STOP PRESS! BMKG Cabut Peringatan Dini Tsunami Pukul 02.30 WIB

Keengganan Vaksinasi Membuat Difteri Merebak di Jawa Timur

Keengganan Vaksinasi Membuat Difteri Merebak di Jawa Timur
Petugas medis Puskesmas Ulee Kareng memberikan imunisasi pencegahan campak, difteri dan tetanus kepada pelajar pada progran Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di SD Negeri 42 Lamteh, Banda Aceh, Aceh, Selasa (22/11). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra.
Sumber: antara
07 Desember, 2017 dibaca normal 1 menit
Agus menyatakan, melalui program vaksinasi yang dicanangkan pemerintah dapat mencegah penyebaran kasus difteri di Jawa Timur.
tirto.id - Ketua Forum Pers RSUD dr Soetomo, dr Agus Harianto SpA(K) mengatakan, merebaknya kasus difteri di Jawa Timur karena banyak masyarakat yang enggan melakukan vaksinasi dan beranggapan bahwa vaksinasi hukumnya haram.

“Jatim tertinggi karena banyak yang tidak mau divaksinasi. Bahkan ada yang mengharamkan vaksinasi, itu tidak betul,” kata Agus, di Surabaya, Kamis (7/12/2017).

Agus menyatakan, melalui program vaksinasi yang dicanangkan pemerintah dapat mencegah penyebaran kasus difteri di Jawa Timur.

Menurut dia, daerah Tapal Kuda yang meliputi Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi menjadi daerah yang paling banyak tidak ingin diberi vaksinasi penyakit yang menyerang anak-anak usia 1-10 tahun ini.

“Daerah Tapal Kuda itu yang banyak [tidak ingin vaksinasi]. Seharusnya, kartu vaksinasi ini kan harus dimiliki setiap anak,” kata dia.

Agus menjelaskan, gejala penyakit difteri sendiri ada dua yang penting, yakni tempat infeksi dan racun. Tempat infeksi sendiri yang paling sering di tenggorokan dan kulit. Yang paling berbahaya di daerah tenggorokan karena bisa menyebabkan penyumbatan saluran pernapasan yang membahayakan pasien.

“Itu bisa meracuni jantung dan kematian itu karena kelainan pada jantung. Oleh karena itu, perlu dilakukan isolasi pada pasien. Kalaupun sembuh pun pasien tidak boleh olahraga dua-10 minggu,” kata dia.

Agus yang juga dokter spesialis anak ini meminta pemerintah, dalam hal ini dinas terkait aktif melakukan sosialisasi pentingnya vaksinasi. Bahkan bila perlu di lingkup sekolah apabila terdapat anak yang tidak punya kartu vaksinasi maka wajib dirujuk ke puskesmas untuk dilakukan vaksin.

“Kita imbau semua anak-anak yang masuk sekolah punya kartu vaksinasi. Agar penyakit difteri tidak terjangkit di Indonesia. Sebenarnya bisa nol kan asal masyarakat bersedia lakukan vaksinasi,” kata dia.

Baca juga artikel terkait DIFTERI atau tulisan menarik lainnya Abdul Aziz
(tirto.id - abd/abd)

Keyword