Menuju konten utama

Kemenkeu: Digitalisasi Buat Transaksi UMKM Semakin Mudah

Sri Mulyani mengatakan, digitalisasi akan membuat transaksi UMKM lebih mudah dilakukan dan memungkinkan mereka untuk mengakses pasar baru.

Kemenkeu: Digitalisasi Buat Transaksi UMKM Semakin Mudah
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan keterangan usai penandatanganan Deklarasi Bali Asia Initiative disela pelaksanaan 3rd Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) dan Finance and Central Bank Deputies (FCBD) G20 di Nusa Dua, Badung, Bali, Kamis (14/7/2022). ANTARA FOTO/POOL/Fikri Yusuf/rwa.

tirto.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat sebanyak 17,2 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah terdigitalisasi sampai dengan Januari 2022. Capaian ini seiring dengan penyebaran pandemi COVID-19 yang memicu terjadinya transformasi digital.

“Kami percaya bahwa digitalisasi akan membuat transaksi UMKM lebih mudah dilakukan, memungkinkan mereka untuk mengakses pasar baru, dan juga memungkinkan UMKM untuk menjalankan bisnis mereka dengan lebih efisien,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam Konferensi Keuangan Islam Tahunan ke-6, secara daring ditulis Kamis (13/10/2022).

Pemerintah sendiri menargetkan sebanyak 40 juta UMKM telah terdigitalisasi pada 2024 yang didorong oleh pembiayaan pembangunan satelit Palapa Ring dan Based Transceiver Station (BTS) untuk menghubungkan internet di 20 ribu desa di Indonesia.

Selain pemerintah pusat, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pemerintah daerah, dan pelaku usaha swasta besar juga turut meningkatkan kapasitas UMKM dan mendorong mereka melakukan digitalisasi.

“Dukungan pemerintah tentunya tidak akan cukup untuk mendukung dan memberdayakan UMKM, maka kita perlu juga menyusun strategi dan meningkatkan sinergi dan koordinasi dengan sektor publik, akademisi, dan sektor swasta,” jelas Sri Mulyani.

Peluang digitalisasi bisnis tersebut rupanya dimanfaatkan oleh Hermesien Closet dalam menjaring konsumen dari golongan sosialita, artis dan para sultan-sultan yang mulai ramai belakangan ini. Hermesien Closet sendiri menawarkan produk-produk branded seperti Hermes, Chanel, Christian Dior, Louis Vuitton, Balenciaga, Gucci, Fendi dan brand-brand ternama lainnya.

Owner Hermesien Closet, Angela mengatakan, awalnya berjualan di media sosial Facebook (FB) sekitar tahun 2007-2008 setelah melihat toko-toko yang berjualan produk-produk fashion seperti piyama dan tas-tas wanita.

“Auntentic Branded Bags merupakan brand pertama yang saya gunakan dalam menjual produk-produk branded secara online (media sosial-FB),” kata lulusan kedokteran ini disiaran persnya.

Dalam meningkatkan penjualan produk-produk branded-nya, Hermesien Closet menggunakan jaringan media sosial seperti Instagram dengan nama akun @HermesienCloset. Saat ini, akun tersebut memiliki sekitar 518.000 pengikut baik lokal maupun mancanegara.

“Media sosial berperan penting dalam pemasaran bisnis tas branded bekas seperti. Penjual tas branded bekas dapat memasarkan tas branded bekas dengan mudah, cepat, dan murah ke calon pembeli melalui media sosial,” paparnya.

Tak hanya toko online saja, Angela menargetkan akan membuat toko online dengan aplikasi mobile untuk mempermudah penjualan.

“Harapan kedepan, berencana membuat aplikasi mobile (e-commerce) yang mudah di akses konsumen dalam mencari produk-produk branded di Hermesien Closet,” tutup Angela.

Baca juga artikel terkait DIGITALISASI UMKM atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang