis atau agama. Misalnya, orang Italia akan bicara dengan bangga soal latar belakang etnis Guglielmo Marconi, penemu radio asal negeri pizza tersebut.

Selain itu, BIRG bisa dipraktikkan karena ada kesamaan bentuk fisik dan identitas sosial. Cialdini dkk juga mengatakan bahwa orang bisa melakukan BIRG dalam kejadian yang murni kebetulan. Misalnya reaksi orang-orang yang senang kala menceritakan dirinya berada satu pesawat atau bioskop dengan seorang bintang film terkenal. Dalam dunia olahraga, BIRG bisa terlihat perilaku suporter yang menunjukkan hubungan mereka dengan tim yang jadi juara dengan kaos, stiker di mobil, spanduk, dan lain sebagainya.



Karena tak pernah ada penelitian eksperimental yang menguak fenomena BIRG, Cialdini dan peneliti lainnya meriset efek BIRG pada tim sepakbola dari tujuh universitas yang ikut dalam pertandingan musim sepakbola tahun 1973. Untuk itu, Cialdini dkk melakukan tiga eksperimen yang masing-masing menghasilkan kesimpulan soal BIRG dalam konteks olahraga.

Dari ketiga eksperimen tersebut, Cialdini dan peneliti lainnya menemukan bahwa efek BIRG sungguh terlihat pada diri seorang suporter yang tak berperan apa pun dalam membuat tim tersebut juara. Eksperimen pertama menunjukkan fenomena BIRG terjadi ketika mahasiswa cenderung mengenakan pakaian dan atribut kampus ketika tim yang didukungnya menang. Efek BIRG tampak ketika mereka sering mengatakan kata “kita” saat menceritakan pertandingan yang dijuarai tim kampusnya pada eksperimen kedua dan ketiga.

Berdasarkan penelitian tersebut, orang mempraktikkan BIRG untuk meningkatkan citra pribadi. Dalam hal ini, sebagaimana ditunjukkan eksperimen dua dan tiga Cialdini dkk, orang cenderung lebih suka melakukan BIRG saat citra dirinya di depan orang banyak sedang terancam.



Para suporter tersebut, di sisi lain, mengambil jarak dengan tidak mengenakan pakaian atau atribut kampus ketika tim sepak bola kampusnya kalah. Ketika tim kampusnya gagal jadi juara, mereka mengganti kata “kita” dengan "mereka". Fenomena ini disebut Cutting Off Reflected Failure (CORF) yang tak lain adalah kebalikan dari efek BIRG.

Menurut Aharon Bizman dan Yoel Yinon dalam “Engaging in Distancing Tactics Among Sport Fans: Effects on Self-Esteem and Emotional Responses" (2010), proses CORF merujuk pada kecenderungan orang untuk menjauhkan diri dari orang atau kelompok yang tak berhasil untuk melindungi citra sosial mereka.

Fenomena ini dibahas dalam penelitian C.R. Snyder dkk yang berjudul “Distancing After Group Success and Failure: Basking in Reflected Glory and Cutting Off Reflefted Failure” (1986). Dalam penelitian tersebut, dibandingkan dengan anggota yang memperoleh respons lebih positif atau tidak mendapat respons sama sekali, anggota kelompok yang dinilai punya banyak kekurangan memilih untuk tidak tampil. Mereka juga tak antusias menggunakan tanda pengenal kelompok.


Bizman dan Yinon mengatakan efek BIRG dan CORF sebelumnya dibahas dalam kerangka teori keseimbangan yang dikembangkan psikolog Fritz Heider (1958). Teori tersebut menjelaskan apabila relasi antara dua objek adalah positif maka pengamat akan menganggap keduanya adalah sama. Walhasil, ketika seseorang mengaitkan dirinya dengan kelompok atau orang tertentu, ia mungkin akan mengevaluasi baik-tidaknya grup atau sosok tersebut.

Jika penilaiannya baik, ia akan menghubung-hubungkan dirinya dengan sosok atau kelompok tersebut. Hal yang sebaliknya terjadi jika evaluasi terhadap keduanya buruk.

Baca juga artikel terkait GELAR JUARA DUNIA atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Windu Jusuf
DarkLight