Kanal Salwa: Saat Arab Saudi Semakin Pinggirkan Qatar

Oleh: Tony Firman - 27 Juni 2018
Dibaca Normal 3 menit
Kanal ini bisa semakin mengucilkan Qatar yang belakangan ini disisihkan oleh Saudi Cs karena dianggap memihak Iran.
tirto.id - Kerajaan Arab Saudi melirik wilayahnya di pantai barat teluk Arab untuk dijadikan lumbung industri pariwisata dan bisnis strategis. Sebuah kanal raksasa akan digali di wilayah tersebut.

Sejak April kemarin, kabar mengenai proyek yang dinamai Salwa Canal itu berhembus kencang. Garis perbatasan darat dari Salwa sampai ke pedalaman perairan Khor Al Adeed di Qatar menjadi target pengerukan kanal raksasa.

Proyek Salwa Canal ini punya panjang 60 kilometer dan lebar 200 meter dan kedalaman antara 15 hingga 20 meter. Berbagai jenis kapal besar dengan panjang maksimal 300 meter dan lebar 33 meter dimungkinkan bisa melewati kanal buatan tersebut, dilansir dari Al Arabiya.

Kanal tersebut akan menciptakan jalur pelayaran dan objek wisata regional maupun global bagi Arab Saudi. Rencananya, kanal akan ditunjang oleh pelabuhan yang dipakai untuk bersandar sejumlah kapal pesiar dan kapal wisata yang diklaim paling baru di wilayah tersebut.

Pelabuhan khusus olahraga air juga tidak lupa dibuat. Termasuk didirikan sejumlah hotel bintang lima dan resort dengan pantai pribadi. Di darat, ada pula proyek susulan yang bakal mengubah kawasan tersebut menjadi pusat ekonomi dan industri.


Selasa (19/6) lalu, proyek besar itu kembali ditegaskan oleh pemerintahan di Riyadh. Mereka mengumumkan tenggat waktu hingga tanggal 25 Juni kepada peserta tender untuk mengajukan tawaran pengerjaan proyek Salwa Canal.

Sudah ada lima perusahaan internasional yang mengajukan permohonan untuk menggarap proyek besar ini. Dilansir The New Arab, pemenang proyek akan diumumkan 90 hari setelah batas akhir tender.

Dana besar guna mewujudkan Salwa Canal diperkirakan senilai $750 juta dan digelontorkan oleh perusahaan swasta asal Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Sebuah perusahaan ahli pengerukan dari Mesir dikabarkan juga akan membantu proyek kanal raksasa ini yang dipatok selesai dalam waktu satu tahun saja.

Dua tahun lalu, Mesir mengebor Terusan Suez Baru sepanjang 72 kilometer. Dengan biaya empat miliar dolar, proyek rampung tidak sampai melebihi 12 bulan.

Pemberian tenggat waktu tawaran kepada para pihak tender sekaligus menegaskan bahwa proyek Salwa Canal secara efektif akan mengubah Qatar sebagai negara di semenanjung teluk Arab menjadi sebuah pulau yang terpisah daratan dari Saudi.

Ketegangan Saudi dan Qatar


Meski terlihat bahwa Saudi sedang menciptakan kawasan pariwisata dan industri baru, pembangunan kanal raksasa yang memisahkan Qatar sulit dilepaskan dari konteks ketegangan hubungan antar-kedua negara yang sedang berlangsung.


Langkah Saudi membuat kanal raksasa sekaligus dapat dipandang sebagai cara untuk mengisolasi Qatar lebih jauh. Blok Saudi yang berisi UEA, Mesir dan Bahrain melancarkan blokade dan pemutusan diplomatik kepada Qatar sejak 5 Juni 2017 lalu.

Saudi dan Kementerian Luar Negeri Mesir juga menutup wilayah udara dan pelabuhan untuk semua transportasi Qatar. UEA ketika itu memberikan tenggat waktu 48 jam bagi para diplomat Qatar untuk angkat kaki.

UEA menuduh Qatar telah mendukung, mendanai dan menyebarkan terorisme, ekstremisme, dan organisasi sektarian lainnya. Sementara itu, Bahrain memutus hubungan karena Qatar dianggap mengguncang keamanan dan stabilitas nasional.

Qatar juga lama dikritik oleh negara tetangga atas dukungannya terhadap Ikhwanul Muslimin, sebuah kelompok politik Islam Sunni yang ditentang oleh Arab Saudi maupun UEA.

Pihak Qatar menolak segala tuduhan tersebut. Perselisihan dipicu oleh pemberitaan kantor berita Qatar (QNA) yang mencantumkan perkataan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani bahwa Iran adalah kekuatan Islam baru. Emir juga diberitakan telah mengatakan bahwa Hamas adalah perwakilan resmi orang-orang Palestina. Baik Iran maupun Hamas yang terafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin adalah musuh dari blok Saudi.


Pemerintahan Doha langsung membantah pemberitaan tersebut. Doha menuding kemunculan berita tersebut di situs resmi tanpa diketahui oleh pihak redaksi dan dianggap sebagai ulah para peretas.

Ucapan Emir yang dianggap kontroversial itu berasal dari pemberitaan di sebuah televisi pada 30 Mei 2017 lalu. Dalam rekaman video tersebut sebenarnya tidak terlihat Emir mengucapkan kalimat-kalimat tersebut.

Keempat negara blok Saudi mengeluarkan 13 tuntutan dan meminta Qatar tunduk mematuhi jika ingin hubungan diplomatik kembali pulih dan mesra kembali. Namun, Doha sejauh ini masih menolak. Upaya mediasi lewat Dewan Kerjasama Teluk (GCC) Kuwait juga masih gagal mencapai tahapan pemulihan dan kemajuan.

GCC sendiri didirikan di Abu Dhabi pada 1981 silam. Berisi Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.


Infografik Salwa Canal


Dampak langsung dari kebijakan blokade Saudi dirasakan oleh para penggembala unta di daerah perbatasan tersebut. Ribuan unta Qatar yang memasuki wilayah Saudi dideportasi. Tidak jarang unta-unta tersebut mati karena para petani Qatar lebih dahulu diusir.

Setelah dikucilkan negara-negara teluk Arab, Qatar terpaksa mengandalkan beberapa negara lain seperti Turki sebagai mitra dagang dan Iran sebagai jalur masuk udara. Terlebih, satu-satunya perbatasan darat Qatar yang menghubungkan dengan Arab Saudi tahun lalu disegel oleh pemerintahan Riyadh.

Ketegangan Qatar dengan Arab sudah muncul pada tahap ancaman militer. Awal Juni, Raja Salman mengancam akan melancarkan aksi militer bila Qatar membeli sistem rudal anti pesawat S-400 bikinan Rusia yang sudah dijajaki sejak bulan Januari kemarin.

S-400 saat ini digambarkan sebagai salah satu sistem pertahanan udara terbaik di dunia dan menarik minat sejumlah negara di kawasan teluk Arab seperti Arab Saudi dan Irak.


Di kanal raksasa nanti, Saudi akan membangun pangkalan militer. Pembuangan limbah nuklir dari reaktor di Riyadh juga akan dilakukan di kawasan tersebut, demikian ditulis Gulf News. Sementara itu, di Qatar sendiri ada pangkalan militer AS dan Turki yang bercokol.

Baca juga artikel terkait KRISIS QATAR atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)

Penulis: Tony Firman
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight