Jual Beli Esai di Inggris: Masif, Terbuka, dan Sulit Dideteksi

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 29 November 2018
Dibaca Normal 5 menit
Praktik jual beli esai marak di kampus-kampus Inggris. Berbeda dari Indonesia, mereka lebih profesional dan blak-blakan.
tirto.id - Senin malam, 19 Maret 2018, surel dari Tom Parker muncul di kotak masuk Gmail saya. “Menindaklanjuti aplikasi Anda untuk mendapatkan potongan harga dari kami, saya ucapkan selamat. Anda berhak mendapatkan diskon 50 persen,” pesan Parker.

Saya tak tahu siapa Tom Parker sama sekali dan aplikasi diskon yang ia sebutkan lewat surel itu. Yang saya tahu, seperti tertulis pada akhir pesannya, Parker bekerja di Writo Mania, perusahaan yang menjual jasa menulis esai, disertasi, dan tugas-tugas kuliah lain di Inggris.

Maka, saya mengunjungi situsweb resmi writomania.co.uk. Sebuah klaim sebagai pabrik esai terbaik di Inggris muncul di bawah banner. Sekitar lima detik kemudian, JP Morgan menyapa saya lewat fitur webchat di situs itu.

“Hai, butuh bantuan akademik?” tanya Morgan. JP Morgan bisa jadi nama yang ia pakai sembarang saja, bukan nama sebenarnya.

“Enggak. Saya wartawan. Boleh saya wawancara bos Anda?”

“Ya, tentu saja, datang saja ke kantor kami. Anda bisa lihat alamat kami di website."

“AB25 1HF, kan?” tanya saya menyebutkan kodepos. “Kepada siapa saya bisa bicara?”

Morgan tak menjawab secepat kilat. Setelah menunggu sekitar tiga menit, barulah jawabannya masuk.

“Bagaimana kalau saya saja yang melakukan wawancara untuk Anda, maksud saya, saya bisa memberikan semua jawaban yang Anda butuhkan,” katanya.

Tetapi tawaran Morgan itu tak cuma-cuma. Ia meminta saya membayar £500 atau sekitar Rp10 juta untuk wawancara. Saya menolaknya.

Menurut keterangan tertulis di situsweb, Writo Mania beralamat di 1 Berry Street, Aberdeen, Skotlandia. Di alamat itu, berdiri satu gedung perkantoran bernama Regus. Namun, tak pernah ada perusahaan bernama Writo Mania. Si resepsionis mengatakan tak pernah mendengar nama perusahaan itu.

Saya mengunjungi situsweb itu lagi. Pada kunjungan kedua, saya berpura-pura menjadi mahasiswa yang ingin memakai jasa mereka. Lalu mereka memberikan "harga spesial": £180 atau sekitar Rp3,4 juta untuk esai 3.000 kata dan £400 atau Rp7,5 juta untuk tesis atau disertasi 12.000 kata.

Di Indonesia, praktik ini sebenarnya marak dan sudah menjadi rahasia umum. Hanya ia masih menjadi bisnis tersembunyi. Iklan-iklan pabrik skripsi atau tesis di Indonesia masih sebatas iklan baris yang mencantumkan nomor telepon atau selebaran-selebaran yang ditempel di sekitar kampus.


Di Inggris, salah satu negara tujuan studi mahasiswa asal Indonesia, tidak begitu sulit untuk menemukan beragam situsweb pabrik esai seperti Writo Mania. Promosinya masif. Mereka secara aktif menyasar para mahasiswa terutama mahasiswa internasional.

Pernah satu kali saya berkicau sesuatu di Twitter tentang tugas kuliah. Salah satu pabrik esai langsung membalas kicauan itu dengan menawari jasa. Menggunakan bot, akun Twitter pabrik esai itu membalas cuitan saya yang mengandung kata kunci tertentu, seperti ‘tugas’, ‘esai’, atau ‘disertasi’.

Tak hanya di Twitter. Mereka aktif di LinkedIn dan Instagram, mengirim email langsung seperti surel yang saya terima dari Tom Parker, muncul di Google Ads hingga YouTube. Mei lalu, BBC merilis satu liputan investigasi tentang bagaimana para influencer di YouTube dibayar oleh perusahaan pabrik esai untuk mempromosikan jasa mereka. Mereka sangat terbuka dan blak-blakan.

Proses membeli esai di situsweb-situsweb itu gampang saja. Dari komunikasi saya dengan 11 pabrik esai, semuanya bisa dilakukan anonim dan diselesaikan tanpa tatap muka. Jadi kedua pihak tidak tahu dengan siapa mereka berurusan.

Mahasiswa cukup mengirim detail tugas lewat email atau webchat. Di kampus-kampus di Inggris, tugas untuk satu mata kuliah sudah diberitahu sejak awal kuliah. Para dosen biasanya menulis dengan detail esai seperti apa yang harus ditulis, pertanyaan apa yang harus dijawab, dan hal apa yang jadi indikator penilaian.

Mahasiswa yang ingin curang bisa dengan mudah meneruskan perincian tugas itu ke pihak pabrik esai. Pihak pabrik esai biasanya bertindak sebagai agen. Mereka punya penulis-penulis bayangan yang akan menulis sesuai pesanan. Mahasiswa dan si penulis siluman (ghost writer) tak akan pernah saling tahu identitas masing-masing.

Ke sebelas pabrik esai yang saya hubungi juga mengklaim bisa menjamin orisinalitas. Artinya, mereka menjamin esai itu bukan hasil plagiarisme. Seluruh universitas di Inggris memiliki satu sistem untuk mendeteksi plagiarisme dari tugas-tugas mahasiswanya. Tetapi detektor plagiarisme ini tentu tak bisa mendeteksi esai orisinal yang dibeli dari pihak ketiga.

Pengakuan Mantan Penulis Siluman

Para ghost writer yang bekerja untuk pabrik esai biasanya orang-orang berpendidikan tinggi yang sudah terbiasa dengan penulisan akademik dan riset.

“Aku pernah menjadi ghost writer delapan tahun lalu,” seorang dosen di University of Birmingham memberitahu saya. Birmingham adalah kota terbesar kedua di Inggris setelah London, dan universitas ini adalah kampus terbesar di kota itu.

Tahun 2010, ia menandatangani kontrak untuk bekerja sebagai penulis lepas di Prospect Solution. Saat mengajukan aplikasi, ia harus mengirimkan contoh tulisan dan beberapa dokumen pribadi sebagai bukti ia bisa menulis dengan baik. Saat itu ia menempuh pendidikan master di bidang politik. Menjadi penulis siluman menurutnya cara mudah untuk mendapatkan uang.

Delapan tahun lalu, dengan menuliskan dua esai 2.000 kata, ia bisa meraup £175 atau sekitar Rp3,3 juta. Dan satu esai bisa diselesaikannya dalam tiga jam saja.

“Karena esai yang kutulis adalah hal yang kupelajari, jadi bisa cepat selesai,” katanya sambil menunjukkan bukti pembayaran honor penulisan pertamanya sebagai penulis siluman.

Mahasiswa yang ingin membeli esai bisa menentukan berapa nilai yang diinginkan. Esai yang terlalu bagus dengan nilai terlampau tinggi tentu akan membuat dosen curiga jika rekam jejak si mahasiswa biasa-biasa saja. Nah, para penulis siluman harus bisa menjamin itu. Sebab, kalau tidak, pihak agen akan mengurangi honor mereka.


Jika dilihat sekilas, Prospect Solution tampak seperti situsweb yang merekrut para penulis dan peneliti. Akan tetapi, si dosen dari University of Birmingham itu mengatakan pertanyaan dan penjelasan esai yang harus ditulis selalu berhubungan dengan akademik dan tampak seperti tugas kuliah.

“Aku pernah jadi mahasiswa dan sekarang mengajar, jadi aku cukup berpengalaman untuk bisa mengidentifikasi itu,” katanya.

Saat ini ia mengklaim sudah berhenti dan menjalankan bisnis proofreading—jasa mengoreksi bahasa. Meski begitu, ada saja calon klien yang memintanya untuk menuliskan esai, alih-alih cuma mengoreksi.

“Tahun 2018 ini saja sudah ada sekitar 30-an orang yang memintaku menulis esainya, salah satunya mahasiswa PhD di University of Birmingham sini, tapi aku tolak,” katanya.

“Lalu, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu melaporkan mereka ke pihak kampus?”

“Enggak, aku tidak mau merusak masa depan mereka,” jawabnya.


infografik belanja esai

Kampus Kesulitan Mendeteksi

Kampus-kampus kesulitan untuk mendeteksi praktik ini. Berdasarkan pengakuan si mantan penulis siluman, setiap hari setidaknya ada dua pesanan esai dari tempatnya bekerja sebagai penulis lepas. Artinya, ada sekitar 60 pesanan setiap bulan atau 720 setiap tahun. Dan ini hanya dari satu perusahaan.

Sementara berdasarkan data dari 123 universitas di Britania Raya, ada 323 mahasiswa yang dikeluarkan karena ketahuan tidak menulis tugasnya sendiri sejak 2012 sampai 2017. Dalam setahun, artinya hanya 65 kasus, tak sampai sepuluh persen dari esai yang dikerjakan oleh satu perusahaan.

Angka 323 itu pun hanya datang dari 36 universitas. Tak semua kampus bisa mendeteksi dan banyak juga yang tak punya catatan khusus tentang praktik yang mereka sebut "contract cheating" ini. Sebanyak 68 universitas menyatakan tak ada satu pun mahasiswa yang dikeluarkan karena ketahuan membeli esai.

Thomas Lancaster, dosen di Imperial College London, telah meneliti tentang contract cheating sejak 2006 bersama Robert Clarke saat keduanya masih mengajar di Birmingham City University. Menurut Lancaster, kampus-kampus yang menyatakan tak memiliki kasus contract cheating terlihat memiliki reputasi buruk, bukan malah sebaliknya.

“Setiap kampus di negeri ini memiliki masalah dengan contract cheating, mereka hanya tidak bisa mendeteksinya, tidak bisa membuktikan, atau sesederhana tak mencatatnya. Mereka mengabaikannya,” kata Lancaster.

Meskipun sulit, Lancaster meyakini praktik jual beli esai di kalangan mahasiswa ini bisa dicegah dan dideteksi. Oktober 2017, The Quality Assurance Agency for Higher Education (QAA) mempublikasikan pedoman yang bisa diterapkan kampus-kampus untuk melawan contract cheating. Lancaster menjadi salah satu tim penasihat pedoman itu.

Tetapi sifat pedoman yang diterbitkan QAA ini hanya rekomendasi. Artinya, kampus-kampus tak wajib mengikutinya.

“Dari pengalaman saya, cukup sulit membuat kampus-kampus itu mau mengikuti pedoman yang telah kami susun. Saat ini mereka sedang mempertimbangkannya, tapi itu tak menjamin mereka akan melakukan sesuatu,” jelas Lancaster.

Dalam lima tahun terakhir, University of Sussex mengeluarkan 31 mahasiswa karena ketahuan membeli esai. Dibandingkan kampus-kampus lain, angka ini cukup tinggi, tertinggi ketiga setelah Keele University and Middlesex University.

Jika melihatnya dari kacamata Lancaster, ini pertanda baik. Sebab, semakin besar angka yang terdeteksi oleh kampus, semakin besar pula hambatan praktik jual beli esai. Ia juga menjadi penanda kampus itu punya sistem yang lebih baik dari kampus-kampus yang tak bisa mendeteksi.

“Kalau sudah bicara soal integritas akademik, kami cukup serius untuk memiliki standar yang baik. Itu sebabnya jumlah kasus yang bisa kami temukan terus bertambah,” kata seorang juru bicara University of Sussex.

Mereka tidak memblokir akses terhadap situsweb pabrik-pabrik esai itu, tetapi membiarkan mahasiswa membukanya dari jaringan internet kampus. Dengan begitu, mereka bisa melacaknya.


Namun, masalah bukan hanya pada kampus. Masalah besar lain menangkal pabrik esai adalah kekosongan regulasi hukum.

Praktik jual beli esai hanya menyentuh tataran etika, bukan pelanggaran hukum. Jadi, bisnis jual beli esai tak masuk kategori bisnis ilegal di Inggris. Membeli atau menjualnya bukan tindak kriminal. Tidak ada konsekuensi bagi penjual, melainkan hanya bagi pembeli, yakni dikeluarkan dari kampus.

Beberapa pabrik esai berkilah tak pernah menyarankan esai yang mereka jual untuk diserahkan langsung oleh mahasiswa sebagai tugas. UK Essays, salah satunya. Anak usaha dari All Answer Ltd dan sudah beroperasi sejak 2003 di Inggris ini mengklaim punya 3.500 penulis.

“Kami bukan pabrik esai. Esai yang kami jual itu cuma contoh. Dari situ, konsumen kami menulis esai mereka sendiri,” ujar Daniel Dennehy, Chief Operating Officer All Answer Ltd, dalam siaran pers.

Dennehy tentu hanya bisa mengklaim begitu. Ia tak bisa menggaransi mahasiswa yang membeli esai padanya tidak menyerahkan esai itu bulat-bulat. Kalaupun salah satu pabrik esai ini melakukannya, kampus tak bisa mendeteksi sebab mudah saja esai itu lolos pengecekan plagiarisme.

Menurut Lancaster, cara lain memberantas praktik jual beli esai adalah membuat regulasi dan menjadikannya sebagai bisnis ilegal agar bisa dijerat ke ranah hukum.

“Mereka juga harus dilarang untuk beriklan di platform raksasa digital seperti Google, Twitter, atau Facebook,” ujarnya.

=========

Catatan: Tulisan ini pertama kali dipublikasikan oleh Wan Ulfa Nur Zuhra di Birmingham Eastside berjudul Investigation: The Hidden Problem of the UK's Essay Mill Industry pada 7 September 2018. Setelah tulisan dipublikasi, website Writomania.co.uk sempat tidak bisa diakses dalam beberapa pekan. Sekarang sudah bisa diakses kembali dengan tampilan yang baru. Selain itu, pihak Writomania menghapus alamat.

Baca juga artikel terkait INGGRIS atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Fahri Salam
DarkLight