Advertorial

Kabar Baik Jelang Bonus Demografi

Oleh: Advertorial - 26 Juli 2018
Dibaca Normal 2 menit
“Satu sisi adalah berkah jika kita berhasil mengambil manfaatnya. Sisi lain adalah bencana apabila kualitas manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik," kata Presiden Joko Widodo tentang bonus demografi Indonesia
tirto.id - Sepuluh tahun mendatang, tepat 100 tahun Sumpah Pemuda, Indonesia diramalkan akan sampai di titik puncak bonus demografi: kondisi di mana jumlah penduduk berusia produktif lebih banyak ketimbang jumlah penduduk berusia nonproduktif.

Sebagai gambaran, menurut “Proyeksi Penduduk Indonesia” yang disusun Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia tahun 2015 tercatat 255,5 juta jiwa. Jumlah tersebut terdiri atas penduduk usia di bawah 15 tahun sekitar 69,9 juta jiwa (27,4%) dan penduduk yang berumur 65 tahun ke atas sekitar 13,7 juta jiwa (5,4%). Singkatnya, total penduduk usia nonproduktif sebanyak 32,8% sedangkan penduduk produktif yang berusia 15-64 tahun berjumlah sekitar 171,9 juta jiwa (67,2%).

Begitu memasuki tahun 2020, persentasenya akan berubah dengan jumlah penduduk produktif 70% dan nonproduktif 30%. “Bonus demografi puncaknya pada tahun 2028-2030, di mana 100 orang produktif menanggung 44 orang nonproduktif,” kata Kepala BPS Suryamin kepada Tirto.

Namun demikian, sebagaimana dikatakan Presiden Joko Widodo, bonus demografi bagi bangsa ini tak ubahnya sebilah pedang dengan dua sisi. “Satu sisi adalah berkah jika kita berhasil mengambil manfaatnya. Sisi lain adalah bencana apabila kualitas manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik," katanya, saat memperingati Hari Keluarga Nasional beberapa tahun lalu.

Meski pemerintah dinilai belum siap menghadapai bonus demografi —dan hal demikian berpotensi menjadi musibah alih-alih berkah—kita tidak perlu terlalu khawatir soal itu sebab pada saat bersamaan kabar baik datang dari kalangan civil society. Dari berbagai kegiatan untuk civil society, Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards boleh dijadikan barometer.

Infografik Bonus Demografi Advertorial Astra


Kebaikan Perlu Dirawat dan Disebarkan

SATU Indonesia Awards pertama kali dibuat oleh PT Astra International Tbk (Astra) pada peringatan Sumpah Pemuda tahun 2010. Semangatnya jelas: memberi penghargaan dan dukungan nyata bagi seluruh anak bangsa, baik individu maupun komunitas, yang punya kepeloporan dan idealisme untuk berbagi dengan sesama. Apresiasi SATU Indonesia Awards dibagi dalam lima kategori, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, teknologi, dan kelompok yang mewakili lima bidang tersebut.
Pada 2010, program SATU Indonesia Awards diikuti oleh 120 peserta. Tahun lalu, jumlah tersebut meningkat menjadi 3.234. Capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tak pernah kekurangan orang-orang baik, inspiratif dan mau berbagi untuk sesamanya.

Sebagai contoh, salah seorang penerima apresiasi SATU Indonesia Awards tahun lalu adalah Ronaldus Asto Dadut. Suatu hari pada tahun 2014, alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Cendana, Kupang, tersebut diminta dosennya untuk menjemput korban human trafficking yang disekap selama tiga bulan. Betapa kaget Ronaldus mendapati 15 korban tersebut kebanyakan adalah wanita berada dalam kondisi depresi sekaligus tidak terurus. Tak lama berselang, bersama sejumlah temannya, Ronaldus pun mendirikan Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan (J-RUK) Sumba. Pada 2017, J-RUK Sumba sudah memberikan pembekalan soal kebersihan dan kesehatan kepada 2.899 anak, dan 5.307 orang dewasa sudah mereka beri penyuluhan soal pencegahan praktik-praktik human trafficking.

Lain Ronaldus lain pula Risna Hasanudin, Sang Merak dari Timur. Penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2015 ini tercatat sebagai perempuan relawan asal Maluku yang mengabdikan diri untuk tinggal bersama masyarakat Suku Arfak di Kampung Kobrey, salah satu kampung tertinggal di kawasan Manokwari, Papua Barat. Perempuan Arfak dan anak-anak di sana kebanyakan putus sekolah. Adat memaksa perempuan agar tak bersekolah tinggi-tinggi, rata-rata cukup sampai kelas 3 SD. Saat para perempuan dan anak itu putus sekolah, sebagian besar dari mereka bahkan belum cakap baca-tulis.

Pada September 2014, Risna mendirikan Rumah Cerdas Perempuan Arfak Papua Barat. Selain berkomitmen mencerdaskan perempuan-perempuan Arfak dengan mengajari baca-tulis-hitung, Risna pun memberi mereka pelatihan-pelatihan soal usaha kecil. Pada 2015, setahun setelah perempuan asal Banda Neira, Maluku Tengah, itu mendirikan Rumah Cerdas Perempuan Arfak Papua Barat, sekitar 20-30 perempuan Arfak sudah bisa membaca dan menulis. Ronaldus dan Risna merupakan contoh bahwa pemuda-pemuda Indonesia dapat memberikan kontribusi nyata.

Capaian yang ditorehkan Ronaldus maupun Risna—juga 119 penerima apresiasi SATU Indonesia Awards lainnya—tentu bukan satu-satunya capaian yang layak kita syukuri menjelang kedatangan bonus demografi. Kita percaya saban hari selalu ada “Ronaldus dan Risna lain” di seantero negeri. Karenanya, kehadiran program-program semacam SATU Indonesia Awards (program yang sengaja dirancang untuk mendukung peningkatan kualitas masyarakat Indonesia) layak disambut gembira oleh semua pihak.

Tahun ini, pendaftaran SATU Indonesia Awards dibuka sepanjang 22 Maret-22 Agustus 2018. Penerima apresiasi akan mendapat dana bantuan sebesar Rp60 juta plus pembinaan kegiatan. Dewan juri yang dilibatkan dalam program ini juga punya rekam jejak dan reputasi yang mentereng: Prof. Emil Salim (Dosen Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Indonesia), Prof. Nila Moeloek (Menteri Kesehatan Republik Indonesia), Prof. Fasli Jalal (Guru Besar Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta), Ir. Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), Onno W. Purbo Ph.D (Pakar Teknologi Informasi), dan juri tamu Nadiem Makarim (CEO dan founder GO-JEK), serta juri internal dari PT Astra International Tbk dan Tempo Media Group.

Jadi, sila sebarkan kabar baik ini kepada orang-orang di sekitar Anda, sebab menyebarkan kabar baik adalah bagian dari kebaikan juga.
Dari Sejawat
Infografik Instagram