Jumlah Hari Hujan di Indonesia Kian Berkurang

Ilustrasi hujan. foto/istockphoto
Oleh: Suliana Khusnulkhatimah - 23 Oktober 2020
Dibaca Normal 5 menit
Hari hujan semakin berkurang. Indikasi nyata terjadinya perubahan iklim di Indonesia.
Iklim tengah berubah, pola cuaca tidak lagi sama. Dahulu, musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia rutin dimulai pada September, kini musim hujan baru mulai mengguyur pada Oktober, November bahkan Desember. Proporsi bulan basah dan kering juga tidak lagi seperti dulu. Jumlah hari hujan tahunan di Indonesia berangsur-angsur berkurang. Dalam kurun waktu 2014-2018, BPS melalui “Statistik Lingkungan Hidup” yang dipublikasi pada tahun 2015 dan 2019 melaporkan, rata-rata hari hujan di seluruh provinsi di Indonesia berkurang 50 hari dari yang semula 179 hari pada 2014 menjadi 129 hari selama 2018.

Apabila diruntut per tahun, rata-rata jumlah hari hujan di Indonesia terus-menerus berkurang setiap tahunnya kecuali pada 2016. Pada tahun itu, jumlah hari hujan di Indonesia mencapai 216 hari atau bertambah 72 hari dari tahun sebelumnya yakni 144 hari. Selama itu juga hanya ada satu provinsi yang mengalami peningkatan hari hujan yakni Sumatra Barat dari 163 hari hujan sepanjang 2014 menjadi 187 hari atau bertambah 28 hari.


Sementara penurunan rata-rata jumlah hari hujan yang paling signifikan dialami Sulawesi Tengah dengan 94 hari. Disusul Maluku Utara dan Jawa Barat yang masing-masing mengalami penurunan hari hujan sebanyak 85 dan 83 hari. Apabila dilihat per pulau, Jawa menjadi pulau dengan penurunan hari hujan paling ekstrem di antara pulau besar lainnya. Dalam kurun waktu 2014-2018, rata-rata jumlah hari hujan di Pulau Jawa telah berkurang 72 hari.

Fenomena perubahan pola cuaca ini merupakan indikasi nyata terjadinya perubahan iklim di Indonesia. Iklim sendiri merupakan rata-rata peristiwa cuaca di suatu wilayah tertentu dalam variasi waktu yang cenderug lama. Sementara cuaca merupakan gejala alam yang terus terjadi dan berubah dalam waktu yang lebih singkat. Bisa dikatakan, perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang terhadap pola cuaca. Walhasil, perubahan iklim akan menghasilkan pola cuaca baru yang akan bertahan lama baik dalam puluhan, ratusan hingga jutaan tahun.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perubahan ini disebabkan oleh aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti yang dilansir Direktorat Jendral Pengendalian Perubahan Iklim (PPI). Sejak dimulainya revolusi industri, hampir segala aktivitas manusia melepaskan dan meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, nitrogen, dan sebagainya yang kemudian mengubah komposisi atmosfer global.

Sebenarnya, bumi juga membutuhkan gas rumah kaca untuk menjaga suhu agar tetap stabil. Kendati demikian, konsentrasi gas rumah kaca yang berlebihan membuat lapisan atmosfer kian menebal dan menciptakan efek rumah kaca. Walhasil, sebagian panas matahari yang seharusnya dipantulkan kembali justru terperangkap di atmosfer dan menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi yang biasa disebut pemanasan global.

Bumi berangsur-angsur memecahkan rekor suhu terpanasnya setiap tahun. Analisis independen National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan National Aeronautics and Space Administration Amerika Serikat atau NASA mencatat, suhu global tahunan telah meningkat rata-rata 0,7 derajat Celcius per dekade sejak 1880 dan terus mencapai dua kali lipat atau 0,18 derajat Celcius sejak 1981. Tahun lalu, suhu permukaan global tahunan 2019 menjadi yang terhangat kedua dalam kurun waktu 140 tahun terakhir, atau sejak pencatatan suhu modern dimulai pada 1880.

Pada 2019, suhu permukaan laut dan daratan global dilaporkan meningkat 0,95 derajat Celcius. Angka ini hanya 0,04 derajat lebih rendah dari rekor peningkatan suhu bumi tertinggi yakni 0,99 derajat Celcius pada 2016 yang menjadi tahun terhangat di bumi. Sebelumnya, rekor tahun terhangat kedua dipegang oleh 2015 dengan peningkatan suhu global mencapai 0,93 derajat Celcius. Sejak 2015 juga bumi terus mencatatkan lima tahun terpanasnya dalam rekor 1880-2019.

Pola yang sama terjadi di Indonesia, 2019 juga menjadi tahun terpanas kedua yang dialami masyarakat Indonesia. Data observasi stasiun pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperlihatkan, anomali suhu pada 2019 mencapai 0,58 derajat Celcius dari rata-rata periode normal (1981-2010). Pada tahun itu juga, seluruh provinsi di Indonesia kecuali Bali mencatatkan anomali positif dengan nilai anomali tertinggi 1,13 derajat Celcius di Kepulauan Riau dan 1,03 derajat Celcius tercatat di Banten. Sedangkan 31 provinsi lainnya mencatatkan anomali positif dibawah 1 derajat Celcius. Layaknya fenomena peningkatan suhu global tahunan, BMKG juga mencatat tahun terpanas di Indonesia terjadi pada 2016 dengan nilai anomali sebesar 0,8 derajat Celcius.

Tahun ini, Indonesia kembali mengalami peningkatan suhu. Berdasarkan data pengamatan BMKG, suhu rata-rata September 2020 mencapai 27,2 derajat Celcius atau meningkat 0,6 derajat Celcius dari suhu September pada periode normal yakni 26,6 derajat Celcius. Tidak hanya Indonesia, suhu global juga dihadapkan dengan risiko serupa. Secara keseluruhan, suhu permukaan global pada September 2020 sendiri menjadi September terpanas dalam catatan. Apablia diruntut dari Januari tahun ini, NOAA mencatat adanya peningkatan suhu rata-rata 1,02 derajat Celcius di sebagian besar daratan dan lautan global.

Eropa, Teluk Meksiko dan Asia tercatat mengalami periode Januari-September terpanas dalam sejarah. Di Eropa, suhu tahunan mencapai 2,12 derajat Celcius. Ini merupakan pertama kalinya suhu Januari-September di Eropa melebihi angka 2,0 derajat Celcius. Asia juga mencatatkan rekor baru, suhu Januari-September 2020 meningkat 2,30 derajat. Angka ini 0,30 derajat lebih tinggi dari suhu periode Januari-September pada 2016 yang merupakan tahun terpanas. Rekor suhu terhangat Januari-September juga diamati terjadi di Kawasan Asia tepatnya, sebagian besar Asia Utara di mana suhu tercatat mencapai 3 derajat Celcius di atas normal. Sementara di Teluk Meksiko, suhu pada periode itu dilaporkan meningkat 0,93 derajat Celcius.

Menurut Pusat Data Oseanografi Nasional NOAA, angka-angka tersebut memungkinkan 2020 berakhir sebagai tahun terpanas dalam catatan dengan tingkat persentase kemungkinan yang cukup tinggi yakni 65 persen. Jika pun prediksi ini meleset, dapat dipastikan 2020 akan menggeser 2019 sebagai tahun terpanas kedua sejak 1880.




BPS dalam “Statistik Lingkungan Hidup 2019” menjelaskan, pemanasan global dapat mengakibatkan kerusakan lapisan ozon karena semakin sedikitnya panas yang mampu dilepaskan ke luar troposfer, akibatnya lapisan stratosfer akan semakin dingin. Kerusakan lapisan ozon inilah yang kemudian mempengaruhi kondisi iklim dan memicu perubahan pola cuaca terlebih di wilayah dengan garis lintang bumi yang lebih tinggi. Di negara tropis seperti Indonesia, berkurangnya jumlah hari hujan terutama di musim kemarau turut berkonstribusi terhadap terjadinya kekeringan yang parah selama kemarau berkepanjangan di beberapa wilayah Indonesia.

Sepanjang 2019, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, terjadinya 1.529 kejadian bencana kekeringan yang menimpa 13 provinsi di Indonesia yakni kepulauan Jawa kecuali DKI Jakarta, Nusa Tenggara, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Aceh, Maluku, Bali, dan Kalimantan Selatan. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari seluruh kejadian bencana kekeringan pada tahun sebelumnya dengan 834 kasus kekeringan dan merupakan tahun dengan bencana kekeringan terbanyak selama satu dekade terakhir.

Data Informasi Bencana Indonesia BNPB memperlihatkan, mayoritas bencana kekeringan yang menimpa Indonesia terpusat di Jawa Tengah, setidaknya sejak 2017. Tahun ini saja, Jawa Tengah dilaporkan telah dilanda 35 dari 38 kejadian bencana kekeringan yang menimpa Indonesia. Jumlah ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan akumulasi bencana kekeringan yang menimpa Jawa Tengah pada 2019 yang mencapai 1.208 kasus, empat kali lipat lebih besar dari akumulasi bencana kekeringan yang menimpa 12 provinsi lainnya pada tahun yang sama. Sebagian besar wilayah tengah Jawa juga diprediksi masih akan ditimpa bencana kekeringan dikemudian hari dengan tingkat kekeringan yang tinggi, seperti yang dikemukakan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam “Statistik Lingkungan Hidup 2019”. Selain jawa, risiko kekeringan yang tinggi juga ditemukan di sebagian Sumatra dan Nusa Tenggara.

Pada saat yang bersamaan, Jawa, Sumatra dan Nusa Tenggara juga dihadapkan dengan risiko berkurangnya ketersediaan air bersih yang cukup tinggi pada periode 2025-2030. Bappenas memprakirakan, risiko penurunan ketersediaan air bersih akan menimpa 75 persen kawasan Jawa-Bali, terutama di bagian utara Jawa Barat, bagian tengah dan selatan Jawa tengah dan Jawa Timur. Di Pulau Sumatra dan Nusa Tenggara, risiko berkurangnya ketersediaan air besih terjadi di sebagian kecil wilayah utara, barat dan selatan Sumatra dan beberapa bagian kawasan Pulau Lombok.

Proyeksi Perubahan Iklim 2020-2049 BMKG

Ke depannya, suhu rata-rata tahunan Indonesia pada 2020-2049 diproyeksikan mengalami perubahan lebih dari 0,9 derajat Celcius. BMKG dalam artikel “Proyeksi Perubahan Iklim” yang dipublikasi pada laman resminya mengemukakan, perubahan suhu rata-rata tahunan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mencapai 1,2 hingga lebih dari 1,3 derajat Celcius. Suhu minimum dan maksimum tahunan pada periode tersebut juga dipastikan turut berubah melebihi angka 2 derajat Celcius untuk suhu minimum dan 2,4 derajat Celcius untuk suhu maksimum.

Perubahan rata-rata suhu tahunan ini juga berimbas pada jumlah hari hujan tahunan yang juga diprakirakan BMKG akan semakin berkurang pada periode yang sama. Persentase hari hujan di sebagian besar wilayah selatan Indonesia diprediksi akan berkurang 5 hingga 20 persen pada setiap September-November 2020-2049. Adapun wilayah yang berisiko mengalami penurunan jumlah hari hujan paling tinggi mencakup bagian selatan Pulau Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara, bagian selatan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, juga sebagian kecil selatan Lampung dan Bengkulu.

Gawatnya lagi, wilayah tersebut juga diprediksi akan mengalami pertambahan hari kering selama periode Juni hingga Agustus 2020-2049. Sebagian besar Pulau Jawa, dan Nusa Tenggara digadang-gadang akan mengalami pertambahan hari kering dengan risiko yang cenderung rendah dengan persentase yang bervariasi mulai dari 1 hingga 15 persen. Sementara risiko peningkatan yang lebih ekstrem diproyeksikan menimpa Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Timur, Sumatra Selatan, Maluku, Papua Barat dan sebagian Papua dengan pertambahan hari kering yang berkisar 15 sampai melebihi 25 persen.

Baca juga artikel terkait PERUBAHAN IKLIM atau tulisan menarik lainnya Suliana Khusnulkhatimah
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Suliana Khusnulkhatimah
Editor: Windu Jusuf
DarkLight