Menuju konten utama

Kemenkes: Kasus Omicron RI Lampaui Puncak Delta, BOR Masih Rendah

Kasus COVID-19 Omicron telah melampaui varian Delta. Namun, saat ini angka keterisian rumah sakit atau BOR masih rendah.

Kemenkes: Kasus Omicron RI Lampaui Puncak Delta, BOR Masih Rendah
Ilustrasi Siti Nadia Tarmizi. tirto.id/Sabit

tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi kasus positif COVID-19 varian Omicron di Indonesia telah melampaui saat puncak varian Delta sebelumnya. Meski demikian, tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy ratio (BOR) masih rendah. Keadaan ini berbanding terbalik saat varian Delta melonjak di Tanah Air pada Juli 2021 lalu.

Juru Bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan pasien yang dirawat di rumah sakit terkendali secara nasional. Saat ini angka pasien yang dirawat sebesar 33 persen. Sedangkan tempat tidur di rumah sakit terus ditambah dari 88.485 menjadi 91.018.

"Sejauh ini tempat tidur isolasi dan ICU di rumah sakit untuk pasien masih memadai. Belum ada daerah dengan tempat tidur dan perawatan intensifnya di angka 60 persen di Indonesia," ujar Nadia melalui keterangan tertulis sebagaimana dilansir dari Antara pada Rabu (16/2/2022).

Di DKI Jakarta, kata Nadia, dari 15.313 tempat tidur isolasi yang disediakan baru terisi 54,9 persen. Begitu juga dengan tempat tidur ICU yang tersedia 921, baru terisi 44,1 persen. Berbeda halnya dengan kondisi Delta, di mana DKI merawat pasien sebanyak 18.824.

Nadia mengingatkan pasien tanpa gejala dan gejala ringan tak perlu dirujuk ke rumah sakit. Pasien tersebut bisa melakukan isolasi mandiri atau isolasi terpusat. Kebijakan ini diambil demi menyelamatkan pasien yang bergejala berat hingga kritis.

"Mari kita bantu saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit karena memiliki gejala sedang, berat, kritis, dan memiliki komorbid,” tuturnya.

Nadia memaparkan, dari 20.920 pasien di rumah sakit, 4.037 di antaranya OTG dan 9.665 bergejala ringan. Itu adalah data per 13 Februari 2022. Artinya, kata dia, 65,49 persen dari pasien seharusnya bisa isolasi mandiri atau isolasi terpusat ketimbang harus dirujuk ke rumah sakit.

"Layanan telemedisin dan pengantaran obat bagi pasien isoman sudah jauh lebih baik dan lebih siap melayani pasien sejak kita melakukan percepatan pelayanan 29 Januari 2022 lalu," terangnya.

Sementara dari 130.346 pasien yang menghubungi layanan telemedisin, 97 persen sudah berkonsultasi jarak jauh dengan dokter atau tenaga kesehatan dan menerima resep elektronik. Lalu 85 persen di antaranya sudah menerima paket obat gratis dari Kemenkes di hari yang sama atau H+1.

Sisanya H+2 sebanyak 14 persen, dan H+3 sebanyak satu persen. Kemenkes, ujar dia, akan terus memperbaiki kinerja untuk meningkatkan pengiriman obat hingga maksimal pasien menerima obat H+1.

Kendati demikian, Nadia mengungkapkan masih sedikit pasien isolasi mandiri yang memanfaatkan layanan telemedisin gratis. Sejak 17 Januari hingga 13 Februari 2022, hanya 38 persen pasien yang memanfaatkan layanan telemedisin dari total kasus konfirmasi 346,930.

"Sekali lagi kami mengimbau agar pasien OTG dan bergejala ringan segera memanfaatkan layanan telemedisin maupun isolasi terpusat yang akan dilayani oleh tenaga medis kita,” pungkas Nadia.

Baca juga artikel terkait KASUS OMICRON DI INDONESIA

tirto.id - Kesehatan
Sumber: Antara
Editor: Fahreza Rizky