Menuju konten utama

Ini Dia Kebiasaan yang Bikin Kemampuan Otak Menurun!

Kalau kamu masih sayang dengan otakmu, yuk mulai kurangi kebiasaan nyetir terlalu lama, googling topik remeh-temeh, atau mendengarkan musik keras-keras!

Ini Dia Kebiasaan yang Bikin Kemampuan Otak Menurun!
Header Diajeng Kemampuan Otak menurun. tirto.id/Quita

tirto.id - Ibarat prosesor pada komputer, otak kita punya kapasitas tertentu.

Pada usia senja, kemampuan otakmu, termasuk yang terkait kognisi atau daya pikir, akan menurun. Meski begitu, penurunan tersebut bisa saja terjadi lebih cepat gara-gara kebiasaan sepele yang kamu lakukan, mengemudi kendaraan misalnya.

Kishan Bakrania, ahli epidemiologi medis University of Leicester, pernah meneliti efek mengemudi bagi kesehatan tubuh kita. Hasilnya, menyetir kendaraan selama dua sampai tiga jam setiap hari berdampak buruk bagi hati, bahkan organ tubuh vital lain.

Dilansir dari The Independent pada 2017, tim peneliti Bakrania melibatkan 500 ribu partisipan warga Inggris dengan rentang usia 37-73 tahun dan frekuensi mengemudi variatif—dari yang setiap hari menyetir berjam-jam sampai yang tidak sama sekali.

Setiap peserta mengikuti tes kecerdasan dan ingatan yang konsisten diselenggarakan selama lima tahun—rentang waktu yang dianggap cukup untuk menunjukkan penurunan daya kognisi.

Hasilnya, 93 ribu partisipan yang menyetir lebih dari dua hingga tiga jam sehari memiliki kemampuan otak yang lebih rendah di awal riset dan terus menurun. Tingkat penurunannya lebih cepat daripada yang durasi menyetir lebih singkat ataupun yang tak menyetir.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa menyetir lama setiap hari juga berdampak buruk bagi otakmu. Kemungkinan karena pikiran tidak aktif selama melakukan aktivitas tersebut,” kata Bakrania.

Kemampuan kognitif yang berkaitan dengan skor Intelegent Quotient (IQ) seperti diteliti tim Bakrania adalah dampak laten atau terasa dalam jangka waktu yang lama atas gaya hidup sehari-hari.

Header Diajeng Kemampuan Otak menurun

Header Diajeng Kemampuan Otak menurun. foto/istockphoto

Menariknya, menurut peneliti di masa lalu, sejak 1930-an naiknya standar hidup masyarakat dunia berkontribusi terhadap berkembangnya angka rata-rata IQ penduduk global.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, realitanya bergeser. Alih-alih kenaikan skor IQ kian merata ke seluruh wilayah, terutama di negara berkembang dan kawasan miskin, yang muncul justru fenomena penurunan angka rata-rata IQ!

Kecerdasan kolektif umat manusia tercatat turun satu poin dalam 50 tahun terakhir. Gaya hidup yang terlampau modern diduga jadi penyebabnya.

Selain nyetir terlalu lama, penurunan daya kognisi manusia juga bisa turun perlahan akibat nonton TV minimal tiga jam per hari.

Sebagai produk terpopuler pada awal era modern, TV dan efek konsumsinya selama ini sudah jadi objek penelitian yang laris. Temuan riset Bakrania jadi terdengar tak mengejutkan lagi, bukan?

Seiring waktu, ketergantungan kita pada televisi konvensional bergeser pada gawai seperti ponsel pintar, komputer, atau laptop—yang memungkinkan kita mencari tahu segala hal dengan ketukan ujung jari.

Pertanyaannya, apakah ini juga berdampak pada kemampuan kognitif manusia modern?

Menurut studi berjudul “Google Effects on Memory: Cognitive Consequences of Having Information at Our Fingertips” di jurnal Science (2011) oleh tim peneliti pimpinan Betsy Sparrow dari Columbia University, otak yang punya ketergantungan tinggi pada mesin pencari Google berpotensi mengalami perubahan.

Perubahan akibat ketergantungan tinggi pada Google meliputi daya ingat yang menurun dan membuat kita jadi pelupa, sesimpel lupa meletakkan barang. Hal ini terjadi sebagai efek dari memperlakukan mesin pencari seperti Google sebagai sarana untuk mencari segala hal—termasuk yang sebenarnya bisa diingat.

Pendeknya, daya ingat jadi melemah seiring ketergantunganmu pada Google semakin tinggi.

Penurunan kemampuan kognitif bisa juga dipengaruhi oleh multitasking, gaya hidup yang mengglorifikasi kemampuan mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Contoh remehnya menulis laporan kerja sembari menerima instruksi lain via telepon.

Otak manusia pada dasarnya terbatas untuk melakukan multitasking. Tentu ada yang mampu, tapi statistiknya kecil.

David Strayer dan Jason Watson dari University of Utah dalam penelitiannya di Psychonomic Bulletin and Review (2010) mengemukakan, hanya 2,5 persen dari populasi dunia yang mampu mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu—disebut sebagai “supertasker”.

Di luar itu, orang-orang yang tetap melakukan multitasking malah membahayakan otaknya.

Dilansir dari BBC, pada 2005 sekelompok peneliti dari Institute of Psychiatry, University of London menyatakan multitasking dapat memengaruhi tingkat IQ. Pekerja yang perhatiannya terpecah karena surel dan telepon dapat mengalami penurunan IQ hingga 10 poin—setara dengan mereka yang begadang bahkan dua kali lipat daripada mereka yang sedang mengisap mariyuana.

Header Diajeng Kemampuan Otak menurun

Header Diajeng Kemampuan Otak menurun. foto/SItockphto

Selain itu, gaya hidup yang tidak sehat juga terbukti membahayakan otakmu.

Situs NeuroNation menyarankan, hindarilah tidur tak berkualitas atau kurang dari delapan jam sehari. Jaga asupan makan agar seimbang, termasuk membatasi konsumsi garam karena berpotensi bikin darah tinggi sampai defisit kognisi minor pada otak.

Ihwal lain yang dapat menyebabkan penurunan daya kognitifmu adalah kebiasaan menyetel musik dengan volume kencang. Kamu juga tentu terpapar sumber polusi suara di lingkungan sekitar.

Conserve Energy Future menuturkan, sumber suara sehari-hari berasal dari banyak hal: industrialisasi, tata kota buruk, kegiatan sosial, transportasi, aktivitas konstruksi sampai peralatan rumah tangga. Semakin kamu terbiasa dengan itu semua, kamu semakin berpotensi terkena gangguan pendengaran.

Bahkan, menurut penelitian tentang pendengaran dan demensia oleh tim peneliti pimpinan Frank R. Lin yang terbit di jurnal Archives of Neurology (2011), penderita gangguan pendengaran memiliki risiko 30-40 persen lebih tinggi mengalami gangguan kognisi.

Yuk, mulai sekarang bangun awareness lebih tinggi melalui kebiasaan sederhana sehari-hari demi menjaga kinerja otak kita!

* Artikel ini pernah tayang di tirto.idpada 26 Juli 2017. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk keperluan redaksional diajeng.

Baca juga artikel terkait OTAK MANUSIA atau tulisan lainnya dari Akhmad Muawal Hasan

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Suhendra & Sekar Kinasih