Periksa Fakta

Kejanggalan-Kejanggalan dalam 'Film Dokumenter' "Plandemic"

Oleh: Irma Garnesia - 15 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
Mikki Willis mengakui bahwa ia sendiri tidak yakin akan kebenaran dari klaim utama dalam video "Plandemic" yang ia buat.
tirto.id - Dalam beberapa waktu terakhir, sebuah video berjudul "Plandemic: The Hidden Agenda Behind Covid-19" tersebar luas di media sosial dan telah ditonton ratusan ribu kali. Video berdurasi 26 menit ini bahkan telah dihapus berkali-kali oleh YouTube, namun selalu muncul kembali.

Video ini menceritakan dugaan konspirasi mengenai tipuan yang dilakukan saintis dan politisi tentang sistem kesehatan masyarakat dan industri farmasi. Video ini juga berisi strategi yang dilakukan Dr. Anthony Fauci untuk memerangi epidemi AIDS pada 1980 dan upaya yang dilakukan Bill Gates untuk mendorong vaksinasi di seluruh dunia.

Salah satu akun Facebook yang membagikan video "Plandemic" ini adalah akun Cerdas Geopolitik (arsip). Akun ini membagikannya pada 8 Mei lalu dan telah disaksikan hingga 116 ribu kali. Hingga tulisan ini dibuat, video ini telah dibagikan sebanyak empat ribu kali dan mendapat reaksi dari 3,4 ribu orang.

"Plandemic" diproduksi oleh Elevate, sebuah rumah produksi di California yang dijalankan oleh Mikki Willis. Ia merupakan influencer yang kerap mengunggah teori-teori konspirasi melalui akun YouTube miliknya. Dalam sebuah video, misalnya, putra Willis mengatakan bahwa bahwa Jeffrey Epstein, pengusaha kaya yang juga terdakwa perdagangan seks, tidak melakukan bunuh diri (arsip).

Video lain oleh Willis, sementara itu, menerangkan bahwa virus Corona memang sengaja diciptakan (arsip). Willis sendiri memiliki 32,6 ribu pengikut di YouTube. "Plandemic" sendiri didaku sebagai sebuah film dokumenter.

Periksa Fakta Film Plandemic
Periksa Fakta Film Plandemic. (Screnshoot/Plandemic)



Siapa Judy Mikovits?

"Plandemic" berisi wawancara dengan Judy Mikovits, mantan peneliti yang pernah bekerja di The National Cancer Institute (NCI), Amerika Serikat. Mikovits merupakan peneliti yang berfokus pada sindrom kekelahan kronis pada tahun 2000-an.

Jurnal Science pernah mempublikasikan studi tahun 2009 milik Mikovits terkait hubungan antara Retrovirus dengan sindrom kelelahan kronis. Namun, publikasi itu ditarik kembali pada 2011 karena karena beberapa bagian dari penemuan tersebut dinyatakan tidak valid.

Dalam "Plandemic," Mikovits mengajukan sejumlah tuduhan terhadap Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), Dr. Anthony Fauci. Mikovits bahkan menulis buku berjudul Plague of Corruption yang menggaris bawahi bagaimana Anthony Fauci menyabotase risetnya untuk menutupi penyebab kanker yang sebenarnya .

Pada 2011, Mikovits dipecat dari posisinya sebagai Direktur Riset di Whittemore Peterson Institute di Nevada dan ditahan selama dua bulan karena mencuri laptop, notebook, flashdisk, dan properti lainnya. Mikovits juga menuduh NIAID membayar investigator atas suruhan Anthony Fauci untuk "menanamkan" notebook yang dicuri tersebut di rumahnya.

Tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut. Politifact, lembaga pemeriksa fakta di Amerika, telah menghubungi NIAID untuk klatifikasi. Juru bicara NIAID pun mengungkapkan, “NIAID difokuskan pada penelitian yang bertujuan mengakhiri pandemi COVID-19 dan mencegah kematian yang lebih banyak. Kami tidak terlibat dalam taktik yang melibatkan beberapa orang yang berusaha menggagalkan upaya kami."

Mikovits sempat dipenjara di California atas tuduhan kriminal. Namun, pada 11 Juni 2012, kantor kejaksaan setempat mengajukan petisi untuk memutus dakwaan terhadap Mikovits. Sementara dalam dokumenter tersebut, Mikovits mengklaim dirinya ditahan tanpa sanksi kriminal yang jelas.

Kemudian, perempuan itu juga menulis Plague of Corruption dengan aktivis anti vaksin, Kent Heckenlively, dan pengantar dari vaksin skeptis Robert Kennedy Jr.,. Sementara pada video, Mikovits mengklaim dirinya bukan anti vaksin.


Klaim-klaim "Plandemic" Terkait COVID-19

Dalam "Plandemic," Mikovits menyampaikan beberapa klaim terkait virus Corona. Pertama, bahwa virus ini dimanipulasi. Namun, artikel Nature pada 17 Maret 2020 menuliskan bahwa susunan genetik dari virus Corona baru SARS-CoV-2 tidak memiliki indikasi diubah.

Artikel ini berisi pendapat sejumlah peneliti dari beberapa organisasi kesehatan. Para ilmuwan tersebut memiliki dua penjelasan terkait asal usul virus ini: seleksi alam pada inang hewan; atau seleksi alam pada manusia setelah virus menginfeksi.

Klaim selanjutnya adalah virus corona berasal dari SARS1 setelah 10 tahun, dan virus ini tidak tercipta secara natural. SARS-CoV-2 atau novel coronavirus (2019-nCoV) penyebab COVID-19 memang mirip dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dalam beberapa aspek. Keduanya adalah virus yang dapat menyebabkan penyakit pernapasan dan menyebar melalui batuk dan bersin.

Namun, dilansir dari jurnal The Lancet, menurut para peneliti virus ini hanya memiliki 79% kesamaan genetik dengan SARS-CoV penyebab SARS. Dalam artikel akademis tersebut juga disebutkan bahwa virus ini memiliki kemiripan identitas sekuensial hingga 88 persen dengan virus SARS yang ditemukan pada dua kelelawar pada 2018 di Zhoushan, Cina bagian Selatan.

Kemudian, Mikovits mengatakan bahwa rumah sakit mendapat 13 ribu USD dari pemerintah AS jika menyebut pasien meninggal karena COVID-19. Politifact pernah memeriksa klaim sejenis dengan judul “Hospitals get paid more to list patients as COVID-19."

Dalam pemeriksaan fakta Politifact, pemerintah federal AS memang memberikan lebih banyak dana ke rumah sakit yang merawat pasien corona. Pemerintah menetapkan biaya USD 13 ribu jika rumah sakit merawat pasien COVID, dan memberi USD 39 ribu jika pasien menggunakan ventilator. Tetapi, tidak ada indikasi bahwa rumah sakit kemudian secara sembarangan mengidentifikasi pasien sebagai pasien COVID-19.

Di sisi lain, pemerintah federal juga membayar sejumlah perawatan untuk diagnosis tertentu, terlepas dari pasien tersebut teridentifikasi COVID atau belum.


Lebih lanjut, Mikovits juga menyampaikan hydroxychloroquine efektif melawan virus yang termasuk dalam ‘keluarga Corona’. Sayangnya, belum ada bukti yang kuat untuk klaim ini. Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat juga menyatakan bahwa belum ada obat atau terapi tertentu untuk mencegah atau menyembuhkan COVID-19. Manajemen klinis yang dianjurkan CDC saat ini termasuk pencegahan infeksi dan perawatan intensif; seperti tambahan oksigen atau ventilator untuk membantu pasien.

Penelitian terbaru yang dilakukan di New York, AS, terhadap 1.400 pasien dengan kasus moderat ke parah COVID-19 juga menemukan bahwa pasien tak mengalami perbaikan kondisi pasca mengonsumsi hydroxychloroquine.

Klaim selanjutnya adalah vaksin flu meningkatkan risiko terkena COVID-19 sebanyak 36 persen. Dalam "Plandemic," Mikovits merujuk pada sebuah studi yang belum peer-reviewed.

Catatan penting, penelitian tersebut dilakukan pada periode 2017-2018 terhadap personil U.S. Defense Department. Penelitian itu mengajukan teori bahwa "menerima vaksin influenza dapat menaikkan risiko terpapar virus terkait pernapasan lainnya, sebuah fenomena yang disebut virus interference (interferensi virus)."

Dari sejumlah poin dalam studi tersebut, ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Pertama, klaim pada video "Plandemic" tidak sesuai dengan klaim dalam studi. Selain itu, penelitian yang dilakukan Greg G. Wolff itu juga dilakukan sebelum pandemi COVID-19.


Kedua, mengutip pemeriksaan fakta oleh healthfeedback.org, peneliti senior di Singapore Immunology Network Angeline Rouers menyoroti fakta bahwa studi Wolff itu sendiri menyatakan bahwa “personel yang divaksinasi tidak memiliki peluang yang signifikan terhadap penyakit pernapasan." Rouers kemudian menambahkan bahwa fenomena virus interference ini sendiri masih kontroversial di dunia medis.

Lebih lanjut, ahli epidemiologi penyakit menular di Marshfield Clinic Research Institute Edward Belongia, dikutip dari pemeriksaan fakta oleh factcheck.org, mengatakan bahwa sejumlah studi terkait virus interference menunjukkan hasil yang beragam.

Dua poin di atas menunjukkan bahwa studi Wolff dalam video "Plandemic" dapat dikatakan telah dikutip di luar konteks.

Terakhir, "Plandemic" juga memaparkan testimoni dari dokter bahwa menggunakan masker malah mengaktifkan virus dan menurunkan sistem imun. Tidak ada bukti yang mendukung klaim ini. CDC menyarankan siapa saja yang keluar rumah untuk menggunakan masker karena masa inkubasi SARS-CoV-2 diprediksi mencapai 14 hari hingga orang yang terpapar menunjukkan gejala. Imbauan ini dibuat agar mereka yang telah terinfeksi virus itu tidak berpotensi menyebarkan virus kepada orang lain.

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa video "Plandemic: The Hidden Agenda Behind Covid-19" berisi beberapa informasi yang sifatnya salah dan menyesatkan (false & misleading).

Selain itu, artikel menarik dari ProPublica yang berisikan wawancara Marshall Alen, seorang jurnalis investigatif, terhadap Judy Mikovits dan sang pembuat video Mikki Willis patut untuk diperhatikan. Dalam artikel tersebut, Mikovits mengakui bahwa terdapat beberapa hal tidak tepat yang ia sebutkan dalam "Plandemic" terkait kasus pencurian yang melibatkannya.

Lebih lanjut, Willis mengakui bahwa ia sendiri tidak yakin akan kebenaran dari klaim utama dalam video "Plandemic" yang ia buat. Apa klaim utama tersebut? Adanya elit global yang merancang pandemi COVID-19 dan pandemi ini dibuat agar mereka mampu meraih kekayaan dengan memproduksi vaksin. "Kita sedang berada dalam masa eksplorasi ... I have no idea (Saya tidak tahu)," sebut Willis.


Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight