Karier Ultra-Panjang Oksana Chusovitina, Sang Bintang Senam

Oleh: Renalto Setiawan - 9 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Atlet senam artistik perempuan biasanya sudah memutuskan pensiun saat usia berusia 20 tahun. Namun, tidak bagi Oksana Chusovitina.
tirto.id - Dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2018 di Doha, Qatar, Simone Biles berhasil meraih empat medali emas. Koleksi medali emas di kejuaraan dunia yang diikutinya pun bertambah menjadi 14 biji. Namun, saat berhasil memastikan meraih medali emas ke-13 dengan menyelesaikan kesempatan terakhir di final nomor vault, Biles ternyata tak terlihat seperti atlet dengan capaian menakjubkan. Bersama Shallon Olsen, seperti seorang anak kecil yang menantikan film kartun favoritnya, ia justru antusias menunggu finalis terakhir nomor vault tampil.

Kedua atlet paling menjanjikan di jagad senam artistik tersebut lantas berteriak, “Ayo Oksana, kamu bisa!”

Oksana Chusovitina, yang ditunggu-tunggu Biles dan Olsen, pun melakukan aksinya. Ia mengambil nafas dalam-dalam, berlari kencang, melakukan lompatan pertama, menyentuh vault, berputar-putar di udara, lalu mendarat dengan sedikit oleng — memaksanya mundur satu langkah sebelum mengangkat kedua tangannya ke udara. Versi dramatisnya digambarkan oleh Emma John dalam sebuah tulisannya di The Guardian.

“Chusovitina menjilat telapak tangannya, dan mulai berlari ke arah papan loncat seperti Tom Cruise yang akan melompat ke arah helikopter. Hanya satu langkah ke belakang yang merusak penampilannya itu; dia berhasil finis di peringkat empat. Tidak buruk untuk seorang atlet berusia 43 tahun.”

Para penonton, juga Biles dan Olsen, kemudian menghujani atlet asal Uzbekiskan tersebut dengan tepuk tangan begitu ia mendarat. Setelah itu, Oksana berjalan mendekati kamera, tersenyum, lalu mengedipkan mata.

Seperti apa yang dikatakan oleh John, posisi empat yang diraih Oksana memang tidak buruk. Malahan prestasinya itu tergolong luar biasa. Total angkanya mencapai 14.300, hanya tertinggal 208 angka dari Alexa Moreno yang berada di peringkat ketiga. Jika ia berhasil mendarat dengan sempurna pada kesempatan terakhirnya itu, bukan tidak mungkin ia akan nangkring di posisi ketiga, membawa pulang medali perunggu kejuaraan dunia.

Lantas, bagaimana bisa Oksana masih bertahan di jajaran elit atlet senam artistik?


Oksana Sang Manusia Super

Ada stereotip menarik menyoal atlet senam artistik perempuan: pendek, kencang, juga muda. Jika merujuk bagaimana atlet senam artistik ditempa, stereotip tersebut tentu dapat dipahami.

Menurut Shami Sivasubramanian dalam sebuah analisisnya di CBS, atlet senam artistik biasanya mulai ditempa saat usianya belum genap lima tahun. Mereka akan berlatih 40 jam dalam seminggu. Dalam latihan tersebut, fleksibilitas tubuh akan dipaksa mencapai batas maksimal, bahkan kadang dipaksa melebihinya. Secara alamiah latihan tersebut juga akan mengganggu pertumbuhan tubuh. Dari situ, atlet senam artistik kemudian cenderung bertubuh pendek dan berotot kencang.

Menyoal usia, karena rutinitas yang melelahkan tersebut, kiprah atlet senam artistik biasanya lebih pendek daripada atlet cabang olahraga lainnya. Masih menurut Shami, atlet senam artistik biasanya sudah pensiun saat usianya baru menginjak 20 tahun. Mary Lou Retton dan Jordyn Wieber, dua atlet berbakat senam artistik pada masa lalu bisa menjadi contoh. Mary Lou Retton, peraih medali emas Olimpiade Los Angeles 1984, pensiun saat usianya baru mencapai 18 tahun. Sedangkan Jordyn Wieber, salah satu kontestan Olimpiade London 2012, pensiun saat usianya baru menginjak 19 tahun.

Berdasarkan analisis tersebut, apa yang berhasil dilakukan oleh Oksana tentu saja di luar nalar sehat.

Oksana melakukan debut di kejuaraan dunia pada 1991 saat masih berusia 16 tahun. Ketika itu, pesenam kelahiran Uzbekistan ini berhasil membawa pulang tiga medali, salah satunya adalah medali emas di nomor floor. Jika mengikuti pola pesenam-pesenam artistik lain, Oksana akan pensiun setelah mengikuti Olimpiadi Atlanta 1996. Namun, pesenam yang pernah memperkuat Uni Soviet ini ternyata masih rutin tampil di Olimpiade hingga Olimpiade Rio 2016. Artinya, saat atlet senam artistik lainnya hanya bisa membayangkan apa yang dilakukan Oksana, ia sudah tampil dalam tujuh gelaran olimpiade.

“Dalam senam, [seorang atlet] biasanya hanya mengikuti satu atau dua olimpiade, tetapi tujuh? Itu gila,” kata Kerri Strug, mantan atlet senam asal Amerika Serikat, peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996, seperti dilansir dari Reuters.

Yang menarik, meski umurnya sudah melampaui batas, Oksana juga masih tetap berusaha tampil kompetitif dalam setiap kejuaraan yang diikutinya. Dan apa yang dilakukannya pada Olimpiade Rio 2016 bisa menjadi bukti.

Saat itu, Oksana ingin mengejar ketertinggalan angka dari Simon Biles. Tak punya pilihan, ia kemudian mencoba melakukan Produnova, sebuak teknik yang dikenal dengan istilah “the vault of death” karena sangat berbahaya untuk dilakukan. Oksana berlari kencang, melompat, kemudian berputar ke depan tiga kali di udara. Sayangnya, Oksana kehabisan waktu dan mendarat tidak sempurna. Produnova-nya gagal, tapi Oksana berhasil selamat dari cedera setelah ia berguling-guling di atas matras.

Bayangkan: seorang atlet berusia 41 tahun melakukan sebuah trik yang bisa berakibat kematian dalam sebuah kejuaraan yang nyaris mustahil untuk dimenangkan.


Alasan Oksana untuk Tetap Bertahan

Dalam sebuah wawancara pada tahun 2001 lalu, International Gymnast pernah bertanya kepada Oksana: “Apa reaksimu ketika orang-orang takjub kamu masih berkompetisi padahal baru melahirkan?"

"Aku akan bilang terima kasih. Kuanggap itu pujian. Artinya aku dalam kondisi yang baik, dan dapat menjaga diri dengan sama baiknya," jawab Oksana.

Infografik Oksana chuso vitina


Satu tahun setelah wawancara tersebut, Oksana, yang saat itu masih berusia 27 tahun, sudah ancang-ancang pensiun dari dunia senam artistik yang membesarkannya. Pikirnya, dia sudah terlalu tua dan ingin fokus terhadap keluarga kecilnya. Namun, akhirnya dia urung pensiun justru karena kemalangan menimpa keluarganya: Alisher Kupranov, anaknya yang masih berusia 3 tahun, menderita leukemia.

Karena Uzbekistan tidak memiliki fasilitas untuk mengobati penyakit Alisher, Oksana lalu pindah ke Jerman. Meski sudah dibantu oleh komunitas senam, biaya pengobatan Alisher ternyata kelewat besar. Tak punya pilihan, ia pun tetap memilih berkompetisi dengan bendera Jerman.

“Jika aku tidak berkompetisi, anakku tidak akan tertolong. Sesederhana itu,” kenang Oksana.

Penyakit yang diidap Allister tersebut ternyata mendorong Oksana untuk melangkah lebih jauh dari perkiraan banyak orang. Setelah Allister dinyatakan sembuh, untuk pertama kalinya Oksana meraih medali di nomor individu dalam gelaran Olimpiade Beijing 2008 (meraih medali perak di nomor vault). Pembuktian diri itu malah membuat Oksana semakin sulit meninggalkan senam. Pada 2012 lalu, Oksana sempat memutuskan untuk pensiun lagi. Namun, keputusannya itu ternyata hanya berlaku selama 12 jam.

“Pada malam hari aku bilang pada orang-orang bahwa aku akan pensiun, dan saat aku terbangun keesokan harinya, aku langsung berubah pikiran,” tutur Oksana, dilansir dari ESPN.

Oksana lantas tak pernah absen dalam setiap kejuaraan bergengsi senam artistik, hingga Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2018 di Doha, Qatar. Hal ini membuat pertanyaan kapan Oksana pensiun makin susah dicari jawabannya. Karenanya, saat Oksana kelak tampil di Olimpiade Tokyo 2020, para penggemar senam artistik jelas makin heran. Namun tidak bagi Svetlana Boginskaya, mantan rekan Oksana di timnas Uni Soviet. Menurut Svetlana, senam artistik sudah seperti suratan takdir bagi Oksana.

"Saya akan bersyukur jika ia mulai menjalani kehidupan normal, tapi aku pikir kehidupan normal Oksana adalah sebagai seorang pesenam," kata Svetlana.

Baca juga artikel terkait SENAM ARTISTIK atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono