Keguguran Saat Kehamilan, Kenali Gejala dan Penyebabnya

Oleh: Yulaika Ramadhani - 6 November 2018
Dibaca Normal 1 menit
Mengalami keguguran tidak selalu berarti Anda memiliki masalah kesuburan.
tirto.id - Peristiwa kehilangan anak tentu merupakan hal traumatis yang tidak pernah diharapkan oleh para orangtua. Termasuk orangtua yang tidak pernah berkesempatan untuk bertemu dengan calon bayinya sekalipun.

Keguguran mendatangkan efek psikologis dan fisik yang tidak bisa disepelekan, tidak hanya bagi perempuan, tetapi juga bagi suami yang menyaksikan kegagalan hidup bayi yang sempat dikandung pasangannya.

Sebagaimana dilansir dari Web MD, keguguran adalah hilangnya janin sebelum minggu ke-20 kehamilan. Lebih dari 80% keguguran terjadi dalam tiga bulan pertama kehamilan.

Masih dari sumber yang sama, gejala keguguran meliputi pendarahan yang berkembang dari ringan ke berat, kram yang parah, sakit perut, demam, kelemahan, dan sakit punggung.

Mengalami keguguran tidak selalu berarti Anda memiliki masalah kesuburan. Di sisi lain, sekitar 1% -2% wanita mungkin mengalami keguguran berulang (tiga atau lebih). Beberapa peneliti percaya ini terkait dengan respon autoimun. Kebanyakan keguguran terjadi ketika bayi yang belum lahir memiliki masalah genetik yang fatal.

Penyebab keguguran lainnya adalah infeksi, kondisi medis pada ibu, seperti diabetes atau penyakit tiroid, masalah hormon, tanggapan sistem kekebalan, masalah fisik pada ibu, atau juga kelainan uterus

Seorang wanita memiliki risiko keguguran lebih tinggi ketika ia hamil di usia lebih dari 35 tahun, memiliki penyakit tertentu, seperti diabetes atau masalah tiroid, atau telah mengalami tiga atau lebih keguguran.

Terkait keguguran, dr. Febriansyah Darus, SpOG menyampaikan bahwa rasa mual saat hamil dapat mengurangi risiko keguguran janin.

"Ibu hamil yang alami rasa mual memiliki risiko keguguran yang rendah, karena produksi hormon progesteron untuk bakal bayi sangat banyak," ujar Febriansyah dilansir Antara.

Pada saat masa kehamilan, hormon ibu mengalami perubahan dan membuat otot-otot perut melemah sehingga kondisi perut lebih mudah menjadi asam dan menyebabkan rasa mual.

"Hormon progesteron adalah salah satu hormon yang mengalami perubahan, karena jumlah produksinya meningkat, namun ini menyebabkan janin menjadi kuat," papar Febriansyah.

Untuk mencegah keguguran, biasanya dokter dapat merekomendasikan pengobatan dengan progesteron, hormon yang diperlukan untuk implantasi dan dukungan awal kehamilan di rahim.

Selain itu, penting juga untuk meluangkan waktu untuk menyembuhkan baik secara fisik maupun emosional setelah keguguran.

PTSD (post-traumatic stress disorder) sangat mungkin terjadi setelah ia mengalami keguguran. Ada sejumlah gejala gangguan mental ini yang umumnya ditemukan pada mereka. Depresi dan cemas berkepanjangan adalah dua hal yang paling menonjol menurut Emma Robertson Blackmore, Ph.D., profesor Psikiatri dari University of Rochester Medical Center. Bahkan setelah berhasil memiliki anak beberapa waktu pasca-keguguran, mereka bisa saja mengalami depresi seusai melahirkan.

Di atas segalanya, jangan salahkan diri Anda karena keguguran. Konseling tersedia untuk membantu Anda mengatasi kehilangan Anda.

Baca juga artikel terkait KEGUGURAN atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani