Menuju konten utama
Ekosistem Haji 2026

Kemenhaj Dorong Ekspor Produk UMKM ke Ekosistem Haji 2026

Ditjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji bertanggung jawab yang besar untuk mendorong UMKM terlibat dalam ekosistem haji 2026.

Kemenhaj Dorong Ekspor Produk UMKM ke Ekosistem Haji 2026
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, saat ditemui di sela-sela Diklat PPIH Arab Saudi 2026, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (27/1/2026).Tim MCH 2026/Abdul Aziz

tirto.id - Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi (PEE) Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Jaenal Effendi, mengatakan, perputaran uang dalam pelaksanaan ibadah haji 2026 mencapai lebih dari Rp18 triliun. Kemenhaj berharap, dana tersebut tidak hanya masuk ke Arab Saudi, tapi juga mengucur ke Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM).

"Harapannya ke depan ini bisa mengucur sebagian ke masyarakat Indonesia melalui UMKM yang ada, yang kami kasih kesempatan untuk bisa melakukan ekspor ke Saudi," kata Jaenal di sela-sela Diklat PPIH Arab Saudi 2026, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (27/1/2026).

Jaenal menambahkan, selama ini yang menikmati potensi ekosistem ekonomi haji justru negara lain, seperti Thailand, Filipina, bahkan Malaysia. Menurut dia, Ditjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji ini punya tanggung jawab yang besar untuk mendorong UMKM terlibat dalam ekosistem ini.

Karena itu, kata Jaenal, sejumlah produk yang sudah jalan selama ini akan dimaksimalkan. Salah satunya aneka bumbu cita rasa Indonesia. Pada musim haji tahun ini, ada 22 jenis bumbu yang akan diekspor.

Selain itu, kata Jaenal, pemerintah juga akan mengekspor makanan cepat saji atau ready to eat (RTE) yang akan diberikan kepada jemaah selama puncak haji atau Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

"Kebetulan kami juga sudah melakukan terkait dengan penyiapan bumbu 22 item dan RTE ini untuk kita lakukan test food," kata dia.

Jaenal mengatakan, musim haji tahun ini terdapat 10 supplier penyedia untuk RTE dan 10 perusahaan di bumbu.

"Mereka memiliki kualifikasi untuk melakukan ekspor ke Saudi dari SFDA, otoritas BIPOM-nya Saudi. Lalu, kami adakan test food dan cita rasanya sudah Indonesia semua," kata dia.

Di sisi lain, kata Jaenal, Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf, meminta Ditjen Ekosistem Ekonomi untuk melakukan identifikasi atau pemetaan produk-produk yang bisa dijadikan oleh-oleh.

"Ini kami lagi mengembangkan platform, platform oleh-oleh haji, yang ini jemaah belum sampai ke rumah, barang-barang ini sudah sampai ke rumah mereka," ucap Jaenal.

Ia mencontohkan kurma di Lombok Utara, NTB. Menurut Jaenal, kurma Lombok memiliki nutrisi yang baik. "Ternyata nomor 7 terbaik dunia ya, dari nutrisinya, dari kandungannya. Namun nanti ini yang perlu kita masifkan lagi jumlah produktivitasnya yang harus dikembangkan, termasuk di Pasuruan kemarin," kata Jaenal.

Jaenal juga mencontohkan tasbih. Menurut dia, pelaku UMKM yang banyak memproduksi tasbih dan dijual di Arab Saudi berasal dari Jepara.

"Ini, kan, beberapa potensi yang ini bisa kita kembangkan. (Dan) ini menjadi tugasnya di Ditjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji," kata dia.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama