Kantor Ideal Bagi Generasi Milenial

Reporter: Nuran Wibisono, tirto.id - 16 Sep 2016 08:27 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kantor yang kaku, jam kerja yang ketat, membuat generasi milenial tidak betah kerja. Mereka mendambakan tempat bekerja yang fleksibel, yang justru membuat mereka bisa bekerja lebih efektif dan kreatif.
tirto.id - Billy McMahon dan Nick Campbell terperangah melihat kantor Google. Tempat kerja ini tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Para pekerja, rata-rata anak muda, bersliweran dengan bebas. Begitu pula pakaiannya. Ada yang hanya memakai celana pendek dan kaus. Ada pula yang memakai celana jeans dengan atasan kemeja santai. Juga ada yang memakai kemeja Hawaii macam mau pergi ke pantai. Di dalam kantor, mereka tak kalah kagum. Ada replika Space Ship One yang digunakan untuk pergi ke luar angkasa. Ada perosotan raksasa. Kafe yang segalanya gratis. Tempat tidur siang. Arena olahraga yang besar.

"Bayangkan taman hiburan terbesar yang pernah ada, dan tempat ini berjuta-juta kali lebih bagus," kata Nick.

"Rasanya menakutkan. Karena ini adalah hal baru," balas Billy.

Billy dan Nick adalah karakter dalam film The Internship. Mereka berdua adalah mantan salesman paruh baya yang baru saja kehilangan pekerjaannya. Sepasang sahabat ini kemudian mencoba melamar magang di Google. Setelah melewati adegan seleksi yang komikal, dua orang dari generasi 80-an ini diterima magang di kantor perusahaan internet terbesar di dunia. Dan ya, kantor dalam bayangan mereka langsung hancur berantakan setelah melihat tempat kerja Google.

The Internship adalah salah satu film yang lagi-lagi membenturkan nilai lama yang dianut generasi X dengan pola baru ala generasi Milenial. Sama seperti tumbukan manapun, akan muncul chaos. Kekacauan.

Bagi Billy dan Nick, tempat kerja seperti Google jelas tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dua orang salesman ini selalu bekerja dengan rapi. Kemeja, jas, sepatu pantofel. Penampilan adalah citra penting yang bisa membantu menggaet pembeli. Sedangkan di Google? Asal tidak malu, kamu boleh saja pergi dengan celana disko merah muda dan cyan, dengan atasan tank top berwarna ungu dan hijau. Nyaris tak ada batasan.

Tempat kerja dan peraturan adalah satu kesatuan. Dulu kantor adalah momok bagi kalangan para pekerja karena peraturan yang mengekang. Sampai kantor wajib pukul 9 pagi. Pakaian harus rapi. Tidak boleh memakai sandal. Kalau telat akan dipotong gaji. Jatah cuti hanya 12 kali dalam setahun. Dan lain sebagainya.

Karena itu wajar kalau The American Institute of Stress pernah merilis data bahwa 46 persen penyebab stres terkait kerja dan tempat kerja. Nyaris serupa, survei dari lembaga Integra mengatakan bahwa 65 persen pekerja mengatakan bahwa stres di tempat kerja bikin hidup mereka tambah berat. Citra kantor yang mengekang ini kemudian membuat pekerjaan lepas (freelance) identik dengan kebebasan.

Generasi Milenial kemudian tumbuh dalam bayangan kantor yang mengerikan itu. Ketika mereka dewasa dan mulai bisa bekerja, sebisa mungkin mereka tidak ingin ketakutan itu hadir lagi. Maka mereka, para milenial itu, membuat iklim kantor yang menyenangkan. Beberapa malah terkesan nyaris tak punya peraturan yang mengikat.



Salah satu kantor yang seringkali dirujuk sebagai tempat kerja idaman adalah Google. Perusahaan yang bermarkas di Mountain View, California, ini menempati peringkat satu dalam senarai tempat kerja terbaik yang dibuat oleh Fortune. Dalam sepuluh tahun terakhir, Google selalu masuk dalam daftar ini dan tujuh kali menjadi yang terbaik.

"Di Google, mereka menghargai para pekerja. Kami merasa dihormati sebagai manusia, bukan sebagai sekrup dalam mesin. Fasilitas mereka mengagumkan. Tiga kali jatah makanan organik dalam sehari. Kudapan yang tak terbatas. Kopi yang enak, kelas fitness, klinik kesehatan, tempat potong rambut, tempat tidur, hingga laundri gratis," ujar salah satu pegawai Google.

Ada 1.019 pekerja Google yang disurvei. Sekitar 97 persennya mengatakan Google mempunyai: tantangan yang asyik; suasana kerja yang menyenangkan; penghargaan (gaji, bonus, dsb) yang bagus; dan komunikasi yang terjalin antar kolega juga apik. Sekitar 98 persennya mengaku bangga bekerja di Google.

Selain fasilitas kerja --seperti kudapan tak terbatas, kopi, hingga laudri gratis-- yang membuat hidup terasa lebih menyenangkan, Google membuat pekerjaan terasa berimbang dengan kehidupan sosial. Mereka memberikan hari libur yang banyak, 28 hari, bagi mereka yang sudah bekerja selama setahun. Selain itu ada cuti kehamilan selama 110 hari. Jika ada pekerja yang mengadopsi anak, mereka akan dapat tunjangan sebesar 25 ribu dolar. Selain itu ada pula libur hari besar agama, tempat penitipan anak, tempat perawatan orang tua pekerja, hingga jadwal yang fleksibel.

Belum lagi perihal kesehatan. Para pekerja mendapat fasilitas kesehatan yang canggih. Juga screening kanker payudara, tes darah, tes kolesterol, hingga adanya pusat kebugaran. Mereka juga menyediakan nap pod, sebuah kapsul yang digunakan pekerja untuk tidur siang.

Ada banyak perusahaan yang menerapkan sistem fleksibel seperti ini. Selain Google, perusahaan lain yang memberikan suasana kerja menyenangkan antara lain adalah Airbnb, Facebook, LinkedIn, Boston Consulting Group, Guidewire, hingga Netflix. Benang merahnya adalah: sebagian besar pekerjanya adalah anak-anak muda. Generasi milenial. Mereka sadar bahwa pekerja milenial tidak bisa bekerja dengan baik dengan sistem lama. Maka sistem baru pun dibuat agar para pekerja milenial ini memberikan kemampuan terbaiknya, sekaligus tidak melupakan kehidupan luar kantor.

Benang merah lainnya, perusahaan-perusahaan itu lebih menekankan kepada performa. Bukan lagi dari rutinitas kantor, absensi, atau tetek bengek tak penting macam kerapian pakaian. Tentu setiap perusahaan punya penilaian performa masing-masing.

Netflix misalkan. Perusahaan streaming ini mempunyai Netflix Culture Desk. Ini adalah lembaran presentasi yang merupakan visi perusahaan. COO Facebook, Sheryl Sandberg, menyebut presentasi ini sebagai "...salah satu dokumen terpenting dari Silicon Valley."

Dalam slide presentasi itu, Netflix sedikit menyindir perusahaan yang mengagungkan nilai lama tapi kerap kali melecehkannya sendiri. Contohnya adalah nilai "Integrity, Communication, Respect, Excellence" yang dipajang di lobi Enron, sebuah perusahaan energi. Pada 2001, perusahaan energi dari Texas ini mengalami skandal penipuan dan korupsi skala gigantis, dikenal dengan nama Enron Scandal. Setelahnya, mereka mengalami kebangkrutan.

"Nilai-nilai yang dipajang di lobi itu ternyata tidak benar-benar dihargai di Enron," tulis Patty McCord, Chief Talent Officer Netflix yang membuat slide itu.

Sebagai gantinya, Netflix membuat 9 poin yang kemudian dianut oleh para pekerjanya. Poin itu adalah Judgment (pekerja harus bisa membuat keputusan bijak, apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan), Communication (mendengarkan dengan baik dan memperlakukan orang lain dengan hormat), Impact (fokus ke hasil baik ketimbang proses), Curiosity (kemauan belajar dan beradaptasi yang tiada habisnya), Innovation (membuat ide baru yang berguna), Courage (berani membuat keputusan penting atau berani mengatakan sesuatu meski itu kontroversial), Passion, Honesty, dan Selflesness.

Selain itu Netflix juga menghargai performa kerja yang bagus, kebebasan, dan tanggung jawab. Ini artinya alih-alih membuat banyak peraturan, Netflix fokus pada hal-hal penting. Seperti berinvestasi pada para pekerja yang berkemampuan tinggi. Selain itu, mereka juga menerapkan budaya pemberian reward kepada para pekerja yang performanya bagus, namun juga akan memutus ikatan kontrak para pekerja yang tak maksimal.

Netflix juga percaya bahwa anak-anak muda ini tidak bisa dikekang. Mereka tidak sekadar ingin kebebasan. Mereka butuh kebebasan. Dengan membuat kondisi kerja yang membebaskan, mereka akan leluasa bekerja dan memberikan yang terbaik.

Kebebasan lain yang kini diberikan oleh banyak perusahaan adalah memilih tempat kerja. Para pekerja tak diharuskan datang ke kantor lagi. Mereka bisa menyelesaikan pekerjaan dari mana saja yang mereka mau.

Situs Flexjobs baru-baru ini mengeluarkan survei kepada 3.100 pekerja yang berumur 20 hingga 60-an tahun. Ternyata sekitar 65 persennya merasa bahwa pekerjaan mereka akan lebih baik jika dikerjakan di luar kantor Sekitar 51 responden mengatakan mereka bekerja lebih efektif dari rumah. Bahkan sekitar 29 persennya mau-mau saja gaji dipotong 10 hingga 20 persen asal mereka tak perlu masuk kantor. Sementara itu, hanya 7 persen yang merasa bekerja di kantor itu lebih efektif. Selain rumah, tempat kerja ideal yang bisa bikin pekerja Milenial lebih produktif adalah kafe, co-working spce, perpustakaan, dan tempat-tempat selain kantor.

Yang penting: 81 persen responden bilang, bisa bekerja dari rumah membuat mereka lebih loyal terhadap perusahaan.

Jadi, para perusahaan, sudah siap membuat perubahan?

Baca juga artikel terkait GAYA HIDUP atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

DarkLight